selain belajar dengan Syeikh Ahmad Khatib Abdul Lathif al-Minangkabawi, beliau juga mendalami ilmu-ilmu daripada ulamaKelantan dan Pattani. Guru-gurunya ketika di Mekah antara adalah,Syeikh Wan Ali Abdur Rahman al-Kalantani, Syeikh Muhammad Ismailal-Fathani dan Syeikh Ahmad Muhammad Zain al-Fathani, Syeikh AliKutan al-Kelantani, dan beberapa ulama Melayu yang bermukim disana.
Perjuangan
Sekembalinya dari Mekah, Syeikh Sulaiman mendirikan pondokpesantren di tanah kelahirannya di Bukit Tinggi, Sumatera. Beliauberusaha untuk mempertahankan pengajaran menurut sistem pondok.Namun pada akhirnya, pengajian sistem pondok secara halaqahdengan bersila di lantai dalam pendidikan Syeikh Sulaiman ar-Rasulimulai dikombinasikan menjadi sistem persekolahan, duduk di bangkupada 1928, namun kitab-kitab yang diajar tidak pernah diubah. Bahkansistem halaqoh ala pondok pesantren juga tetap dilaksanakan hinggasaat ini.Dalam waktu singkat, pesantren yang didirikannya mendapatdukungan penuh dari masyarakat sekitarnya. Dukungan ini mendorongbertambahnya jumlah murid yang menuntut ilmu di pesantren. Murid-murid yang belajar di pesantren tersebut tidak hanya berasal daridaerah setempat, melainkan juga datang dari berbagai wilayahSumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Tapanuli, Aceh, dan bahkan,ada yang datang dari Malaysia.Materi utama pendidikan di pesantren tersebut adalah pengajaranpaham Ahlussunnah Waljamaah dan madzhab Syafi’i. Syeikh Sulaimansangat konsisten menjalankan paham dan madzhab ini.Pada tahun 1928 itu juga, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli bersama sahabat-sahabatnya Syeikh Abbas Ladang Lawas dan Syeikh Muhammad Jamil Jaho menggagas berdirinya Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Baik dalamsistem pendidikan maupun perjuangannya, Syeikh Sulaiman ar-Rasulidan kawan-kawannya secara tegas dan berani mempertahankan danberpegang dengan satu mazhab, yakni Madzhab Syafi’i.Selain aktif di dunia pendidikan agama, Syeikh Sulaiman juga aktif didunia politik dan keorganisasian. Sejak tahun 1921, ia bersama duateman akrabnya, Syeikh Abbas dan Syeikh Muhammad Jamil, sertasejumlah ulama ‘kaum tua‘ (golongan ulama yang tetap mengikutisalah satu dari empat madzhab dalam fiqh: Maliki, Syafi‘i, Hanafi, danHanbali) Minangkabau, membentuk organisasi bernama ‘IttihadulUlama Sumatera‘ (Persatuan Ulama Sumatera) yang bertujuan untuk
Leave a Comment