Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
17Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pengaruh Positivisme Dalam Pemikiran Hukum

Pengaruh Positivisme Dalam Pemikiran Hukum

Ratings: (0)|Views: 4,445|Likes:

More info:

Published by: Herman Adriansyah AL Tjakraningrat on Sep 11, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/26/2012

pdf

text

original

 
PENGARUH POSITIVISME DALAM PEMIKIRAN HUKUM
(Telaah Terhadap Aliran Positivisme Hukum Analitis John Austin)
PENDAHULUANPendapat yang menyatakan bahwa induk dari segala macam ilmupengetahuan adalah Filsafat merupakan argumen yang hampir diterima olehsemua kalangan. Hal ini terbukti dengan adanya hubungan yang erat antarailmu pengetahuan tertentu dengan filsafat tertentu, seperti filsafat hukumyang melahirkan ilmu hukum dan seterusnya.Filsafat hukum adalah refleksi teoretis (intelektual) tentang hukum yangpaling tua, dan dapat dikatakan merupakan induk dari semua refleksiteoretis tentang hukum.[1] Filsafat hukum adalah filsafat atau bagian darifilsafat yang mengarahkan (memusatkan) refleksinya terhadap hukum ataugejala hukum.Sebagai refleksi kefilsafatan, filsafat hukum tidak ditujukan untukmempersoalkan hukum positif[2] tertentu, melainkan merefleksi hukumdalam keumumannya atau hukum sebagai demikian (law as such). Filsafathukum berusaha mengungkapkan hakikat hukum dengan menemukanlandasan terdalam dari keberadaan hukum sejauh yang mampu dijangkauoleh akal budi manusia.[3]Bila merujuk pada sejarah pemikiran barat, seperti disebutkan olehScheltens[4] , filsafat merupakan bentuk tertua dari pemikiran rasional yangbersifat pengertian dan dapat mempertanggungjawabkan dirinya sendiri.Boleh dikatakan meliputi seluruh daerah pemikiran manusia, yangmerupakan keseluruhan yang hampir-hampir tidak dibedakan.Pada perkembangan berbagai pengetahuan menyadari obyek danmetodenya sendiri, bahkan mengabsolutkan diri, yang lambat launmemisahkan diri dari filsafat. Lebih lanjut Scheltens menyebutkan bahwapara ilmuan berputus arang dengan filsafat, menganggap filsafat samasekali tidak diperlukan, tidak bermanfaat dan tidak dapatdipertanggungjawabkan. Terpukau oleh keberhasilan metodenya sendiri danarena kejelasan serta ketetapan lapangan telaah sendiri, orang lalumenghapus filsafat, dengan keyakinan bahwa mulai sekarang hasil-hasilberbagai ilmu pengetahuan pasti dapat menggantikan dan mengabaikanfilsafat.Kecenderungan pemikiran sebagaimana diuraikan di atas, mendapatdukungan dari gagasan tiga tahap
 August Comte
.[5] Menurutnya sejarahpemikiran manusia berevolusi dalam tiga tahap; tahap teologis (mistis)dimana manusia memecahkan berbagai persoalan dengan memintabantuan kepada Tuhan atau dewa-dewa, yang tidak terjangkau oleh pancaindera; tahap falsafi dimana pada tahap ini hakekat benda-bendamerupakan keterangan terakhir dari semua; dan tahap positivis, tahap1
 
