NASIONAL
3
SABTU 17 OKTOBER 2009
SEPUTAR INDONESIA
CMYK
CMYK
CMYK
CMYK
Karena itu, Marzuki menyatakan,
pimpinan DPR akan meneliti ka-
sus penghilangan ayat tersebut.
Menurut dia, pimpinan DPR telah
meminta penjelasan dari Ketua
Panitia Khusus (Pansus) RUU Ke-
sehatan Ribka Tjiptaning, Sekre-
taris Jenderal (Sekjen) DPR Nining
Indra Saleh, dan para kepala biro
terkait hilangnya ayat tersebut.
Dari keterangan para anggota
Dewan tersebut, pimpinan DPR
untuk sementara berpendapat
bahwa hilangnya ayat dalam UU
Kesehatan merupakan kesalahan
administratif. Meski demikian,
Marzuki menyatakan, pimpinan
DPR tetap melakukan penyelidik-
an lanjutan untuk menentukan
adanya unsur kesengajaan atau
tidak dalam penghilangan ayat ini.
\u201cSepertinya hilang di sini
(DPR). Apakah di komisi, kita be-
lum jelas. Kita masih tangani dan
teliti. Kemarin, Ketua Pansus Ibu
Tjiptaning (Ribka Tjiptaning)
menjelaskan tidak ada unsur ke-
sengajaan dari staf. Semua itu ka-
rena kesalahan administrasi,\u201d ung-
kap Marzuki di Gedung DPR, Ja-
karta, kemarin.
Lebih lanjut Ketua DPR sepakat
jika penghilangan ayat dalam se-
buah UU merupakan sebuah tindak-
an kriminal. Hanya, menurut dia,
pimpinan DPR tetap akan meme-
gang prinsip praduga tak bersalah.
Jika nantinya dalam penyelidikan
yang dilakukan pimpinan tidak
ditemukan unsur kesengajaan,
maka DPR tidak akan mengusut
kasus penghilangan ayat ini.
\u201cKita sudah mendengarkan
penjelasan itu, dan tentu akan di-
teliti kembali. Apakah penjelasan
itu sudah pas dan tepat. Kalau be-
nar,yas u d a h lah. Jangan bicara
sanksi, yang penting kita berpikir
positif. Saya yakin, tentu teman-
teman di komisi dan sekretariat
tidak ada keinginan mengubah
ayat itu. Sekarang bagaimana ke
depan, hal ini tidak terjadi lagi,\u201d
paparnya.
Marzuki menyatakan, masalah
serupa memang pernah terjadi se-
belumnya. Dan DPR, ujar dia,
hanya memperbaiki kesalahan itu.
Namun, untuk kasus ayat UU Ke-
sehatan, papar politikus Partai De-
mokrat ini, sudah terlanjur terpub-
likasi, sehingga masalahnya men-
jadi besar.Agar masalah seperti ini
tidak terjadi kembali, Marzuki me-
nyatakan, pihaknya sedang me-
nyiapkan mekanisme baru yang
akan segera dibakukan.
Mekanisme itu adalah, draf
RUU sesudah disepakati di pansus
akan diparaf semua anggota pan-
sus. \u201cAtau, paraf itu dilakukan di
saat RUU disepakati pada peng-
ambilan keputusan tingkat dua,\u201d
jelasnya. Jika sudah diparaf, maka
draf tersebut tidak bisa berubah
lagi. \u201cKejadian yang kemarin (hi-
langnya ayat UU Kesehatan)k a n
karena tidak diparaf. Mekanisme
itu nanti akan kita bakukan,\u201d ka-
tanya.
Di tempat terpisah, Wakil Sek-
jen DPP Partai Golkar Leo Naba-
ban mengatakan, dalam pem-
bahasan UU di DPR ada dua proses
yang harus ditempuh, yakni proses
politik dan administrasi kenegara-
an. Proses politik pembahasan UU
itu, kata Leo, dimulai dari pem-
bahasan di pansus komisi.
\u201cSetelah pansus komisi mem-
bahas draf RUU, pembahasan se-
lanjutnya dibawa ke tingkat panja
(panitia kerja).Nah,setelah semua
selesai dibahas di panja, baru akan
dibicarakan di Bamus sebelum di-
sahkan di paripurna,\u201d papar Leo
yang juga mantan staf khusus Ke-
tua DPR Agung Laksono.
Pada proses politik itulah, kata
dia, pembahasan dan pengawasan
memang berada di anggota DPR.
