Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
20Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Zakat profesi

Zakat profesi

Ratings: (0)|Views: 1,282 |Likes:
Published by Faiz Dhyfa

More info:

Published by: Faiz Dhyfa on Sep 09, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/21/2013

pdf

text

original

 
Tugas Fikih Perbandingan:
Zakat Profesi Dan Permasalahannya
ZAKAT PROFESIA.Pendahuluan
Zakat profesi yang juga biasa disebut dengan zakat penghasilan, sebenarnya tergolongistilah baru dalam fikih islam. Sebab, dalam buku-buku fikih klasik, yang jamak disebut'kitab kuning", jarang sekali –untuk tidak mengatakan sama sekali tidak- ditemukan kajianyang secara spesifik membahas masalah zakat profesi, seperti yang kita kenal sekarang ini.Mungkin karena itulah, dikalangan massyarakat awam, zakat profesi ini sering disebutzakat mal saja. Dan ini tidak keliru. Cuma, baru mewakili separuh kebenaran. Sebab,kecuali zakat fitrah, istilah zakat mal juga mencakup kelima jenis zakat lainnya; hewan,hasil tani/kebun, niaga, tambang dan emas/perak.Sementara itu, sering dan sebangun dengan perkembangan aktifitas ekonomimasyarakat secara umum, dan masyarakat muslim khususnya, telah muncul berbagaimacam profesi, yang tidak dikenal pada masa-masa awal sejarah islam. Akibatnya, memangtidak gampang menemukan padanan hukum yang bisa dijadikan acuan untuk mewajibkanzakat penghasilan yang diperoleh, misalnya, seorang pengacara eksekutif, pengarang,dokter, wartawan, analisis laboratium, perogaramer atau pengusaha kafe, wartel, salon dan berbagai jenis profesi lainnya. Sebab, mereka bukan peternak hewan, bukan petani, bukan pedagang dan bukan penambang. Pengasilan meraka pun bukan dalam bentuk emas atau perak. Padahal, sebagian mereka boleh jadi mendapatkanp pennghasilan yang jauh lebih besar dari pada penghasilan seorang petani, pedagang, peternak, dan penambang, yangmeskipun kecil-kecilan, tetap diwajibkan membayar zakat.Karena itu, sungguh sangat tidak adil dan tentu saja bertentangan dengan misikeadilan islam dan keperpihakannnya kepada kaum dhuafa, bila ada kelompok masyarakatyang berpenghasilan renda (petani, pedagang, peternak, dan penambang kecil) diwajibkanmembayar zakat dengan alasan telah "dibahas tuntas" dalam buku-buku fikih klasik,sementara ada kelompok masyarakat muslim lainnya yang berpenghasilan lebih tinggi, tapi justru "dibiarkan" tidak membayar