Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
23Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
konsep belajar

konsep belajar

Ratings: (0)|Views: 4,823|Likes:
Published by atielacus

More info:

Published by: atielacus on Sep 10, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/08/2013

pdf

text

original

 
Pengertian belajar yang cukup komprehensif diberikan oleh Bell-Gredler (1986:1) yang menyatakanbahwa belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragamcompetencies, skills, attitudes. Kemampuan (competencies), keterampilan (skills), dan sikap(attitudes) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masatua melalui rangkaian proses belajar sepanjang hayat. Rangkaian proses belajar itu dilakukan dalambentuk keterlibatannya dalam pendidikan informal, keturutsertaannya dalam pendidikan formal danatau pendidikan nonformal. Kemampuan belajar inilah yang membedakan manusia dari mahkluklainnya.Belajar sebagai proses manusiawi memiliki kedudukan dan peran penting, baik dalam kehidupanmasyarakat tradisional maupun modern. Pentingnya proses belajar dapat dipahami daritraditional/local wisdom, filsafat, temuan penelitian dan teori tentang belajar. Traditional/local wisdomadalah ungkapan verbal dalam bentuk frasa, peribahasa, adagium, maksim, atau implicit tentangpentingnya belajar dalam kehidupan manusia. Sebagai contoh : Iqra bismirobbika ladzi kholaq(Bacalah alam semesta ini dengan nama Tuhanmu); Belajarlah sampai ke negeri China sekalipun(Belajarlah tentang apa saja, dari siapa saja dan dimana saja); Bend the willow when it is young(Didiklah anak selagi masih muda); Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian (Belajar lebihdahulu nanti akan dapat menikmati hasilnya).Dalam pandangan yang lebih komprehensif konsep belajar dapat digali dari berbagai sumber sepertifilsafat, penelitian empiris, dan teori. Para ahli filsafat telah mengembangkan konsep belajar secarasistematis atas dasar pertimbangan nalar dan logis tentang realita kebenaran, kebajikan dankeindahan. Karena itu filsafat merupakan pandangan yang koheren dalam melihat hubungan manusiadengan alam semesta. Plato, dalam Bell-Gredler (1986: 14-16) melihat pengetahuan sebagai sesuatuyang ada dalam diri manusia dan dibawa lahir. Sementara itu Aristoteles melihat pengetahuansebagai sesuatu yang ada dalam dunia fisik bukan dalam pikiran. Kedua kutub pandangan filosofistersebut berimplikasi pada pandangan tentang belajar. Bagi para penganut filsafat idealisme, realitaterdapat dalam pikiran, sumber pengetahuan adalah idea dalam diri manusia, dan proses belajar adalah pengembangan idea yang telah ada dalam pikiran. Sedang bagi penganut realisme, realitaterdapat dalam dunia fisik, sumber pengetahuan adalah pengalaman sensorik, dan belajar merupakan kontak atau interaksi individu dengan lingkungan fisik.Pandangan lain tentang belajar, selain dari pandangan para filosof idealisme dan realisme tersebut diatas, berasal dari pandangan para ahli psikologi, yang antara lain dirintis oleh William James, JohnDewey, James Cattel, dan Edward Thorndike tahun 1890-1900 (Bell-Gredler, 1986:20-25). Padadasarnyapara ahli psikologi melihat belajarsebagai proses psikologis yang disimpulkan dari hasilpenelitian tentang bagaimana anak berpikir (Hall:1883), atau disimpulkan dari bagaimana binatangbelajar (Thorndike:1898) atau dari hasil pengamatan praktek pendidikan (Dewey:1899). Sejalandengan mulai berkembangnya disiplin psikologi pada awal abad ke-20 berkembang pula berbagaipemikiran tentang belajar yang digali dari berbagai penelitian empiris. Pada zaman itu mulaiberkembang dua kutub teori belajar, yakni teori Behaviorisme dan teori gestalt. Kunci dari teoribehaviorisme yang digali dari penelitian Ivan Pavlov pemenang hadiah Nobel tahun 1904, dan V.M.Becthtereve serta A.B. Watson adalah proses relasi antara stimulus dan respon (S-R), sedang teorigestalt adalah relasi antara bagian dengan totalitas pengalaman. Sejak saat itu maka berkembang
253
 