Namun, saat proses administrasi
kenegaraan, jelas Leo, semua di-
tangani Sekretariat Jenderal
(Setjen) DPR. Jadi, ungkap dia,
persoalan UU Kesehatan itu mun-
cul pada wilayah administrasi ke-
negaraan,bukan proses politiknya.
Karena itu, Leo meminta agar Set-
jen DPR ke depan lebih berhati-ha-
ti dalam menyusun administrasi
kenegaraan, sehingga tidak lagi
muncul konflik yang tak perlu.
Sementara itu, mantan Ketua
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kar-
tono Muhammad menyatakan, ada
indikasi keterlibatan Departemen
Kesehatan (Depkes) dalam peng-
hilangan ayat UU Kesehatan ini.
Sebab, ujar dia, Depkes termasuk
pihak yang melakukan pengecek-
an terakhir sebelum RUU Kesehat-
an disahkan dalam sidang pari-
purna DPR. \u201cSebelum disahkan,
RUU Kesehatan juga diserahkan
ke Depkes untuk dicek, terkait
pengeditan dan redaksionalnya,
bukan untuk mengganti atau
mengubah pasal dalam RUU itu,\u201d
tandasnya.
(helmi firdaus/
vitrianda siregar/m purwadi)
JAKARTA(SI) \u2013 Ketua Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR) Marzuki Alie mengaku, hilangnya satu ayat
dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan terjadi di
DPR, bukan di Sekretariat Negara (Setneg).
KILAS
BANDUNG (SI) \u2013 Pemerintah
menyatakan, tetap akan
membatasi informasi yang
beredar ke publik meski
Undang-Undang (UU) No
14/2008 tentang Keter-
bukaan Informasi Publik (KIP)
akan diterapkan.
Juru Bicara Departemen
Luar Negeri (Deplu) Teuku
Faizasyah mengatakan, ma-
syarakat diminta tidak salah
menafsirkan makna keterbu-
kaan informasi publik. Se-
bab, masyarakat tidak bisa
mendapatkan semua in-
formasi. \u201cInformasi yang ma-
sih dalam tingkat kerahasia-
an, itu tidak akan kita publi-
kasikan kepada masyarakat.
Itu merupakan bagian dari
strategi dan dalam tahap per-
undingan,\u201d ungkap Faiza-
syah di Unpar, Bandung,
kemarin. (wisnoe moerti)
Pemerintah
Tetap Batasi
Informasi Publik
JAKARTA (SI) \u2013 Kedutaan Be-
sar Australia membuka ke-
sempatan untuk meng-
ajukan aplikasi mengikuti
Penghargaan Jurnalisme
Elizabeth O\u2019Neill 2009.
Penghargaan ini disedia-
kan untuk memperingati
karier istimewa Elizabeth
O\u2019Neill OAM, mantan atase
pers Kedutaan Besar
Australia, yang gugur dalam
tugas di Indonesia pada 7
Maret 2007.
\u201cPenghargaan ini diba-
ngun di atas karyanya yang
tak mengenal lelah untuk
memupuk saling pengertian
antara Australia dan Indo-
nesia melalui pelaporan me-
dia yang tepat dan akurat,\u201d
ujar Duta Besar Australia
untuk Indonesia Bill Farmer.
(chamad hojin)
Jurnalisme
Elizabeth O\u2019Neill
Kembali Digelar
JAKARTA(SI) \u2013 Badan Penempat-
an dan Perlindungan Tenaga Kerja
Indonesia (BNP2TKI) menerap-
kan metode biometri (pengukuran
melalui proses biologis) dalam pe-
meriksaan calon tenaga kerja Indo-
nesia (TKI) di Klinik TKI. Hal ini
dapat mencegah pemberangkatan
calon TKI yang tidak sehat.
\u201cMetode terbaru ini dipastikan
akan mencegah calon TKI yangun-
fituntuk berangkat bekerja di luar
negeri,\u201d kepala BNP2TKI M Jum-
hur Hidayat di Jakarta kemarin.
Dalam kesempatan itu dia
mengungkapkan, pihaknya opti-
mistis pemerintahan mendatang
akan memberikan pelayanan ter-
baik terhadap TKI. \u201cSaya optimis-
tis pelayanan TKI akan lebih baik di
masa pemerintahan mendatang,\u201d
tutur Jumhur.
Sementara itu, Ketua Umum
Gabungan Pengusaha Profesi TKI
(GAPPRO) Abdul Madjid men-
jelaskan bahwa organisasi yang
dipimpinnya lahir untuk menjadi
wadah bagi anggotanya yang me-
merlukan advokasi dan bantuan
pelayanan terkait penempatan
dan perlindunganTKI.
