Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword or section
Like this
7Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
17. Ideologi Dan Masyarakat by DN Edited

17. Ideologi Dan Masyarakat by DN Edited

Ratings: (0)|Views: 3,358|Likes:
Published by Sigit Suryawan

More info:

Published by: Sigit Suryawan on Oct 08, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/08/2012

pdf

text

original

 
1
IDEOLOGI DAN MASYARAKAT
Kritik Islam Terhadap Ideologi-Ideologi Kontemporer dalam Prespektif Sosio Histori
Oleh : Sigit Suryawan, SE 
 
 
) Penulis Makalah ini merupakan pemerhati permasalahan Islam dan relevansi Islam terhadap perkembangan peradaban
I.
PENDAHULUAN: “MANUSIA DAN PENCIPTAAN PERADABAN”.
Sejak awal di ciptakan, manusia adalah sosok makhluk yang revolusioner, di mana prosespenciptaannya mengundang
 polemik 
yang cukup membingungkan para malaikat dan jin selakumakhluk awal di semesta ini. Adanya Adam mengharuskan Allah membuka sebuah dialog denganpara malaikat, dan adanya Adam mengakibatkan di kutuknya Iblis dan di cap nya Iblis sebagaipembangkang utama dalam semesta ini, kondisi ini menghasilkan sebuah
tradisi
baru di dalamdinamika semesta yang Allah ciptakan ini.Maka tidak berlebihan kalau dikatakan adanya manusia berarti adanya suatu
dinamika
dan
 perubahan tradisi
. Seperti dalam pernikahan, ketika seorang anak terlahir maka akan timbul tradisibaru dalam lingkaran sosial kedua orang tua nya, kedua orang tua mulai dipanggil Bapak dan Ibu,dan kewajibannya pun bertambah, masing-masing akan berubah. Selanjutnya pula jika anak tersebut melahirkan anak kembali, maka kedua orang tua tersebut akan menjadi Kakek dan Nenek,singkatnya adanya manusia baik Adam maupun kita saat ini mensyaratkan terjadinya perubahanlingkungan disekitarnya secara mendasar.Tidak berlebihan dikatakan bahwa perubahan merupakan aspek fitrah dari manusia, danperubahan merupakan kecenderungan yang harus dilakukan manusia jika ingin dia menjadi lebihbaik dan lebih manusiawi, hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firmannya;
“Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah nikmat yang telah dianugrahkan-Nya kepada suatu kaum, sampai kaum itu mau mengubah apa yang ada pada diri mereka” (Qs. 8:53)“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka”.(Qs. 13:11).
Kata kunci dari dua ayat diatas adalah
Perubahan,
makna perubahan ini harus diklasifikasikan dalam pola perubahan Islami yaitu
wajib, sunnah, makruh
atau
haram
. Atas dasar
 
2
pertimbangan itulah maka setiap perubahan dapat dinilai hasil dan tujuannya, tapi hakekatnyaperubahan adalah suatu tindakan yang bertujuan untuk membawa sebuah atau bahkan sejuta halyang konstruktif bagi pribadi maupun masyarakat. Karena itulah setiap langkah perubahan harusditimbang dan dipikirkan secara matang agar yang terjadi nantinya adalah sebuah
‘Effektifitas’
 yang mampu menghasilkan perubahan yang komprehensif dan bukan merupakan pengulangan darisuatu kealpaan dimasa lalu, untuk hal itulah maka kita sebagai seorang muslim dalam mengadakansuatu perubahan diri dan masyarakat harus terpola pada Qur’an (sebagai
guide lines
) dan
 Assunah
 sebagai kerangka interprestasi yang komprehensif (Qs. 2:203).Untuk mempermudah interpretasi kita, marilah kita pertama-tama membuang segalakeunggulan kita dengan makhluk lain, kita berusaha duduk pada posisi yang sama yakni ‘sebagaimakhluk Tuhan yang tak tahu dan tidak memiliki keunggulan apa-apa, hal ini dalam rangkamembentuk suatu paradigma kita akan makna sebuah kata
“Manusia
”.Firman Allah yaitu Qs. 16:68-69; Posisi
lebah
disini adalah dimana dia sebagai makhluk Tuhan yang merelakan dirinya untuk diatur oleh Allah, sebagai Penciptanya yang Maha Tahu.Allah menurunkan wahyu (sebagai panduan masyarakat lebah) kepada masyarakat lebah, yangkemudian mereka patuhi tanpa
“Reserve”
, hasil dari sebuah kepatuhan ini adalah :
 
Lebah mampu eksis mempertahankan kehidupannya sampai beribu tahun.
 
Lebah melakukan penyerbukkan bunga.
 