zakat, dengan alasan bahwa profesi mereka tidak memiliki padanan hukumnya dalam fikih klasik.Sebagai respon atas kepincangan itulah, maka sejak sekitar paruh kedua abad ke-20,sejumlah ulama fikih modern yang dikenal memiliki integritas keilmuan kridibel, secaraintensif dan sistematis mulai berlomba dan meniliti, membahas dan mengkaji. Akhirnya,mereka sampai pada kesimpulan hukum (fatwa) untuk memberlakukan satu jenis zakat,yang kemudian populer, dengan istilah zakat profesi atau zakat penghasilan.Sekedar menyebut diantaranya, ada dua ulama islam yang sangat berjasa dalammensosialisasikan zakat profesi ini di Negara-negara arab dan berbagai Negara yang berpenduduk mayoritas muslim, termasuk umat islam Indonesia. Pertama, dr. yusuf qardawy, asal mesir, lewat karyanya yang berjudul ; fiqhu al-zakat, yang telahditerjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Kedua, dr.wahwah al-zuhaily, asal suria, melalui karyanya yang berjudul al-fiqh al-islam wa adillatuhu. Namun demikian, perlu segera ditegaskan bahwa meskipun tidak ditemukan kajianzakat profesi secara spesifik dalam buku-buku fikih klasik, bukan berarti bahwa zakat yangsejenis dengan zakat profesi sama sekali tidak dikenal dalam sejarah fikih islam.Imam ahmad bin hanbal (164-241 H/780-855 M) misalnya, pernah berpendapat bahwa bila seorang muslim menyewakan rumahnya, dan nilai sewa itu mencapai jumlahminimal yang wajib dizakati (nishab), maka pemilik rumah itu harus segera mengeluarkanzakatnyta ketika menerima uang sewaan tersebut, dan tidak harus menunggu masa satutatun (haul). Menyewakan rumah disini bisa diqiyaskan dengan menyewakan tenaga ataukeahlian. Sebab, pada intinya, bekerja pada suatu perusahaan atau instansi adalahmenyewakan keahlian.Imam malik bin anas (w. 93 H/711 M) dalam bukunya al-muwatta' meriwayatkan dariibnu syihab, "bahwa muawiyah bin abu safyan adalah khalifah pertama yangmemberlakukan dan memungut zakat untuk (penghasilan yang berupa) bonus atau insentif tetap".Pengelolaan dan pemungutan zakat yang paling sistematis dan terarah dalam sejarahislam, termasuk pemungutan zakat berbagai jenis profesi ketika itu, terjadi pada masakekuasaan khalifah ke-8 dinasti umayyah, yakni umar bin abdul aziz (w. 719M), yangmemang dikenal sebagai tokoh mujtahid di zamannya. Di masa umar bin abdul aziz inilah,"zakat penghasilan" dikelola secara ketat dan mencakup berbagai jenis penghasilan yang
 
