Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
24Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Majlis syura

Majlis syura

Ratings: (0)|Views: 3,462 |Likes:
Published by dharta0421

More info:

Published by: dharta0421 on Sep 04, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/27/2014

pdf

text

original

 
Majelis Syura, Alternatif ”Demokrasi-Islam”,Dan Ketaatan Kader PKS
Desember 18, 2007 inartikel 
Muhammad Syihabuddin A. Pendahuluan
Salah satu persoalan yang menarik untuk ditela’ah dari PKS adalah Majelis Syura (MS).Hal ini karena MS adalah jantung partai: lembaga tertinggi dan lembaga sentral, dalam
 policydecition
di tubuh PKS. Sebagai lembaga yang paling otoritatif dalam pengambilan kebijakanpartai dakwah ini maka tidak ada lembaga atau kader partai di bawahnya yang tidak tunduk dan taat atas segala keputusan yang ditetapkan MS.Sejauh ini belum ada sebentuk konflik atau ketidakpuasan berkepanjangan mengemuka daridalam PKS akibat kebijakan MS. Sebagai ilustrasi, tidak ada geliat perlawanan dari personalkader atau suatu DPD PKS, yang berhasil ditangkap media, terhadap MS PKS karena telahmemilih Tifatul Sembiring sebagai presiden partai ini, di saat hampir seluruh partai politik dirundung pertikaian internal sebagai buntut adu kepentingan saat pemilihan ketua umum.Tulisan ini akan mengelaborasi secara mendalam MS dalam struktur PKS, sebagai partaiIslam Modern. Lebih jauh, tulisan ini akan melihat perajutan nalar syura dengan nalardemokrasi “sekuler” sehingga melahirkan suatu demokrasi ala PKS yang justru mampumenumbuhkan loyalitas dan militansi para aktivis dan kader PKS.
B. Konsep Syura, Islam dan Demokrasi Menurut PKS
Konsepsi Syura dalam wacana politik Islam selalu saja menarik untuk dibincangkan,terutama sekali jika hal itu ditarik ke suatu persandingan konsep Syura dengan demokrasi.Secara etimologis,
 Syura
berarti permusyawaratan, hal bermusyawarah atau konsultasi.Majelis Syura berarti juga majelis permusyawaratan atau badan legislatif. Istilah
 Syura
 berasal dari kata kerja
syawara-yusyawiru
yang berarti menjelaskan, menyatakan ataumengajukan dan mengambil sesuatu. Bentuk-bentuk lain yang berasal dari kata kerja
syawara
adalah
asyara
(memberi isyarat), tasyawara (berunding, saling bertukar pendapat),
syawir 
(meminta pendapat, musyawarah), dan
mutasyir 
(meminta pendapat orang lain).
 Syura
atau musyawarah adalah saling menjelaskan dan merundingkan atau saling memintadan menukar pendapat mengenai suatu perkara.[i]Dalam Islam,
syura
diletakkan sebagai prinsip utama dalam menyelesaikan masalah-masalahsosial, politik dan pemerintahan.
 Syura
merupakan suatu sarana dan cara memberikesempatan kepada anggota masyarakat yang mempunyai kemampuan untuk berpartisipasidalam membuat keputusan yang sifatnya mengikat, baik dalam bentuk peraturan hukummaupun kebijakan politik. Setiap orang yang ikut bermusyawarah akan berusaha menyatakanpendapat yang baik, sehingga diperoleh pendapat yang dapat menyelesaikan persoalan yangdihadapi. Namun demikian ihwal pelaksanaan
 Syura
, tidak ada
nash
 Al-Qur’an yangmemberikan paparan detail tentangnya. Nabi Muhammad SAW—yang telah melembagakandan membudayakan
syura
karena ia gemar bermusyawarah dengan para sahabatnya—tidak mempunyai pola dan bentuk tertentu. Karena itu, bentuk pelaksanaannya disesuaikan dengankondisi dan zaman umat Islam.[ii]
 
