Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
32Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
etika

etika

Ratings: (0)|Views: 5,473|Likes:
Published by effria

More info:

Published by: effria on Oct 06, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

04/28/2013

pdf

text

original

 
 
1
ETIKA DALAM BISNIS
ANDERSON GUNTUR KOMENAUNG
Fakultas Ekonomi dan Magister Ekonomi PembangunanUniversitas Sam Ratulangi, ManadoEmail:komeguntur@yahoo.com 
ABSTRACT
Ethics is a branch of philosophy related with kindliness or rightness or morality ofbehavior of human being. In this understanding ethics interpreted as rules whichcannot be impinged from behavior which accepted by society as well or bad. Whiledetermination of good and bad is a problem always change. Ethics of business isstandards of value becoming reference or guidance of manager and wholeemployees in decision making and operate business which ethics. Ethics paradigmand business is world differ its time has come altered to become ethics paradigmrelated to business or synergy between ethics and profit. Exactly in tight competitionera, company reputation which good and based on by business ethics is anadvantage competitive which difficult to be imitated. Therefore, ethics behavior isneeded to reach long-range success in a business.
Key Words: Ethics, Business, Moral 
ABSTRAK
Etika adalah suatu cabang dari filosofi yang berkaitan dengan ”kebaikan(rightness)” atau moralitas (kesusilaan) dari perilaku manusia. Dalam pengertian ini
etika
diartikan sebagai aturan-aturan yang tidak dapat dilanggar dari perilaku yangditerima masyarakat sebagai baik atau buruk. Sedangkan Penentuan baik dan burukadalah suatu masalah selalu berubah. Etika bisnis adalah standar-standar nilai yangmenjadi pedoman atau acuan manajer dan segenap karyawan dalam pengambilankeputusan dan mengoperasikan bisnis yang etik. Paradigma etika dan bisnis adalahdunia yang berbeda sudah saatnya dirubah menjadi paradigma etika terkait denganbisnis atau mensinergikan antara etika dengan laba. Justru di era kompetisi yangketat ini, reputasi perusahaan yang baik yang dilandasi oleh etika bisnis merupakansebuah
competitive advantage 
yang sulit ditiru. Oleh karena itu, perilaku etik pentingdiperlukan untuk mencapai sukses jangka panjang dalam sebuah bisnis.
Kata Kunci: Etika, Bisnis, Moral 
PENDAHULUANPermasalahan Etika dalam Bisnis
Beberapa hari terakhir ada dua berita yang mempertanyakan apakah etikadan bisnis berasal dari dua dunia berlainan. Pertama, melubernya lumpur dan gaspanas di Kabupaten Sidoarjo yang disebabkan eksploitasi gas PT Lapindo Brantas.Kedua, obat antinyamuk HIT yang diketahui memakai bahan pestisida berbahayayang dilarang penggunaannya sejak tahun 2004. Dalam kasus Lapindo, bencanamemaksa penduduk harus ke rumah sakit. Perusahaan pun terkesan lebihmengutamakan penyelamatan aset-asetnya daripada mengatasi soal lingkungan dansosial yang ditimbulkan. Pada kasus HIT, meski perusahaan pembuat sudahmeminta maaf dan berjanji akan menarik produknya, ada kesan permintaan maaf itu
 