Tugas Fikih Perbandingan:
Zakat Profesi Dan Permasalahannya
dikenal pada masa itu, seperti zakat untuk gaji prajurit islam, zakat bonus, zakathadiah/hibah, bahka zakat al-muzhalim 9satu harta yang pernah disita oleh penguasasebelumnya dan dikembalikan pada pemilik aslinya oleh penguasa (baru).Karena posisi zakat yang amat penting dan strategis dalam memberdayakan ekonomiumat, maka selain diwajibkan, juga ada ayat khusus yang memberikan hak dan wewenangkepada penguasa/pemerintah islam untuk memungut zakat dari orang-orang yang mampudan kaya. Allah swt. berfirman: ambillah (pungutlah) zakat dari sebagian harta mereka(yakni orang-orang yang berkecukupan) untuk membersihkan dan mensucikan mereka (dari beban dosa), dan doakanlah mereka. Susungguhnya doamu untuk para pembayar zakat ituakan menciptakan ketentraman bagi mereka. Dan sungguh allah swt. Maha pendengar danmaha mengetahui. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa perintah ambillah atau pungutlah zakat di ayat ini adalah perintah wajib yang harus dilaksanakan oleh pengeloladan penyelenggara Negara islam.Ayat 103 pada surat al-taubat ini pula yang dapat dijadikan argumentasi bahwa agar lebih efektif dan terarah, pemungutan dan penyaluran zakat mestinya dilakukan olehlembaga resmi pemerintah. Namun, sebagian besar Negara yang bependuduk mayoritasmuslim saat ini tidak menjadikan instrument zakat sebagai tugas kenegaraan. Sebagianumat islam, lewat kesadaran perorangan, tetap saja menghitung dan membayar sendirizakatnya. Mungkin kerena itulah, sekarang ini, sulit mendapatkan data akurat tentangseberapa besar potensi zakat dikalangan umat islam Indonesia khususnya, dan umat islamdi dunia secara kesuluruhan.Memang, harus diakaui bahwa berbagai Negara muslim, telah dibentuk berbagai badan dan lembaga pengelola dan pemungut zakat, seperti BAZIZ (badan zakat, infak dansadaqah) di Indonesia. Namun, berbagai badan dan lembaga tersebut tidak memiliki pijakanhukum kenegaraan (undang-undang) yang memberikan wewenang untuk "memaksakan" pembayaran zakat. Seperti yang berlaku dan dipraktekkan pada pemungutan pajak dansistem keuangan Negara-negara modern.Patut disyukuri bahwa di Indonesia, sejak tahun 1999, telah disahkan UU. No. 38,1999 tentang pengelolahan zakat. Namun, sejauh ini, pelaksanaan UU zakat itu masih jauhdari harapan. Dan sulit membayangkan bahwa UU tentang zakat ini akandiimplementasikan sekuat dan serapi UU perpajakan. Sebab, untuk sampai ke arah itu,minimal diperlukan sebuah dirjen khusus untuk zakat, baik di bawah depertemen keuanganatau depertemen agama, dan juga didukung oleh sosialisasi hukum zakat yang peraktis.Tetapi, harus diakui bahwa pengesahan UU zakat ini adalah sebuah langkah yang sangat penting dan sangat strategis.Syukurlah, bahwa ketiadaan badan atau lembaga pengelola zakat yang memilikikekuatan paksa secara hukum kenegaraan ini, justru tidak mengendurkan semangat umatislam menunaikan kewajiban zakatnya.
B.Mengenal Zakat Profesi
Bila hanya mengacu pada kajian konvensional tentang zakat mal (harta), yang banyak ditemukan pada buku-buku fikih, baik yang klasik maupun yang modern sekalipun, makakita akan berhadapan dengan sederet kesulitan. Memang harus diakui bahwa berdagang, bertani, berternak dan bertambang adalah jenis pekerjaan atau profesi, yang juga bertujuanmendapatkan penghasilan dari usahanya. Tapi, penghasilan yang diperoleh seorang muslimyang murni sebagai "orang gajian", seperti karyawan pada suatu perusahaan dan instansi,atau sebagai tenaga professional, tidak pernah dibahas secara spesifik oleh para ulama fikihklasik. Padahal di zaman modern ini, banyak sekali jenis profesi baru yang muncul seiringdengan perkembangan aktifitas ekonomi masyarakat.Seperti disebutkan dalam pendahuluan, sungguh tidak adil dan bertentangan dengan prinsip keadilan islam, bila petani dan pedagang kecil yang nota bene penghasilannya kecil, justru diwajibkan membayar zakat. Sementara seorang eksklusif dan programer yangmungkin bergaji jutaan rupiah per bulan,justru dibiarkan tidak membayar zakat.Tetapi, meskipun zakat profesi yang kita kenal sekarang ini tidak pernah menjaditopik pembahasan secara rinci dalam khazanah islam klasik, namun bukan berarti bahwa para ulama islam klasik itu sama sekali tidak pernah membahas zakat, yang sejenis denganzakat profesi.Imam ahmad bin hanbal misalnya, dikisahkan pernah menghidupi dirinya denganmenyewakan rumahnya, berpendapat seorang muslim yang menyewakan rumahnya, dan
 
