• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
INTELLIGENT SYSTEMS AND CONTROL SYSTEMS
 
Seminar Nasional “Soft Computing, Intelligent Systems and Information Technology” (SIIT 2005) 
3-26
Algoritma Thinning Citra Terbalik untuk Sistem Pengenalan Pola Sidik Jari
Sunny Arief Sudiro
Fakultas Ilmu Komputer/Universitas GunadarmaKampus Gunadarma Depok Gd. 1 Lt. 3Jl. Margonda Raya No. 100 Depok 16424Telp. 78881112. Extension : 477.E-mail : sunny@staff.gunadarma.ac.id
ABSTRAK
Sistem pengenalan pola sidik jari merupakan salah satu sistem biometrik yang paling populer disamping tingkat akurasi yangbaik juga lebih mudah daripada sistem biometrik lainnya. Meskipun demikian pada sistem pengenalan pola sidik jari, prosesawal untuk mendapatkan ciri-ciri khusus tidak mudah dan memerlukan waktu. Salah satu proses tersebut adalah penipisan citraatau yang dikenal dengan thinning. Algoritma thinning sangat tergantung pada representasi bit dari citra yang akan diproses,pada umumnya adalah bit 1 untuk citra gelap dan bit 0 untuk citra terang. Seperti halnya citra sidik jari biasa direpresentasikandengan bit 1 untuk ridge (bukit) dan bit 0 untuk valley (lembah/kerut). Pengenalan pola sidik jari pada umumnya mengolahcitra ridge untuk proses ektstraksinya, sedangkan lebar/ketebalan ridge pada umumnya lebih lebar daripada valley(lembah/kerut) sehingga proses thinning akan lebih lama.
 
Pada tulisan ini akan disampaikan algoritma thinning untuk mengolah citra terang bukan citra gelap pada umumnya dan akan diterapkan untuk ekstraksi pola sidik jari dalam sistempengenalan pola sidik jari berdasarkan citra valley (lembah/kerut).
Kata Kunci :
thinning,
ekstraksi,
ridge
(bukit),
valley
(lembah), pola sidik jari, skeletonisasi.
1.
 
PENDAHULUAN
Pada system pengenalan pola sidik jari proses ekstraksimenjadi proses utama dan penting, proses ini padadasarnya terdiri dari dua jenis yakni struktur global danstruktur local.[1][3] Ekstraksi yang dilakukan adalahberdasarkan ekstraksi struktur lokal atau ekstraksi
minutiae
pola sidik jari. Proses ekstraksi pola sidik jarididahului oleh proses awal seperti:
binarization
,
edgedetection
dan
thinning
baru kemudian proses ekstraksiitu sendiri.[1] Dengan demikian proses
thinning
meme-gang peranan penting dalam proses ektraski strukturlokal pola sidik jari, semakin tebal citra yang harus di-
thinning
maka akan memerlukan waktu yang lebihlama. Mengingat lebar citra
valley
lebih sempit daricitra
ridge
suatu citra sidik jari, diharapkan proses
thinning
yang dilakukan menjadi lebih cepat. Disinidiperlukan algoritma
thinning
yang khusus untuk diterapkan pada citra seperti itu. Seperti gambar berikutadalah contoh proses
thinning
yang harus membalik citra terlebih dulu (gambar 1), tanpa citra tersebutdibalik maka hasil thinning akan memberikan hasilyang tidak diharapkan (gambar 2). Algortima akandikembangkan menggunakan pemrograman Matlab.Gambar 1. Proses
Thinning
dengan citra dibalik Gambar 2. Proses Thinning citra tidak dibalik 
2. ALGORTIMA THINNING
Thinning atau penipisan adalah suatu prosespengurangan objek dalam citra digital hingga ukuranminimal yang diperlukan untuk pengenalan objek tersebut oleh komputer, hasilnya dikenal dengan
skeleton
(kerangka) dan proses
thinning
kadang-kadangdikenal juga sebagai skeletonisasi.Algoritma thinning dikelompokkan dalam dua kelom-pok utama yakni
iterative (pixel based)
dan
non-iterative (non pixel-based).
Untuk kelompok iterativeterdiri dari sequential dan parallel, sedangkan yangnon-iterative terdiri dari
medial axis transform, line following
dan lain-lain.[3]Meskipun secara umum proses thinning secaraberulang akan melakukan proses penghapusan padatitik-titik tepi suatu area, beberapa hal harus diperhati-kan :
 
(1)
 
tidak menghapus atau menghilangkan titik akhir[5](2)
 
tidak memutuskan keterhubungan(3)
 
dan tidak terjadi pengikisan yang terlalu ber-lebihan
 
 
INTELLIGENT SYSTEMS AND CONTROL SYSTEMS
 
Seminar Nasional “Soft Computing, Intelligent Systems and Information Technology” (SIIT 2005) 
3-27
Suatu algoritma thinning dikatakan baik jika meliputiproses untuk menangani hal-hal sebagai berikut:[4](1)
 
kepekaan terhadap noise, algoritma thining seha-rusnya tidak peka terhadap noise (mengabaikannoise). Noise dapat menyebabkan algoritmathinning mengahasilkan kerangka yang tidak benar.(2)
 
mempertahankan topologi dan geometri objek, halini dapat dicapai jika tidak terjadi pemutusanketerhubungan dan pengikisan yang berlebihan.(3)
 
isotropi, hasil kerangka tetap sama meskipun objek diputar dalam berbagai arah.(4)
 
dapat direkonstruksi, objek dapat dibentuk kembaliberdasarkan kerangka hasil thinning.(5)
 
