Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
11Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Filsafat_teks --- Kota Dan Budaya

Filsafat_teks --- Kota Dan Budaya

Ratings: (0)|Views: 711|Likes:
Published by Rahmat Ali
Ketika sebuah lapangan alun-alun kota Surakarta yang berdampingan
bahkan menjadi perluasan tata kerajaan berperan sebagai tempat masyarakat bertemu bersama dan kadang protes halus dengan menjemur diri (pépé) di hadapan raja, di sana penghayatan ruang bersama dilaksanakan dalam makna budaya atau kultural.

Penghayatan itu bermakna budaya karena maksud temu di ruang bersama merupakan ungkapan saling bertemu dengan artian nilai agar harmoni hidup bersama bisa dilangsungkan terus dalam perayaan-perayaan kerakyatan sekatenan, perayaan pasar malem, lebaran, acara seni panggung bahkan menjelang peralihan abad ekonomis (dengan dikenalnya uang sebagai nilai tukar dan nilai pakai sekaligus), ruang bersama alun-alun masih menyatu dengan peran “ruang dalam” istana (nDaleman), lalu ruang “benteng” dan rekatan istana, religi dan tempat kumpul masyarakat untuk oasis kebudayaan dan kesenian mereka.

Ada sebuah rekatan tata nilai yang saling mengutuhkan antara pusat jagat kuasa raja, religi (yang ketika Islam masuk lalu ada masjid kerajaan), serta lapangan alun-alun untuk segala keperluan ungkapan perayaan hidup bersama dalam seni dan kebudayaan.
Ketika sebuah lapangan alun-alun kota Surakarta yang berdampingan
bahkan menjadi perluasan tata kerajaan berperan sebagai tempat masyarakat bertemu bersama dan kadang protes halus dengan menjemur diri (pépé) di hadapan raja, di sana penghayatan ruang bersama dilaksanakan dalam makna budaya atau kultural.

Penghayatan itu bermakna budaya karena maksud temu di ruang bersama merupakan ungkapan saling bertemu dengan artian nilai agar harmoni hidup bersama bisa dilangsungkan terus dalam perayaan-perayaan kerakyatan sekatenan, perayaan pasar malem, lebaran, acara seni panggung bahkan menjelang peralihan abad ekonomis (dengan dikenalnya uang sebagai nilai tukar dan nilai pakai sekaligus), ruang bersama alun-alun masih menyatu dengan peran “ruang dalam” istana (nDaleman), lalu ruang “benteng” dan rekatan istana, religi dan tempat kumpul masyarakat untuk oasis kebudayaan dan kesenian mereka.

Ada sebuah rekatan tata nilai yang saling mengutuhkan antara pusat jagat kuasa raja, religi (yang ketika Islam masuk lalu ada masjid kerajaan), serta lapangan alun-alun untuk segala keperluan ungkapan perayaan hidup bersama dalam seni dan kebudayaan.

More info:

Published by: Rahmat Ali on Oct 17, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/28/2013

pdf

text

original

 
Rangkaian Studium Generale
KOTA DAN BUDAYA:RUANG PUBLIK, TITIK TEMUNYA?
Oleh:
Mudji Sutrisno
KerjasamaGoethe-Institut Jakarta dan Sekolah Tinggi Filsafat DriyarkaraJakarta, 16 April 2009
2
KOTA DAN BUDAYA:RUANG PUBLIK, TITIK TEMUNYA?
Oleh:
Mudji Sutrisno
I. PENGANTAR
Ketika sebuah lapangan alun-alun kota Surakarta yang berdampinganbahkan menjadi perluasan tata kerajaan berperan sebagai tempat masyara-kat bertemu bersama dan kadang protes halus dengan menjemur diri (
 pépé
)di hadapan raja, di sana penghayatan ruang bersama dilaksanakan dalammakna budaya atau kultural.Penghayatan itu bermakna budaya karena maksud temu di ruang ber-sama merupakan ungkapan saling bertemu dengan artian nilai agar harmonihidup bersama bisa dilangsungkan terus dalam perayaan-perayaan kerak-yatan sekatenan, perayaan pasar malem, lebaran, acara seni panggungbahkan menjelang peralihan abad ekonomis (dengan dikenalnya uang seba-gai nilai tukar dan nilai pakai sekaligus), ruang bersama alun-alun masih me-nyatu dengan peran “ruang dalam” istana (nDaleman), lalu ruang “benteng”dan rekatan istana, religi dan tempat kumpul masyarakat untuk oasis kebu-dayaan dan kesenian mereka. Ada sebuah rekatan tata nilai yang saling mengutuhkan antara pusat ja-gat kuasa raja, religi (yang ketika Islam masuk lalu ada masjid kerajaan),serta lapangan alun-alun untuk segala keperluan ungkapan perayaan hidupbersama dalam seni dan kebudayaan.Sejak kapan ruang bersama bergeser fungsi dan berubah posisinya?
Pertama
, sejak pemaknaan ruang bersama digeser dari bingkai nilai kul-tural dan fungsi temu bersama merayakan kebersamaan menjadi hanya ber-bingkai lapangan tempat panggung pameran dagang dengan kepentingan
 
