pengakuan otoritas pemerintah
vis-à-vis
otoritas Gereja, dan penghapusansistem kependetaan (
clericalism
). Inilah yang kemudian dikecam oleh PausPius ke-9, Leo ke-13 dan Pius ke-10.Kecenderungan-kecenderungan seperti ini mereka sebut “modernisme”(Lihat: Jean Reville, Liberal Christianity (London, 1903); Georges Weill,
Histoire de Catholicisme libéral en France
, 1828-1908 (Paris, 1909); danOrestes A. Brownson,
Conversations on Liberalism and the Church
(New York,1869).Di dunia Islam virus liberalisme juga berhasil masuk ke kalangancendekiawan yang konon dianggap sebagai “pembaharu” (
mujaddid
). Merekayang menjadi liberal antara lain: Rifa‘ah at-Tahtawi (1801-1873 M), QasimAmin (1863-1908 M) dan Ali Abdur Raziq (1888-1966 M) dari Mesir, SayyidAhmad Khan (1817-1898 M) dari India, Muhammad Iqbal (1877-1938 M).Di abad keduapuluh muncul pemikir-pemikir yang juga tidak kalah liberalseperti Fazlur Rahman, Mohammed Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd,Mohammed Shahrour dan pengikut-pengikutnya di Indonesia (Lihat: AlbertHourani, Arabic Thought in the Liberal Age, London, 1962; Leonard Binder,Islamic Liberalism, Chicago, 1988; dan Charles Kurzman, Liberal Islam, New York, 1998; dan Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, Jakarta,1999).Pemikiran dan pesan-pesan yang dijual para tokoh liberal itu sebenarnyakurang lebih sama saja. Ajaran Islam harus disesuaikan denganperkembangan zaman, al-Qur’an dan Hadits mesti dikritisi dan ditafsirkanulang menggunakan pendekatan historis, hermeneutis dan sebagainya, perludilakukan modernisasi dan sekularisasi dalam kehidupan beragama danbernegara, tunduk pada aturan pergaulan internasional berlandaskan hakasasi manusia, pluralisme dan lain lain-lain.Pendek kata, meminjam ungkapan Binder,
liberalism treats religion asopinion and, therefore tolerates diversity in precisely those realms that traditional belief insists upon without equivocation. Maka wajarlah jikakemudian ia menilai bahwa Islam and liberalism appear to be in contradiction
(hlm.2)Dari uraian ringkas di atas dapat kita simpulkan bahwa paham liberalismemencakup tiga hal: (1)
free thinking
; (2)
sophisme
; dan (3)
loose adherenceto and free exercise of religion
.
Yang pertama
berarti kebebasan memikirkan apa saja dan siapa saja.“Berpikir kok dilarang,” ujar mereka.
Yang kedua
biasanya lebih dikenaldengan istilah ‘
sūfasthā’iyyah’
, yakni pandangan-pandangan skeptik,agnostik, dan relativistik.Sementara yang disebut
terakhir
tidak lain dan tidak bukan adalahmanifestasi
nifaq,
dimana seseorang tidak mau dikatakan kafir walaupundirinya sudah tidak
committed
lagi pada ajaran agama.
Add a Comment