Kado Pernikahan183
Masalah hubungan seks merupakan tema penting yang sering menjadipembahasan para ulama terdahulu. Ada berbagai kitab karya ulama kita yang secaraluas mengupas berbagai segi kehidupan seks antara suami dan istri, baik dalam satukitab tersendiri yang membahas masalah hubungan seks secara rinci dan mendalammaupun sebagai bagian dari pembahasan mengenai agama secara keseluruhan.Berbeda dengan berbagai agama lain
(juga interpretasi dari sebagian orang Islam yang belum banyak menyelami ajaran Islam)
, hubungan seks suami-istri dipandangsebagai bagian dari kesucian agama. Bahkan, Allah Swt. memberi pahala kepadasuami-istri yang melakukan persetubuhan
(jima’)
.Rasulullah Saw. pernah bersabda,
“Sesungguhnya seorang suami yang memandang istrinya dan istrinya punmemandangnya (dengan syahwat), maka Allah akan memandang dua insan tersebut dengan pandangan rahmat. Dan jika suami itu memegang telapak tangan istrinyadengan maksud mencumbunya atau menjima’nya, maka dosa-dosa kedua insan ituakan berjatuhan dari sela-sela jemarinya.”
(H.R. Maisarah bin Ali dan ImamRafi’i dari Abu Said al-Khudri).
Sudah sama-sama dimaklumi, kata Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, bahwa cintaorang yang bisa merasakan sesuatu yang sesuai dengan harapannya dan dia tidak sabar lagi untuk menikmatinya, lebih kuat dari cinta orang yang belum merasakannya.Bahkan jiwanya akan tersapih darinya.Cinta yang terjalin antara suami-istri dan cinta yang tumbuh setelah merekabersetubuh, kata Ibnu Qoyyim lebih lanjut, lebih besar dari cinta sebelumnya.Merupakan penyebab yang lazim jika nafsu hati bercampur dengan kenikmatanpandangan mata. Jika mata sudah bisa memandang, maka hati semakin bernafsu. Jikabadan beradu badan, maka nafsu hati, kenikmatan mata dan kelezatan berkumpulmenjadi satu. Jika hal-hal itu tidak terpenuhi, maka kerinduan akan semakinmenggelora, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah syair:
“Kerinduan semakin melecut suatu waktu jika jarak sebelumnya semakin berdekatan.”
Oleh karena itu, masih kata Ibnu Qoyyim, penderitaan terasa semakin berlipatbagi orang yang pernah melihat kekasihnya atau bersanding dengannya, lalu tiba-tibakeduanya harus berpisah. Penderitaan wanita jauh lebih terasa jika pernah merasakanmadunya laki-laki, terlebih lagi jika ia baru pertama itu merasakannya. Sehinggahampir-hampir dia tak kuasa menahannya. Aiman bin Huzaim berkata:
“Tiada lagi resah saat bersanding wanitaresah itu hadir saat berjauhan dengannya.”
Kebutuhan untuk memperoleh kehangatan dan pelukan sayang dari kekasih,tampak lebih halus pada wanita. Kalau seorang laki-laki cenderung lebih impulsif
(meskipun tidak sepenuhnya impulsif)
, maka wanita merasakannya dengan prosesyang lebih mendalam. Ia merindukan dengan keterlibatan emosi yang penuh,
Leave a Comment