Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
55Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Komunikasi Non Verbal Dalam Masyarakat High and Low Context

Komunikasi Non Verbal Dalam Masyarakat High and Low Context

Ratings: (0)|Views: 14,484|Likes:
Published by Imam Syaifudin

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Imam Syaifudin on Sep 09, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/01/2013

pdf

text

original

 
Komunikasi Non Verbal dalam Masyarakat High and Low Context
Komunkasi nonverbal adalah penyampaian makna melelui bahasa tubuh meliputiekspresi wajah, gestures, posture, kontak mata, dan suara, juga penggunaan ruang fisik seperti jara interpersonal, waktu, artefak yang digunakan (Dayakisni & Yuniardi, 2008).
 Lalu apa hubungan antara komunikasi non verbal dengan masyarakat High or LowContext?
Secara sederhana, masyarakat konteks budaya tinggi atau yang biasa disebut denganhigh context culture dapat diartikan sebagai masyarakat yang cenderung menganut budayakolektif yang cenderung menyampaikan pesan secara berbelit-belit dengan banyak menggunakan simbol, kiasan, dan kata-kata halus yang dirumuskan sebagai high-context
1
.Golongan masyarakat ini biasanya menggunakan cara berkomunikasi yang tidak langsung
tothe point 
, dalam menyampaikan suatu hal, biasanya diawali dengan kata-kata pembuka yangcenderung mengarah ke basa-basi dalam rangka menjaga perasaan lawan bicara. Pemilihankata–kata (diksi) pada saat berbicara pun dilakukan secara hati-hati. Tidak asal-asalan,sehingga kalimat yang dihasilkan enak didengar dan tidak menyinggung perasaan lawan bicara. Namun kehati-hatian ini tidaklah lantas membuat masyarakat konteks budaya tinggi berbicara terlalu banyak. Biasanya mereka akan berbicara seperlunya. Masyarakat ini jugasangat menjunjung tinggi aturan yang telah ada. Dalam konteks ini aturan tersebut pastinyaada hubungan dengan budaya. Seperti apabila makan bersama dalam satu ruang makan, makatidak boleh berbicara sendiri. Lalu aturan mengenai kewajiban untuk menghormati orangyang lebih tua. Aturan-aturan seperti inilah yang menjadi ciri khas masyarakat konteks budaya tinggi. Dalam hal “membaca lingkungan”, mereka juga termasuk ahlinya. Membacalingkungan disini berarti kemampuan mengetahui keadaan dengan cara membaca bahasa non-verbal lawan bicara. Jika mimik muka lawan bicara telah berubah yang jika pada awalnyamereka tersenyum namun lama-kelamaan senyuman tersebut menghilang dan digantikan olehraut muka yang cemberut, maka itulah saatnya untuk menghentikan pembicaraan ataumerubah topik pembicaraan. Kita juga akan sering menjumpai makna ambiguitas dalam pembahasan masyarakat konteks budaya tinggi.Berbeda dengan masyarakatkonteks budaya tinggi, masyarakat konteks budaya rendah, atauyang biasa disebut dengan low context culture diartikan sebagai masyarakat yangmengartikan dan menyampaikan pesan tanpa banyak basa-basi. Mereka menyampaikan lewatarti sesungguhnya tanpa kiasan atau cara yang berbelit-belit agar bisa dimengerti. Pola
1
Materi Kuliah Teori Komunikasi – Uncertainty Reduction oleh Drs. Turnomo Rahardjo
 