berbagai teori belajar yang bertolak dari ontology penelitian yang berbeda-beda tetapi semuabertujuan untuk menjelaskan bagaimana belajar sesungguhnya terjadi.Dalam konteks pencapaian tujuan pendidikan nasional, konsep belajar harus diletakkan secarasubstantif-psikologis terkait pada seluruh esensi tujuan pendidikan nasional mulai dari iman dantakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, danmenjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Dengan kata lain, konsep belajar yang secara konseptual menjadi konsep yang bersifat content-based atau bermuatan. Oleh karenaitu, konsep belajar dalam konteks tujuan pendidikan nasional harus dimaknai sebagai belajar untukmenjadi orang yang beriman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, ber-akhlak mulia, sehat,berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab.Karena pendidikan memiliki misi psiko-pedagogic dan sosio-pedagogic, maka pengembanganpengetahuan, nilai-nilai dan sikap, seta keterampilan mengenai keberagaman dalam konteks berimandan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; keberagaman dalam konteks akhla mulia; ketahanan jasmani dan rohani dalam konteks sehat; kebenaran dan kejujuran akademis dalam konteks berilmumelekat; terampil dan cermat dalam konteks cakap; kebaruan (novelty) dalam konteks kreatif,ketekunan dan percaya diri dalam konteks mandiri; dan kebangsaan, demokrasi dan patriotismedalam konteks warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab seyogyanya dilakukan dalamrangka pengembangan kamampuan belajar peserta didik.Belajar juga sering diartikan sebagai penambahan, perluasan dan pendalaman pengetahuan, nilaidan sikap, serta keterampilan. Secara konseptual, Fontana(1981) mengartikan belajar adalah suatuproses perubahan yang relative tetap dalam perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman. SepertiFontana, Gagne (1985) juga menyatakan bahwa belajar adalah suatu perubahan dalam kemampuanyang bertahan lama dan bukan berasal dari proses pertumbuhan.
Download selengkapnya versi document
254
 
PENGAJARAN-PEMBELAJARAN KIMIA DI SEKOLAH MENENGAH:KE MANAKAH ARAH TUJUNYA ?
*
Abu Hassan bin Kassim
Fakulti PendidikanUniversiti Teknologi Malaysia
 Abstrak 
Sejak mencapai kemerdekaan, kurikulum kimia (sains) di sekolah menengah negara kitatelah mengalami pelbagai perubahan. Mekipun melalui transformasi ini pendidikan kimiamenjadi semakin kompleks dan sukar, tetapi apa yang penting ianya menjadi semakinmenarik. Penekanan proses pengajaran-pembelajaran sains masa kini adalah terhadapbelajar melalui pengalaman, dengan penerapan kemahiran saintifik, kemahiran berfikir  serta penyelesaian masalah, melalui pendekatan pembelajaran berfikrah. Persoalannya:Sejauh manakah guru-guru kimia di sekolah melaksanakan proses pengajaran-pembelajaran selaras dengan Falsafah Pendidikan Kebangsaan dan Falsafah Pendidikan Kimia, demimelahirkan generasi yang celik dan kompeten dalam kimia ? Dalam usaha untuk mencari jawapan terhadap persoalan penting ini, satu set soal selidik telah diedarkan kepada 47 orang guru kimia di beberapa daerah Negeri Johor Darul Takzim. Hasil kajianmenunjukkan guru menerapkan beberapa aspek kemahiran proses sains - memerhati,mengukur, berkomunikasi, mengelas, membuat kesimpulan dan mentafsir data / maklumat -dengan baik dalam proses pengajaran-pembelajaran kimia. Manakala, aspek membuat inferens dan mengawal pemboleh ubah hanya dilaksanakan guru pada tahap yang sederhana sahaja. Guru juga memberi peluang pelajar mentafsir data / maklumat yang yang diperolehidalam sesuatu eksperimen atau aktiviti penyelidikan yang dilakukan. Walaubagaimanapun, tahap perlaksanaan dalam aspek membuat ramalan serta membuat hipotesisadalah sangat lemah. Meskipun responden menguji pengetahuan sedia ada pelajar, tetapimereka tidak menggunakan analogi yang sesuai untuk memvisualizekan konsep kimia yang abstrak serta tidak mengaitkannya dengan kehidupan seharian. Hasil kajian jugamenunjukkan responden kurang memberi peluang pelajar mengembangkan pemikiran kritisdan kreatif mereka. Di samping itu, responden tidak memberi peluang pelajar terlibat  secara aktif dalam proses pengajaran-pembelajaran: Segala-galanya sebagaimana yang termaktub dalam buku teks. Prosedur sesuatu aktiviti eksperimen yang terdapat dalambuku teks diikuti responden secara langsung, tanpa melibatkan aktiviti penyelesaianmasalah. Responden cenderung membincangkan teori terlebih dahulu sebelummembenarkan pelajar melakukan eksperimen dengan mengikuti “resepi” di dalam makmal, sebagaimana dalam pendekatan tradisi. Takrifan sesuatu konsep diberikan kepada pelajar  sebagaimana yang terdapat dalam buku teks, tanpa memberi penekanan terhadap kata kunciatau dengan membincangkannya mengikut kefahaman guru.
PENGENALAN
Selaras dengan hasrat untuk mencapai status negara maju, kurikulum sains di sekolahMalaysia digubal sedemikian rupa bagi mewujudkan masyarakat yang saintifik dan progresif serta berilmu: Masyarakat yang mempunyai daya perubahan yang tinggi, memandang jauhke hadapan, inovatif serta menjadi penyumbang kepada tamadun sains dan teknologi masadepan (Kementerian Pendidikan Malaysia, 2001). Di samping itu, melalui pendidikan sains pelajar perlu dididik dan dilatih supaya berkebolehan mengurus alam dan sumbernya secaraoptimum dan bertanggungjawab. Bermakna, melalui pendidikan sains, Kementerian255

Activity (23)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Jummahdi Mukhtar liked this
Cik Siizza liked this
Nanda Wahyudi liked this
yudibhorneo liked this
Arifin Iyan liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->