Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
19Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Untitled

Untitled

Ratings: (0)|Views: 966 |Likes:
Published by id sag

More info:

Published by: id sag on Oct 18, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/10/2012

pdf

text

original

 
PENGERTIAN GERAKAN PEMBAHARUAN DAN PEMIKIRAN ISLAMoleh :IdhamA. MukaddimahDinamika intelektual dalam Islam, pada dasarnya, merupakan watak dan ciri khasajaran Islam. Al-Quran dan al-Sunnah banyak memuat postulat-postulat yangmendorong kaum muslimin untuk mencarl ilmu dengan cara membaca dan meneliti,walaupun sampai ke negeri Cina. Postulat-postulat seperti itulah yang nendorongkaum muslimin generasi pertama (salaf) menghasilkan karya-karya monumental dalamberbagai aspek pemikir-an keagamaan, seperti ilmu-ilmu al-Quran dan tafsir, ilmu-ilmu hadis, fiqh, filsafat, kalam, dan lain-lainnya masa itu disebut masakeemasan, (the golden age/’asr al-zhahab).Setelah masa itu berlalu, datanglah masa kemun-duran; bidang pemikiran mandeg,bidang politik menga-lami disintegrasi, de-generasi di bidang sosial dan moralmerajalela, sehingga kesemuanya itu sangat memudah-kan musuh-musuh Islam memporak-porandakan tatanan masyarakat Islam yang sudah mapan. Lebih-lebih setelah serbuanbsngsa Mongol ke Baghdad, muncul generasi taqlid, ijtihad tertutup, orang saleh,wali sufi dan tokoh tarikat yang sudah mafat diminta syafaatnya, sehinggamenghilangkan etika dan etos kerja umat Islam yang se-dang lemah.Keadaan seperti ini terus berkepanjangan, pada-hal di belahan dunia sebelah Baratsedang muncul ke-bangkitan yang maha dahsyat sebagai hasil kebangkitan kembali,Renaisance dan Age of Reason, Enqlightment, ma-sa terjadinya pencerahan terhadapakal pemikiran atau masa pencerahan, terutama tahun 1650-1800 M [1]Demikianlah, dunia Islam makin mundur sedang-kan dunia Barat makin maju, baikdalam bidang perni-kiran dan dinamika Intelektual maupun dalam bidang teknologi.Karena itu mere¬ka berusaha menguasai dunia Islam yang sedang sempoyongan yangdisebabkan oleh problem religio-politico yang tidak stabil. Dari sinilah mu-laimuncul penjajahan terhadap dunia Islam.Walaupun demikian, hakikat dan semangat ajaran Islam tidaklah berarti padam iabagaikan nyala api yang tidak putus menghangatkan kefakuman intelektual danperjuangan. Nyala dan cahaya al-Quran itulah yag selalu menghembuskan angin segarterhadap sisa-sisa tenaga para mujahid, mujtahid, dan mujaddid. Jihad, ijtihad,dan tajdid inilah yang digelorakan kembali oleh Ibn Taimiyah setelah melaluikevacuraan selama berabad-abad dalam bidang akidah dan intelektual, serta olehJamaludin al-Afghani tatkala umat Islam ada dalam kebodohan dan cengkraman kaumpenjajah .Usaha mereka itulah yang selanjutnya mengilhami para mujaddid, pembaharu setelahIbn Tai¬miyah semen-jak awal abad ke 18 sampai abad ke-20 ini. Seperti Mu-hammadbin Abd al-Wahhab, Abduh, Al-Afghani, dan lain-lainnya, sesuai dengan berbagaibidang dan garapan masing-masing di mana me¬reka berada. Dari kalangan mereka adayang disebut mujaddid, ada yang disebut muslih, ada yang disebut reformer,modernis dan lain seba-gainya. Gerakan-gerakan Pembaharu inilah yang selan-jutnyamenumbuhkan kembali dinamika intelektual ka-um Muslimin dengan cara membersihkanagama dari subversi syirk, khurafat, dan bid’ah serta mengadopsi pe-mahaman danmetodologi baru yang dikembangkan oleh orang-orang Barat setelah umat Islammengadakan kon-tak dengan dunia Barat sehingga umat Islam sadar akankemundurannya. [2]Walaupun gerakan tajdid ini memperoleh respon dari umat Islam dan berhasil secarapositif, namun ter-nyata di kalangan para penulis, baik muslim maupun non-muslimperistilahan yang digunakan dan aspek-as-pek kajiannya, masih tetap kontroversi.B. Arti Pembaharuan dalam IslamBanyak sekali peristilahan yang digunakan para pe-nulis yang dalam bahasaIndonesia berkonotasi pemba-haruan, umpamanya tajdid, ishlah, reformasi,‘ashriyah, modernisasi, revivalisasi, resurgensi (resurgence), reassersi(reassertion), renaisans, dan fundamentalis. Peristilahan se-perti ini timbul,bukan sekedar perbedaan semantik bela-ka, akan tetapi dilihat dari isi pembaharuanitu sendiri.1. Tajdid, Ishlah, dan ReformasiTajdid sering diartikan sebagai ishlah dan reformasi; karena itu, gerakannya
 