efisien, kecepatan proses menjadi hal yang utamaterutama pada aplikasi
real time
.Gambar 3a. citra bernoise dan citra idealGambar 3b. Kerangka hasil thinning yang dipengaruhinoise.Salah satu algortima thinning iterative parallel yakniyang disajikan oleh Zhang and Suen dalam [4][5], danakan dikembangkan menggunakan pemrogrammanMatlab. Algoritma ini didasarkan terhadap evaluasinilai pixel dan 8 pixel tetangga atau dikenal dengan
the8-neighborhood pixel
, dengan pixel acuan P
1
P9(i-1,j-1)untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar 4.P2(i-1,j)P3(i-1,j+1)P8(i,j-1)P1(i,j)P4(i,j+1)P7(i+1,j-1)P6(i+1,j)P5(i+1,j+1)Gambar 4. 8 Tetangga dari pixel P1Algoritma ini terdiri dari dua sub iterasi, dan untuk masing-masing iterasi dikenakan aturan yang berbedadalam penentuan penghapusan pixel, psudocodetampak seperti:I = citra asliJ,K = citra sementaraJ = IK = IBerputar hingga tidak ada pixel yang dihapus--- putaran pertama ---For all pixels J(i,j)Delete K(i,j) if all of the following are truea)
 
2 <=B(i,j) <=6b)
 
A(i,j)=1c)
 
P2*P4*P6 = 0d)
 
P4*P6*P8 = 0-- kondisi c dan d merepresentasikan nilai P4=0, atauP6=0, atau (P2=0 dan P8=0) --End--- putaran kedua –For all pixels J(i,j)Delete K(i,j) if all of following are truea)
 
2 <=B(i,j) <=6b)
 
A(i,j)=1c)
 
P2*P4*P8 = 0d)
 
P2*P6*P8 = 0--kondisi c dan d merepresentasikan nilai P2=0, atauP8=0, atau (P4=0 dan P6=0) --EndJ=KEndAlgoritma tersebut diterapkan dengan ketentuanvariabel B dari pixel P1 adalah banyaknya bit 1 :B(i,j) = SUM(P2 P9) (1)Dan variabel A dari pixel P1 adalah jumlah transisi dari0 ke 1 searah jarum jam dari citra dengan ‘0’merepresentasikan pixel gelap (
black 
) dari citra dan ‘1’merepresentasikan citra terang (
white
) atau lebihdikenal dengan
region point 
bernilai 1 dan
background  point 
bernilai 0.
 
0[5]Variabel B mengacu pada perubahan transisi pixel,untuk lebih jelasnya dapat dilihat contoh pada gambar4, yang berarti nilai B adalah 2.1 01 P1 (i,j) 01 1 0Gambar 4. 8 Tetangga dari pixel P1
3. EKSPERIMEN DAN HASIL
Eksperimen yang dilakukan adalah melakukan modi-fikasi terhadap algoritma thinning yakni pada penen-tuan bit-bit pixel yang harus dihapus dan ditujukanterhadap representasi citra dengan region point bernilai
 
INTELLIGENT SYSTEMS AND CONTROL SYSTEMS
 
Seminar Nasional “Soft Computing, Intelligent Systems and Information Technology” (SIIT 2005) 
3-28
0 dan background point bernilai 1. Hal ini dapat sajadilakukan dengan membalik citra yang akan dilakukanproses penipisan, namun berarti akan memerlukanwaktu proses yang lebih lama. Dengan modifikasiterhadap algoritma tersebut diharapkan waktu proseslebih cepat karena tidak perlu melakukan pembalikkancitra terlebih dahulu. Modifikasi terutama dilakukanpada :--- putaran pertama ---For all pixels J(i,j)Delete K(i,j) if all of the following are truea)
 
2 <=B(i,j) <=6b)
 
A(i,j)=1c)
 
P4=1 or P6=1 or (P2=1 and P8=1)End--- putaran kedua –For all pixels J(i,j)Delete K(i,j) if all of following are truea)
 
2 <=B(i,j) <=6b)
 
A(i,j)=1c)
 
P2=1 or P8=1 or (P4=1 and P6=1)EndJ=KEndDan transisi nilai A(i,j) adalah dari 1 ke 0, variabel Bdihitung banyaknya bit 0 jadi :B(i,j) = 8 SUM(P2 P9) (2)Representasi citra untuk algoritma termodifikasi adalahtetap namun hasil penipisan adalah kebalikan darialgoritma pertama (seperti kalau citra tersebut dibalik terlebih dahulu sebelum proses thinning denganalgortima pertama). Hasil pengolahan citra yang samayakni 1_1.tif dari kedua algoritma tersebut dapat dilihatpada gambar 5.Gambar 5a. Proses Thinning Algoritma Zhang,banyaknya tahap penghapusan 11 kaliGambar 5b. Proses Thinning Algoritma Zhang, citrasebelum proses harus dibalik terlebihdulu, banyaknya tahap penghapusan 42kaliGambar 5c. Proses Thinning Algoritma Zhang yangtermodifikasi, banyaknya tahap peng-hapusan 42 kali namun tanpa prosespembalikan citra
4. PENUTUP
Pada tulisan ini tampak bahwa pemilihan algoritmayang cocok untuk objek yang ingin ditipiskanmemegang peranan dan akan mempercepat waktupenipisan dilihat dari banyaknya langkah yangdilakukan oleh algoritma tersebut ataupun prosespendahulunya, dalam hal ini algoritma thinning
iterative
atau
 pixel based.
Untuk keperluan pengenalanpola sidik jari algoritma thinning Zhang and Suen yangditujukan terhadap struktur
ridge
memerlukan modify-
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...