3
ekonomis dan nilai ekonomis industri menggusurnya menjadi pasar dagang jual beli. Apakah itu fenomena modernitas, dalam arti, rasionalitas (pola pikir kal-kulasi untung-rugi) dalam ekonomi modern mengganti bahkan menggusur ekonomi tradisional yang tukar-menukar kebutuhan hidup lewat bahan-ba-han tanaman, buah yang disaling-tukarkan untuk kehidupan hari demi hari,sebelum uang dengan nilai tukarnya menggantikan ini semua?Bila itu gejala modernitas, maka akibat-akibat apa yang mengenai peri-laku orang-orang dalam menghayati ruang bersamanya?Pertanyaan-pertanyaan ini melanjutkan refleksi kedua dari paparan ini,yaitu soal penghayatan ruang bersama yang bergeser dari makna kulturalmenjadi ekonomis, serta apa yang berebut dan siapa yang memperebutkanruang bersama itu: kekuatan-kekuatan manakah hingga orang-orang pemilikawal yang semula aktif kini menjadi penonton pasif? Atau lebih tandas lagi, kini penonton-penonton ini sudah dijadikan objekkonsumsi atau sekedar konsumen oleh dominasinya penguasaan ruang ber-sama di tangan pemodal?Dalam buku-buku karya Jürgen Habermas seperti
The Structural Trans-formation of the Public Sphere: An Inquiry into a Category of Bourgeois So-ciety 
(1989), lalu
Knowledge and Human Interest 
(1988), dan
The Theory of Communicative Action
(1987), kita terbantu untuk mengkonsep-teorikan fe-nomena persoalan ruang bersama dalam benturan antara dunia nilai-nilaidan kepentingan, lalu ruang bersama manakah yang secara modern (bilaproyek modernitas mau dikritisi agar dehumanisnya dan instrumentalis-nyayang berciri memperalat dan mengobjekkan) bisa dikurangi.
II. PIAZZA
Ketika penghuni-penghuni kota (
citta dinanza
) butuh tempat untukmengekspresikan diri, mereka lalu berkumpul di alun-alun yang disebut
 piazza
” atau “
square
”. Ekspresi kemauan dan kritik yang mau diungkapkan,dicetuskan di lapangan kecil itu hingga lama-kelamaan lalu disebut sebagairuang publik. Artinya, sebuah tempat dengan keluasan untuk berekspresi,berpendapat dan saling menghargai pendapat warga kota dalam sistem pe-merintahan kota yang demokratis.Ketika ruang publik dihayati sebagai tempat berkumpul, di sana berkem-bang pula tradisi ekspresi bersama dalam “
manifestazione
”: ungkapan unjuk
4
pendapat dan debat publik di mana hati boleh panas namun akal budi tetapdingin, dan argumentasi rasional harus tetap menjadi pemimpin polemik ataudebat publik itu.Mengapa “
 piazza
” atau “
 plaza
” yang arti harafiah sederhananya cumaberarti tempat lalu menjadi simbol ada atau tidaknya penghargaan terhadapsuara publik dalam ruang publik? Mengapa pula, dalam sejarah peradabanberdialog dan berdebat ketika konflik kepentingan muncul, akhirnya “
 piazza
atau “
 plaza
” menjadi indikator bagi ada dan tidaknya hak warga untukmengritik, untuk bersuara?Pertanyaan-pertanyaan di atas terjawab dalam proses berkembangnyaapa yang disebut “
 polis
” (kota dengan politik kesejahteraan untuk warga) lalumateri pokok yang dibahas dalam ruang publik yang lalu dikenal oleh seja-rah pemikiran sebagai “
res publica
” (republika dalam arti awal, yaitu pokok-pokok hak kehidupan publik rakyat atau warga di mana penanganannya adadalam otonomi warga itu). Sejak “
res publica
” menjadi kata kunci untuk se-buah proses perjuangan hak-hak publik yang otonom dan harus dihormatioleh sistem kota atau sistem negara (
state
atau
lo stato
); maka di sana repu-blika akhirnya diidentifikasi sama dengan gerakan masyarakat (
societas
)untuk tetap berdaulat. Dan sejak itu pulalah “
res publica
” menyatu dalamlangkah gerak serempak yang sama dengan perjuangan berdaulatnya rakyatatau berdemokratisasi.Penghayatan sadar mengenai ruang publik oleh warga untuk politik ke-sejahteraan bersama (
communitas publica
) lalu menjadi ciri otentik dari per- juangan riil warga masyarakat untuk menolak mati-matian setiap usaha ne-gara yang mau membelenggu; campur tangan atau membatasi hak-hak sipilpublik seperti hak berkumpul; berserikat, mengeluarkan pendapat denganmerdeka, serta hak publik mengontrol kekuasaan dalam mekanisme politik.Ruang publik yang semula bermakna luas sebagai wahana hidup bersa-ma untuk berekspresi kreatif merdeka sebagai warga, di mana bermain-ma-in, bercengkrama, ngobrol dan menghirup udara segar, serta rekreasi danrelaksasi untuk hidup lebih lanjut lagi, pelan-pelan mendapatkan makna khu-susnya sebagai ruang publik politik perjuangan hak-hak publik untuk demo-krasi.Yang membuat ruang bersama berubah dari tempat temu sebagai “
 piaz-za
” atau “
 plaza
” menjadi fungsi ekonomis pasar adalah masuknya kepen-tingan kelas-kelas ekonomis yang berubah sejak kapitalisme menjadi penen-tu hidup manusia.
 
