• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
80 
G
agasan
unciYang Mengubah Dunia
FILSAFAT
“Sang Pembuat Jam, Penjudi,atau Apa?”
--Ide-ide tentang Tuhan
Dosa Asal
 
Bagi Tuhan, sang Pencipta alam, bukan para wakil, yang telahmenciptakan manusia dengan tegak; tapi manusia, dengan menjadidirinya sendiri akan menjadi tidak suci, dan menjadi terhukum, melahirkananak yang tidak suci dan terhukum. Karena kita semua telah beradadalam satu manusia itu, sejak kita semua adalah satu manusia itu yangtelah terjerumus ke dalam dosa oleh seorang perempuan yang telahdiciptakan darinya sebelum dosa. Untuk memastikan, bentuk-bentukkhusus dalam mana kita sebagai individu-individu hidup, belum diciptakandan terbagi; tapi telah ada sifat
seminal
di sana dari mana kitadikembang-biakkan; dan semenjak ini telah direndahkan kualitasnya olehdosa, terikat oleh rantai kematian, dan dalam keadaan terhukum, manusiatidak dapat terlahir dalam keadaan yang lain.
St. Agustinus, The City of God (410) Book XIII
Kita mulai dengan sesuatu yang sederhana, pikir anda. Adam, Eva, buah-buahan, ular, dosa: apa lagi yang sederhana?Sebenarnya, banyak. Dalam kisah Bibel tentang kedurhakaanpertama manusia---memakan Pohon Pengetahuan---tidak pernah sekalipun terdapat istilah bahasa Ibrani untuk “dosa” muncul. (Istilah ini akanmenunggu Cain.) Tidak juga ungkapan (atau doktrin) “dosa asal”dintunjukkan di mana saja dalam Perjanjian Lama atau Baru.Mereka tersembunyi, pastinya. “Tentang setiap pohon dari taman[Eden] engkau boleh bebas memakannya,” firman Tuhan kepada Adam(Genesis 2). “Tapi, terkait pohon pengetahuan tentang kebaikan dankeburukan, engkau tidak boleh memakannya: karena di hari engkaumakan pohon ini, engkau pasti akan mati.” Ketika Adam dan Eva tidakmati pada hari itu, Tuhan, harusnya, memaksudkan ini seperti yangdinyatakan dalam teks bahasa Ibrani: “kamu akan dikutuk hingga
 
kematian menjemput.” Oleh karena itu, demikian pula, dengan kitasemua. Tapi, sekalipun bahwa semacam transgresi telah terjadi, bahwa iaadalah sebuah “dosa”, dan bahwa kehidupan fana kita berhutangkepadanya, kita masih tidak memiliki “dosa asal” yang sebenarnya. Bagiyang meyakini doktrin ini yang menyatakan bahwa tindakan Adam danEva telah meninggalkan sebuah cetakan yang terus membekas padasetiap jiwa manusia. Kita tidak sekadar akan mati, kita terlahir dalamdosa---telah tercemar sebelum kita mempunyai sebuah peluang.St. Paulus menyatakan sesuatu sepanjang baris-baris ini dalamKisah Para Rasul-nya kepada penduduk Roma: “Atas dasar apa, ketika satumanusia pendosa memasuki dunia ini, dan mati dalam dosa; dansehingga kematian dialami secara turun-temurun oleh semua manusia,karena semuanya telah berdosa” (Penduduk Roma 5). Anda dapatmembaca penggalan ayat ini dengan banyak cara---sebagaimana yangditempuh oleh orang-orang Kristen---karena kata
kematian
dan hubungan-hubungan sebab-akibat, keduanya bersifat ambigu. Apakah Paulus benar-benar memaksudkan dosa itu sebagai bersifat warisan, atau apakah diahanya berbicara tentang kematian spiritual yang kita undang melaluiperbuatan dosa?Pandangan dasar ini, meskipun tertulis dalam Genesis danPenduduk Roman, dapat ditelusuri jejaknya secara lebih langsung padatulisan-tulisan dari teolog klasik Gereja yang terbesar, St. Agustinus dariHippo (354-430). Penjelasan Agustinus tentang dosa asal, dalam bukunya:
City of God 
, tidak berbagi keraguan dengan Paulus. Pertama, Agustinus
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...