/  4
 
MEMAHAMI LIBERALISME
MEMAHAMI LIBERALISMESetelah MUI mengeluarkan fatwa belum lama ini, terdengar suara-suarasumbang yang mempersoalkan definisi liberalisme. Istilah ‘liberalisme’berasal dari bahasa Latin,
liber 
, yang artinya ‘bebas’ atau ‘merdeka’. Hinggapenghujung abad ke-18 Masehi, istilah ini terkait erat dengan konsepmanusia merdeka, bisa semenjak lahir ataupun setelah dibebaskan, yaknimantan budak (
freedman
).Dari sinilah muncul istilah ‘liberal arts’ yang berarti ilmu yang berguna bagidan sepatutnya dimiliki oleh setiap orang merdeka, yaitu arithmetik,geometri, astronomi dan musik (
quadrivium
) serta grammatika, logika danrhetorika (
trivium
).Di zaman Pencerahan, kaum intelektual dan politisi Eropa menggunakanistilah liberal untuk membedakan diri mereka dari kelompok lain.Sebagai adjektif, kata ‘liberal’ dipakai untuk menunjuk sikap anti feodal, antikemapanan, rasional, bebas merdeka (
independent 
), berpikiran luas lagiterbuka (
open-minded
) dan, oleh karena itu, hebat (
magnanimous
).Dalam politik, liberalisme dimaknai sebagai sistem dan kecenderungan yangberlawanan dengan dan menentang ‘mati-matian’ sentralisasi danabsolutisme kekuasaan. Munculnya republik-republik menggantikan kerajaan-kerajaan konon tidak terlepas dari liberalisme ini.Sementara di bidang ekonomi, liberalisme merujuk pada sistem pasar bebasdimana intervensi pemerintah dalam perekonomian dibatasi –jika tidakdibolehkan sama sekali. Dalam hal ini dan pada batasan tertentu, liberalismeidentik dengan kapitalisme.Di wilayah sosial, liberalisme berarti emansipasi wanita, penyetaraan gender,pupusnya kontrol sosial terhadap individu dan runtuhnya nilai-nilaikekeluargaan.Biarkan wanita menentukan nasibnya sendiri, sebab tak seorang pun kiniberhak dan boleh memaksa ataupun melarangnya untuk melakukan sesuatu.Sedangkan dalam urusan agama, liberalisme berarti kebebasan menganut,meyakini, dan mengamalkan apa saja, sesuai kecenderungan, kehendak danselera masing-masing. Bahkan lebih jauh dari itu, liberalisme mereduksiagama menjadi urusan privat.Artinya, konsep
amar ma’ruf 
maupun
nahi munkar 
bukan saja dinilai tidakrelevan, bahkan dianggap bertentangan dengan semangat liberalisme. Asal
 
tidak merugikan pihak lain, orang yang berzina tidak boleh dihukum, apalagi jika dilakukan atas dasar suka sama suka, menurut prinsip ini. Karenamenggusur peran agama dan otoritas wahyu dari wilayah politik, ekonomi,maupun sosial, maka tidak salah jika liberalisme dipadankan dengansekularisme.Pakar sejarah Barat biasanya menunjuk motto Revolusi Perancis 1789-kebebasan, kesetaraan, persaudaraan (
liberté, égalité, fraternité
) sebagaipiagam agung (
magna charta
) liberalisme modern.Sebagaimana diungkapkan oleh H. Gruber, prinsip liberalisme yang palingmendasar ialah pernyataan bahwa tunduk kepada otoritas -apapun namanya-adalah bertentangan dengan hak asasi, kebebasan dan harga diri manusia –yakni otoritas yang akarnya, aturannya, ukurannya, dan ketetapannya ada diluar dirinya (
it is contrary to the natural, innate, and inalienable right andliberty and dignity of man, to subject himself to an authority, the root, rule,measure, and sanction of which is not in himself 
).Di sini kita mencium bau sophisme dan relativisme ala falsafah Protagorasyang mengajarkan bahwa “manusia adalah ukuran dari segalanya” – sebuahdoktrin yang kemudian dirayakan oleh para penganut nihilisme semacamNietzsche.Sebagai anak kandung Humanisme dan Reformasi abad ke-15 dan 16,liberalisme dikembangkan oleh para pemikir dan cendekiawan di Inggris(Locke dan Hume), di Perancis (Rousseau dan Diderot) dan di Jerman (Lessingdan Kant).Gagasan ini banyak diminati oleh elit terpelajar dan bangsawan yangmenyukai kebebasan berpikir tanpa batas. Sebagaimana dinyatakan olehGermaine de Staël dalam karyanya,
Considérations sur les principaux événements de la Révolution française
(1818), kaum liberal menuntutkebebasan individu yang seluas-luasnya, menolak klaim pemegang otoritas Tuhan, dan menuntut penghapusan hak-hak istimewa gereja maupun raja.Pada awalnya, liberalisme berkembang di kalangan Protestant saja. Namunbelakangan wabah liberalisme menyebar di kalangan Katholik juga. Tokoh-tokoh Kristen liberal semacam Benjamin Constant antara lain menginginkanagar pola hubungan antara institusi Gereja, pemerintah, dan masyarakatditinjau ulang dan diatur lagi.Mereka juga menuntut reformasi terhadap doktrin-doktrin dan disiplin yangdibuat oleh pihak Gereja Katholik di Roma, agar ‘disesuaikan’ dengansemangat zaman yang sedang dan terus berubah, agar sejalan denganprinsip-prinsip liberal dan tidak bertentangan dengan sains yang meskipunanti-Tuhan namun dianggap benar.Secara umum, yang dikehendaki ialah kebebasan bagi siapa saja untukmenafsirkan ajaran agama dan kitab sucinya, ketidak-terikatan denganaturan-aturan maupun keputusan-keputusan yang dikeluarkan pihak Gereja,
 
