Description
Makalah (untuk kalangan sendiri) berjudul Menyoroti Kiprah Dakwah Ihya at-Turots dkk di Indonesia - File KETIGA
Asalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Pembaca yang budiman, kini kami hadirkan buku yang berjudul Kiprah Dakwah Ihya
Turots di Indonesia. Demi melihat perkembangan dakwah Islam di Indonesia
Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala, kita memuji-Nya, memohon
ampunan dan perlindungan-Nya dari kejahatan hawa nafsu kita dan kejelekan amalan kita.
Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat
menyesatkannya, sebaliknya siapa yang disesatkan maka tidak ada pula yang dapat
menunjukinya.
Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah satu-satunya
dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu adalah seorang
hamba dan utusan Allah. Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat serta salam
kepada beliau, keluarga, dan para shahabatnya serta para pengikutnya dengan ihsan hingga
hari pembalasan.
Berbagai kerancuan kini melanda umat Islam (kecuali yang dirahmati Allah). Diantara
mereka ada yang menganggap biasa berteman akrab dan menimba ilmu dari orang-orang
yang menyimpang pemikiran dan manhajnya, yang penting demi persatuan-kesatuan dan lagi
pula mereka pintar-pintar, memiliki gelar, keluaran institusi ternama juga. Demikianlah
anggapan mereka. Toh, dengan orang-orang kafir kita dianjurkan untuk bergaul dengan baik.
Mengapa dengan sesama Muslim kita justru berpecah dan berselisih? Inilah sebagian kecil
kerancuan tersebut. Sehingga tak heran sebagian orang mempersoalkan boleh-tidaknya
melontarkan kata-kata yang cukup memerahkan telinga terhadap para da’i hizbiyyin (yang
mengajak kepada fanatisme golongan) dan orang-orang yang merusak pemikiran umat. Ada
yang menghardik kita karena pemakaian bahasa yang kasar, bahkan dianggap
berpemahaman keras, fundamentalis, eksklusif, kaku, kuno, jumud, suka memvonis, peneror
kata-kata dan sebutan kreatif lainnya.
Bahkan lebih jauh lagi, setelah biasa bergaul dengan orang-orang tersebut, lantas
muncullah kecintaan, penghormatan, kesetiaan, loyalitas. Sehingga tak heran ada prosesi
timbal-balik yang terjadi, tolong-menolong, danapun digelontorkan, masjid, pondok
dibangunkan, rumah guru disediakan, lengkap dengan gaji bulanan, proyek tahunan, modal
usaha dst. Suatu ketika diadakan acara pertemuan, diundanglah salah satu tokoh mereka
menceramahi, mulailah proses kaderisasi aqidah dan pemikiran. Kitabnya sama, bukunya
sama, ulamanya sama, tapi yang mengajar versi mereka, akhirnya menjadi sarana
menggalang opini. Ummat dibingungkan lagi, di waktu kajian dicap “haram”, “bid’ah”, “hizbi”,
“sesat”, “menyimpang”, namun di acara gema dakwah mereka, acara bagi-bagi dana, acara
‘balas budi’, seperti tidak pernah terjadi ada apa-apa. Kata orang Jawa, perilaku tersebut
disebut ‘mikul dhuwur, mendem jero’, menjunjung tinggi, diagungkan setinggi langit dan
menahan diri dari membongkar kesalahannya.
j
Dan lebih disayangkan ternyata sebagian orang-orang yang kita bicarakan tadi
ternyata memiliki majelis taklim, pengikut, dai yang mengenakan baju (label) Salafi,
kerancuan bermula dari sini. Mereka mengutip sebagian perkataan ulama dan meninggalkan
yang lainnya. Atau menyampaikan pendapat seorang imam atau ulama tidak sesuai bahkan
bertentangan dari apa yang dipahami oleh generasi terbaik umat ini. Mereka memusuhi dan
menjauhi dai-dai yang menampakkan sikap permusuhan terhadap ahli bid'ah dan para
penyambung lidah mereka dan seterusnya, keanehan semakin banyak terjadi. Ucapan hizbi,
mubtadi’, sesat, menyimpang, hanya pemanis lisan, karena ternyata dananya, aqidahnya,
muammalahnya, bak dengan kawan, bahkan melebihi teman biasa. Ummat mau dibawa
kemana ini ?
Kendati sejak tahun 1996/1997 masalah ini sudah cukup jelas, bahkan sekian da’i
mereka banyak yang insyaf dan bergabung dengan dakwah salafiyah yang haq ini. ....