Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
24Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kekuatan Pembuktian Akta Otentik

Kekuatan Pembuktian Akta Otentik

Ratings: (0)|Views: 2,237 |Likes:

More info:

Published by: Herman Adriansyah AL Tjakraningrat on Sep 29, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/14/2013

pdf

text

original

 
KEKUATAN PEMBUKTIAN AKTA OTENTIK.
Sesungguhnya materi ini menyangkut hukum keperdataan (burgelijk recht),namun mengingat adanya hubungannya dengan funksi notaris, penggolongan dari akta-akta notaris dan lain sebagainya, kiranya adamanfaatnya untuk mengemukakan pendapat yang dianut tentang kekuatan pembuktian dari akta otentik.
Kekuatan pembuktian akta otentik, dengan demikian juga akta notaris,adalah akibat langsung yang merupakan keharusan dari ketentuanperundang-undangan, bahwa harus ada akta-akta otentik sebagai alatpembuktian dan dari tugas yang dibebankan oleh undang-undang kepadapejabat-pejabat atau orang-orang tertentu.Dalam pemberian tugas inilah terletak pemberian tanda kepercayaankepada para pejabat itu dan pemberian kekuatan pembuktian kepada akta-akta yang mereka buat. Sebab jika tidak demikian untuk apa menugaskankepada mereka untuk "memberikan keterangan dari semua apa yangmereka saksikan di dalam menjalankan jabatan mereka" atau untuk"merelatir secara otentik semua apa yang diterangkan oleh para penghadapkepada notaris, dengan permintaan agar keterangan-keterangan mereka itudicantumkan dalam suatu akta" dan menugaskan mereka untuk membuatakta mengenai itu.Menurut pendapat yang umum yang dianut, pada setiap akta otentik,dengan demikian juga pada akta notaris, dibedakan 3 kekuatan pembuktian,yakni:
1. KEKUATAN PEMBUKTIAN LAHIRIAH (UITWENDIGE BEWIJSRACHT).
Dengan kekuatan pembuktian lahiriah ini dimaksudkan kemampuan dariakta itu sendiri untuk membuktikan dirinya sebagai akta otentik.Kemampuan ini menurut psl. 1875 K.U.H. Perdata tidak dapat diberikankepada akta yang dibuat di bawah tangan; akta yang dibuat di bawahtangan baru berlaku sah, yakni sebagai yang benar-benar berasal dariorang, terhadap siapa akta itu dipergunakan, apabila yang menandatanggalnya mengakui kebenaran dari tanda tangannya itu atau apabila itudengan cara yang sah menurut hukum dapat dianggap sebagai telah diakuioleh yang bersangkutan.Lain halnya dengan akta otentik. Akta otentik membuktikan sendirikeabsahannya atau seperti yang lazim disebut dalam bahasa Latin:
"acta publics probant sese ipsa".
Apabila suatu akta kelihatannya sebagai aktaotentik, artinya menandakan dirinya dari luar, dari kata-katanya sebagaiyang berasal dari seorang pejabat umum, maka akta itu terhadap setiaporang dianggap sebagai akta otentik, sampai dapat dibuktikan bahwa aktaitu adalah tidak otentik.Sepanjang mengenai kekuatan pembuktian lahiriah ini, yang merupakan1
 
pembuktian lengkap — dengan tidak mengurangi pembuktian sebaliknya —maka "akta partij" dan "akta pejabat" dalam hal ini adalah sama. Sesuatuakta yang dari luar kelihatannya sebagai akta otentik, berlaku sebagai aktaotentik terhadap setiap orang; tanda tangan dari pejabat yang bersangkutan(notaris) diterima sebagai sah. Pembuktian sebaliknya, artinya buktibahwa tanda tangan itu tidak sah, hanya dapat diadakan melalui
"valsheidsprocedure
" menurut pasal 148 dan seterusnya K.U.A. Perdata, dimana hanya diperkenankan pembuktian dengan
surat-surat (bescheiden),saksi-saksi (getuigen) dan ahli-ahli (deskundigen).
Jadi dalam hal ini (yaknipembuktian sebaliknya terhadap kekuatan pembuktian lahiriah melalui
"valsheidsprocedure
"), yang menjadi persoalan bukan isi dari akta ituataupun wewenang dari pejabat itu, akan tetapi semata-mata mengenaitanda tangan dari pejabat itu. Siapa yang tidak menggugat sahnya tandatangan dari pejabat itu, akan tetapi menggugat kompetensinya (misalnyayang membuat itu bukan notaris atau membuat akta itu di luar daerah jabatannya), bukan menuduh akta itu palsu, sehingga dalam hal ini tidakdapat ditempuh cara "valsheidsprocedure".Seperti dikatakan di atas, kekuatan pembuktian lahiriah ini tidak ada padaakta yang dibuat di bawah tangan. Sepanjang mengenai pembuktian hal inimerupakan satu-satunya perbedaan antara akta otentik dan akta yangdibuat di bawah tangan. Kalaupun ada perbedaan-perbedaan lain yangmembedakan akta otentik dari akta yang dibuat di bawah tangan, sepertimisalnya memiliki kekuatan eksekutorial, keharusan berupa akta otentikuntuk beberapa perbuatan hukum tertentu dan lain-lain perbedaan,semuanya itu tidak mempunyai hubungan dengan hukum pembuktian.Sebagian terbesar dari para penulis menerima adanya kekuatan pembuktianlahiriah ini bagi akta-akta otentik.Menurut beberapa penulis, undang-undang tidak ada sedikitpunmenyinggung-nyinggung perihal kekuatan pembuktian lahiriah ini. Akantetapi Suijiing,(Mr. J.Ph. Suijling, Inleiding tot het Burgelijk Recht, no. 449);Eggens (Land — Eggens, VerkLaring v.h. Burgelijk Wetboek, hal. 92 dst.)dan juga Scheltema (Mr. F.G. Scheltema, Ned. Burgelijk Bewijsrecht, hal.370); mengatakan dengan tegas, bahwa mengenai
keabsahan dari "aktaotentik" dinyatakan dalam pasal-pasal 176 dan 178 N. Rv. serta pasal-  pasal 1906 dan 1909 N. Bw. (psl. 148 (3) dan 150 K.U.A. Perdata
sertapsl. 1869 dan 1872 K.U.H. Perdata).
2. KEKUATAN PEMBUKTIAN FORMAL (FORMELE BEWUSKRACHT).
Dengan kekuatan pembuktian formal ini oleh akta otentik dibuktikan, bahwapejabat yang bersangkutan telah menyatakan dalam tulisan itu,sebagaimana yang tercantum dalam akta itu dan selain dari itu kebenarandari apa yang diuraikan oleh pejabat dalam akta itu sebagai yang dilakukandan disaksikannya di dalam menjalankan jabatannya itu. Dalam arti formal,2
 
