Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kajian Hukum UU PA Dan Implikasi Pembangunan Kepelabuhanan Di Aceh

Kajian Hukum UU PA Dan Implikasi Pembangunan Kepelabuhanan Di Aceh

Ratings: (0)|Views: 20 |Likes:
Kesimpulan dan pertanyaan ?
1. Berapa besar jumlah persentase kerjasama pengelolaan pelabuhan yang dimaksudkan oleh Undang – undang ini, yang mana berdampak dalam pembagian kewenangan pengelolaan infrastruktur pelabuhan laut di Aceh.
2. Maka, dalam indikasi pembiayaan pembangunan kepelabuhanan di Aceh pengelolaan dan pembangunan pelabuhan menjadi kewenangan bersama yakni antara pemerintah (indonesia), Aceh dan Kab/Kota.
3. Untuk menaikkan status (hirarki) 4 pelabuhan yang ada maka sesuai dengan ketentuan UU kepelabuhanan, harus oleh menteri (perhubungan). Sesuai ps 28. Bahwa untuk pelabuhan utama ditetapkan oleh menteri. Untuk pelabuhan pengumpan regional oleh gubernur. Dan untuk pengumpan lokal oleh walikota/bupati. Artinya secara hirarki hanya dapat dilakukan oleh kementerian perhubungan, cq direktorat jenderal perhubungan laut di Jakarta. Oleh karena itu perlu dibuatkan aturan turunan dalam hal pemerintah aceh memberikan usulan upaya untuk meningkatkan fungsi/status/hirarki tersebut.
4. Bahwa pelaksanaan UU PA dan UU Kepelabuhan dan RIP Nas serta kebijakan level Gubernur yakni Rqanun RTRW, Tatrawil dan RIP Aceh, tidak dapat mengubah status keempat pelabuhan tersebut yang awalnya adalah pelabuhan pengumpul selain oleh Menteri (ybs).
5. Oleh karenanya dalam Kajian Penetapan Rencana Induk Pelabuhan Aceh 2033 ini, 4 (empat) pelabuhan yang berada dalam masing masing Kawasan Strategis Aceh (KSA) yang
ditingkatkan statusnya dapat kita berikan usulan saja. Dengan memberi hirarki pelabuhan utama promosi (PU-p). atau definisi lainnya yang tidak bertentangan dengan hukum.
Kesimpulan dan pertanyaan ?
1. Berapa besar jumlah persentase kerjasama pengelolaan pelabuhan yang dimaksudkan oleh Undang – undang ini, yang mana berdampak dalam pembagian kewenangan pengelolaan infrastruktur pelabuhan laut di Aceh.
2. Maka, dalam indikasi pembiayaan pembangunan kepelabuhanan di Aceh pengelolaan dan pembangunan pelabuhan menjadi kewenangan bersama yakni antara pemerintah (indonesia), Aceh dan Kab/Kota.
3. Untuk menaikkan status (hirarki) 4 pelabuhan yang ada maka sesuai dengan ketentuan UU kepelabuhanan, harus oleh menteri (perhubungan). Sesuai ps 28. Bahwa untuk pelabuhan utama ditetapkan oleh menteri. Untuk pelabuhan pengumpan regional oleh gubernur. Dan untuk pengumpan lokal oleh walikota/bupati. Artinya secara hirarki hanya dapat dilakukan oleh kementerian perhubungan, cq direktorat jenderal perhubungan laut di Jakarta. Oleh karena itu perlu dibuatkan aturan turunan dalam hal pemerintah aceh memberikan usulan upaya untuk meningkatkan fungsi/status/hirarki tersebut.
4. Bahwa pelaksanaan UU PA dan UU Kepelabuhan dan RIP Nas serta kebijakan level Gubernur yakni Rqanun RTRW, Tatrawil dan RIP Aceh, tidak dapat mengubah status keempat pelabuhan tersebut yang awalnya adalah pelabuhan pengumpul selain oleh Menteri (ybs).
5. Oleh karenanya dalam Kajian Penetapan Rencana Induk Pelabuhan Aceh 2033 ini, 4 (empat) pelabuhan yang berada dalam masing masing Kawasan Strategis Aceh (KSA) yang
ditingkatkan statusnya dapat kita berikan usulan saja. Dengan memberi hirarki pelabuhan utama promosi (PU-p). atau definisi lainnya yang tidak bertentangan dengan hukum.

More info:

Categories:Presentations
Published by: Tiar Pandapotan Purba on Feb 20, 2014
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/07/2014

pdf

text

original

 
Kajian hukum dan implikasi penetapan 4 (empat) pelabuhan barang/umum sebagai pelabuhan utama (selain sabang) dalam Pembangunan Kepelabuhanan di Aceh. Bahan Kajian
1.
 
UU PA No 11 Tahun 2006 2.
 
UU Kepelabuhanan No 61 Tahun 2009 3.
 
KepMenhub 414 Tahun 2013 tentang RIP Nasional 4.
 
Rqanun RTRW Aceh 5.
 