disebut gerakan tajdid, gerakan ishlah, dan gerakan reformasi. Tajdid menurutbahasa al-i’adah wa al-ihya’ , mengembalikan dan menghidupkan. Tajdid al-din,berarti mengembalikannya kepada apa yang pernah ada pada masa salaf, generasimuslim awal. Tajdid al-Din menurut istilah ialah menghidupkan dan membangkitkanilmu dan amal yang telah diterangkan oleh al-Quran dan al-Sunnah . Ulama salafmemberikan ta’rif tajdid sebagai berikut : Menerangkan/membersih-kan Sunnah daribid’ah memperbanyak ilmu dan memu-liakannya, membenci bid’ah dan menghilangkannya”. Selanjutnya tajdid dikatakan sebagai penyebaran ilmu, meletakkan pemecahansecara Islami terhadap setiap problem yang muncul dalam kehidupan manusia, danmenentang segala yang bid’ah. Tajdid tersebut di atas dapat pula diartikansebagaimana dikatakan oleh ulama salaf menghidupkan kembali ajaran salaf al-shaleh, meme-lihara nash-nash, dan meletakkan kaidah-kaidah yang disusun untuknyaserta meletakkan metode yang benar untuk memahami nash tersebut dalam mengambilmak-na yang benar yang sudah diberikan oleh ulama .[3]Dari definisi di atas nampak, bahwa tajdid tersebut mendorong umat Islam agarkembali kepada al-Quran dan sunnah serta mengembangkan ijtihad. Inilah maknatajdid yang dianut oleh kaum puritan yang selama ini suaranya masih bergema.Tajdid seperti ini pula yang di-katakan sebagai ishlah atau reformasi dalam Islam.Refor-masi itu sendiri, berdasarkan sejarahnya, muncul akibat modernisasi danpuritan muncul sebagai reaksi atas re-formasi. Reformasi adalah vis a vismodernisasi. Refor-masi sebagai akibat adanya penyimpangan agama dan teologi yangdisebabkan oleh adanya sekularisme modern (reformation as a religious andtheological and the cauce ofmodern secularism). [4]2. ‘Ashriyah dan ModernisasiIstilah modernisasi atau ashriyah (Arab) diberikan oleh kaum Orientalis terhadapgerakan Islam tersebut di atas tanpa membedakan isi gerakan itu sendiri. [5]Moder-nisasi, dalam masyarakat Barat, mengandung arti fikiran, aliran, gerakan danusaha-usaha untuk merubah faham-faham, adat istiadat, institusi-institusi lama,dan sebagai-nya untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditim-bulkan olehkemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Tatkala umat Islam kontak denganBarat, maka modernisasi dari Barat membawa kepada ide-ide baru ke dunia Islam,seperti rasionalisme, nasionalisme, demok-rasi, dan lain sebagainya. [6]Penyesuaian ajaran seperti di atas disebut modern karena dalam sejarahnya agamaKatholik dan Protestan dahulu diajak menyesuaikan diri dengan ilmu pengeta-huandan falsafat modern. Sayangnya, modernisaai di Barat ini akhirnya membawa kepadasekularisasi. Jika seandainya demikian ternyata perkataan modern tidak sedikitdampaknya dan bahayanya dalam pemahaman agama, seandainya tidak ada filter-filtertertentu untuk menyaringnya sebagaimana terjadi di dunia Barat tadi. Itulahsebabnya barangkali Harun Nasution tidak begitu sreg menggunakan kata modernsebagai gantinya dipilih kata pembaharuan.3. Revivalisasi, Resurgensi, Renaisans, ReasersiKesemua peristilahan di atas mengandung arti te-gak kembali atau bangkit kembali.Peristilahan revivali-sasi, pada dasarnya, banyak sekali digunakan oleh parapenulis. Fazlurrahman, misalnya, menggunakan istilah ini, bahkan ia membaginyakepada dua bagian yaitu revivalis pra-modernis dan revivalis neo modernis. [7]Penulis lain mengungkapkan kebangkitan kembali dengan kata resurgence. ChandraMuzaffar yang menge-mukakan istilah ini dalam tulisannya Resurgence A. Global Vewmenyatakan bahwa adanya perbedaan antara istilah revivalis dengan resurgence.Resurgence, adalah tindakan bangkit kembali yang di dalamnya mengandung unsur :1.kebangkitan yang datang dari dalam Islam sendiri dan Islam dianggap pentingkarena dianggap mendapatkan kembali prestisenya;2.ia kembali kepada masa jayanya yang lalu yang pernah terjadi sebelumnya;3.bangkit kem¬bali untuk menghadapi tantangan, bahkan ancaman dari mereka yangberpengalam-an lain. [8]Revivalisme juga berati bangkit kembali, tetapi kem-bali ke masa lampau, bahkanberkeinginan untuk meng-hidupkan kembali yang sudah usang. Renaisans, jika ha-nyadiartikan secara umum nampaknya membangkitkan kembali ke masa-masa yang sudah
 