Menurut catatan GAPPRO, se-
jak keluarnya Permenakertrans
No 22 dan turunannya, sudah ada
62 pelaksana penempatan TKI
swasta (PPTKIS) yang mendapat
teguran. Selain itu, sudah ada 7
PPTKIS yang mendapat skorsing
karena mereka mengurus pelayan-
annya di kantorBalaiPelayananPe-
nempatan dan Perlindungan TKI
(BP3TKI) Ciracas, Jakarta.
Sekretaris Jenderal (Sekjen)
GAPPRO Jurmaini Syakur me-
ngatakan,organisasinya dapat ber-
mitra dengan BNP2TKI baik dalam
program penempatan, perlindung-
an, dan promosi TKI ke mancane-
gara.
(rendra hanggara)
Cek Kesehatan, BNP2TKI
Terapkan Biometri
Wakil Presiden Jusuf Kalla melayani makan malam para pengawal kepresidenan di rumah dinasnya Jalan Diponegoro
kemarin. Di masa akhir jabatannya wapres mengundang seluruh pengawal pribadi dan sejumlah wartawan untuk
makan malam bersama dan mengucapkan terimakasih kepada sejumlah pihak yang telah mendampingi selama menjalani tugas.
JAKARTA(SI) \u2013 Penerapan sistem
kredit semester (SKS) di sekolah
kategori mandiri dan berstandar
internasional menuai banyak ke-
caman. Sejumlah pengamat pen-
didikan beranggapan bahwa hal itu
justru dapat membebani siswa dan
guru. Direktur Institute for Edu-
cation Reform Universitas Para-
madina Utomo Dananjaya menilai,
siswa belum siap menerapkan pem-
belajaran secara mandiri. Apalagi
kompetensi guru yang kurang mak-
simal belum dapat mendukung
sistem SKS.
\u201cTerlebih adanya pelaksanaan
UN (ujian nasional), di mana ke-
lulusan siswa diseragamkan dalam
satu waktu serta tingkat kesulitan
soal yang sama, hal itu malah bakal
menghambat penerapan sistem
SKS,\u201d katanya ketika dihubungi
HarianSe putar Indonesiakemarin.
Menurut Utomo, sistem ini se-
benarnya baik karena prinsip
setiap anak berbeda sehingga me-
nuntut guru atau sistem memberi-
kan semaksimal mungkin kebebas-
an. Namun, dia menilai, secara ga-
ris besar guru saat ini belum me-
miliki kecakapan untuk meng-
hadapi murid dengan beragam
tingkat kepintaran dan kemauan.
\u201cMulai perubahannya bukan
pada sistem SKS tetapi hentikan
dulu UN. Soal pilihan ganda dan
pelajaran hafalan dalam UN me-
nyebabkan sistem apapun yang
diterapkan pada siswa akan batal
dalam praktik. Seharusnya, be-
lajar berpikir lebih didahulukan,\u201d
katanya.
Sebelumnya diberitakan, De-
partemen Pendidikan Nasional
(Depdiknas) mewajibkan pe-
nerapan SKS bagi sekolah mandiri
dan berstandar internasional. Di-
rektur Jenderal Manajemen Pen-
didikan Dasar dan Menengah (Dir-
jen Mandikdasmen) Depdiknas
Suyanto mengatakan, kebijakan
ini telah tertuang dalam Peraturan
Pemerintah (PP) No 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pen-
didikan.
PP tersebut menyebutkan bah-
wa sekolah kategori mandiri harus
menerapkan sistem pembelajaran
dalam SKS. SKS adalah salah satu
sistem penerapan program pen-
didikan yang menempatkan pe-
serta didik sebagai subjek. Pem-
belajaran berpusat pada peserta
didik yaitu bagaimana peserta di-
dik belajar. Peserta didik diberi
kebebasan untuk merencanakan
kegiatan belajarnya sesuai dengan
minat, kemampuan, dan harapan
masing-masing.
Koordinator Divisi Monitoring
Pelayanan Publik Indonesia Co-
ruption Watch (ICW) Ade Irawan
mengatakan, sejak awal pihaknya
menentang pengastaan sekolah,
seperti adanya sekolah berstandar
internasional dan yang bukan,
begitu pun dengan sistem SKS. Dia
melihat, tujuan penerapan sistem
ini belum jelas. \u201cTujuan utamanya
belum jelas.Apa iya,dengan sistem
SKS siswa bisa belajar mandiri.
Belum tentu juga. Bisa jadi hal ini
malah membebani siswa itu sen-
diri,\u201d tuturnya.
