Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
6Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pedoman Umum Penyusunan Neraca

Pedoman Umum Penyusunan Neraca

Ratings: (0)|Views: 1,477|Likes:
Published by emasan
Dalam rangka penyusunan neraca, pos neraca yang disajikan sekurang-kurangnya adalah :
1. Kas di Bendaharawan Pembayar
2. Piutang
3. Persediaan
4. Aset Tetap
 Tanah
 Peralatan dan Mesin
 Gedung & Bangunan
 Jalan, irigasi & Jaringan
 Aset Tetap lainnya
 Bangunan dalam pengerjaan
5. Aset lainnya
6. Uang Muka Kas Umum Negara
7. Ekuitas Dana Lancar
8. Ekuitas Dana Diinvestasikan
9. Contoh Format Neraca

Uraian dibawah ini merupakan pedoman yang dapat diterapkan untuk menyajikan nilai pos-pos neraca tersebut.
1. Kas di Bendaharawan Pembayar
Kas adalah alat pembayar yang sah yang setiap saat dapat digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintah. Kas di Bendaharawan Pembayar adalah Kas yang menjadi tanggung jawab/dikelola oleh Bendaharawan Pembayar, Kas di Bendaharawan Pembayar ini meliputi Uang Kertas dan Uang Logam, Rekening Koran Bank, dan lain-lain kas yang sumbernya berasal dari dana UYHD yang belum digunakan.
Perkiraan/rekening Kas di Bendaharawan Pembayar yang disajikan di neraca suatu departemen/lembaga harus mencerminkan Kas yang benar-benar ada pada tanggal disusunnya neraca tersebut.
Untuk kepentingan penyajian saldo Kas di Bendaharawan Pembayar dalam Neraca Departemen/Lembaga diperlukan data sebagai berikut :
a. Hasil Kas Opname pada tanggal Neraca atas seluruh kas yang ada pada setiap Bendaharawan Pembayar. Buku-buku dan Catatan-catatan baik yang ada pada masing-masing Bendaharawan Pembayar maupun yang ada pada Unit Akuntansi yang relevan diverifikasi untuk mendapatkan tingkat keyakinan yang memadai atas kelayakan saldo kas pada tanggal neraca.
b. Rekening-rekening Koran seluruh bank yang dimiliki Bendaharawan Pembayar harus direkonsiliasi untuk mendapatkan saldo yang tepat pada tanggal neraca;
c. LKKR bulan yang berahir pada tanggal neraca.

2. Piutang
Piutang dalam arti luas diartikan sebagai semua hak atau klaim terhadap pihak lain atas uang , barang atau jasa. Namun untuk tujuan akuntansi, piutang memiliki arti yang lebih sempit yaitu klaim yang diharapkan akan diselesaikan melalui penerimaan uang. Piutang harus disajikan sebesar jumlah yang benar-benar akan diterima pelunasannya. Penetapan saldo piutang didasarkan pada catatan-catatan yang telah dibuat untuk masing-masing debitur setelah diverifikasi tingkat kehandalannya, yaitu catatan yang diselenggarakan pada Biro Keuangan Departemen atau unit sejenis yang ditunjuk pada Lembaga. Dalam pencatatan piutangnya Departemen/Lembaga dapat mengacu ke Undang-Undang No. 22 Tahun 1997 tentang Jenis dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak.
3. Persediaan
Persediaan adalah barang pakai habis yang diperoleh dengan maksud untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah. Persediaan dinilai dalam neraca dengan cara pembelian terakhir apabila diperoleh dengan pembelian, belanja yang dikeluarkan apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri, harga atau nilai wajar atau estimasi nilai penjualannya apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi atau rampasan. Persediaan bahan baku dan perlengkapan yang dimiliki proyek swakelola dan dibebankan kepada suatu perkiraan aset untuk bangunan dalam pengerjaan tidak dimasukkan sebagai persediaan dalam kelompok ini.
Penetapan saldo persediaan dalam neraca dilakukan dengan mengambil angka persediaan pada Laporan Tahunan dan menggunakan prosedur Memo Penyesuaian untuk membukukan ke dalam neraca menurut SAP. Cara pembuatan Memo Penyesuaian dapat dilihat pada Keputusan Menteri Keuangan No. 295/KMK.012/2002 tanggal 15 Mei 2001 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pembukuan dan Pelaporan Keuangan pada Departemen/Lembaga.
4. Aset Tetap/Barang Milik Kekayaan Negara
Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Aset tetap dapat diperoleh dari dana yang bersumber dari sebagian atau seluruh APBN melalui pembelian, pembangunan, hibah atau donasi, pertukaran dengan aset lain
Dalam rangka penyusunan neraca, pos neraca yang disajikan sekurang-kurangnya adalah :
1. Kas di Bendaharawan Pembayar
2. Piutang
3. Persediaan
4. Aset Tetap
 Tanah
 Peralatan dan Mesin
 Gedung & Bangunan
 Jalan, irigasi & Jaringan
 Aset Tetap lainnya
 Bangunan dalam pengerjaan
5. Aset lainnya
6. Uang Muka Kas Umum Negara
7. Ekuitas Dana Lancar
8. Ekuitas Dana Diinvestasikan
9. Contoh Format Neraca

