Tugas Fikih Perbandingan:
Zakat Profesi Dan Permasalahannya
nilai sewanya itu mencapai nishab (jumlah minimal untuk dikenakan zakat), maka dia haruslangsung mengeluarkan zakatnya, ketika dia menerima uang sewaan tersebut, tanpa harusmenunggu syarat satu haul (satu tahun). Menyewakan rumah di sini bisa diqiyaskan denganmenyewakan tenaga ataupun keahlian pada sebuah perusahaan atau instansi, pada intinya,adalah menyewakan keahlian. Namun, menurut dr. yusuf qardawy, padanan hukum zakat profesi yang paling tepatadalah zakat
Al-Mal Al-Mustafad
(harta yang diperoleh melalui satu jenis proseskepemilikan yang baru dan halal). Jenis-jenis
Al-Mal Al-Mustafad
mencakup antara lain;(1)
Al-Amalah
(penghasilan yang diperoleh dalam bentuk upah atau gaji atas pekerjaantertentu); (2)
Al-A'thiyah
(sejenis bonus atau insentif tetap yang diterima secara teratur oleh prajurit Negara islam dari baitul mal); (3)
Al-Mazhalim
(jenis harta yang disita secara tidak sah oleh penguasa terdahulu, dan telah dianggap hilang oleh pemilik aslinya, sehinggakalau harta itu dikembalikan kepada pemilik aslinya, maka harta tersebut dikategorikansebagai harta yang diperoleh dengan kepemilikan baru, dan karena itu, wajib dizakati.Imam malik dalam bukunya al-muwatta' meriwayatkan dari ibnu syihab, "
bahwa muawiyahbin abu safyan adalah khalifah islam pertama yang mulai memungut zakat dari bonus daninsentif tetap untuk prajurit islam"
.Simpulnya, bahwa apa yang kemudian disebut sebagai zakat profesi atau zakat penghasilan, sesungguhnya lebih banyak mengacu pada praktek atua fatwa
Al-Salaf Al-Shalih
(generasi awal islam yang shalih), yang kemudian dikombinasikan dengan prinsip- prinsip dasar islam dan interpretasi terhadap ayat al-qur'an dan sunnah nabi. Sebab,memang tidak ada ayat al-qur'an dan sunnah nabi yang secara langsung berbicara tentangzakat profesi, dalam pengertian yang tidak kita kenal sekarang ini, tidak aneh, bila zakat profesi ini tampak seperti barang asing bagi sebagian umat islam.C.
Makna Profesi
Gambaran tentang zakat profesi ini mungkin akan lebih jelas bila kita menelusurikosakata yang dipakai dalam bahasa arab modern untuk menyebutkan istilah profesi dan professional. Namun, sebelumnya, ada satu catatan penting yang perlu dicermati; bahasa arabadalah bahasa yang sangat sedikit menyerap bahasa asing. Biasanya, setiap kali munculistilah baru dari bahasa asing, para ahli bahasa arab, lewat upaya perorangan atau lembagakehasaan resmi, biasanya langsung mencari dan merumuskan padanannya yang paling pasdengan kosakata bahasa arab. Mereka menyerap bahasa asing bila benar tidak ada padanannya dalam bahasa arab, seperti kata demokrasi, yang dalam bahasa arab juga
Al- Dimuqrathiyah
(Cuma mendapatkan tambahan Alif-Lam di awal kata, dan
Ya' Al-Nisbah
diakhir kata).Di Negara-negara arab modern, kosakata profesi atau profession diterjemahkan dandipopulerkan dengan dua kosakata bahasa arab, yaitu;1.
Al-Mihnah
(seringnya dipakai untuk menunjuk pekerjaan yang lebih mengandalkan pekerjaan otak). Karena itu, kaum professional disebut
Al-Mihaniyyun
atau
Ashab Al-Mihnah
, seperti pengacara, penulis, intelektual, dokter, konsultan, pekerjaankantoran dan sejenisnya.2.Al-Hirfah (lebih sering dipakai untuk menunjuk jenis pekerjaan yang mengandalkantangan atau otot), misalnya, para pengerajin, pande besi, tukang las, mekanik bengkel, tukang jahit dan konveksi, buruh bangunan dan sebagainya. Mereka inidisebut ashab al-hirfah (tukang). Anehnya, ism fa'il (kata pelaku) dari al-hirfah ini,yaitu al-muhtarifun terkadang juga dipakai untuk menyebut kaum professional.Sebenarnya, memang tidak gampang menarik garis demokrasi yang jelas dan tajamanatara kerja otak dan kerja otot. Sebab, di masa modern ini, banyak sekali jenis pekerjaan,selain mengandalkan tenaga (otot), juga pada saat yang sama, memerlukan kemampuanintelektual (otak). Pada bengkel-bengkel besar, yang tentu saja dikelolah secara professional, para mekaniknya, selain dituntut memiliki keahlian teknis (dalam arti tukang), juga dituntut memiliki pengetahuan intelektual untuk mengasah kemampuan analisismereka sesuai dengan bidang pekerjaannya. Dan ini biasanya diperoleh lewat sistemtraning (pelatihan) yang berjenjang dan berkesinambungan.Kesimpulannya, akan lebih aman dari sudut pandang hukum fikih, bila kita tidak membedakan anatara profesi yang mengandalkan kerja otak di satu pihak dan pekerjaanyang mengandalkan kerja otot atau tenaga fisik.