Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
36Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tour De Laweyan

Tour De Laweyan

Ratings: (0)|Views: 3,321 |Likes:
Travel guide to Laweyan, a small village in Solo, Central Java, Indonesia. Laweyan's peope are batik makers, they did it for hundreds years. Map inside.
Travel guide to Laweyan, a small village in Solo, Central Java, Indonesia. Laweyan's peope are batik makers, they did it for hundreds years. Map inside.

More info:

Published by: Hifatlobrain Travel Institute on Oct 04, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/06/2013

pdf

text

original

 
ku tumbuh dewasa denganhanya mengenal 2 jenis pakaian:kaos oblong dan celana jeans.
A
Aku tahu dan aku punya batik, tapi aku jarang memakainya. Bukannya tak sukaatau apa, tapi aku menganggap:
I was born to be wild! 
, seperti kataSteppenwolf, band jadul tahun 60-an itu.Dan para rocker maupun manusia liarlain, akan turun derajat keliarannyakalau memakai batik. Coba bayangkankalau Ozzy Ousbourne yang berambutgondrong itu teriak-teriak “
I’ am paranoid, I’am paranoid! 
” sambilmemakai batik. Terlihat aneh bukan?Dari dulu sampai sekarang, batik identikdengan kaum tua yang berambut rapi,memakai celana berbahan kain lembutdan dilengkapi sepatu pantofel. Dan jelas, aku tak cocok dengan imej sepertiitu. Akhirnya aku memakai batik dalamsuatu kesempatan. Dengan rambutgondrongku, yang dikombinasikandengan muka mesum, ternyata derajatketampananku bisa meningkat beberapadigit. Itu dulu semasa aku masih SMP, jaman baheula ketika aku barumengenal
blue film 
. Itulah pengalamanpertamaku memakai batik, dan itu baruterulang lagi beberapa tahun kemudian,ketika aku sudah duduk di semester 8bangku kuliah.Berbicara mengenai batik, aku tak inginmembahas soal sejarah atau soal ribut-ribut dengan Malaysia itu. Sudah banyakyang membahasnya, dan ahh itumemang tidak penting. semua juga tahukalau batik itu memang punya Indonesiatercinta.Membaca
ebook 
ini akan memberikankalian pengalaman belajar sejarah yangmenyenangkan. Aku membaca sejarahbatik kampung Laweyan yang dituliskanoleh Ayos dan Navan Satriaji ini sepertisebuah narasi yang tak membosankan.Dua orang gembul ini merupakanperpaduan yang unik sekaligus kontras.Ayos dengan gaya menulis yang
straight to the point 
, lugas dan sedikit narsis,berbanding dengan gaya menulis Navanyang deskriptif sekaligus polos. Akubeberapa kali tersenyum ketika Navanmenuliskan soal muka masam suami ibuEni, dan beberapa kali hampir pingsanketika membaca rentetan kalimat Ayosyang menampankan diri sendiri.Karena gaya menulis yang uniksekaligus renyah itulah, aku danmungkin juga kalian tak akan pernahsuntuk ketika membaca sejarah –dalamkasus ini, sejarah batik dan kampungLaweyan. Kita akan dibawa oleh gayabercerita yang lugas dan deskriptif. Kauakan terbawa hanyut ke dalamimajinasimu akan Laweyan ketikamembaca tulisan si Navan, dan akaningin belajar membatik ketika membacatulisan si Ayos. Kaum-kaum borjuis pasti juga akan tersindir dan patut malu ketikasi Navan dengan gaya polosnyamenulis:
“Sungguh sangat disayangkan jika Anda hanya memarkir mobil di Laweyan untuk sekedar menghabiskan waktu dengan wisata belanja semata. Manfaatkanlah waktu Anda sejenak untuk menyusuri eksotisme bangunan-bangunan tua Laweyan dan lorong-lorong kecil yang menjalar di setiap sudutnya” 
Buku ini juga tidak akan terwujud tanpabantuan Dini Sasmita, seorangmahasiswa UGM yang membantumelakukan riset kecil selama diLaweyan dan membantu menyediakanpeta belanja Laweyan yang dia buatbersama teman-teman KKN UGM yangbertugas di Laweyan beberapa bulanyang lalu. Dini jugalah yangmenghubungkan kami dengan ForumPengembangan Kampung BatikLaweyan, sebuah NGO yang terdiri dariorang lokal yang ingin menyelamatkandan mengembangkan Laweyan sebagaisebuah kawasan
heritage 
.***anggal 2 Oktober adalah HariBatik Nasional. Ada himbauan
T
untuk memakai batik pada hariitu. Anak-anak muda berlomba-lombaingin menunjukkan “nasionalisme”mereka dengan memakai batik secaramassal. Apa lantas aku akan ikutan?Maaf, aku gak ikutan. Aku bukan orangyang suka ikut-ikutan tren.Bagaimana dengan kalian? Apa kalianakan latah dengan memakai batik padatanggal itu saja? Aku sih menyayangkankalau kita hanya memakai batik padatanggal 2 Oktober saja. Lama-lamamungkin Batik Day hanya akan berujungsama seperti Valentine Day, perayaantanpa makna, hanya selebrasi belaka.Kalau memang masih enggan memakaibatik, ya tak usahlah kalianmemakainya. Kalau memang hanyauntuk ikut-ikutan, lebih baik kaliankembali mengenakan kaos distro dancelana pensil kalian itu. Oh ya, janganlupa pelorotkan celana pensil kalian danperlihatkan boxernya…***ku berdiri di atas panggungmalam itu. Rambutku gondrong
A
sepunggung, tampak sangat liardengan keringat di bagian mukakuapalagi saat itu aku menyanyikan lagu-lagu Led Zeppelin. Aku memakai kaosdengan motif batik burung merak kawin.Tampak aneh bukan, seorang
rocker 
memakai batik berdiri di atas panggung?Itu adalah imajinasiku, tentang mimpikumenjadi
rockstar 
. Mungkin 10 tahun lagi,atau bahkan bisa jadi 5 tahun lagi. Akuberjanji pada diriku sendiri, pada JimMorrison, pada Kiai Haji Samanhudi,pada Ayos Purwoaji, Navan Satriaji dan juga pada Dini Sasmita, bahwa di hariaku jadi
rockstar 
, aku akan memakaibatik ketika berada di atas panggung!Janji itu terlontar di dalam hati setelahaku membaca
ebook 
sialan ini (sialankarena aku tak ikut berpetualang diLaweyan). Bisa jadi kalian juga akantergugah hatinya, dan mencintai batiksetelah membaca buku ini.Tapi ingat, jangan pakai batik kalauhanya ikut-ikutan. Aku malasmelihatnya. Untuk semua pembacaebook ini:
Happy Batik Day Pals! 
 
Kampung Laweyan memang sudah sejak lama menjadi salah satudestinasi utama untuk wisata batik. Menurut sejarah, Batik tumbuhdan berkembang di laweyan sejak abad 15. Sejak saat itu laweyan punmenjadi pusat pengembangan batik yang sangat berpengaruh. Saatini, setelah Unesco mengakui bahwa batik adalah warisan budayaIndonesia, Laweyan mengalami transformasi budaya terutama padagenerasi mudanya. Lalu siapakah yang akan menjadi generasi barupembuat batik di Laweyan?

Activity (36)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Firman Hidayat liked this
Marlia Lia liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->