Musyawarah secara metodologis diartikan pula sebagai forum di mana setiap persoalan yangmenyangkut kepentingan umum atau rakyat dicari solusinya dan dipertimbangkan berdasarkanalasan-alasan yang rasional. Sementara itu, hasil musyawarah bisa saja berupa kesepakatan bersama(konsensus atau
ijma’ 
), dan bisa juga didasarkan pada suara mayoritas, sebagaimana pernahdilakukan Nabi dalam musyawarah menghadapi musuh Quraisy Makkah. Dalam musyawarahtersebut, Nabi mengambil suara terbanyak dengan keputusan menghadapi musuh di luar kotaMadinah yaitu bukit Uhud.[iii]
Konseptualisasi
syura
dalam perkembangannya memberikan kontribusi bagipengkayaan metodologi dalam proses pengambilan keputusan secara mufakat dalam politik Islam. Namun, konsep syura juga memiliki kontribusi besar bagi dialog antara politik Islamdengan demokrasi. Dari sini muncul kesan, musyawarah atau juga syura adalah bagian darikonsep penting yang dilahirkan dari peradaban Islam, dan karenanya masyarakat Islam tidak perlu mempertimbangkan ”produk” dari luar Islam, apalagi memakainya. Produk ”Barat” yang selalu disejajarkan dengan syura dalam Islam adalah demokrasi.Demokrasi—secara epistemologis dan, bahkan, sebab ia lahir di luar teritori negara Arabsemata—seringkali diklaim sebagai produk ”kafir” dan karenanya harus ditolak, sepenuhnyaataupun sebagain kecilnya. Wacana inilah yang dalam masyarakat muslim selalu menggelitik,terutama kalangan muslim fundamentalis. Benarkah Islam sesuai (
compatible
) dengandemokrasi ”sekuler”, dalam sistem politik modern? Jika tidak sesuai sepenuhnya, sejauhmana batasan dalam demokrasi yang sesuai dengan Islam?Pada dasarnya pemahaman PKS terhadap demokrasi juga didasarkan pada nilai yangsama dengan beberapa kelompok fundamentalis lain, seperti Hizbut Tahrir (HT) dan MajelisMujahidin Indonesia (MMI). Dua kelompok terakhir berada dalam posisi ”kritis”, bahkanmenolak, sistem demokrasi untuk diterapkan dalam dunia Islam. Islam memiliki sistemsendiri yang berbeda dengan sistem demokrasi ”kufur-Barat”. Abu Ridho, salah satu ideolog PKS, berujar bahwa sistem pemerintahan Islam tidaklahsama dengan sistem pemerintahan lainnya. Sistem Islam itu unik dan hanya bersandar padaaturan-aturan
 Ilahiah
. Nilai-nilai ilahiah intinya adalah pengesaan (tauhid) Allah dengansetulus-tulusnya dan semurni-murninya. Tauhid yang sama sekali bersih dari noda-nodasyirik harus menjadi asas tata kehidupan suatu bangsa atau masyarakat. Sistem itu tidak bisadiidentikkan dengan teokrasi sebagaimana dipahami kalangan Kristen dalam sejarah bangsa- bangsa mereka melalui pemerintahan elit-elit agama (teokrasi), karena dalam Islam tidak dikenal sebutan “tokoh agama”.Sistem ini juga menampik terwujudmya pemerintahan otokrasi, sebab dalam Islampenguasa bukanlah otoritas tunggal. Hal sama juga, pemerintahan Islam bukan pemerintahanrakyat karena ia bukan demokrasi dalam arti sempit. Oleh karena itu, anggapan bahwa sistempemerintahan Islam sama dengan sistem tertentu dari sistem-sistem lain yang dikenal itu,menurut Abu Ridho[iv]sesungguhnya telah mencemarkan dan menjauhkan dari realitasmakna sebenarnya dengan makna sesungguhnya. Kepemimpinan Islam tegak di atas duapilar; Syariat Islam dan Umat Islam, yang masing-masing keduanya bersifat unik.Hanya saja, berbeda dengan HTI dan MMI, PKS masih tetap menerima dan memakaimekanisme demokrasi untuk saluran politik formal dalam perebutan kekuasaan, meskidengan batas-batas tertentu. Mendasarkan pada pernyataan Hasan Al-Banna, Anis Mattamenyatakan, meskipun demokrasi bukan sistem politik Islam, namun demokrasi merupakansistem politik modern yang paling dekat dengan Islam. Demokrasi adalah pintu masuk bagiupaya pemberdayaan umat, kemudian melibatkannya dalam pengelolaan negara, danakhirnya memberinya mandat untuk memimpin dirinya sendiri[v]. Penegasan Hasan Al-
 