5
III. IKLAN DAN KONSUMSI GAYA HIDUP
Life style
atau gaya hidup merupakan salah satu cara bersikap yangdipakai oleh orang tertentu ketika ia mau tampil layak dan aktual di hadapanorang-orang lain.Seharusnya, gaya hidup merupakan rentetan pengolahan sikap meng-hayati hidup dengan pertimbangan akal budi mengenai cocok tidak dengan
 posture
” (bentuk fisik); tingkat pendidikan, keadaan sosial (
strata
) pada ma-syarakat, serta pula cita-cita ke depan mengenai makna atau arti hidup, mi-salnya, sebagai orang Indonesia yang kelas menengah sosial serta mautampil modern dan rapi cerdas sebagai cita-cita.Yang seharusnya ini lalu ditampilkan sebagai gaya hidup dalam caraberpakaian, pilihan selera makan, pilihan bacaan koran, majalah atau buku,pilihan lagu-lagu, lalu kesemuanya itu ditampilkan secara fisik dengan modedan “gaya” tertentu atau “
trend 
” tertentu.Di sini ada tiga sikap mengolah gaya hidup seseorang. Yang pertama,sikap seleksi dalam gaya hidup. Artinya, orang itu berpendirian terhadaparus mode yang ada dan hanya memilih yang baik, cocok dengan kepribadi-annya. Seleksi pertimbangannya adalah pribadinya yang cerdas dan nurani-nya tampil terhormat dan berharkat.Yang kedua, sikap adaptasi yang berarti menyesuaikan terus-menerusdengan tawaran-tawaran ide dan citra modis, dan pria taman atua perempu-an cantik yang sebagian disesuaikan kondisi diri orang itu, keluarganya da-lam kondisi ekonomi, sosial, dan kultural. Adaptasi merupakan sikap tengah-tengah antara seleksi, dan nanti yang ketiga adalah imitasi. Bandingkan po-kok-pokok ini dengan perilaku sosial.
1
Yang ketiga adalah sikap imitasi da-lam gaya hidup. Inilah gaya hidup menirukan, membuat citra diri seseorangtiap kali diimitasikan dengan tokoh publik, bintang, atau arus mode dan gayapaling mutakhir, lalu itu semua dilahap dan ditirulah setotal-totalnya.Pada sikap ketiga yaitu imitasi inilah kebanyakan orang dengan menirugaya hidup idolanya atau kelas glamor idola dengan kesamaan makanan,gaya pakaian, gaya rambut, bahkan segi-segi yang secara sengaja ditawar-kan oleh pasar iklan sebagai pencipta citra atau “
trend setter 
” diambil dan di-pakai sebagai cara hidup dan bergaya dalam hidup.Ketika penentu gaya hidup yang dominan adalah pasar dengan iklandan nilai konsumsi yang dipompa terus untuk terus membeli yang baru; terustampil modern, berakibat konsumtifnya gaya hidup karena penampilan diba-
1
John W. Berry, dkk.,
Psikologi Lintas Budaya
, Jakarta: Gramedia, 1999, h. 84-136.
6