 
2klise. Penarikan produk yang kandungannya bisa menyebabkan kanker itu terkesantidak sungguh-sungguh dilakukan. Produk berbahaya itu masih beredar di pasaran.Atas kasus-kasus itu, kedua perusahaan terkesan melarikan diri dari tanggung jawab. Sebelumnya, kita semua dikejutkan dengan pemakaian formalin padapembuatan tahu dan pengawetan ikan laut serta pembuatan terasi dengan bahanyang sudah berbelatung.Dari kasus-kasus yang disebutkan sebelumnya, bagaimana perusahaanbersedia melakukan apa saja demi laba. Wajar bila ada kesimpulan, dalam bisnis,satu-satunya etika yang diperlukan hanya sikap baik dan sopan kepada pemegangsaham. Harus diakui, kepentingan utama bisnis adalah menghasilkan keuntunganmaksimal bagi
shareholders 
. Fokus itu membuat perusahaan yang berpikiran pendekdengan segala cara berupaya melakukan hal-hal yang bisa meningkatkankeuntungan. Kompetisi semakin ketat dan konsumen yang kian rewel sering menjadifaktor pemicu perusahaan mengabaikan etika dalam berbisnis.Namun, belakangan beberapa akademisi dan praktisi bisnis melihatadanya hubungan sinergis antara
etika dan laba
. Menurut mereka, justru di erakompetisi yang ketat ini, reputasi baik merupakan sebuah
competitive advantage 
 yang sulit ditiru. Salah satu kasus yang sering dijadikan acuan adalah bagaimanaJohnson & Johnson (J&J) menangani kasus keracunan Tylenol tahun 1982. Padakasus itu, tujuh orang dinyatakan mati secara misterius setelah mengonsumsiTylenol di Chicago. Setelah diselidiki, ternyata Tylenol itu mengandung racunsianida. Meski penyelidikan masih dilakukan guna mengetahui pihak yangbertanggung jawab, J&J segera menarik 31 juta botol Tylenol di pasaran danmengumumkan agar konsumen berhenti mengonsumsi produk itu hinggapengumuman lebih lanjut. J&J bekerja sama dengan polisi, FBI, dan FDA (BPOM-nya Amerika Serikat) menyelidiki kasus itu. Hasilnya membuktikan, keracunan itudisebabkan oleh pihak lain yang memasukkan sianida ke botol-botol Tylenol. Biayayang dikeluarkan J&J dalam kasus itu lebih dari 100 juta dollar AS. Namun, karenakesigapan dan tanggung jawab yang mereka tunjukkan, perusahaan itu berhasilmembangun reputasi bagus yang masih dipercaya hingga kini. Begitu kasus itudiselesaikan, Tylenol dilempar kembali ke pasaran dengan penutup lebih aman danproduk itu segera kembali menjadi pemimpin pasar (
market leader 
) di AmerikaSerikat.Secara jangka panjang, filosofi J&J yang meletakkan keselamatan konsumendi atas kepentingan perusahaan berbuah keuntungan lebih besar kepada
 
 
3perusahaan. Doug Lennick dan Fred Kiel, 2005 (dalam Itpin, 2006) penulis buku
Moral Intelligence 
, berargumen bahwa
perusahaan-perusahaan yang memilikipemimpin yang menerapkan standar etika dan moral yang tinggi terbukti lebihsukses dalam jangka panjang
. Hal sama juga dikemukakan miliuner Jon MHuntsman, 2005 (dalam Itpin, 2006) dalam buku Winners Never Cheat. Dikatakan,
kunci utama kesuksesan adalah reputasinya sebagai pengusaha yangmemegang teguh integritas dan kepercayaan pihak lain
. Berkaca pada beberapacontoh kasus itu, sudah saatnya kita merenungkan kembali cara pandang lama yangmelihat etika dan bisnis sebagai dua hal berbeda. Memang beretika dalam bisnistidak akan memberi keuntungan segera. Karena itu, para pengusaha dan praktisibisnis harus belajar untuk berpikir jangka panjang. Peran masyarakat, terutamamelalui pemerintah, badan-badan pengawasan, LSM, media, dan konsumen yangkritis amat dibutuhkan untuk membantu meningkatkan etika bisnis berbagaiperusahaan di Indonesia.Sebuah studi selama dua tahun yang dilakukan The Performance Group,sebuah konsorsium yang terdiri dari Volvo, Unilever, Monsanto, Imperial ChemicalIndustries, Deutsche Bank, Electrolux, dan Gerling, menemukan bahwapengembangan produk yang ramah lingkungan dan peningkatan
environmental compliance 
bisa menaikkan
EPS 
(
earning per share 
) perusahaan, mendongkrak
profitability 
, dan menjamin kemudahan dalam mendapatkan kontrak atau persetujuaninvestasi. Di tahun 1999, jurnal Business and Society Review menulis bahwa 300perusahaan besar yang terbukti melakukan komitmen dengan publik yangberlandaskan pada kode etik akan meningkatkan
market value added 
sampai dua-tiga kali daripada perusahaan lain yang tidak melakukan hal serupa. Bukti lain,seperti riset yang dilakukan oleh DePaul University di tahun 1997 menemukanbahwa perusahaan yang merumuskan komitmen korporat mereka dalammenjalankan prinsip-prinsip etika memiliki kinerja finansial (berdasar penjualantahunan/ 
revenue 
) yang lebih bagus dari perusahaan lain yang tidak melakukan halserupa (lihat Iman, 2006).
Praktik Bisnis Masih Abaikan Etika
Rukmana (2004) menilai praktik bisnis yang dijalankan selama ini masihcenderung mengabaikan etika, rasa keadilan dan kerapkali diwarnai praktik-praktikbisnis tidak terpuji atau
moral hazard.
Korupsi, kolusi, dan nepotisme yang semakinmeluas di masyarakat yang sebelumnya hanya di tingkat pusat dan sekarang meluas

Activity (32)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Risal Rinofah liked this
Paelo Maldini liked this
Aditya Nugraha liked this
Sutrisna Dewi liked this
Pupu Tuppy liked this
Endy Fouspil liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->