Selain itu, lanjut dia, kesiapan
sekolah seperti guru, sarana pe-
nunjang,serta sistem penilaian juga
masih patut dipertanyakan. \u201cPada
tingkat apa diterapkan. Saya pikir
penerapan SKS butuh waktu karena
kesiapan sarana prasarana dan guru
saat ini masih kurang,\u201dterang Ade.
(rendra hanggara)
Sistem SKS Bebani Siswa dan Guru
JAKARTA(SI) \u2013 Departemen Aga-
ma (Depag) menyelenggarakan
program Dual Mode System agar
para guru memperoleh peningkat-
an kualifikasi sarjana strata satu
(S1). Program ini untuk menuntas-
kan sertifikasi bagi para guru di
lingkungan Depag.
\u201cIni merupakan program daru-
rat. Begitu sertifikasi tuntas, maka
program langsung tutup,\u201dkata Di-
rektur Jenderal (Dirjen) Pendidik-
an Islam Depag Mohammad Ali
saat meluncurkan program Dual
Mode System untuk para guru di
lingkungan Depag di Jakarta ke-
marin.
Ali mengharapkan, sertifikasi
guru di Depag dapat dituntaskan
tahun 2014. Menurut dia, program
ini untuk membantu guru-guru yang
belum berkualifikasi S1 karena itu
bukan sebagai program permanen.
Pasalnya, program pendidikan tar-
biah sudah cukup, apalagi jumlah
mahasiswa pendidikan agama Islam
mencapai 350.000 orang.
Dia mengatakan, dalam pelak-
sanaan program ini Perguruan
Tinggi Agama Islam Negeri
(PTAIN) yang ditetapkan sebagai
penyelenggara tidak boleh secara
langsung merekrut mahasiswa.Na-
mun, harus melalui Dirjen Pendi-
dikan Islam Depag, baik di Kanwil
maupun Kandepag.
\u201cPenetapan PTAIN sebagai pe-
laksana program bertujuan agar
ada jaminan kualitas bahwa prog-
ram ini terselenggara dengan baik
dan tepat sasaran,\u201d kata Ali.
Selain itu, terang Ali, mahasis-
wa peserta program menggunakan
modul belajar jarak jauh (BBJ).
\u201cBBJ ini tidak sama dengan kelas
jauh. Kalau kelas jauh, kuliah asal-
asalan bahkan tidak pernah ku-
liah, tiba-tiba ujian. Ini pelacuran,
sama dengan sampah perguruan
tinggi,\u201d urainya.
Selain dengan modul, maha-
siswa juga diharuskan kuliah tatap
muka dengan dosennya di titik-
titik yang ditentukan.Menurut dia,
BBJ dibolehkan sesuai undang-
undang, tetapi baru perguruan
tinggi terbatas misalnya Univer-
sitas Terbuka (UT).\u201cJadi kita harus
urus izin, tapi pemerintah tidak
sembarang urus izin,\u201d imbuh Ali.
Pada tahun 2009 ini, kuota pe-
serta pada Ditjen Pendidikan
Tinggi Islam seluruhnya ber-
jumlah 10.000, terdiri dari 8.217
guru madrasah ibtidaiah dan 1.783
guru pendidikan agama Islam
(PAIS) sekolah dasar (SD).
Sebelumnya, Departemen Pen-
didikan Nasional (Depdiknas) juga
bakal memperketat penerimaan
guru di sekolah dan dosen di per-
guruan tinggi. Hal itu seiring di-
laksanakannya pendidikan profesi
guru. Sekretaris Jenderal (Sekjen)
Depdiknas Dodi Nandika mengata-
kan, nantinya semua guru harus
mengantongi sertifikat pendidik
baru diperbolehkan mengajar.
Dengan demikian, sekolah
maupun PT tak boleh menerima
guru dan dosen sembarangan. \u201cSe-
suai dengan Undang-Undang (UU)
No 14/2005 tentang Guru dan Do-
sen, syarat guru boleh mengajar
bila sudah berkualifikasi S1. Se-
dangkan untuk dosen minimal S2.
Rambu-rambu itu mulai kita so-
sialisasikan,\u201d katanya.
Saat ini dalam kenyataannya,
lanjut dia, masih banyak dosen
yang belum berkualifikasi S2. De-
mikian pula sekitar 1 juta lebih gu-
ru belum berkualifikasi S1. \u201cKa-
rena itu, kami terus sekolahkan pa-
ra guru dan dosen,\u201d ujar Dodi.
(rendra hanggara)
Depag Siapkan Dual Mode System
Ketua DPR Janji Benahi Mekanisme Penyusunan UU
Leave a Comment