Uraian dibawah ini merupakan pedoman yang dapat diterapkan untuk menyajikan nilai pos-pos neraca tersebut.
1. Kas di Bendaharawan Pembayar
Kas adalah alat pembayar yang sah yang setiap saat dapat digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintah. Kas di Bendaharawan Pembayar adalah Kas yang menjadi tanggung jawab/dikelola oleh Bendaharawan Pembayar, Kas di Bendaharawan Pembayar ini meliputi Uang Kertas dan Uang Logam, Rekening Koran Bank, dan lain-lain kas yang sumbernya berasal dari dana UYHD yang belum digunakan.
Perkiraan/rekening Kas di Bendaharawan Pembayar yang disajikan di neraca suatu departemen/lembaga harus mencerminkan Kas yang benar-benar ada pada tanggal disusunnya neraca tersebut.
Untuk kepentingan penyajian saldo Kas di Bendaharawan Pembayar dalam Neraca Departemen/Lembaga diperlukan data sebagai berikut :
a. Hasil Kas Opname pada tanggal Neraca atas seluruh kas yang ada pada setiap Bendaharawan Pembayar. Buku-buku dan Catatan-catatan baik yang ada pada masing-masing Bendaharawan Pembayar maupun yang ada pada Unit Akuntansi yang relevan diverifikasi untuk mendapatkan tingkat keyakinan yang memadai atas kelayakan saldo kas pada tanggal neraca.
b. Rekening-rekening Koran seluruh bank yang dimiliki Bendaharawan Pembayar harus direkonsiliasi untuk mendapatkan saldo yang tepat pada tanggal neraca;
c. LKKR bulan yang berahir pada tanggal neraca.

2. Piutang
Piutang dalam arti luas diartikan sebagai semua hak atau klaim terhadap pihak lain atas uang , barang atau jasa. Namun untuk tujuan akuntansi, piutang memiliki arti yang lebih sempit yaitu klaim yang diharapkan akan diselesaikan melalui penerimaan uang. Piutang harus disajikan sebesar jumlah yang benar-benar akan diterima pelunasannya. Penetapan saldo piutang didasarkan pada catatan-catatan yang telah dibuat untuk masing-masing debitur setelah diverifikasi tingkat kehandalannya, yaitu catatan yang diselenggarakan pada Biro Keuangan Departemen atau unit sejenis yang ditunjuk pada Lembaga. Dalam pencatatan piutangnya Departemen/Lembaga dapat mengacu ke Undang-Undang No. 22 Tahun 1997 tentang Jenis dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak.
3. Persediaan
Persediaan adalah barang pakai habis yang diperoleh dengan maksud untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah. Persediaan dinilai dalam neraca dengan cara pembelian terakhir apabila diperoleh dengan pembelian, belanja yang dikeluarkan apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri, harga atau nilai wajar atau estimasi nilai penjualannya apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi atau rampasan. Persediaan bahan baku dan perlengkapan yang dimiliki proyek swakelola dan dibebankan kepada suatu perkiraan aset untuk bangunan dalam pengerjaan tidak dimasukkan sebagai persediaan dalam kelompok ini.
Penetapan saldo persediaan dalam neraca dilakukan dengan mengambil angka persediaan pada Laporan Tahunan dan menggunakan prosedur Memo Penyesuaian untuk membukukan ke dalam neraca menurut SAP. Cara pembuatan Memo Penyesuaian dapat dilihat pada Keputusan Menteri Keuangan No. 295/KMK.012/2002 tanggal 15 Mei 2001 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pembukuan dan Pelaporan Keuangan pada Departemen/Lembaga.
4. Aset Tetap/Barang Milik Kekayaan Negara
Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Aset tetap dapat diperoleh dari dana yang bersumber dari sebagian atau seluruh APBN melalui pembelian, pembangunan, hibah atau donasi, pertukaran dengan aset lain

