Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
5Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
jilbab's makalah

jilbab's makalah

Ratings: (0)|Views: 1,746|Likes:
hasil kerja keras gua neeeee
hasil kerja keras gua neeeee

More info:

categoriesTypes, Resumes & CVs
Published by: Muhammad Pasti Lulus on Oct 09, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/12/2012

pdf

text

original

 
Pengalaman orang orang yang berjilbab
Vika :
Sebenarnya aku waktu SMP aku pernah ngomong pengen berjilbab kalo udah SMA. Nggak tahu kenapa punya pikiran macam begitu, juga nggak tahu kok kenapa pas SMA mau berjilbab. Itu semacam pikiran selintas yang tiba-tiba diomongin.Tapi mamaku bilang, nggak usah aja, dimantapin dulu hati, baru berjilbab. Ternyata entah pengaruh kata-kata mama atau aku yang suka labil waktu itu, pas SMA aku masih juga nggak  berjilbab. Malah, kayaknya makin tambah hepi aja dengan pakaian seadanya. Mungkin karena pengaruh usia dan pergaulan juga.Aku masuk SMA usia lima belas tahun. Lagi ABG-ABG nya. Pengen niru gayanya para seleb.Juga suka hepi-hepi ke sana kemari sama temen-temen. Kebetulan waktu SMA aku punya teman-teman se genk yang akrab banget. Temanku se genk yang bisa dibilang tetanggaan, dia ini berjilbab.Suatu kali, pas hari jum’at, aku iseng minjem jilbab temenku ini untuk ke sekolah. Dan ternyatareaksi teman-temanku sungguh nggak terduga. Teman-temanku bilang, “wah, bagus banget, cantik  banget lho kalo kamu berjilbab.”
riafariana
Malam pertama? Eits….pengalaman pertama berjilbab maksudnya? Hmm…nano-nano. Sama,ketika pertama kali memutuskan untuk menutup aurat dengan sempurna, hati penuh dengan dag digdug plas. Kalo permen punya rasa manis asem asin, rasa ini juga gak beda.Awalnya memberanikan diri ngomong ke ortu tentang keinginan berjilbab. Ternyata ditolak mentah-mentah sodara-sodara, hiks…hiks… Bahkan sempat disidang oleh kakak laki-laki selamahampir 2 jam untuk mempertanggungjawabkan keinginan itu. Hasil dari sidang itu tak lantas bolehmemakai kerudung tapi dengan syarat ntar nunggu masa SMA kelar. Huaa…mana tahan, padahalsaat itu masih kelas 1 SMA. Nunggu 3 tahun lagi dan menumpuk dosa padahal sudah tahu hukummenutup aurat? Bete banget.Setahun berikutnya penuh dengan pergolakan batin. Antara nekat memakai jilbab dan itu artinyagak nurut ortu atau nekat gak makai berarti membantah perintah Allah. Hiii…pilih mana, coba?Sempet puyeng juga. Akhirnya saya aktif di OSIS, KIR dan YKKM (Yayasan Kreativitas KawulaMuda) untuk sekedar melupakan keinginan itu. Tau nggak, setiap ketemu teman yang udah berkerudung dengan manis, tanpa bisa ditahan mata saya selalu basah. Akhirnya tepat setahunkeinginan itu saya pendam, saya memutuskan untuk nekat berubah. Sempat perang dingin samakeluarga dalam artian didiamkan dan tidak diajak ngomong kurang lebih 2 minggu lamanya. Tapisaya tetap berusaha memulai pembicaraan dan terus menjalin ukhuwah dengan keluarga.Episode di sekolahHari pertama yang mendebarkan, malamnya saya ke rumah teman dan nginap di sana. Itu karenasaya belum bisa memakai kerudung dengan baik dan benar. Di jaman itu belum ada kerudung kaosseperti saat ini yang bisa praktis tanpa peniti. Jadilah ngungsi ke rumah teman yang akan membantumemasangkan kerudung putih pertama saya ketika berangkat ke sekolah.Sesampainya di sekolah, pandangan-pandangan aneh mulai saya dapatkan. Apalagi hari Seninkan biasanya ada upacara bendera tuh. Ada celetukan dari teman sekelas saya yang nasrani ‘Wih…Ria sekarang jadi suci, gak bisa dong kumpul bareng kita-kita lagi dong’. Jelas aja itu pendapat gak  bener. Bla…bla…bla…saya jelaskan bagaimana hukum menutup aurat dalam Islam. Kalo dalamkeyakinannya mungkin berlaku. Tapi Islam beda. Menutup aurat dengan berkerudung dan berjilbab bukan berarti sok suci tapi dalam rangka melaksanakan perintah Allah, tul nggak?
Ketika masuk kelas pun ada guru bahasa Inggris yang mengucapkan selamat ke saya atas perubahan itu. Alhamdulillah. Ketika istirahat, juga banyak disalami dan diberi ucapan selamat olehteman-teman di rohis. Yang paling lucu adalah ketika pulang sekolah, dan siangnya diganti dengananak-anak kelas 1. Bukannya nyombong, saya sempat jadi runner up satgas (satuan tugas, istilahuntuk panitia penyambutan siswa baru di SMUN 9 Surabaya beberapa tahun silam) favorit,sehingga banyak juga adik-adik kelas yang mengenali saya.Awalnya mereka ngeliatin saya terus, lalu berbisik-bisik lalu senyum-senyum. Bete nggak sih
 
