melaluinya Allah memelihara dunia. Istilah ex nihilo tidak berarti bahwa tiada itu merupakansemacam materi, seperti patung dibuat dari perunggu, namun hanya berarti "tidak terjadi darisesuatu yang sudah ada". Hakikat alam ciptaan ialah menerima seluruh Adanya dari yang lain,yaitu Sang Khalik. Alam ciptaan adalah ketergantungan dunia kepada Tuhan.Disini tidak disinggung persoalan, apakah penciptaan itu terjadi dalam waktu, atau terjadi padasuatu ketika atau sudah ada sejak zaman kelanggengan. Para ahli filsafat pada umumnyasependapat bahwa a priori kita tidak dapat memastikan mana yang terjadi. -- Menciptakan,sebagai tindakan aktif, dipandang dari sudut Tuhan, merupakan cetusan kehendakNya yang bersifat langgeng, karena segala sesuatu dalam Tuhan adalah langgeng. Tetapi dipandang darisudut ciptaan, secara pasif, ketergantungan dari Tuhan, terciptanya itu dapat terjadi dalam aruswaktu, atau di luarnya, sejak zaman kelanggengan. Jadi kelirulah jika dibayangkan bahwaTuhan suatu ketika menciptakan alam dunia lalu mengundurkan Diri. Andaikata Tuhan seolah-olah beristirahat, maka buah ciptaan runtuh kembali ke nihilum, ke ketiadaan. Dunia terusmenerus tergantung pada Tuhan (creatio dan sekaligus conservatio).Ketika ditanya mengenai apa yang dilakukan Allah sebelum menciptakan dunia, Agustinusmenjawab tidak ada artinya bertanya mengenai itu, karena tidak ada waktu sebelum penciptaantersebut.
Zaman Skolastik dan Abad Pertengahan.
Sebutan skolastik mengungkapkan, bahwa ilmu pengetahuan abad pertengahan yang diusahakan oleh sekolah-sekolah, dan ilmu tersebut terikat pada tuntutan pengajaran di sekolah-sekolah itu. Semula skolastik timbul di biara-biara tertua di Gallia selatan, tempat pengungsianketika ada perpindahan bangsa-bangsa. Sebab di situlah tersimpan hasil-hasil karya para tokohkuna dan para penulis kristiani. Dari biara-biara di Gallia selatan itu kemudian skolastik timbuldi sekolah-sekolah kapittel, yaitu sekolah-sekolah yang dikaitkan dengan gereja.Sifat filsafat skolastik adalah: pengetahuan yang digali dari buku-buku diberi tekanan berat.Jagad raya memang di pelajari, akan tetapi bukan dengan penelitian-nya, melainkan denganmenanyakan kepada pendapat para filsuf yunani tentang jagad raya itu. Ada yang mengatakan juga bahwa skolastik itu filsafat yang berdasarkan atas agama atau kepercayaan.Abad ke-5 sampai abad ke-9 terjadi perpindahan bangsa-bangsa. Suku bangsa Hun pindah dariAsia ke-Eropah. Bangsa Jerman pindah pindah melewati perbatasan kerajaan Romawi. Dan begitu seterusnya. Eropah kacau balau. Perkembangan teologi dan filsafat tidak begitu besar. Nama seperti Boethius (480-534) dan Alcuinus berasal dari masa ini.Baru pada akhir abad ke-9 muncul nama-nama yang mempengaruhi teologi dan filsafat sepertiJohanes Scotus Eriugena (810-877), Anselmus dari Canterbury (1033-1109), Petrus Abelardus(1079-1142), Ibn Sina (980-1037) orang Arab dengan nama latin Avicenna, Ibn Rushd (1126-1198) juga orang Arab dengan nama latin Averroes,Moses Maimodes (1135-1204) orangYahudi, Bonaventura (1221-1274), Albertus Agung (1205-1280) dan yang paling terkenal ialahThomas Aquinas (1225-1274). Thomas Aquinas sangat terpengaruh oleh filsafat Aristoteles.Orang Katolik terima Thomas Aquinas sebagai Bapak gereja. Orang protestan banyak menolak argumen-argumen Thomas yang terlalu terpengaruh oleh Aristoteles sehingga kadang-kadangmenyimpang dari exegese yang sehat dari Alkitab.Yang mau saya tekankan disini adalah bahwa teologi dan filsafat saling mempengaruhiwalaupun ada peringatan dari Tertulianus akan bahayanya pengaruh filsafat non-Kristen padaiman Kristiani. Kalau pada zaman Patristik pengaruh Plato yang terasa sangat dominan padateologi masa itu, pada zaman abad pertengahan pengaruh Aristoteles yang sangat dominan.Saya membagi zaman skolastik dalam 2 tahapan (1) zaman skolastik timur, yang diwarnaisituasi dalam komunitas Islam di Timur Tengah, abad 8 s/d 12 M, dan (2) zaman skolastik barat,abad 12 s/d 15 M, yang diwarnai oleh perkembangan di Eropa (termasuk jazirah Spanyol).Secara sederhana, dalam zaman Patristik, "filsafat teologi", dengan tanda dapat dibaca sebagai"identik dengan", "sama sebangun dengan", "praktis tidak berbeda dengan". Sementara dalam periode skolastik timur, terdapat berbagai interpretasi atas simbul dalam rumusan "filsafatteologi", dalam periode skolastik barat tidak ada keraguan tentang makna simbul dalam rumusan"filsafat teologi".