Madu; dan masih banyak lagi.Hal inilah yang dapat kita ambil pelajarannya, bahwa betapa lebah mampu menghasilkanmanfaat bagi kita dan alam sekitarnya, walaupun hanya sebagai binatang kecil yang tak berarti,yang harus kita bawahi disini adalah bahwa Lebah makhluk yang secara notabene memiliki derajatsecara biologis maupun strata kehidupan jauh dibawah manusia, dan juga sebagai makhluk yanghanya dikaruniai
instink
bukan
akal
, mampu menghasilkan manfaat yang tak ternilai karena
ketaatannya dengan Wahyu Allah.
Namun alangkah berbedanya dengan manusia , coba kitarenungkan firman Allah dibawah ini :
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung,maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya,dan dipikullah amanat itu oleh manusia, Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan bodoh”(Qs. 33:72).
Pemikulan suatu amanah Allah oleh manusia menandakan bahwa
manusia punya potensidan
 
kapabel
untuk menjalankan amanah tersebut, namun makhluk Allah yang lain tidak. Sebagaicontoh : Lebah tidak dikaruniai akal untuk mengembangkan wahyu, namun
instink 
-lah yangmenjadi andalannya dan dengan instink dan wahyu dia mampu bertahan, walaupun dengan pola
 
3
kehidupan yang sama dari ribuan tahun yang lalu, lebah praktis tidak menciptakan suatuperadaban.Manusia dikaruniai oleh Allah akal untuk menterjemahkan
 
wahyu-Nya dalam kehidupan,namun kedzaliman dan kebodohan manusia pun bermula dari akal yang digunakan untuk mengaktualisasikan dirinya di dunia tidak menggunakan
Qur’an
dan
 Assunah
sebagai
 Manner of Thinking
manusia .Manusia memiliki tanggung jawab (tugas) yang maha besar dalam skenario Tuhan, yaituuntuk tampil sebagai
khalifah
dibumi (Qs. 2:30), dimana ia harus “mewujudkan”
PeradabanTuhan
dimuka bumi yang nantinya akan menghasilkan manfaat bagi semesta alam, terlebih lagibagi si ”Lebah”. Atas dasar inilah maka akal harus manunggal dengan wahyu, kekuataninterpretasi akal terhadap wahyu yang di aktualisasikan di dalam lingkungannya harus semata-matadimanfaatkan untuk sebuah pengagungan Allah sebagai Penciptanya. Seperti yang dituturkan oleh
Hasan Al-Banna
;
 Akal
diciptakan untuk memikul beban amanah (seperti Syahadat, Sholat, Zakat,Puasa, Haji dsb.), juga untuk 
merasionalisasikan
konsep siksa dan pahala dimuka bumi. Akalmodel
begini
yang telah disebut dalam al Qur’an lebih dari 40 kali, dan seluruhnya diiringi anjuranuntuk mempergunakannya secara layak.
1
 Renungi, bahwa Amanat manusia adalah untuk membangun suatu peradaban yang diridhoiAllah, hal tersebut adalah proyek terbesar manusia, yang hanya bisa terwujud dengan integralnyakekuatan akal yang terpola dalam kerangka wahyu, jadi akal hakekatnya dianugrahkan kepadamanusia untuk “membumikan” wahyu, bukan untuk kepentingan nafsu yang bersifat menentangwahyu tersebut (Qs. 51: 56) dan sudah selayaknya dalam menginterprestasikan wahyu agar diadapat sesuai dengan keinginan Allah, maka kita dalam interprestasi kita selayaknya harus terbebasdari “kepentingan” pribadi kita.Peradaban merupakan suatu hal yang terbesar yang tercipta dari aktifitas sejarahkehidupan manusia, dimana sejarah menyimpan pengalaman pahit dan manis tentang aktifitasperadaban manusia, yang selayaknya bagi kita yang ingin maju mampu mempelajari alurnyasehingga kita mampu untuk bangkit dalam upaya menciptakan Peradaban Tuhan dimuka bumi.Inilah Visi kemanusiaan.Peradaban adalah produk zaman yang tertinggi, dia melampaui kebudayaan yang hanyabersifat lokalistik, maka peradaban adalah sesuatu yang universal dia meliputi segala batasteritotial yang nantinya mengarahkan manusia pada
titik koordinat peradaban
(Qs. 2:148), entahitu membawa
syafa’at atau mudharat tergantung dari ruh peradaban tersebut
(Qs. 12:111).Berbicara peradaban berarti kita berbicara mengenai “Organisme” yang bertanggung jawabterhadap hal itu, yakni; Manusia. Manusia dengan kekuatan akalnya mampu untuk merekayasaatau lebih tepatnya mengakumulasikan segala tantangan zaman yang ada, sehingga ia mampu

Activity (7)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Hanis Dzul liked this
cintakevin liked this
Jessica Teresia liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->