Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
30Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Peran Lembaga Adat Gampong Sebagai ian Sosial Masy....

Peran Lembaga Adat Gampong Sebagai ian Sosial Masy....

Ratings: (0)|Views: 2,801 |Likes:
Published by Teuku Mukhlis

More info:

Published by: Teuku Mukhlis on Oct 13, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/18/2013

pdf

text

original

 
LEMBAGA ADAT GAMPONG SEBAGAI PENGENDALIAN SOSIALMASYARAKAT TERHADAP PELAKSANAANSYARI’AT ISLAM DI ACEHOleh T. MukhlisAbstrak 
Pelaksanaan syari’at Islam di Aceh merupakan salah satu aspirasimasyarakat Aceh untuk mencapai kesejahteraan. Berdasarkan pengalaman sejarah, hukum syari’at Islam adalah solusi dalammenjawab segala permasalahan yang dialami oleh masyarakatdengan menggunakan pendekatan nilai-nilai adat. Lembaga adatmemberikan dukungan penuh terhadap tegaknya syari’at Islamdalam masyarakat Aceh. Inti dari lancarnya pelaksanaan hukumagama dan adat adalah terwujudnya sistem pengendalian sosialyang kuat dalam kehidupan bermasyarakat. Tujuan akhirnyaadalah terciptanya tertib-aman dan kesejahteraan. Lembaga adat
 gampong 
memiliki peran besar terhadap keberlangsungan sistem pengendalian sosial masyarakat, sehingga hukum syari’at danhukum adat menjadi nilai-nilai normatif yang dipatuhi dandilaksanakan oleh masyarakat. Karya tulis ini diharapkan mampumenjawab persoalan syari’at Islam dengan mengoptimalkanfungsi lembaga adat
 gampong 
sebagai lembaga yang benar-benar menciptakan tertib-aman dan sejahtera bagi masyarakat di Nanggroe Aceh Darussalam.
I.PENDAHULUAN
Pelaksanaan kehidupan bermasyarakat di Aceh tidak lepas dari nilai-nilaiadat dan budaya yang menjadi landasan hidup bagi masyarakat. Hal ini secaraturun-temurun masih dipraktikkan sejak peraturan hukum adat disistematiskan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1606-1637 M). Dari sisi historis, pelaksanaan hukum adat ini tidak dapat dipisahkan dari hukum agama. Keduahukum ini saling mengikat dalam aplikasinya di kehidupan sehari-hari masyarakatAceh.Pada masa itu muncul istilah
adat bersendi syara’, syara’ bersendi adat.
Pengertiannya yaitu bahwa agama bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits serta adatdirumuskan melalui undang-undang dan resam negeri yang disusun oleh Sultandengan bermusyawarah bersama orang-orang besarnya. Apabila agamanya kuat,maka kuat pula adatnya. Begitu juga sebaliknya, apabila adatnya kuat maka kuat1
 
 pula agamanya.
1
Kemudian kesuksesan Sultan Iskandar Muda dalam penerapansistem politik pemerintahan, kemasyarakatan, ekonomi, maupun sosial budayayang kuat, tangguh serta perannya dalam segala hal termasuk dunia internasional,telah menjadi acuan sebagai standar rujukan. Ketangguhan pemerintahannya saatitu, karena dilatarbelakangi kemampuannya membangun suatu kultur dan struktur tatanan masyarakat Aceh menjadi salah satu segmen peradaban manusia yangterkumpul dalam nilai-nilai filosofi :
 Adat ngon hukom lagei zat ngon sifeut 
 
