Hukum Berdo'a dengan Tawassul
Oleh: Dewan Asatidz
Pengertian Tawassul
Pemahaman tawassul sebagaimana yang dipahami oleh umat islam selama ini adalah bahwa Tawassuladalah berdoa kepada Allah melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kitaataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah. Jaditawassul merupakan pintu dan perantara doa untuk menuju Allah SWT.• Orang yang bertawassul dalam berdoa kepada Allah menjadikan perantaraan berupa sesuatuyang dicintainya dan dengan berkeyakinan bahwa Allah SWT juga mencintai perantaraan tersebut.• Orang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah bisa memberimanfaat dan madlorot kepadanya da. Jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraanmenuju Allah SWT itu bisa memberi manfaat dan madlorot, maka dia telah melakukan perbuatansyirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlorot sesungguhnya hanyalah Allah semata.• Tawassul merupakan salah satu cara dalam berdoa. Banyak sekali cara untuk berdo'a agardikabulkan Allah, seperti berdoa di sepertiga malam terakhir, berdoa di Maqam Multazam, berdoadengan mendahuluinya dengan bacaan alhamdulillah dan sholawat dan meminta doa kepada orangsholeh. Demikian juga tawassul adalah salah satu usaha agar do'a yang kita panjatkan diterima dandikabulkan Allah s.w.t. Dengan demikian, tawasul adalah alternatif dalam berdoa dan bukanmerupakan keharusan.
Tawassul dengan amal sholeh kita
Para ulama sepakat memperbolehkan tawassul terhadap Allah SWT dengan perantaraan perbuatanamal sholeh, sebagaimana orang yang sholat, puasa, membaca al-Qur’an, kemudian merekabertawassul terhadap amalannya tadi. Seperti hadis yang sangat populer diriwayatkan dalam kitab-kitab sahih yang menceritakan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam goa, yang pertamabertawassul kepada Allah SWT atas amal baiknya terhadap kedua orang tuanya, yang keduabertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang selalu menjahui perbuatan tercela walaupunada kesempatan untuk melakukannya dan yang ketiga bertawassul kepada Allah SWT atasperbuatannya yang mampu menjaga amanat terhadap harta orang lain dan mengembalikannyadengan utuh, maka Allah SWT memberikan jalan keluar bagi mereka bertiga.. (Ibnu Taimiyahmengupas masalah ini secara mendetail dalam kitabnya Qoidah Jalilah Fii Attawasul Wal wasilah hal160)
Tawassul dengan orang sholeh
Adapun yang menjadi perbedaan dikalangan ulama’ adalah bagaimana hukumnya tawassul tidakdengan amalnya sendiri melainkan dengan seseorang yang dianggap sholeh dan mempunyai amrtabatdan derajat tinggi dei depan Allah. sebagaimana ketika seseorang mengatakan : ya Allah akubertawassul kepada-Mu melalui nabi-Mu Muhammmad atau Abu bakar atau Umar dll.Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini. Pendapat mayoritas ulama mengatakan boleh,namun beberapa ulama mengatakan tidak boleh. Akan tetapi kalau dikaji secara lebih detail danmendalam, perbedaan tersebut hanyalah sebatas perbedaan lahiriyah bukan perbedaan yangmendasar karena pada dasarnya tawassul kepada dzat (entitas seseorang), pada intinya adalahtawassul pada amal perbuatannnya, sehingga masuk dalam kategori tawassul yang diperbolehkanoleh ulama’.
Dalil-Dalil Tentang Tawassul
Dalam setiap permasalahan apapun suatu pendapat tanpa didukung dengan adanya dalil yangdapat memperkuat pendapatnya, maka pendapat tersebut tidak dapat dijadikan sebagai pegangan.Dan secara otomatis pendapat tersebut tidak mempunyai nilai yang berarti, demikian juga denganpermasalahan ini, maka para ulama yang mengatakan bahwa tawassul diperbolehkan menjelaskandalil-dalil tentang diperbolehkannya tawassul baik dari nash al-Qur’an maupun hadis, sebagai berikut:
A. Dalil dari alqur’an.
1. Allah SWT berfirman dalam surat Almaidah, 35 :
لااوقتااونمآ يذا هيأي ةسوا إ اوغبا
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan dirikepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan."Suat Al-Isra', 57:
Leave a Comment