meskipun berada dalam wadah agama lain. Sebaliknya, ia merasa terganggu oleh berbagai bentuk formalisasi agama yang berlebihan, karena hal itu, dinilai akanmenghalangi berkembangnya nilai-nilai moral dan spiritual keagamaan
. Oleh karenaitu, kita perlu mengetahui kebenaran agama bukan hanya pada tataran ekoterik,melainkan juga pada tataran esoteris.Kebenaran dapat diperoleh dari dua sisi, yaitu kebenaran filosofis dankebenaran sosiologis. Secara filosofis, kebenaran yang sebenarnya adalah satu,tunggal dan tidak majemuk, yang sesuai dengan realitas. Tetapi, pencapai kebenaran pada setiap orang berbeda. Dalam konteks agama, semua agama; yahudi, Kristen,Islam, Budha, Hindu termasuk aliran kepercayaan semuanya ingin mencapai realitastertinggi
(the ultimate reality)
.Sedangkan kebenaran sosiologis, ialah sebagai proses pencapaian dan penerjemahan realita tertinggi membuat klien tentang kebenaran menjadi berbeda, begitu juga Kristen, Yahudi, Budha, Hindu dan Aliran Kepercayaan menyatakandemikian. Padahal, perbedaan yang terjadi secara hakikat bukan terletak pada realitastertinggi. Di sinilah mulai timbul kompliks kebenaran, baik ekstra agama maupunintra agama.Kompliks keagamaan yang terjadi di Indonesia saat ini, bukan lagi kompliksantar agama melainkan yang sangat menyedih adalah kompliks komunitas sesamaagama, realitas tersebut terlihat beberapa tahun belakangan ini. Adanya teror bom
1
Komaruddin Hidayat,
Atas Nama Agama: Wacana agama dalam Dialog “bebas”konflik.
Dalam bukunya andito (Ed), Bandung: Pustaka Hidayah, 1998. Hal 41-42.
2