diperlakukan seperti itu? Yang kemudian mereka komentar, ‘ih, Mbak Ria lucu.’ Huaa….saya pun berlalu dengan tersipu-sipu (ehem..ehem…). Belum lagi ada kakak kelas cowok yang memberi sayahadiah lewat temannya. Wah…hadiah apa ini? Saya sih siaga satu, bukan siap antar jaga loh yah.Tapi siaga dalam artian waspada. Masalahnya, khawatir ada ekor di balik pemberian hadiah tak  jelas itu. Lalu dengan sangat sopan, saya tolak hadiah itu. Saya berkerudung karena Allah bukankarena manusia apalagi cowok. Masih belum puas juga, sebagai hadiah ulang tahun katanya.Kebetulan saya memakai kerudung pertama kalinya di bulan yang sama dengan bulan kelahiran. Nah, bingung juga kan. Pokoknya, intinya saya tak bisa menerima hadiah darinya. Titik. Duh,semoga ini bukan sikap yang kejam. Saya khawatir ada udang di balik rempeyek, eh…maksudnyaada maksud-maksud yang lain di balik pemberiannya. Bukannya su’udzon, saya hanya menjagakebersihan niat saya ketika memutuskan menutup aurat.Ketika menjelang kelulusan SMA, siswi berjilbab harus menandatangani sebuah nota perjanjian bahwa bila terjadi apa-apa berkenaan tidak mau melepas jilbab dan memperlihatkan telinganya,maka pihak sekolah tidak mau terkena beban. Kami menyetujuinya dengan senang hati. Pertama, jangankan berjilbab, tidak berjilbab pun bila terjadi sesuatu pada kami, apa pihak sekolah maumenanggung? Kedua, apa yang kami lakukan ini jauh lebih ringan dibandingkan dengan apa yangtelah diperjuangkan kakak kelas kami terdahulu demi golnya SK berjilbab di lingkungan sekolah.Jadi, kami tak boleh menyerah.Episode bikin KTP Ngomong-ngomong tentang foto kelihatan telinga, saya pernah bersitegang dengan petugaskecamatan dalam pengurusan KTP. Petugas di kecamatan itu memaksa (sayangnya nalurikepenulisanku belum gede waktu itu jadi lupa nyatat namanya) foto harus terlihat telinga. Padahalsetahuku teman-teman dari kecamatan lain mempunyai KTP lengkap dengan foto menutup aurat.Karena tidak terima dengan peraturan sepihak itu, tidak tanggung-tanggung, KTP asli teman SMA berbeda-beda kecamatan saya bawa semua ke hadapan petugas di kecamatan saya tinggal. Ternyataitu pun tidak berhasil. Petugas itu semakin marah dan membentak-bentak saya di hadapan banyak orang. Petugas kecamatan yang lain pun berdatangan dan semua memojokkan saya. Kartu sayayang setengah jadi, tinggal tanda tangan bapak kecamatan dibanting di depan saya dan saya disuruh pulang dan dilarang kembali bila tidak memasang foto yang terlihat telinga serta lehernya. Hhh…sebel banget. Kenapa telinga harus dibuktikan keberadaannya sih? Pikir saya jengkel. Toh saya juga juga masih bisa mendengar dengan baik tanpa sosok telinga dipajang dan dipamerkan.Dengan menahan jengkel karena dibentak-bentak di depan orang banyak sekaligus menahan rasamalu, saya pulang. Seminggu lamanya saya memutar otak bagaimana agar KTP tetap gol tapidengan pas foto yang tetap menutup aurat. Seminggu kemudian saya kembali, tetap nekat dengan pas foto semula. Apa pun yang terjadi, terjadilah. Saya bahkan sudah siap untuk merekam setiapdetil kejadian yang bakal terjadi untuk kemudian saya kirimkan pada surat pembaca menulis disurat kabar harian. Phew….ternyata, kegigihan saya membuahkan hasil. Allah memudahkan pengurusan KTP kali ini. Orang yang sama menggerutu tapi tetap melayani saya meski denganmembentak dan membanting kartu KTP itu di depan muka. Ah…biarlah. Sebagai hadiahnya, sikapmenjengkelkan petugas kecamatan tadi urung untuk kuekspos di surat pembaca menulis surat kabar.Episode Ngurus SIM & Teror Surat KalengMasalah belum berhenti ketika pengurusan SIM terjadi. Di antara semua siswa yang mengurusSIM kolektif diselenggarakan oleh OSIS SMA tempat saya bersekolah, sayalah satu-satunya yangmemakai jilbab. Singkat kata, saya kembali bersitegang dengan petugas kepolisian yang bertugasmengambil foto dengan kamera digital. Saya sempat menolak memperlihatkan telinga saya.Sebaliknya, guntingan surat kabar yang sudah saya persiapkan dari rumah tentang pernyataan pimpinan polantas sebagai jawaban atas kebolehan foto SIM berjilbab saya tunjukkan ke beliau.Bukan itu saja, SIM asli teman saya juga saya bawa dan tunjukkan bahwa foto SIM berjilbabseharusnya tidak masalah.Petugas yang memakai seragam polisi itu bukannya menggapi dengan simpatik tapi sama sekali
 