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: emasan on Oct 03, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/21/2012

pdf

text

original

 
Pedoman Umum Penyusunan Neraca
Pedoman Umum Penyusunan Neraca
Dalam rangka penyusunan neraca, pos neraca yang disajikan sekurang-kurangnyaadalah :1.Kas di Bendaharawan Pembayar 2.Piutang3.Persediaan4.Aset Tetap
Tanah
Peralatan dan Mesin
Gedung & Bangunan
Jalan, irigasi & Jaringan
Aset Tetap lainnya
Bangunan dalam pengerjaan5.Aset lainnya6.Uang Muka Kas Umum Negara7.Ekuitas Dana Lancar 8.Ekuitas Dana Diinvestasikan9.Contoh Format NeracaUraian dibawah ini merupakan pedoman yang dapat diterapkan untuk menyajikan nilai pos-pos neraca tersebut.
11
Kas di Bendaharawan Pembayar
Kas adalah alat pembayar yang sah yang setiap saat dapat digunakanuntuk membiayai kegiatan pemerintah. Kas di BendaharawanPembayar adalah Kas yang menjadi tanggung jawab/dikelola olehBendaharawan Pembayar, Kas di Bendaharawan Pembayar ini meliputiUang Kertas dan Uang Logam, Rekening Koran Bank, dan lain-lainkas yang sumbernya berasal dari dana UYHD yang belum digunakan.Perkiraan/rekening Kas di Bendaharawan Pembayar yang disajikan dineraca suatu departemen/lembaga harus mencerminkan Kas yang benar-benar ada pada tanggal disusunnya neraca tersebut.Untuk kepentingan penyajian saldo Kas di Bendaharawan Pembayar dalam Neraca Departemen/Lembaga diperlukan data sebagai berikut :a.Hasil Kas Opname pada tanggal Neraca atas seluruh kasyang ada pada setiap Bendaharawan Pembayar. Buku-buku danCatatan-catatan baik yang ada pada masing-masingBendaharawan Pembayar maupun yang ada pada UnitAkuntansi yang relevan diverifikasi untuk mendapatkan tingkatkeyakinan yang memadai atas kelayakan saldo kas pada tanggalneraca. b.Rekening-rekening Koran seluruh bank yang dimilikiBendaharawan Pembayar harus direkonsiliasi untuk mendapatkan saldo yang tepat pada tanggal neraca;c.LKKR bulan yang berahir pada tanggal neraca.
 