Tugas Fikih Perbandingan:
Zakat Profesi Dan Permasalahannya
nilai sewanya itu mencapai nishab (jumlah minimal untuk dikenakan zakat), maka dia haruslangsung mengeluarkan zakatnya, ketika dia menerima uang sewaan tersebut, tanpa harusmenunggu syarat satu haul (satu tahun). Menyewakan rumah di sini bisa diqiyaskan denganmenyewakan tenaga ataupun keahlian pada sebuah perusahaan atau instansi, pada intinya,adalah menyewakan keahlian. Namun, menurut dr. yusuf qardawy, padanan hukum zakat profesi yang paling tepatadalah zakat
 Al-Mal Al-Mustafad 
(harta yang diperoleh melalui satu jenis proseskepemilikan yang baru dan halal). Jenis-jenis
 Al-Mal Al-Mustafad 
mencakup antara lain;(1)
 Al-Amalah
(penghasilan yang diperoleh dalam bentuk upah atau gaji atas pekerjaantertentu); (2)
 Al-A'thiyah
(sejenis bonus atau insentif tetap yang diterima secara teratur oleh prajurit Negara islam dari baitul mal); (3)
 Al-Mazhalim
(jenis harta yang disita secara tidak sah oleh penguasa terdahulu, dan telah dianggap hilang oleh pemilik aslinya, sehinggakalau harta itu dikembalikan kepada pemilik aslinya, maka harta tersebut dikategorikansebagai harta yang diperoleh dengan kepemilikan baru, dan karena itu, wajib dizakati.Imam malik dalam bukunya al-muwatta' meriwayatkan dari ibnu syihab, "
bahwa muawiyahbin abu safyan adalah khalifah islam pertama yang mulai memungut zakat dari bonus daninsentif tetap untuk prajurit islam" 
.Simpulnya, bahwa apa yang kemudian disebut sebagai zakat profesi atau zakat penghasilan, sesungguhnya lebih banyak mengacu pada praktek atua fatwa
 Al-Salaf Al-Shalih
(generasi awal islam yang shalih), yang kemudian dikombinasikan dengan prinsip- prinsip dasar islam dan interpretasi terhadap ayat al-qur'an dan sunnah nabi. Sebab,memang tidak ada ayat al-qur'an dan sunnah nabi yang secara langsung berbicara tentangzakat profesi, dalam pengertian yang tidak kita kenal sekarang ini, tidak aneh, bila zakat profesi ini tampak seperti barang asing bagi sebagian umat islam.C.
Makna Profesi
Gambaran tentang zakat profesi ini mungkin akan lebih jelas bila kita menelusurikosakata yang dipakai dalam bahasa arab modern untuk menyebutkan istilah profesi dan professional. Namun, sebelumnya, ada satu catatan penting yang perlu dicermati; bahasa arabadalah bahasa yang sangat sedikit menyerap bahasa asing. Biasanya, setiap kali munculistilah baru dari bahasa asing, para ahli bahasa arab, lewat upaya perorangan atau lembagakehasaan resmi, biasanya langsung mencari dan merumuskan padanannya yang paling pasdengan kosakata bahasa arab. Mereka menyerap bahasa asing bila benar tidak ada padanannya dalam bahasa arab, seperti kata demokrasi, yang dalam bahasa arab juga
 Al- Dimuqrathiyah
(Cuma mendapatkan tambahan Alif-Lam di awal kata, dan
Ya' Al-Nisbah
diakhir kata).Di Negara-negara arab modern, kosakata profesi atau profession diterjemahkan dandipopulerkan dengan dua kosakata bahasa arab, yaitu;1.
 Al-Mihnah
(seringnya dipakai untuk menunjuk pekerjaan yang lebih mengandalkan pekerjaan otak). Karena itu, kaum professional disebut
 Al-Mihaniyyun
atau
 Ashab Al-Mihnah
, seperti pengacara, penulis, intelektual, dokter, konsultan, pekerjaankantoran dan sejenisnya.2.Al-Hirfah (lebih sering dipakai untuk menunjuk jenis pekerjaan yang mengandalkantangan atau otot), misalnya, para pengerajin, pande besi, tukang las, mekanik  bengkel, tukang jahit dan konveksi, buruh bangunan dan sebagainya. Mereka inidisebut ashab al-hirfah (tukang). Anehnya, ism fa'il (kata pelaku) dari al-hirfah ini,yaitu al-muhtarifun terkadang juga dipakai untuk menyebut kaum professional.Sebenarnya, memang tidak gampang menarik garis demokrasi yang jelas dan tajamanatara kerja otak dan kerja otot. Sebab, di masa modern ini, banyak sekali jenis pekerjaan,selain mengandalkan tenaga (otot), juga pada saat yang sama, memerlukan kemampuanintelektual (otak). Pada bengkel-bengkel besar, yang tentu saja dikelolah secara professional, para mekaniknya, selain dituntut memiliki keahlian teknis (dalam arti tukang), juga dituntut memiliki pengetahuan intelektual untuk mengasah kemampuan analisismereka sesuai dengan bidang pekerjaannya. Dan ini biasanya diperoleh lewat sistemtraning (pelatihan) yang berjenjang dan berkesinambungan.Kesimpulannya, akan lebih aman dari sudut pandang hukum fikih, bila kita tidak membedakan anatara profesi yang mengandalkan kerja otak di satu pihak dan pekerjaanyang mengandalkan kerja otot atau tenaga fisik.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->