Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
33Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Permusuhan Iran-Israel 2005-2009; Faktor Sejarah, Leadership, Opini Publik, Dan Kebijakan Luar Negeri Kedua Negara Dan Pengaruhnya Terhadap Dinamika Kawasan Timur Tengah

Permusuhan Iran-Israel 2005-2009; Faktor Sejarah, Leadership, Opini Publik, Dan Kebijakan Luar Negeri Kedua Negara Dan Pengaruhnya Terhadap Dinamika Kawasan Timur Tengah

Ratings: (0)|Views: 1,993|Likes:
Published by Tangguh
Pada periode 2005-2009, Ahmadinejad mengemban masa baktinya yang pertama sebagai Presiden Iran melalui proses pemilu Juni 2009 lalu, sementara Israel sempat dipimpin oleh tiga perdana menteri, yakni Ariel Sharon, Ehud Olmert, dan Benjamin Netanyahu. Dalam esai ini, tim penulis akan membahas bagaimana sejarah bilateral, leadership, opini publik, dan kebijakan luar negeri Iran dan Israel periode 2005-2009 memengaruhi politik dan hubungan antara kedua negara tersebut serta kawasan Timur Tengah.
Pada periode 2005-2009, Ahmadinejad mengemban masa baktinya yang pertama sebagai Presiden Iran melalui proses pemilu Juni 2009 lalu, sementara Israel sempat dipimpin oleh tiga perdana menteri, yakni Ariel Sharon, Ehud Olmert, dan Benjamin Netanyahu. Dalam esai ini, tim penulis akan membahas bagaimana sejarah bilateral, leadership, opini publik, dan kebijakan luar negeri Iran dan Israel periode 2005-2009 memengaruhi politik dan hubungan antara kedua negara tersebut serta kawasan Timur Tengah.

More info:

Published by: Tangguh on Oct 15, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2013

pdf

text

original

 
 1
Permusuhan Iran-Israel 2005-2009
Faktor Sejarah,
Leadership
, Opini Publik, dan Kebijakan Luar Negeri KeduaNegara dan Pengaruhnya terhadap Dinamika Kawasan Timur Tengah
Esai Kelompok Mata Kuliah Dinamika Kawasan Timur Tengah dan Afrika
Dita Amelia
0806393044 Studi Arab FIB UI
 
Carolina D. Rainintha Siahaan
0706165551 Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI
 
Tangguh
0706291426 Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI
Pada periode 2005-2009, Ahmadinejad mengemban masa baktinya yang pertama sebagai PresidenIran melalui proses pemilu Juni 2009 lalu, sementara Israel sempat dipimpin oleh tiga perdana menteri,yakni Ariel Sharon, Ehud Olmert, dan Benjamin Netanyahu. Dalam esai ini, tim penulis akan membahasbagaimana sejarah bilateral,
leadership
, opini publik, dan kebijakan luar negeri Iran dan Israel periode 2005-2009 memengaruhi politik dan hubungan antara kedua negara tersebut serta kawasan Timur Tengah.
Dinamika Hubungan Iran-Israel
 
Hingga saat ini kedua negara tidak membuka hubungan diplomatik satu sama lain. Iran tidakmengakui eksistensi Israel sebagai negara, hal ini juga ditekankan oleh propaganda pemerintah yang kerapmerujuk Israel sebagai rezim zionis. Sesungguhnya, Iran pernah memberikan pengakuan atas keberadaanIsrael pada 1948, namun hal ini dianulir pada 1951 oleh Pemerintah Muhammad Mussadeq sesaat setelahkemenangannya dalam pemilu sebagai perdana menteri. Iran dan Israel tidak pernah saling membukahubungan diplomasi khususnya semenjak lengsernya pemerintahan Syiah pada 1979. Hubungan Israeldan Iran telah bertransformasi dari aliansi politik yang erat khususnya di bawah Dinasti Pahlevi menjadiketegangan dan permusuhan seiring dengan naiknya kekuasaan Ayatollah Ruhollah Khomeini. Relasi kianmemburuk ketika Ayatollah Khomeini memutuskan untuk bergabung pada kelompok Arab yangmendeklarasikan dirinya sebagai anti-Israel. Padahal, sebelumnya Iran merupakan mitra dagang danpenghasil cadangan minyak bagi Israel pada 1953-1979, ketika dinasti Pahlevi sedang berkuasa. Untukmengadakan hubungan timbal balik yang mutual, Israel pernah melakukan ekspor perangkat perang danmiliter serta memberikan asistensi kepada angkatan bersenjata Iran. Badan intelijen kedua negara jugapernah bekerja sama dalam mengadakan pelatihan dan bersama-sama mengembangkan
Project Flower 
 dalam pengembangan misil bersama. Bahkan, Iran pernah penjadi
supplier 
minyak bagi Israel pasca Israeldikucilkan negara tetangganya karena
Six Day War.
Sejak memburuknya relasi Israel dan Iran, Israel selalumerujuk kepada pengaruh Amerika Serikat di kawasan untuk membantu mempertahankan eksistensinyadan membela diri dari negara tetangga di kawasan. Sampai pada 1980, tercatat bahwa estimasi diaspora
 