Banna dan Abu Ridho itu menunjukkan bahwa penerimaan terhadap demokrasi ini bersifatminimalis dan tidak ajeg. Mereka melakukan pemilahan mendasar pada sisi mana menerimaatau membuang demokrasi. Penegakan sistem demokrasi bukanlah tujuan politik PKS. PKSmemiliki konsepsi politik tersendiri yang akan diperjuangkan lewat saluran demokrasi: Islam.Satu alasan lain penerimaan demokrasi oleh PKS dinarasikan secara apik oleh AnisMatta bahwa titik temu politik PKS dengan nilai demokrasi, terutama pada aspek partisipasi.Konsep partisipasi yang ditawarkan sistem demokrasi memiliki relevansi dengan politik Islam, karena menjadikan posisi tawar masyarakat terhadap negara semakin kuat, berbasispada kebebasan dan hak asasi manusia, sedang keunggulan akal kolektif berbasis pada upayauntuk merubah keragaman menjadi kekuatan, kreatifitas, dan produktifitas. Oleh karena itu,demokrasi memberikan kontribusi terhadap pemberdayaan masyarakat.[vi]Denganpenerimaan “relatif” pada demokrasi, terutama pada level partisipasi, maka tidak menjadihambatan syar’i bagi PKS masuk ke dalam gelanggang demokrasi untuk turut menjalanikontestasi politik dengan partai lainnya.Bagi PKS, dengan mengikuti garis politik Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM), demokrasiitu tidak diharamkan asal tidak bertentangan dengan syari’ah. Kekuasaan itu ditangan umat,tapi kedaulatan ada di tangan Allah sebagai sumber dan tata nilai serta prinsip keberislaman.Berbeda dengan diktum demokrasi sekuler, ”kedaulatan ada di tangan rakyat dan suararakyat adalah suara Tuhan”, Islam lebih memilih ”kedaulatan ada di Tangan Tuhan, danSuara Tuhan harus menjadi suara rakyat. Sejauh pemahaman demokrasi semacam itu, makaPKS tidak mengharamkannya[vii].Jelas sudah, bahwa PKS tidak menampik kehadiran demokrasi, meskipun juga tidak menerima secara membabi buta terhadapnya. Konsepsi pemerintahan Islam yang sedikit banyak “meminjam” demokrasi dalam hal praktek politiknya tetapi tetap menjadikan Tuhansebagai sumber inspirasi dan landasan filosofisnya, dalam sejarah pemikiran politik memilikisandaran teoritiknya pada satu konsepsi “teo-demokrasiala Maududian. Sistempemerintahan ini merupakan sistem demokrasi yang bersifat ketuhanan, ketika orang-orangIslam melaksanakan kedaulatan rakyat itu dibatasi oleh kedaulatan Tuhan. Dalam turunanpraksisnya, Maududi melukiskan eksekutif di bawah sistem pemerintahan diangkat olehkehendak umum dari orang-orang Islam yang mempunyai hak untuk memberhentikannya.Segala persoalan administratif dan suatu hal yang secara eksplisit tidak dirumuskan olehsyariat akan diputuskan secara konsensual oleh kalangan Islam. Tiap-tiap muslim yangmampu dan memenuhi syarat untuk memberi pendapat tentang masalah-masalah hukumIslam, berhak menafsirkan hukum Tuhan ketika penafsiran itu dibutuhkan. Dengan kata lain,Islam telah menggariskan hukum dan kedaulatan (
al-hakimiyah
) itu hanya milik Tuhansemata, meski dalam tataran operasionalnya harus melewati persetujuan seluruh rakyatmuslim yang dicerminkan melalui
ahlul hall wal aqd 
atau Majelis Syura.[viii] Meski tetap menyisakan kritik, pandangan Maududi—sosok yang mendirikan cabangdan publikasi Ikhwan di Pakistan— bagi kalangan Islamis moderat seolah merupakan jalantengah antara dua kutub yang berseberangan, antara teokrasi dan demokrasi sekuler, dankarenanya pula ingin mendamaikan perdebatan tak berujung ihwal penerimaan demokrasidalam Islam. Islam tidak phobi dengan demokrasi, karena satu-satunya instrumen untuk meraih kekuasaan secara beradab dan manusiawi dalam sistem politik modern adalahmelalui demokrasi (elektoral). Namun, demokrasi dengan sandaran individualisme dansekularitasnya jelas tidak mendapat tempat dalam rumusan politik Islam, sebagaimana jugadiikuti oleh PKS. Sebagai gantinya, ”Majelis Syura” dipilih PKS sebagai mekanisme”demokrasi-Islam” dalam menjalankan pemerintahan politiknya.

Activity (24)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
via86 liked this
Yully Yaceva liked this
Tya_Aryk_8122 liked this
Luis Perfect liked this
Ziela Zainal liked this
Hudiyatno Ahmad liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->