dimana dunia fakta yang dapat diamati dengan panca indera merupakansatu-satunya obyek pengetahuan manusia. Pada tahap terakhir inilah duniaTuhan dan dunia filsafat telah ditinggalkan.Tulisan sederhana ini tidak bermaksud untuk membahas berbagai persoalantersebut, hanya untuk mencari jawaban bagaimana pengaruh positivismedalam pemikiran hukum khususnya telaah terhadap positivisme analitis JohnAustin.ANALISISFilsafat hukum mencari hakekat dari pada hukum, yang menyelidiki kaedahhukum sebagai pertimbangan nilai-nilai[6] . Dimana ilmu pengetahuanhukum berakhir, disanalah mulai filsafat hukum; ia mempelajari pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab dalam ilmu pengetahuan[7] .Bicara mengenai aliran positivisme, bahwa aliran ini sama tuanya denganfilsafat. Namun baru berkembang pesat pada abad ke 19 tatkala empirismemendominasi pemikiran. Positivisme lahir dan berkembang di bawahnaungan empirisme[8]. Artinya antara empirisme dan positivisme tidak dapatdipisahkan.Positivisme adalah salah satu aliran dalam filsafat (teori) hukum yangberanggapan, bahwa teori hukum itu hanya bersangkut paut dengan hukumpositif saja. Ilmu hukum tidak membahas apakah hukum positif itu baik atauburuk, dan tidak pula membahas soal efektivitasnya hukum dalammasyarakat[9] .Di dalam aliran positivisme hukum dikenal dua sub aliran yaitu :1.Aliran hukum yang analisis, pendasarnya adalah John Austin2.Aliran hukum positif yang murni, didepelopori oleh Hans Kelsen.Dalam tulisan ini sebagaimana dinyatakan terdahulu, memfokuskan padaaliran hukum positif yang analitis oleh John Austin. Positivisme yang dirintisJohn Austin, yang diberi nama Analytical Judisprudence, dekat sekalidengan mazhab hukum umum. Austin menggunakan metode analisa saja.Melalui analisa sistem-sistem hukum tertentu Austin ingin sampai padasuatu ide umum tentang hukum.Berdasarkan metodenya yang empiris belaka, Austin sampai padapengertian tentang Negara, yang menurutnya berlaku secara mutlak.Negara dipandangnya sebagai kenyataan yang diterima begitu saja olehorang-orang dalam wilayah tertentu. Negara-negara timbul dandipertahankan, oleh sebab kebanyakan bawahan mempunyai kebiasaanmentaati pemerintah. Bila kebiasaan itu berhenti maka sudah tidak terdapatnegara lagi. Terdapat bermacam-macam alasan untuk mentaati pemerintah.Ada orang yang mentaati oleh sebab mereka berpegang teguh padaprasangka bahwa pemerintah selalu harus ditaati. Sementara alasan lain2
 
karena takut akan kekacauan, bila negara dirombak. Semuanya inidipastikan dalam pengalaman. Nilai-nilainya tidak dipersoalkan. Dapatdipastikan juga bahwa yang berkuasa adalah satu-satunya sumber hukum.Di atas yang berkuasa hukum tidak ditemukan. Diungkapkan oleh Austinbahwa tiap-tiap Undang-undang positif ditentukan secara langsung atausecara tidak langsung oleh seorang pribadi atau sekelompok orang yangberwibawa bagi seorang anggota atau anggota-anggota dari suatumasyarakat politik yang berdaulat, dalam mana pembentuk hukum adalahyang tertinggi. Dengan ketentuan ini Austin tidak menyangkal adanyanorma-norma hukum ilahi, norma-norma moral dan juga hukuminternasional. Dipastikannya saja, bahwa semua prinsip tersebut tidakmampu untuk meneguhkan atau meniadakan hukum yang berlaku dalamsuatu negara[10] .Aliran hukum positif yang analitis mengartikan hukum itu sebagai “acommand of the Lawgiver” (perintah dari pembentuk Undang-undang ataupenguasa), yaitu : suatu perintah dari mereka yang memegang kekuasaantertinggi atau yang memegang kedaulatan. Hukum dianggap sebagai suatusistem yang logis, tetap dan bersifat tertutup (close logical system). Hukumsecara tegas dipisahkan dari moral, jadi dari hal yang berkaitan dengankeadilan, dan tidak didasarkan atas pertimbangan atau penilaian baik buruk.Selanjutnya John Austin membagi hukum itu atas :1. Hukum ciptaan Tuhan, dan2. Hukum yang dibuat oleh manusia, yang terdiri dari;a.hukum dalam arti yang sebenarnya yaitu yang disebut juga sebagaihukum positif, terdiri dari:- hukum yang dibuat oleh penguasa, seperti Undang undang,Peraturan pemerintah dan lain-lain.- hukum yang disusun atau dibuat oleh rakyat secara individual, yangdipergunakan untuk melaksanakan hak-hak yang diberikankepadanya. Contohnya: hak wali terhadap orang yang beradadibawah perwalian, hak kurator terhadap badan/orang dalamcuratele.b.hukum dalam arti yang tidak sebenarnya, yaitu hukum yang tidakmemenuhi persyaratan sebagai hukum. Jenis hukum ini tidak dibuatatau ditetapkan oleh penguasa/badan berdaulat yang berwenang.Contohnya: ketentuan-ketentuan yang dibuat perkumpulan-perkumpulan atau badan-badan tertentu dalam bidang keolahragaan,mahasiswa dan sebagainya.Terdapat empat unsur penting menurut John Austin untuk dinamakansebagai hukum, yaitu:a. perintahb. sanksic. kewajiband. kedaulatan3

Activity (17)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Rodi Purwanro liked this
Dangdut Classic liked this
Fery Suryono liked this
Sastra Wijaya liked this
Sastra Wijaya liked this
Sri Nur Hari liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->