 2
Yahudi di Iran mencapai angka 300.000 jiwa. Bisa dikatakan bahwa Iran memiliki komunitas Yahuditerbanyak di kawasan Timur Tengah. Jadi, terbukti bahwa friksi yang kemudian berkembang sebenarnyaadalah fenomena baru atas keadaan damai dan bersahabat di antara dua negara.
Hubungan Iran-AS: Pendorong Hubungan Iran-Israel sebelum Revolusi
 
Selain itu, hubungan Iran dengan Israel pra-Revolusi Islam Iran 1979 juga didukung oleh kedekatanIran dengan AS. Pada 1953, dinas intelijen AS dan Inggris mengatur sebuah kudeta di mana para perwiramiliter Iran menurunkan Perdana Menteri Mussadeq, yang berniat menasionalisasi industri minyak.
1
Disini, CIA membantu mengembalikan kekuasaan Shah Iran Muhammad Reza Pahlevi.
2
Selamapemerintahan Presiden Lyndon B. Johnson, hubungan baik dengan Iran adalah prioritas utama bagipembuat kebijakan AS, yang sepakat atas pentingnya Iran secara strategis dan memperhatikan ancamanpotensial terhadap stabilitas jangka panjang rezim Pahlevi.
Foreign Relations
, 1964-1968, volume XXII, Iran,yang dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri AS, membuktikan kebijakan dukungan Johnson terhadapShah dan perhatian terhadap keamanan internal Iran dengan mendorong program reformasi politik, sosial,
dan ekonomi Shah yang disebut “Revolusi Putih”. Hubungan personal Johnson dengan Shah juga dekat;
kedua pemimpin saling berkorespondensi, dan Shah bertemu dengan Johnson tiga kali selama masakepresidenannya.
3
Dari 1969 hingga 1972, AS pun menjalin hubungan kukuh dan setia dengan Iran, karenaAS memandang Irak sebagai musuh berbahaya potensial, dan Iran adalah rival Irak. Presiden RichardNixon juga menganggap Iran di bawah Pahlevi sebagai pilar stabilitas keamanan AS di Timur Tengah.Satu-satunya perdebatan antara Iran-AS adalah hasrat Shah akan persenjataan teknologi tinggi yang mahalnamun tidak penting, sementara AS khawatir bahwa penambahan kekuatan persenjataan akanmembahayakan stabilitas internal Iran dengan mengalihkan dana untuk usaha-usaha sosial danmerumitkan hubungan regional.
4
 
Hubungan Opini Publik dengan Kebijakan Luar Negeri
 
Hubungan opini publik dengan kebijakan luar negeri diwarnai debat antara pendekatan liberal-demokratis dan pendekatan realis. Tradisi liberal-demokratis memandang bahwa kebijakan luar negerinegara-negara demokratis lebih damai (daripada kebijakan negara-negara nondemokratis) salah satunyakarena akuntabilitas terhadap publik membuat publik memiliki peran konstruktif dalam membatasi parapembuat kebijakan; sementara tradisi realis memandang bahwa opini publik adalah rintangan terhadap
diplomasi yang bijaksana dan koheren, karena “syarat
-syarat rasional kebijakan luar negeri yang baik pada
1
 
BBC NEWS | Middle East | Timeline: US-Iran ties 
, diakses darihttp://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/3362443.stm 14 Oktober 2009 9:43
2
 