yar amat mahal dengan membeli terus mode pakaian terbaru, peralatan ke-cantikan terbaru, mobil dan asesori-asesori untuk tampil elegan. Padahal, ja-tidiri penampilan yang sebenarnya tetaplah dari jiwa yang dewasa dan ke-cantikan dari dalam kepribadian seseorang.
2
Ketika orang tidak merasa berharga dan tidak merasa percaya diri sebe-lum makan McDonald, minum Coca-Cola, merokok Dunhill hijau berfilter,berparfum Dior, berbedak paling mutakhir, di situlah gaya hidup yang dicitra-kan oleh pasar konsumsi produk iklan benar-benar dihayati dalam sikap imi-tasi yang mengikuti gaya hidup tanpa sikap seleksi yang cerdas.Mengapa imitasi gaya hidup kelas selebriti dan idola yang dijual pasar menjadi identitas populer bersama dengan cepat? Sebab, pencipta jualangaya hidup dalam citra/idola-idola iklan sengaja merangsang nafsu terusmembeli dan keinginan tampil baru yang naluriah selalu melekat pada dirimanusia.Dengan menghujani terus lewat pelipatgandaan bertubi-tubi pada napsuini, maka tidak sempat lagi akal menyeleksi dan terbuailah (terangsanglah)nafsu konsumsi yang kemudian sebagai gaya hidup dikatakan: saya barubermakna dan ada artinya keberadaan saya bila saya bila saya membelinya!
I buy therefore I exist 
”: saya hanya berarti bila saya membelinya!Gaya hidup konsumtif hasil pasar iklan ini paling banyak menghujani ge-nerasi remaja dan anak ketika pendidikan kepribadian dewasa untuk sikapseleksi tidak ditanam dalam proses lama sejak dini. Sebab, ketika teman-te-man si anak di SD dalam gaya kelas menengah hampir semua memakai ga-ya tas
Tweety 
atau sepatu
Nike
, maka salah satu anak yang belum mema-kainya akan merasa belum berarti di hadapan teman-temannya.Gejala seperti inilah yang menunjukkan bahwa sikap imitasi dalam gayahidup sudah menuju ke lampu merah peringatan akan pentingnya penanam-an sikap percaya diri melakukan seleksi dengan budi untuk tampil diri darikecantikan “dalam” atau jiwa pribadi.Tantangan adaptasi buta dan imitasi buta terhadap gaya hidup konsum-tif yang merajalela pada saat pasar terus berlomba menawarkan idola, gayahidup yang dijual mahal seharusnya membuat orang tua dalam keluarga; se-kolah atau imitasi pendidikan bersatu duduk bersama untuk menyikapinyaagar bukan gaya hidup konsumtif, fisik tampan dan ayu yang nomer satu, te-
2
Lih. Ann Brydon & Sandra Niessen (eds.),
Consuming Fashion
, Oxford: Berg, 1988, h. 60-70.

Activity (11)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
haspi liked this
Meuz Bathold liked this
Haslina Zakaria liked this
jhon.king06 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->