11
Piutang
Piutang dalam arti luas diartikan sebagai semua hak atau klaimterhadap pihak lain atas uang , barang atau jasa. Namun untuk tujuanakuntansi, piutang memiliki arti yang lebih sempit yaitu klaim yangdiharapkan akan diselesaikan melalui penerimaan uang. Piutang harusdisajikan sebesar jumlah yang benar-benar akan diterima pelunasannya. Penetapan saldo piutang didasarkan pada catatan-catatan yang telah dibuat untuk masing-masing debitur setelahdiverifikasi tingkat kehandalannya, yaitu catatan yang diselenggarakan pada Biro Keuangan Departemen atau unit sejenis yang ditunjuk padaLembaga. Dalam pencatatan piutangnya Departemen/Lembaga dapatmengacu ke Undang-Undang No. 22 Tahun 1997 tentang Jenis danPenyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak.
11
Persediaan
Persediaan adalah barang pakai habis yang diperoleh dengan maksuduntuk mendukung kegiatan operasional pemerintah. Persediaan dinilaidalam neraca dengan cara pembelian terakhir apabila diperoleh dengan pembelian, belanja yang dikeluarkan apabila diperoleh denganmemproduksi sendiri, harga atau nilai wajar atau estimasi nilai penjualannya apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi ataurampasan. Persediaan bahan baku dan perlengkapan yang dimiliki proyek swakelola dan dibebankan kepada suatu perkiraan aset untuk  bangunan dalam pengerjaan tidak dimasukkan sebagai persediaandalam kelompok ini.Penetapan saldo persediaan dalam neraca dilakukan denganmengambil angka persediaan pada Laporan Tahunan danmenggunakan prosedur Memo Penyesuaian untuk membukukan kedalam neraca menurut SAP. Cara pembuatan Memo Penyesuaian dapatdilihat pada Keputusan Menteri Keuangan No. 295/KMK.012/2002tanggal 15 Mei 2001 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pembukuan danPelaporan Keuangan pada Departemen/Lembaga.
11
Aset Tetap/Barang Milik Kekayaan Negara
Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebihdari satu periode akuntansi untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Aset tetapdapat diperoleh dari dana yang bersumber dari sebagian atau seluruhAPBN melalui pembelian, pembangunan, hibah atau donasi, pertukaran dengan aset lainnya dan dari rampasan. Pengukuran AsetTetap menggunakan nilai historis yaitu nilai perolehan aset tetap.Pencatatan aset tetap tidak didepresiasikan.Data aset tetap ini diadministrasikan oleh Biro Perlengkapan atau BiroUmum atau Biro lainnya yang ditunjuk oleh Menteri atau PimpinanLembaga. Data aset tetap diambil dari Laporan Tahunan BarangMilik/Kekayaan Negara posisi akhir tahun dengan memperhatikanhasil inventarisasi Barang Milik/Kekayaan Negara dan kemudiandengan dilakukan reklasifikasi aset tetap yang ada di Laporan Tahunansesuai dengan klasifikasi dibawah ini :
 
a.Tanah b.Peralatan & Mesinc.Gedung & Bangunand.Jalan, Irigasi & Jaringane.Aset Tetap lainnyaf.Bangunan dlm PengerjaanPenjelasan klasifikasi secara lebih terinci dapat dilihat pada bukuPedoman Sistem Akuntansi Aset Tetap (SAAT). Dalam buku PedomanSAAT tersebut juga dijelaskan cara mereklasifikasikan aset tetapdalam Lapran Tahunan ke dalam klasifikasi akuntansi SAP. Untuk membukukan ke dalam Neraca gunakan prosedur Memo Penyesuaianyang dijelaskan dalam Keputusan Menteri Keuangan No.295/KMK.012/2001 tanggal 15 Mei 2001 tentang Tata CaraPelaksanaan Pembukuan dan Pelaporan Keuangan padaDepartemen/Lembaga. Untuk meyakini atau dapat diandalkannyalaporan tahunan, harus dilakukan inventarisasi fisik untuk posisitanggal neraca. Perlu adanya pengungkapan untuk penambahan asettetap dalam tahun berjalan yang diklasifikan per jenis aset tetap.
11
Aset Lainnya
Aset Lainnya adalah aset yang tidak dapat dikelompokkan ke dalamaset lancar, aset tetap dan investasi permanen. Aset lainnya antara lainmeliputi Piutang Angsuran dari penjualan aset pemerintah, BuiltOperating Transfer, Dana Cadangan dan Aset Lain-lain. Aset Lainnyayang diperoleh melalui pembelian dinilai dengan harga perolehan.Dalam hal piutang angsuran dari penjualan aset pemerintah, harga perolehan merupakan harga nominal dari kontrak. Aset Lainnyadikelompokkan dalam :a.Piutang AngsuranPiutang Angsuran menggambarkan jumlah yang dapat diterimadari penjualan rumah dan kendaraan kepada pegawai pemerintah. b.Built Operating Transfer / Kemitraan Pemerintah &SwastaAset Lain-lain di luar Piutang Angsuran, BOT dan DanaCadangan antara lain meliputi tagihan kepada pegawai pemerintah yang terbukti menyalahgunakan dana pemerintahdan tuntutan ganti rugi (TGR).c.Aset Lain-lainBuilt Operating Transfer (BOT) menggambarkan nilai hak yang akan diperoleh atas suatu bangunan yang dibangundengan cara kemitraan pemerintah dan swasta berdasarkan perjanjian. Bangunan berdasarkan kemitraan pemerintah danswasta dinilai berdasarkan nilai perolehan pada saat bangunantersebut selesai dibangun.

Activity (6)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
hedymarzuki liked this
Paul Libero liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->