ketinggalan zaman, bahkan ada konotasi menghidupkan kembali masa jahi-liyah,sebagaimana renaisans di Eropa yang berarti meng-hidupkan kembali peradabanYunani. Jika istilah ini ter-paksa digunakan, maka Renaisans Islam harus berartitajdid .[9]Karena itu, barangkali mengapa banyak para penu-lis menggunakan Renaisans dalammenerangkan tajdid atau Pembaharuan dalam Islam. Fazlurrahman, misalnya dalambukunya Islam : Challenges and Opportunities, me-nulis tentang Renaisans Islam :Neo Modernis. Istilah ini-pun digunakan pula oleh editor buku A History of IslamicPhllisophy, M.M. Sharif, tatkala rnenerang¬kan tokoh-to-koh pembaharuan duniaIslam, seperti Muhammad ibn Abd al-Wahab, Muhammad Abduh dan lainnya di ba-wahjudul Modern Renaissans. [10] Sementara itu reassertion berarti tegak kembalitetapi tidak mengandung tan-tangan terhadap masalah sosial yang ada. [11]Demikianlah istilah tajdid, pembaharuan, yaitu dike-mukakan oleh para ahli, merekabukan hanya sekedar berbeda pendapat dalam hal istilah yang digunakan, akan tetapidalam makna dan isi pembaharuan itu sen-diri. Itulah sebabnya orang seringmengatakan bahwa istilah Pembahruan dalam Islam masih merupakan kon-troversi yangmengandung kebenaran. Dan itu pula se-babnya mengapa Harun Nasution tidak banyakmeng-gunakan peristilahan yang banyak itu, kecuali menggu-nakan istilahpembaharuan, modern dan tajdid sewaktu-waktu. Karena, yang penting adalah isi dantujuan dari pembaharuan itu sendiri kembali kepada ajaran-ajaran dasar danmemelihara ijtihad.C. Sebab Terjadinya PembaharuanSetidak-tidaknya ada dua sebab yang mendorong terjadinya pembaharuan dalam Islam ;yang pertama adalah dorongan dari ajaran Islam itu sendiri, danyang kedua sebagai akibat adanya asimilasi dengan kebudayaan baru, baik yangbersifat lokal, regional mau-pun internasional, khususnya dengan Barat modern.Mengenai sebab pertama, sebagaimana , disinggung pada pada urain terdahulu, banyakayat-ayat al-Quran dan hadis yang menerangkan tentang penelitian ilmiah danperlunya memelihara ajaran Islam sesuai dengan al-Quran dan Sunnah Rasulullah.Salah satu Hadis yang menerangkan terhadap perlunya tajdid adalah sabda na-bi yangberbunyi :” Sesungguhnya Allah akan membang-kitkan untuk umat ini, setiappenghujung seratus tahun, orang yang memperbaharui agamanya» [12].Hadis ini menerangkan secara eksplissit, bahwa adanya mujaddid, reformer, juruishlah, dan mujahid akan selalu muncul pada setiap awal atau penghujung seratustahun. Ini artinya pada setiap generasi akan ada seorang mujaddid. Berkaitandengan sebab pertama ini karena umat Islam setiap generasi dan tempat tertentuakan menghadapi persoalan yang berbeda, karena umat selalu berkembang, tantanganzaman juga semakin komplek.Di kalangan umat Islam, tatkala mujaddid pertama muncul yaitu pada masa IbnTaimiyah, penyelewengan dalam agama sangat banyak, sehingga mengakibatkan akidah,ibadah, muamalah, dan akhlak rusak. Muncul ketika itu yang disebut syirk,khurafat, dan bid’ah, taqlid meraja lela dan ijtihad dianggap haram. Apa yang dia-lami oleh Ibn Taimiyah, itu pulalah yang pernah dialami oleh Muhammad ibn Abd al-Wahhab. Pada masa mereka berdua, politik dunia Islam pun sedang hancur akibatserbuan tentara Mongol di satu pihak dan penetrasi Ba-rat ke dunia Islam di pihaklainnya. Pembaharuan yang muncul setelah Muhammad bin Abd al-Wahhab sebagai akibatpenetrasi Barat modern ke dunia Islam.Tekanan dari masing-masing pembaharuan berbe-da, dari satu generasi kepadagenarasi yang lain, dan ju-ga dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Namun parapembaharu itu mempunyai tujuan yang sama, yaitu me-murnikan ajaran Islam dan ataunembangkitkan nama baik Islam. Dalam pada itu yang diperbaharui oleh parapembaharu itu hanyalah ajaran yang tidak bersifat mut-lak yaitu penafsiran daninterpretasi dari ajaran yang bersifat muntlak itu. Dengan kata lain pembaharuanter-hadap yang bersifat mutlak ini tidak dapat diadakan. [13] Di samping itu parapembaharu harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut :- pikiran yang jernih,- wawasan yang luas,- sikap yang konsisten,

Activity (19)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Mai Yudendi liked this
Jumansyah Hamid liked this
eijanieee liked this
umiarso liked this
nerailkobah liked this
nerailkobah liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->