3perusahaan. Doug Lennick dan Fred Kiel, 2005 (dalam Itpin, 2006) penulis buku
Moral Intelligence
, berargumen bahwa
perusahaan-perusahaan yang memilikipemimpin yang menerapkan standar etika dan moral yang tinggi terbukti lebihsukses dalam jangka panjang
. Hal sama juga dikemukakan miliuner Jon MHuntsman, 2005 (dalam Itpin, 2006) dalam buku Winners Never Cheat. Dikatakan,
kunci utama kesuksesan adalah reputasinya sebagai pengusaha yangmemegang teguh integritas dan kepercayaan pihak lain
. Berkaca pada beberapacontoh kasus itu, sudah saatnya kita merenungkan kembali cara pandang lama yangmelihat etika dan bisnis sebagai dua hal berbeda. Memang beretika dalam bisnistidak akan memberi keuntungan segera. Karena itu, para pengusaha dan praktisibisnis harus belajar untuk berpikir jangka panjang. Peran masyarakat, terutamamelalui pemerintah, badan-badan pengawasan, LSM, media, dan konsumen yangkritis amat dibutuhkan untuk membantu meningkatkan etika bisnis berbagaiperusahaan di Indonesia.Sebuah studi selama dua tahun yang dilakukan The Performance Group,sebuah konsorsium yang terdiri dari Volvo, Unilever, Monsanto, Imperial ChemicalIndustries, Deutsche Bank, Electrolux, dan Gerling, menemukan bahwapengembangan produk yang ramah lingkungan dan peningkatan
environmental compliance
bisa menaikkan
EPS
(
earning per share
) perusahaan, mendongkrak
profitability
, dan menjamin kemudahan dalam mendapatkan kontrak atau persetujuaninvestasi. Di tahun 1999, jurnal Business and Society Review menulis bahwa 300perusahaan besar yang terbukti melakukan komitmen dengan publik yangberlandaskan pada kode etik akan meningkatkan
market value added
sampai dua-tiga kali daripada perusahaan lain yang tidak melakukan hal serupa. Bukti lain,seperti riset yang dilakukan oleh DePaul University di tahun 1997 menemukanbahwa perusahaan yang merumuskan komitmen korporat mereka dalammenjalankan prinsip-prinsip etika memiliki kinerja finansial (berdasar penjualantahunan/
revenue
) yang lebih bagus dari perusahaan lain yang tidak melakukan halserupa (lihat Iman, 2006).
Praktik Bisnis Masih Abaikan Etika
Rukmana (2004) menilai praktik bisnis yang dijalankan selama ini masihcenderung mengabaikan etika, rasa keadilan dan kerapkali diwarnai praktik-praktikbisnis tidak terpuji atau
moral hazard.
Korupsi, kolusi, dan nepotisme yang semakinmeluas di masyarakat yang sebelumnya hanya di tingkat pusat dan sekarang meluas