tidak mengindahkan argumen saya. Beliau bahkan tidak menanggapi sedikit pun kata2 saya.Bahkan sampai sekarang saya masih ingat sikapnya yang memuakkan dan mempersilahkan sayauntuk pergi dari depan kamera digital bila tetap memaksa tidak mau memperlihatkan telinga. Bukansaya takut dengan sikapnya itu tapi nilai 98 ribu rupiah di tahun 95 bagi saya dan keluarga sangatlah besar. Wajah ibu saya yang mengeluarkan uang segitu besarnya untuk pengurusan SIM, dan jugakeberatan anggota keluarga yang lain ketika saya memutuskan berjilbab, membuat saya menyerah.Tapi saya tidak kalah. Dengan menahan mata yang berkaca-kaca dan terus beristighfar dalam hati,saya berfoto dengan menunjukkan telinga tanpa melepas jilbab. Saya tidak kalah! Saya harus berjuang, tekad itu terus berdengung dalam diri saya hingga sampai rumah. Tekad yang sama pulayang menggerakkan pena saya untuk mengirim protes ke surat pembaca menulis dan saya kirimkanke surat kabar harian terkemuka di Jawa Timur.Tepat hari Senin, hari pertama saya Ebtanas kelas 3 SMA surat itu dimuat. Sudah banyak editandilakukan sehingga lebih pendek dan tidak ‘garang’ lagi. Tapi tetap, ada konsekuensi yang harussaya terima akibat pemuatan itu yang sama sekali di luar perhitungan. Saya mendapat surat kalenguntuk pertama kalinya seumur hidup. Isinya begitu menakutkan untuk gadis berumur 17 tahun saatitu. Kata-kata ancaman serta pelecehan terhadap gadis berjilbab, gambar-gambar jorok baik digunting dari majalah atau pun digambar tangan menghiasi berlembar-lembar surat kaleng itu.Untuk pertama kalinya seumur hidup saya merasakan ketakutan yang luar biasa. Tangan sayagemetar dan hati saya sukar dilukiskan rasanya.Sesaat setelah surat kaleng yang diantar pak pos itu sampai di tangan saya, teman saya datangmenjemput untuk berangkat ngaji liqo’ bersama. Saya tunjukkan surat itu padanya. Dan kamisepakat untuk membakar surat itu, saat itu juga di halaman rumah. Sepanjang perjalanan dan ketikakajian berlangsung, konsentrasi saya hilang. Gemetar itu masih tersisa. Bahkan selama beberapahari. Saya adukan semuanya pada Allah, sambil terus meyakinkan diri bahwa apa pun yang bakalterjadi pada diri saya, baik atau pun buruk pastilah atas sepengetahuan-Nya. Allah selalu dekat, dan pasti akan menjaga saya. Saya yakinkan diri berulang-ulang. Saya tidak boleh kalah