komunikasi seperti ini cenderung digunakan oleh masyarakat yang bersifat individualistis.Dalam sebuah pembicaraan, mereka biasanya cenderung blak-blakan, langsung pada inti apayang ingin diucapkan, tanpa menyaring kata-kata yang akan dikeluarkan. Sehinggakemungkinan lawan bicaranya tersinggung itu lebih besar. Namun, kebanyakan dari mereka berkomunikasi dengan sesamanya. Sehingga kemungkinan terrsinggung akan lebih kecil. Halini karena lawan bicaranya (sesama masyarakat budaya rendah) juga terbiasa mengatakan halyang sama, lugas, langsung, dan to the point. Pilihan kata (diksi) yang tepat juga tidak begitudiperhatikan, dalam berkomunikasi, yang terpenting maksud pembicara dapat tersampaikantanpa harus repot-repot memilih susunan kalimat yang baik. Berkebalikan dari masyarakatkonteks budaya tinggi, masyarakat budaya rendah cenderung tidak suka mengindahkanaturan. Dalam sistem masyarakat ini, kita akan jarang menemukan aturan-aturan yangmengikat. Mungkin ada beberapa, namun tidaklah banyak. Biasanya mereka lebih mengacu pada aspek rasionalitas dalam menghadapi sebuah persoalan. Kita pun akan jarangmenemukan makna ambiguitas di dalam masyarakat ini. Masyarakat konteks budaya rendahcenderung tidak begitu bisa untuk “membaca lingkungan”. Ini berarti, pada saat berbicaramereka tidak dapat membaca situasi/keadaan. Hal ini disebabkan mereka tidak begitu ahlidalam membaca bahasa non-verbal lawan bicaranya.
faktorhigh-context culturelow-context culture
 pola komunikasi banyak menggunakan metafor, pesan-pesan yang implisit, tidak “tothe point”. pesan yang disampaikan to the point,tidak “berputar-putar”.sikap diri apabilaterjadi kesalahanmenerima/meyikapi kesalahan yangterjadi sebagai kesalahan pribadi,cenderung untuk meng-internalisasi banyak hal.menilai kesalahan terjadi karena faktor eksternal/orang lain. penggunaankomunikasi nonverbalmenggunakan komunikasi non-verbal dengan ekstensif.cenderung untuk menggunakankomunikasi verbal daripada non-verbal.ekspresi reserved, mendem jero, ilmu padi(semakin berisi semakin merunduk  – rendah hati).ekspresif, kalau tidak suka/tidak setujuterhadap sesuatu akan disampaikan,tidak dipendam.orientasi terhadap ada pemisahan yang jelas antara ini terbuka, tidak terikat dalam dengan
 
kelompok kelompok saya VS itu bukankelompok saya.satu kelompok, bisa berpindah-pindahsesuai kebutuhan/konteks.ikatan kelompok memiliki ikatan kelompok yangsangat kuat, baik itu keluarga,kelompok masyarakat, dsb.cenderung untuk tidak memiliki ikatankelompok yang kuat – lebih individuil.komitmenterhadaphubungan dengansesamakomitmen yang tinggi terhadaphubungan jangka panjang -hubungan baik lebih pentingdaripada tugas/pekerjaan.komitmen yang rendah terhadaphubungan antar sesama -tugas/pekerjaan lebih penting daripadahubungan baik.fleksibilitasterhadap waktuwaktu bukanlah sebuah titik,melainkan sebuah garis - proseslebih penting daripada hasil akhir.waktu adalah sebuah titik yang apabilatidak dimanfaatkan dengan baik, akanterbuang percuma - hasil akhir lebih penting daripada proses.
diadaptasi dari:model budayaProf. Edward T. Hall, seorang antropog dari ColumbiaUniversity.
(
Sensifitas Budaya
-
http://www.rumahsakitmandiri.com/artikel/66-mgt-umum/135- sensitifitas-budaya.html 
)
Komunikasi Non Verbal dalam Hubungan Asmara antara Orang Indonesia denganAmerika
Menurut Antropolog Edward T Hall (1979), bangsa Indonesia masuk dalam kelompok high context culture dalam berkomunikasi
2
. Dalam budaya ini, konteks atau pesan nonverbaldiberi makna yang sangat tinggi. Sebaliknya, bangsa Amerika termasuk dalam low contextculture dalam berkomunikasi.Eye GazeBagi orang Amerika, kontak mata sebagai tanda kejujuran. Orang Amerika yang berkomunikasi tanpa memandang mata pihak lawan bicara dipandang tidak jujur. NamunBagi orang Indonesia, memandang mata lawan bicara masih dianggap tidak sopan.Sentuhan
2
 Tantangan Komunikasi di tengah Keragaman Budaya Dunia -http://docs.google.com/gview?a=v&q=cache:wtfDl3lRK_EJ:faculty.petra.ac.id/ido/courses/3b_tantangan_komunikasi.pdf+kOMUNIKASI+NON+VERBAL+MASYARAKAT+HIGH+AND+LOW+CONTEXT+CULTURE&hl=id&gl=id

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->