Tatrawil Aceh
Isi UU Pemerintah Aceh mengenai pelabuhan:
Ps 1 ay 1 Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut
Pemerintah
 adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ps 1 ay 4 Pemerintahan Aceh adalah
pemerintahan daerah provinsi
 dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyelenggarakan urusan pemerintahan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Aceh sesuai dengan fungsi dan kewenangan masing-masing. Ps 19 ay 1 Pemerintah kabupaten/kota berwenang mengelola pelabuhan dan bandar udara umum. Ps 19 ay 2 Pelabuhan dan bandar udara umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelabuhan dan bandar udara umum yang dikelola oleh Pemerintah sebelum Undang-Undang ini diundangkan. Ps 19 ay 3 Pemerintah Aceh melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota dalam pengelolaan pelabuhan dan bandar udara umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Ps 172 ay 1 Pemerintah, Pemerintah Aceh dan/atau pemerintah kabupaten/kota
dapat
 
membangun pelabuhan
 dan bandar udara umum di Aceh. Ps 172 ay 2
Pengelolaan pelabuhan dan bandar udara
 yang dibangun oleh Pemerintah Aceh dan/atau pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
dilakukan oleh Pemerintah Aceh
 dan/atau pemerintah kabupaten/kota. Ps 172 ay 3
 
Ketentuan lebih lanjut mengenai
pembangunan dan pengelolaan pelabuhan
 dan bandar udara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan qanun dengan memperhatikan norma, standar, dan prosedur yang berlaku. Ps 173 ay 1 Pelabuhan dan bandar udara umum yang pada saat Undang-Undang ini diundangkan, dikelola oleh badan usaha milik negara (BUMN)
dikerjasamakan
 pengelolaannya dengan Pemerintah Aceh dan/atau pemerintah kabupaten/kota. Ps 173 ay 2 Kerja sama pengelolaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat berbentuk
perusahaan patungan
 yang dilaksanakan sesuai dengan norma, standard dan prosedur yang berlaku. Ps 173 ay 3 Pelaksanaan fungsi keselamatan pelayaran dan keselamatan penerbangan bagi pelabuhan dan bandar udara umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan oleh Pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Ps 173 ay 4 Pelaksanaan
kerja sama
 pengelolaan pelabuhan dan bandar udara umum yang dikelola oleh badan usaha milik negara (BUMN) sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan sesuai dengan norma, standar, dan prosedur yang berlaku. Ps 254 ay 1
Penyerahan kewenangan pengelolaan
 pelabuhan dan bandar udara umum dari Pemerintah kepada pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 dilaksanakan paling lambat awal tahun anggaran 2008. Ps 254 ay 2 Pengelolaan pelabuhan dan bandar udara umum yang sudah ada pada saat Undang-Undang ini diundangkan
dikerjasamakan
 antara badan usaha milik negara, Pemerintah Aceh, dan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 173 dilaksanakan paling lambat awal tahun anggaran 2008. Ps 264 ay 1 Penyerahan prasarana, pendanaan, personil, dan dokumen yang berkaitan dengan pelabuhan dan bandar udara umum dari Pemerintah kepada pemerintah kabupaten/kota di Aceh dilakukan paling lambat pada permulaan tahun anggaran 2008.
Kesimpulan: 1.
 
Bahwa seluruh pelabuhan yang ada dikerjasamakan pengelolaannya. 2.
 
Pembangunannya dapat dilaksanakan oleh pemerintah (indonesia), pemerintah aceh dan kab/kota.
 
Kajian Terhadap UU 61/2009 tentang kepelabuhanan
Dimana dinyatakan bahwa pelabuhan utama adalah adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri dan internasional, alih muat angkutan laut dalam negeri dan internasional dalam jumlah besar, dan sebagai tempat asal tujuan penumpang dan/atau barang, serta angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan antarprovinsi. Pelabuhan Pelabuhan Pengumpul adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri, alih muat angkutan laut dalam negeri dalam jumlah menengah, dan sebagai tempat asal tujuan penumpang dan/atau barang, serta angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan antarprovinsi.
 
Pelabuhan Pengumpan adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri, alih muat angkutan laut dalam negeri dalam jumlah terbatas, merupakan pengumpan bagi pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpul, dan sebagai tempat asal tujuan penumpang dan/atau barang, serta angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan dalam provinsi. Kebijakan Pelabuhan Nasional Pasal 9 Kebijakan pelabuhan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf a memuat arah pengembangan pelabuhan, baik pelabuhan yang sudah ada maupun arah pembangunan pelabuhan yang baru, agar penyelenggaraan pelabuhan dapat saling bersinergi dan saling menunjang antara satu dan lainnya. Paragraf 3 Rencana Lokasi dan Hierarki Pelabuhan Pasal 10 (1) Rencana lokasi pelabuhan yang akan dibangun disusun dengan berpedoman pada kebijakan pelabuhan nasional. (2) Rencana lokasi pelabuhan yang akan dibangun harus sesuai dengan:
a.
 
rencana tata ruang wilayah nasional, rencana tata ruang wilayah provinsi, dan rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota; b.
 
potensi dan perkembangan sosial ekonomi wilayah; c.
 
potensi sumber daya alam; dan d.
 
perkembangan lingkungan strategis, baik nasional maupun internasional.
Pasal 11 (1) Dalam penetapan rencana lokasi pelabuhan untuk pelabuhan utama yang digunakan untuk melayani angkutan laut selain harus sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) juga harus berpedoman pada: e.
 
kedekatan secara geografis dengan tujuan pasar internasional; f.
 
kedekatan dengan jalur pelayaran internasional; g.
 
memiliki jarak tertentu dengan pelabuhan utama lainnya; h.
 
memiliki luas daratan dan perairan tertentu serta terlindung dari gelombang; i.
 
mampu melayani kapal dengan kapasitas tertentu; j.
 
berperan sebagai tempat alih muat penumpang dan barang internasional; dan k.
 
volume kegiatan bongkar muat dengan jumlah tertentu. (2) Dalam penetapan rencana lokasi pelabuhan untuk pelabuhan utama yang digunakan untuk melayani angkutan penyeberangan selain harus sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) juga harus berpedoman pada: a.
 
jaringan jalan nasional; dan/atau

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->