6.10 Tauhid : Rahasia dan Ruh Ma’rifat Hamba Allah
Allah berfirman,
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia (QS 2:163)” “Tuhan kamu adalah Tuhan yang maha Esa (QS 16:22)” “Katakanlah: Dialah Yang maha Esa (QS 112:1)”.
Itulah beberapa mutiara tauhid yang disebutkan oleh Allah di dalam Al Qur’ansebagai pentauhidan akan ke-Esa-an Diri-Nya. Maka secara harfiah, tauhidadalah Mengesakan Tuhan.Al Ghazali dalam kitab
Raudhah Al-Thalibin Wa Umdah Al-Salikin
[16]
mengartikantauhid sebagai menyucikan
Al-Qidam
dari sifat
al-huduts
(baru), menjauhkannyadari segala sesuatu yang baru, sehingga seseorang tidak kuasa melihat dirinyabernilai lebih terhadap yang lainnya. Artinya, dirinya menjadi tiada atau fana.Sebab bila dia melihat kepada dirinya sendiri atau orang lain disaat dia beradadalam kondisi mentauhidkan
Al-Haqq
, maka akan terjadi dualisme, dan itu berartitidak mengesakan terhadap Dzat-Nya yang
qadim
, yang memiliki sifat Esa danTunggal (disinilah Iblis tertipu sehingga menolak perintah Allah). Keesaansebagai Yang Tunggal sebagai makna tauhid pada hakikatnya berkaitan eratdengan pengenalan yang baru (semua makhluk) terhadap yang
qidam
. Makadalam siklus
makrifatullah
tak pernah berhenti, tauhid merupakan ujung darimakrifat dari yang menyaksikan, ia dikatakan rahasia dan ruh dari makrifat.Namun, tauhid juga merupakan awal dari
makrifatullah
, karena di ujungperjalanan makrifat si pencari (salik) akan mengalami penyaksiannya di awalmula sebelum ia menjadi dirinya (sebelum ruhnya ditiupkan ke dalam jasad) (QS7:172).
Add a Comment
herinoviyantoleft a comment
This document has made it onto the Rising list!