Kado Pernikahan285
Di keluarga, menggunjing sering terjadi saat acara-acara santai; saat melepaslelah di siang hari; saat minum kopi atau teh panas di malam hari; saat kawan lamadatang bertamu; atau saat suami pulang dengan membawa sedikit “kekecewaan”karena terbentur dengan teman. Kadang acara santai tidak dihabiskan denganmenggunjing, tetapi digunakan untuk melotot di depan TV yang sebagian beritanya juga berisi gunjingan terhadap orang lain.Hampir setiap kita tidak bisa melepaskan dari perbuatan
ghibah
(menggunjing),kecuali orang-orang yang betul-betul
wara’
(sangat menjaga diri) saja. Ia menyerangsemua lapisan, semua kelas sosial ekonomi, serta segala latar belakang. Kita seringmendapat kesempatan untuk
ghibah
di saat sedang “berdakwah”. Kita kadangmelakukan
ghibah
dengan alasan
amar makruf nahi munkar
meskipun kita tidak pernah mengingatkan orang yang kita gunjing.Saya teringat dengan ceramah Ustadz Dzikrullahu Akbar
(semoga Allahmemuliakan hidup dan matinya)
. Beliau pernah bercerita tentang
masa’il qalbiyyah
(masalah-masalah hati) sampai akhirnya sampai kepada pembahasan tentang menjagakomentar. Ustadz Dzikrullahu Akbar menceritakan seorang ulama yang sangatmenjaga komentarnya sehingga tidak bisa dipancing-pancing, sampai-sampai seakanlebih baik disembelih daripada membicarakan keburukan orang lain.Ustadz Dzikrullahu Akbar sendiri konon adalah orang yang berhati-hati dalammasalah
ghibah
. Pernah seorang aktivis dakwah datang mengadu. Ia menceritakankawannya begini dan begitu. Semua untuk pengertian yang negatif. Kali ini UstadzDzikrullah diam.Di waktu yang lain, aktivis tersebut datang lagi. Ceritanya masih sama dengansebelumnya; tindakan teman lain yang justru membawa dampak yang negatif, danseterusnya. Semuanya menggambarkan negatifnya orang lain dan positifnya apa yangdiperjuangkan, tanpa pernah membicarakan kekurangan-kekurangannya. Kali iniUstadz Dzikrullahu masih tetap diam.Aktivis itu kemudian datang lagi untuk ketiga kali. Ia menceritakan lagi tentangtemannya di remaja masjid yang menjadi “pengganggu” dakwahnya. Ia berceritapanjang lebar.Selesai bercerita, Ustadz Dzikrullahu Akbar berkata kepada aktivis tersebut,“Aku ini heran, Mas. Sampeyan sedari dulu hingga sekarang sudah tiga kali bicarakepada aku tentang masalah itu. Tapi seingatku, Sampeyan itu tidak pernah mengakuibahwa Sampeyan ya pernah berbuat salah kepada orang itu, entah sekali atau dua kali.Kok tidak pernah. Cerita Sampeyan itu, yang jelek semua teman Sampeyan. TemanSampeyan itu jeleeek thok, tidak ada baiknya.”“Kesimpulanku begini akhirnya,” kata Ustadz Dzikrullahu Akbar, “Sampeyan itumalaikat atau Nabi. Teman Sampeyan itu setan. Bagaimana?”“Ah, ya tidak begitu,” kata aktivis dakwah itu menyergah.
Leave a Comment