Insiden
fraktur femur
di USA diperkirakan menimpa satu orang di antara1000 populasi setiap tahunnya (Armis, 2002 dalam Rahmasari.com, 2009).Sedangkan di Indonesia dari data yang dikumpulkan oleh Unit Pelaksanaan TeknisMakmal Terpadu
Imunoendokrinologi
Fakultas Kedokteran Indonesia (FKUI), padatahun 2006 dari 1690 kasus kecelakaan lalu lintas, ternyata yang mengalami
fraktur femur
249 kasus atau 14,7%. (Isbagio, 2007 dalam Rahmasari, 2009).Pada fraktur femur sering kali dilakukan tindakan pembedahan untuk memperbaiki fungsi dengan mengembalikan gerakan dan stabilitas dan menguranginyeri dan
distabilitas, sedangkan setelah dilakukan operasi untuk mengembalikanbentuk dan struktur maupun fungsinya perlu dilakukan latihan /rehabilitasi.
Salahsatu interversi keperawatan post operasi fraktur yang dapat dilakukan adalahMobilisasi dasar secara bertahap dapat di mulai dari latihan
range of motion
(ROM).ROM adalah latihan yang dilakukan untuk mempertahankan atau memperbaikitingkat kesempurnaan kemampuan menggerakan persendian secara normal danlengkap untuk meningkatkan massa otot dan tonus otot (Potter & Perry, 2005). ROMsebagai bentuk latihan untuk mencegah depormitas sendi dan kontraktur sendi yangdapat menyebabkan pleksi sendi yang permanent.Berdasarkan survey awal yang di lakukan peneliiti terhadap kegiatan ROM belum diimplementasikan secara optimal oleh perawat di ruangan keperawatan diruang
ortopedi
wanita.Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai implementasikan
range of motion
oleh perawat pada3