pengakuan otoritas pemerintah
vis-à-vis
otoritas Gereja, dan penghapusansistem kependetaan (
clericalism
). Inilah yang kemudian dikecam oleh PausPius ke-9, Leo ke-13 dan Pius ke-10.Kecenderungan-kecenderungan seperti ini mereka sebut “modernisme”(Lihat: Jean Reville, Liberal Christianity (London, 1903); Georges Weill,
Histoire de Catholicisme libéral en France
, 1828-1908 (Paris, 1909); danOrestes A. Brownson,
Conversations on Liberalism and the Church
(New York,1869).Di dunia Islam virus liberalisme juga berhasil masuk ke kalangancendekiawan yang konon dianggap sebagai “pembaharu” (
mujaddid
). Merekayang menjadi liberal antara lain: Rifa‘ah at-Tahtawi (1801-1873 M), QasimAmin (1863-1908 M) dan Ali Abdur Raziq (1888-1966 M) dari Mesir, SayyidAhmad Khan (1817-1898 M) dari India, Muhammad Iqbal (1877-1938 M).Di abad keduapuluh muncul pemikir-pemikir yang juga tidak kalah liberalseperti Fazlur Rahman, Mohammed Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd,Mohammed Shahrour dan pengikut-pengikutnya di Indonesia (Lihat: AlbertHourani, Arabic Thought in the Liberal Age, London, 1962; Leonard Binder,Islamic Liberalism, Chicago, 1988; dan Charles Kurzman, Liberal Islam, New York, 1998; dan Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, Jakarta,1999).Pemikiran dan pesan-pesan yang dijual para tokoh liberal itu sebenarnyakurang lebih sama saja. Ajaran Islam harus disesuaikan denganperkembangan zaman, al-Qur’an dan Hadits mesti dikritisi dan ditafsirkanulang menggunakan pendekatan historis, hermeneutis dan sebagainya, perludilakukan modernisasi dan sekularisasi dalam kehidupan beragama danbernegara, tunduk pada aturan pergaulan internasional berlandaskan hakasasi manusia, pluralisme dan lain lain-lain.Pendek kata, meminjam ungkapan Binder,
liberalism treats religion asopinion and, therefore tolerates diversity in precisely those realms that traditional belief insists upon without equivocation. Maka wajarlah jikakemudian ia menilai bahwa Islam and liberalism appear to be in contradiction
(hlm.2)Dari uraian ringkas di atas dapat kita simpulkan bahwa paham liberalismemencakup tiga hal: (1)
free thinking
; (2)
sophisme
; dan (3)
loose adherenceto and free exercise of religion
.
Yang pertama
berarti kebebasan memikirkan apa saja dan siapa saja.“Berpikir kok dilarang,” ujar mereka.
Yang kedua
biasanya lebih dikenaldengan istilah ‘
sūfasthā’iyyah’ 
, yakni pandangan-pandangan skeptik,agnostik, dan relativistik.Sementara yang disebut
terakhir 
tidak lain dan tidak bukan adalahmanifestasi
nifaq,
dimana seseorang tidak mau dikatakan kafir walaupundirinya sudah tidak
committed
lagi pada ajaran agama.

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...