sepanjang mengenai akta pejabat (ambtelijke akte), akta itu membuktikankebenaran dari apa yang disaksikan, yakni yang dilihat, didengar dan jugadilakukan sendiri oleh notaris sebagai pejabat umum di dalam menjalankan jabatannya.Pada akta yang dibuat di bawah tangan kekuatan pembuktian ini hanyameliputi kenyataan, bahwa keterangan itu diberikan, apabila tanda tanganitu diakui oleh yang menanda tanganinya atau dianggap sebagai telah diakuisedemikian menurut hukum.Dalam arti formal, maka terjamin kebenaran/kepastian tanggal dari akta itu,kebenaran tanda tangan yang terdapat dalam akta itu, identitas dari orang-orang yang
hadir (comparanten),
demikian juga tempat di mana akta itudibuat dan sepanjang mengenai akta partij, bahwa para pihak adamenerangkan seperti yang diuraikan dalam akta itu, sedang kebenaran dariketerangan-keterangan itu sendiri hanya pasti antara pihak-pihak sendiri(demikian menurut pendapat yang umum —
heersende leer 
).Sepanjang mengenai kekuatan pembuktian formal ini — juga dengan tidakmengurangi pembuktian sebaliknya yang merupakan pembuktianlengkap, maka akta partij dan akta pejabat dalam hal ini adalah sama,dengan pengertian bahwa keterangan pejabat yang terdapat di dalam keduagolongan akta itu ataupun keterangan dari para pihak dalam akta, baik yangada di dalam akta partij maupun di dalam akta pejabat, mempunyaikekuatan pembuktian formal dan berlaku terhadap setiap orang, yakni apayang ada dan terdapat di atas tanda tangan mereka. Pembuktiansebaliknya terhadap kekuatan pembuktian formal ini juga berlakupembatasan mengenai
"valsheidsprocedure" 
. Siapa yang menyatakanbahwa akta itu memuat keterangan yang kelihatannya tidak berasal darinotaris itu, berarti menuduh bahwa terjadi pemalsuan dalam materi dari aktaitu
(materieel geknoei),
misalnya adanya perkataan-perkataan yangdihapus atau diganti dengan yang lain ataupun ditambahkan. Hal ini berartimenuduh keterangan dari pejabat itu palsu (materiels valsheid) dan untuk ituharus ditempuh "valsheidsprocedure" (psl. 148 sub 3 K.U.A. Perdata).Dalam pada itu siapa menuduh bahwa akta itu memuat "keterangannya"(pertijverklaring) yang tidak ada diberikannya, maka dalam hal itu ada duakemungkinan. Pertama ia dapat langsung untuk tidak mengakui, bahwatanda tangan yang terdapat di bagian bawah dari akta itu adalah tandatangannya; ia dapat mengatakan, bahwa tanda tangan yang kelihatannya itusebagai dibubuhkan olehnya, adalah dibubuhkan oleh orang lain dankarenanya dalam hal ini ada pemalsuan dan pemalsuan ini ia bolehmembuktikannya melalui "valsheidprocedure" (psl. 148 K.U.A. Perdata).Kedua ia dapat mengatakan, bahwa notaris melakukankekhilafan/kesalahan (ten onrechte) dengan menyatakan dalam akta itu,bahwa tanda tangan itu adalah tanda tangan yang berasal daripadanya;dalam hal ini ia tidak menuduh tanda tangan itu palsu, akan tetapi menuduh,bahwa keterangan dari notaris itu adalah tidak benar (intelectuele valsheid),3

Activity (24)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
yevanita liked this
Stephanie Han liked this
Cunk Doank liked this
yevanita liked this
atiek_cukup liked this
Andi Asmawati liked this
Jhon Hasibuan liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->