Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Cara Pandang Islam Terhadap Hak Reproduksi

Cara Pandang Islam Terhadap Hak Reproduksi

Ratings: (0)|Views: 606 |Likes:
Published by Sri Utami

More info:

Published by: Sri Utami on Oct 03, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/15/2012

pdf

text

original

 
CARA PANDANG ISLAM TERHADAP HAK-HAK REPRODUKSI 
Bicara reproduksi perempuan sesungguhnya adalah bicara soal tubuh perempuan berikutsemua yang dimilikinya. Ia bukan sekedar seonggok tulang yang dibungkus daging dankulit serta organ-organ reproduksi, tetapi juga hati nurani dan akal pikirannya. Ia adalahtubuh manusia dengan seluruh eksistensinya seperti manusia berjenis kelamin laki-laki.Dalam waktu yang sangat panjang makhluk Tuhan berjenis kelamin perempuan inidipandang oleh banyak peradaban manusia sebagai sosok yang yang hadir untuk dinikmati secara seksual, berfungsi melahirkan sekaligus juga direndahkan. Aristotelesmengkonseptualisasikan perempuan bukan hanya berkedudukan subordinat, melainkan juga secara bawaan dan biologis bersifat inferior dalam kapasitas mental maupun fisik.Semuanya bersifat alami.(Laela Ahmed, Wanita dan Gender dalam Islam, hlm.29).Dalam peradaban Arabia pra Islam perempuan adalah mata (benda) yang bisa diwariskanatau digadaikan dan mut’ah” (kesenangan) yang bisa diperebutkan laki-laki. Lebih dariitu perempuan dianggap sebagai sumber malapetaka dan kesengsaraan. Karena itu iaseringkali dianggap wajar untuk dikutuk seperti setan dan pantas untuk dibunuh bahkanhidup-hidup.Realitas kebudayaan seperti ini diungkapkan oleh sejumlah ayat dalam al Qur-an.(Baca :Q.S. al Nahl, 58, al Takwir, 9). Wahb bin Munabbih, seorang ahli tafsir bibelterkemuka, beragama Yahudi kemudian masuk Islam, seperti dikutip ahli Tafsir klasik terkemuka, Ibnu Jarir al Thabari, ketika mengomentari kejatuhan Adam dari sorga,mengatakan : Tuhan bertanya kepada Adam : mengapa kamu menentang perintah-Ku?”.Adam menjawab : Gara-gara Hawa. Tuhan kemudian mengatakan : Jika begitu, Aku akan jadikan dia (Hawa) berdarah-darah setiap bulan, Aku jadikan dia bodoh dan Aku jadikandia menderita ketika melahirkan. Padahal sebelumnya dia Aku jadikan bersih cerdas danmelahirkan dengan menyenangkan”. Salah seorang periwayat kisah ini mengomentari :Andaikata tidak karena Hawa, niscaya perempuan di seluruh muka bumi tidak akan pernah haid, cerdas-cerdas dan melahirkan tanpa susah payah”. (Al thabari, Jami’ al
 
