Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
5Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Menghapus Pilkada Langsung

Menghapus Pilkada Langsung

Ratings:

5.0

(2)
|Views: 2,534|Likes:
Published by John Q

More info:

Published by: John Q on Feb 05, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

05/17/2011

pdf

text

original

 
February 5, 2008
Menghapus Pilkada Langsung
Eko PrasojoPolemik tentang pemilihan kepala daerah langsung muncul kembali.Jika pada pembahasaan naskah akademik UU No 32 Tahun 2004, polemik terkait pertanyaan apakah pilkadalangsung dapat meredam politik uang selama 2001-2004, kini debat terarah pada mahal dan rendahnya kualitaspilkada. Maka, Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi mengusulkan agar pilkada dihapus (Kompas,26/1/2008).Demokrasi itu lokalPemilihan kepala daerah langsung adalah instrumen untuk meningkatkan participatory democracy danmemenuhi semua unsur yang diharapkan. Apalagi, sebenarnya demokrasi bersifat lokal, maka salah satu tujuanpilkada adalah memperkuat legitimasi demokrasi.Meski demikian, di negara-negara lain, keberhasilan pilkada langsung tidak berdiri sendiri. Ia ditentukankematangan partai dan aktor politik, budaya politik di masyarakat, dan kesiapan dukungan administrasipenyelenggaraan pilkada. Kondisi politik lokal yang amat heterogen, kesadaran dan pengetahuan politik masyarakat yang rendah, jeleknya sistem pencatatan kependudukan, dan penyelenggaraan pemilihan (electoralgovernance) sering menyebabkan kegagalan tujuan pilkada langsung.Manor dan Crook (1998) menyebutkan, dalam banyak hal pemilihan langsung kepala daerah dan pemisahanantara mayor (kepala daerah) dan counceilor (anggota DPRD) di negara berkembang menyebabkan praktik pemerintahan kian buruk. Faktor utamanya adalah karakter elite lokal yang kooptatif dan selalu menutupkesempatan pihak lain untuk berkompetisi dalam politik, pengetahuan dan kesadaran politik masyarakat yangrendah, dan tidak adanya pengawasan DPRD terhadap kepala daerah.Faktor-faktor itu terefleksi di Indonesia. Kooptasi kekuasaan dilakukan incumbent dengan memanfaatkan aksesbirokrasi. Akibatnya tidak jarang data kependudukan dimanipulasi, proses penyelenggaraan pilkada tidak obyektif dan tidak independen.Sebagian besar problem dan gugatan pilkada di Indonesia bermula dari data kependudukan yang tidak valid.Demikian pula, rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap esensi pilkada menyebabkanpraktik politik uang dalam pilkada. Khusus untuk Indonesia, problem pilkada diperberat kualitas partai politik dan aktor politik yang tidak memadai. Kasus Pilkada Malut dan Sulsel menunjukkan betapa sulitnyamenghasilkan pilkada berkualitas dan diterima semua pihak.Demokrasi ”versus” efisiensiTuntutan untuk menghapus pilkada langsung bukan tanpa alasan. Di negara-negara demokrasi modern yangmemiliki tradisi pemilihan langsung, penyelenggaraan pemilu dilakukan secara terintegrasi dengan sistembirokrasi lokal. Lebih konkret, pilkada langsung di negara-negara itu dilakukan Biro Statistik Lokal atau DinasKependudukan Lokal yang memiliki perangkat dan sistem kependudukan memadai.Dengan cara itu, ada dua manfaat efisiensi. Pertama, penyelenggara pemilu tidak dibayar hanya untuk menyelenggarakan pemilu. Hal ini kontradiktif terjadi di Indonesia, bahwa biaya KPUD menjadi amat mahal
http://id.buck1.com/politik-hukum/menghapus-pilkada-langsung-566

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
juventom liked this
Cak Dayat Gawat liked this
abelquiks liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->