Ups and Downs of US-Iran Relations 
– 
IslamOnline.net 
– 
Politics in Depth 
3
 
Summary: Foreign Relations of the United States 1964-1968, Volume XXII, Iran 
4
 
Summary: Foreign Relations, 1969-1972, Volume E-4, Iran and Iraq 
, diakses darihttp://www.state.gov/r/pa/ho/frus/nixon/e4/72108.htm 14 Oktober 2009 10:26
 
 3
permulaannya tak dapat memperhitungkan dukungan opini publik yang memiliki preferensi yang lebih
emosional daripada rasional” (Hans J. Morgenthau, 1978:558).
5
Rudi Guraziu (2008) mengungkapkanbahwa menurut kaum Liberal Wilsonian, opini publik memengaruhi pembuatan kebijakan publik denganmencegah para pembuat keputusan mengambil tindakan-tindakan berisiko karena khawatir bahwapemerintahan tersebut akan kehilangan dukungan publik, sehingga meyakinkan mereka untuk memilihkebijakan yang lebih disukai publik. Pengaruh opini publik terhadap kebijakan luar negeri, menurut Foyle,
“ditentukan oleh interaksi antara kepercayaan pembuat kebijakan tentang peran opini publik yang tepat
dalam perumusan kebijakan luar negeri dan konteks keputusan di mana kebijakan luar negeri harus
dibuat”. Menanggapi debat antara realis dan liberalis, yang menunjukkan pentingnya opini publik dalam
pembuatan kebijakan luar negeri, Guraziu membuktikan bahwa pengaruh opini publik pada urusan-urusan luar negeri berubah-ubah dari kasus ke kasus. Guraziu menunjukkan keterbatasan opini publikdalam memengaruhi kebijakan luar negeri, menggunakan referensi dan contoh seperti walaupun
 polling
 menunjukkan opini publik di Inggris mengkritik kebijakan di Irak, Tony Blair tetap melakukan perang diIrak; juga seperti walaupun publik Amerika tidak menyetujui kebijakan Bush di Irak, Bush tetapmelakukan perang di Irak; serta seperti walaupun
 polling
menunjukkan bahwa mayoritas populasi UniEropa menentang masuknya Turki ke Uni Eropa, para pemimpin Austria, Prancis, dan Yunani tetapmembuka pembicaraan aksesi Uni Eropa-Turki.
6
 
Pandangan publik Iran
 
Menurut
Terror Free Tomorrow
, survei opini publik nasional terhadap Iran pada 2007
7
menemukanbahwa terdapat ketidakpuasan terhadap sistem pemerintahan, keadaan ekonomi Iran, dan isolasi dariBarat di seluruh Iran. 61% menentang sistem pemerintahan Iran sekarang, di mana Pemimpin Tertinggi takdapat dipilih atau diganti berdasarkan suara langsung rakyat. Sebaliknya, 79% mendukung sistemdemokratis, di mana Pemimpin Tertinggi, bersama seluruh pemimpin, dapat dipilih dan digantiberdasarkan suara rakyat yang bebas dan langsung. Senjata nuklir menjadi prioritas terakhir bagi rakyatIran: hanya 29% memandang pengembangan senjata nuklir sebagai prioritas penting, bahkan 80%mendukung inspeksi penuh dan jaminan bahwa Iran takkan mengembangkan senjata nuklir sebagai gantiperdagangan dan bantuan dari negara-negara lain. Mayoritas rakyat Iran mendukung Iran untukmengakui Palestina dan Israel sebagai negara-negara yang merdeka, menghentikan dukungan Iran
5
 
Ole R. Holsti, ―
Public Opinion and Foreign Policy: Challenges to the Almond 
— 
Lippman Consensus 
‖,
dalam Robert J. Lieber (ed.),
Eagle Rules? Foreign Policy and American Primacy in the Twenty-First Century 
(Prentice Hall, 2002), 361-
6
 
Rudi Guraziu, ―
To what extent is foreign policy making affected by public opinion in a liberal democracy? 
7
 
Terror Free Tomorrow 
, ―
Polling Iranian Public Opinion: An Unprecedented Nationwide Survey of Iran 
‖,

Activity (33)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Yayan Haryana liked this
Vie Carhlen liked this
rifmaghulam liked this
KismayeniKoto liked this
emon_bray liked this
Sri Wahyuningsih liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->