oleh suratkaleng dari seseorang yang begitu pengecut hingga tidak berani menunjukkan jati dirinya.Sempat terbersit keinginan untuk menulis surat pembaca lagi atas surat kaleng yang saya terimayang penuh berisi penghinaan terhadap muslimah berjilbab. Tapi kemudian urung saya lakukan.Bukannya menyelesaikan masalah, ada kekhawatiran situasi akan semakin buruk. Saya hanyameningkatkan kewaspadaan saja dan semakin mendekatkan diri pada Allah. Hingga surat kalengkedua hadir lagi, masih dengan isi yang sama. Subhanallah, efeknya pada diri saya sudah banyak  berkurang. Kali ini saya bisa mentertawakan surat kaleng itu, mengasihani pengirimnya danmendoakannya. Bahkan saya masih menyimpannya hingga kini! Saya tak lagi ketakutan, saya tak lagi gemetar, saya tak lagi gentar. Saya menikmati setiap episode yang menyertai perjalanan berjilbab saya, pahit getirnya, asam manisnya, semua menjadikan hidup lebih indah untuk dinikmati. Ini baru awal. Kerikil-kerikil tajam masih banyak menghadang langkah di depan. Daninilah yang namanya perjuangan. Bismillah, saya harus kuat!Episode Karier Karier? Mmm…sebetulnya enggan saya untuk menyebutnya karier. Hanya batu lompatan untuk mandiri karena mulai semester lima kuliah, ada rasa malu untuk menadahkan tangan ke ortu. Sayamulai sering membuka surat kabar di halaman lowongan kerja. Saat itulah pertama kalinya saya belajar menulis surat lamaran kerja baik dalam bahasa Indonesia atau pun dalam bahasa Inggrisagar ada nilai lebih maksudnya. Menjadi tutor di LBB saya lirik. Entah sudah berapa kali saya kirimlamaran dan menindaklanjuti dengan telpon, penolakan demi penolakan saya terima.Ada yang karena dengan alasan, yang dicari adalah mahasiswa tingkat akhir untuk menjadi tutor LBB. Tapi ada juga yang dengan halus menolak karena cara berpakaian saya. Yeah…sejak menginjak bangku kuliah dan insya Allah lebih memahami makna menutup aurat dengan lebih baik,saya mulai konsisten untuk memakai baju terusan semacam longdress panjang hingga menutupkaki. Orang biasanya menyebutnya jubah, abaya atau gamis. Tapi saya memahaminya sebagai jilbab. Lengkap dengan kerudung saya (dulu saya menyebutnya jilbab) yang cukup panjang, di

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Is Classics liked this
nerailkobah liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->