Bayan ‘an Takwil Ay al Qur-an, I/237).Pernyataan al Qur-an maupun perspektif Ibnu Munabbih di atas dengan jelasmemperlihatkan betapa pandangan peradaban Arabia pra Islam dan wacana tafsir keagamaan telah menyudutkan dan merendahkan perempuan sedemikian jauhnya.Meskipun pandangan Ibnu Munabbih sulit dipahami oleh logika sehat dan sangat berbaumitologis, tetapi ia memiliki implikasi-implikasi yang serius terhadap status perempuandi kemudian hari. Penghargaan sedikit lebih baik terhadap kaum perempuan dilakukandengan memasukkan mereka ke dalam rumah, tidak boleh keluar kecuali melalui izinsuami atau keluarga dekatnya atau dengan pengawasan yang sangat ketat.Dan di rumah itu tugas utama perempuan adalah melayani kebutuhan seks laki-laki(suami) dan melahirkan anak. Perempuan (isteri) harus senantiasa siap menerimakebutuhan laki-laki itu kapan saja dan di mana saja, di dapur atau di atas punggung unta.
Islam dan Hak-hak Perempuan
Islam sebagai agama seperti juga agama-agama yang lain adalah otoritas yang selalu berfungsi menyelamatkan dan membebaskan manusia dari tirani-tirani manusia yang lain.Al Qur-an menyebutkan fungsi ini sebagai yukhrijuhum min al zhulumat ila al nur”(mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya). Islam hadir dalam peradaban patriarkhis yang menindas perempuan. Nabi Muhammad menyampaikan statement Tuhan tentang penghapusan diskriminasimanusia di satu sisi dan membangkitkan kesadaran baru tentang martabat manusia di sisiyang lain. Laki-laki dan perempuan menurut teks suci Tuhan lahir dari entitas yang samadan karena itu berkedudukan sejajar dan sama di hadapan Tuhan. (Baca : Q.S. al Nisa, 1).Ini adalah merupakan konsekwensi logis dari teologi monoteistik yang dibawa Islam.Beberapa ayat al Qur-an yang turun menyebutkan nama perempuan bersama nama laki-laki.
 
Mereka memiliki hak-hak otonom yang tidak bisa diintervensi laki-laki. Ini, kata Umar  bin Khattab adalah paradigma baru yang belum pernah terjadi sebelumnya.(Al Bukhari,al Shahih,V/2197). Bahkan beberapa surah diberi nama al Nisa” yang berarti perempuan,atau nama seorang perempuan, seperti Maryam atau yang berkaitan dengan persoalan hak reproduksi perempuan seperti al Thalaq.Pandangan kesetaraan manusia, laki-laki dan perempuan dalam al Qur-an meliputi aspek-aspek spiritualitas, intelektualitas dan seksualitas serta segala aktifitas kehidupan praktisyang lain. Tentang hubungan seksualitas, al Qur-an menyatakan : dan mereka(perempuan) memiliki hak yang sebanding dengan kewajiban mereka”.(Q.S. al Baqarah,228).Ibnu Abbas, seorang sahabat Nabi terkemuka, mengomentari ayat ini dengan mengatakan: Aku suka berdandan untuk isteriku seperti aku suka dia berdandan untukku”.(IbnuKatsir, Tafsir al Qur-an al Azhim, I/271). Ayat lain juga menyebutkan : mereka(perempuan) adalah pakaian bagi kamu dan kamu adalah pakaian bagi mereka”.(Q.S. AlBaqarah, 187).Ayat ini dikemukakan dalam konteks relasi seksual suami isteri. Ibnu Abbas, Mujahid,Said bin Jubair, al Hasan, Qatadah, al Siddi, Muqatil bin Hayyan menyatakan bahwa ayatini berarti bahwa mereka tempat ketenangan bagi kamu (laki-laki) dan kamu tempatketenangan bagi mereka (perempuan). Ibnu Katsir atas dasar ayat ini menyimpulkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak untuk menikmati kehidupan seksualnya.(Ibnu Katsir, Tafsir al Qur-an al ‘Azhim, I/220).
Pandangan mainstream konservatif 
Pandangan egalitarianisme Islam di atas adalah satu dari sekian prinsip Islam yangdiharapkan menjadi landasan bagi system dan pranata-pranata social yang harus dibangunoleh masyarakat Islam untuk sebuah kehidupan yang adil. Sesudah nabi wafat dan beberapa waktu sesudah itu, pandangan demikian mengalami proses perjalanan yangtidak mulus bahkan ada kecenderungan stagnan atau bahkan mundur ke belakang. Dalam

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
lilo85 liked this
dhy09 liked this
Muhamad Amaly liked this
Cakra Birawa liked this
pangeransang liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->