“Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan berarti telah durhakakepada Abul Qasim Shalallahu 'alaihi wassalam.” (36)3. Jika seorang muslim telah melihat hilal hendaknya kaum muslimin berpuasaatau berbukaMelihat hilal teranggap kalau ada dua orang saksi yang adil, berdasarkan sabdaRasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam :“Berpuasalah kalian karena melihat hilal, berbukalah kalian karena melihatnya,berhajilah kalian karena melihat hilal, jika kalian tertutup awan, makasempurnakanlah (bilangan bulan Sya’ban menjadi) tiga puluh hari, jika ada duasaksi berpuasalah kalian dan berbukalah.” (37)Tidak diragukan lagi, bahwa diterimanya persaksian dua orang dalam satukejadian tidak menunjukkan persaksian seorang diri itu ditolak, oleh karena itupersaksian seorang saksi dalam melihat hilal tetap teranggap (sebagai landasanuntuk memulai puasa)., dalam satu riwayat yang shahih dari Ibnu UmarRadiyallahu 'anhu, ia berkata :“Manusia mencari-cari hilal, maka aku kabarkan kepada Nabi bahwa akumelihatnya, maka Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam pun menyuruh manusiaberpuasa.” (38)(Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam terbitan Pustaka Al-Haura, Jojakarta )(31) HR Bukhari (4/106) dan Muslim (1081).(32) HR Al Bukhari (4/102) dan Muslim (1080)(33) (HR At Thahawi dalam Musykilul Atsar (no 501), Ahmad (4;/377), AtThabrani dalam al Kabir (17/171). Dalam sanadnya ada Musalid bin Said, beliaudhaif sebagaimana dikatakan oleh Al Haitsami dalam Majma Az Zawaid (3/146),akan tetapi hadits ini mempunyai banyak syawahid, lihat Al Irwaul Ghalil (901)karya syaikhuna Al Albany hafidhohullah).(34) yaitu hari yang diragukan , apakah telah memasuki bulan Ramadhan ataubelum, ed.(35) HR Muslim (573 – mukhtashar dengan muallaqnya).(36) (HR Bukhari (4/119), dimaushulkan oleh Abu Daud (3334), Tirmidzi (686),Ibnu Majah (3334), An Nasa’I (2199) dari jalan Amr bin Qais al Mala’l dari AbuIshaq dari Shilah bin Zufar, dari Ammar. Dalam sanadnya ada Abu Ishaq, yaknias Sabi’I mudallis dan dia telah ‘an’anah dalam hadits ini, dia juga tercampurhafalannya, akan tetapi hadits ini mempunyai banyak jalan dan mempunyaisyawahid (pendukung) dibawakan oleh al Hadits Ibnu Hajar al Atsqalani dalamTa’liqu Ta’liq (3/141-142) sehingga beliau menghasankan hadits ini.