yangstruktur implementasinya disimpulkan dalam :
 Adat bak po teumeuruhom, hukombak Syiah Kuala, qanun bak Putroe Phang, reusam bak Laksamana
 .
2
Setelah sekian lamanya hukum agama dan hukum adat mengalamikevakuman di Aceh pada masa orde baru, maka masyarakat Aceh menuntut pemerintah agar memberlakukan kembali syari’at Islam di NAD. Tuntutan inidisikapi oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan mencetuskan Undang-Undang Nomor 44 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan ProvinsiDaerah Istimewa Aceh. Salah satu inti dari undang-undang tersebut adalah penyelenggaraan kehidupan beragama yang diwujudkan dalam bentuk  pelaksanaan syari’at Islam bagi pemeluknya dalam bermasyarakat. Kemudiandipertegas pula dengan lahirnya UU No. 18 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe AcehDarussalam, harapan untuk terlaksananya syari’at Islam lebih besar karenamemungkinkan pembentukan Peradilan Syari’at Islam di Aceh.
3
 Sesuai Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Aceh Nomor 7 Tahun2000 tentang Penyelenggaraan Kehidupan Adat, maka telah ditetapkan sepuluhlembaga adat yaitu :
 Imum Mukim
,
Geuchik 
,
Tuha Peuet 
,
Tuha Lapan
,
 ImumMeunasah
,
 Keujruen Blang 
,
 Panglima Laot 
,
 Peutua Seneubok 
,
 Haria Peukan
, dan
Syahbanda
. Sedangkan dalam pasal 98 UU Republik Indonesia Nomor 11 Tahun
1
H.M. Zainuddin,
Tarich Atjeh dan Nusantara Djilid I,
(Medan: Pustaka Iskandar Muda,1961), hal. 334
2
 
www.siteresources.worldbank.org. Lihat H. Badruzzaman Ismail,
 Pengaruh Faktor  Budaya Aceh Dalam Menjaga Perdamaian dan Rekonstruksi.
Diakses pada tanggal 10 Juni 2007
3
Membangun Peradilan Syari’ah di Nanggroe Aceh Darussalam.
Diakses pada tanggal 10 Juni 2007
2
 
2006 tentang Pemerintahan Aceh terdapat satu lembaga adat lagi yaitu MAA(Majelis Adat Aceh).Di antara lembaga-lembaga adat yang disebutkan di atas,
 geuchik 
 berperan besar sebagai pengendali sosial masyarakat dalam mengatur setiap kebijakan yang berada dalam wilayah hukumnya, termasuk di dalamnya kebijakan-kebijakantentang hukum syari’at Islam.
Geuchik 
dalam menjalankan tugas dan fungsinyadibantu oleh lembaga-lembaga adat lain yang berkompeten dengan caramusyawarah.Berdasarkan keterangan-keterangan tersebut, karya tulis ini mencobamembahas bagaimana peran lembaga adat
 gampong 
sebagai pengendalian sosialmasyarakat terhadap pelaksanaan hukum syari’at Islam yang sedang berlangsungdi NAD. Suksesnya pelaksanaan hukum syari’at Islam dan hukum adatdiharapkan mampu membentuk kepribadian masyarakat Aceh yang sesuai denganajaran Islam dan aturan adat.
II.PEMBAHASAN
II.1
Kedudukan Lembaga Adat Gampong Dalam Pelaksanaan Syari’at Islam
Dalam Perda Provinsi Daerah Istimewa Aceh Nomor 5 Tahun 2000tentang Pelaksanaan Syari’at Islam disebutkan bahwa aspek pelaksanaan syari’atIslam meliputi : aqidah, ibadah, mu’amalah, akhlak, pendidikan dan dakwahislamiyah, baitulmal, kemasyarakatan, syiar Islam, pembelaan Islam, qadha, jinayat, munakahat, dan mawaris. Namun dalam aplikasinya, syari’at Islam diAceh lebih difokuskan kepada beberapa bidang saja.Penerapan syari’at Islam di Aceh sangat berkaitan dengan identitasmasyarakat Aceh, sehingga penerapan syari’at Islam yang pertama-tamadigalakkan lebih bersifat simbolis, bukan hal-hal yang lebih islami dalam artiyang lebih signifikan seperti pemberantasan korupsi atau kolusi. Bidang-bidangyang difokuskan sementara ini adalah penggunaan busana islami, pelarangantindakan
munkarat 
seperti minuman beralkohol, perjudian dan perzinaan, pengaturan ibadah shalat jum’at dan ibadah puasa Ramadhan, pelarangan aliransesat, penggunaan hukum cambuk sebagai salah satu alternatif dari berbagai3

Activity (30)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ren Nyoe Hai liked this
Bambang Jumani liked this
Kanzy Batozay liked this
Muss Lmp liked this
Muss Lmp liked this
Rijal Syuq liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->