Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Idul Ghadir Dalam Pandangan Orientalis

Idul Ghadir Dalam Pandangan Orientalis

Ratings: (0)|Views: 258 |Likes:
Published by heri

More info:

Published by: heri on Oct 19, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/18/2009

pdf

text

original

 
Idul Ghadir dalam Pandangan Orientalis
Selasa, 16 Desember 2008 20:26 Sayid Muhammad RizviKetika seorang penulis Mesir, Muhammad Quthub, memberi judul bukunya
 Islam: TheMisunderstood Religion
, (Islam: Agama Yang Disalahpahami), dia secara sopanmengungkapkan sentimen Muslim mengenai cara kaum orientalis memperlakukan Islam dankaum Muslim secara umum. Tetapi, kritik lebih terus-terang mengenai orientalisme, yang diakuioleh mayoritas kaum Muslim, adalah yang diajukan oleh Edward Sa’id:"Hal tersulit untuk diakui oleh para pakar Islam adalah bahwa apa yang mereka lakukan dankatakan sepenuhnya dilatari, dan dalam beberapa cara secara ofensif, oleh konteks politik. Segalahal mengenai kajian Islam di Barat Kontemporer dipenuhi dengan kepentingan politik, tetapisangat sulit bagi penulis mengenai Islam, apakah mereka itu pakar atau awam, mengakui faktadari apa yang mereka katakan itu. Objektivitas dianggap inheren dalam wacana yang dikajimengenai masyarakat-masyarakat lain, meskipun sejarah panjang politik, moral, dan konsernagama yang ada dalam semua masyarakat, baik Barat maupun Islam, mengenai yang asing, aneh,dan berbeda. Di Eropa, misalnya, kaum orientalis secara tradisional berafiliasi secara langsungdengan kantor-kantor kolonial."1Alih-alih menganggap bahwa objektivitas inheren di dalam wacana yang dikaji, ilmuwan Baratharus menyadari bahwa pra-komitmen terhadap tradisi politik dan agama, pada level sadar ataudi bawah sadar, akan mengantarkan pada keputusan yang bias. Seperti yang ditulis oleh MarshallHodgson:"Bias terutama datang dalam pertanyaan yang dia harapkan dan di dalam kategori yang diagunakan, yang sesungguhnya, bias sangat sulit untuk dilacak karena sulit mencurigai terma-terma yang digunakan seseorang, yang tampak natural tidak bersalah…"2Reaksi kaum Muslim terhadap gambaran mereka yang diberikan oleh ilmuwan Barat mulaimendapatkan perhatian layak. Pada 1979 orientalis yang sangat dihormati Albert Houranimengatakan:"Suara-suara dari Timur Tengah dan Afrika Utara, yang mengatakan kepada kita bahwa merekatidak mengakui diri mereka berada di dalam gambaran yang kita bentuk untuk mereka, sangat banyak dan memaksa dijelaskan di dalam terma-terma persaingan akademis dan kebanggaannasional."3Ini adalah mengenai Islam dan kaum Muslim
vis-a-vis
orientalis. Tetapi, ketika kita fokus padakajian Syiahisme yang dilakukan oleh orientalis, kata ‘salah paham’ tidak begitu kuat, tetapiyang lebih tepat adalah perendahan. Syiahisme bukan hanya disalahpahami, tetapi diabaikan,disalahpresentasikan dan dipelajari terutama melalui literatur 
heresiografi
dan lawannya.Tampaknya seolah-olah kaum Syiah tidak memiliki ulama dan literatur mereka sendiri.Meminjam perkataan Marx, "Mereka tidak bisa merepresentasikan diri mereka sendiri, merekaharus direpresentasikan, dan itu dilakukan dari lawan-lawan mereka."Alasan keadaan ini terletak dalam jalan yang digunakan ilmuwan Barat untuk memasuki kajian-kajian Islam. Hodgson, di dalam salah satu
review
istimewanya bagi ilmuwan Barat, menulis:"
 Pertama,
ada orang-orang yang mempelajari khilafah Usmaniah, yang memainkan peranan besar di Eropa Modern. Mereka biasanya memandang Islam dari sudut pandang sejarah
 
diplomasi Eropa. Para ilmuwan ini cenderung melihat Islam dari perspektif Istanbul, IbukotaKhilafah Usmaniah.
 Kedua
, biasanya orang-orang Inggris, yang memasuki kajian Islam dariIndia untuk menguasai Persia sebagai pembantu-pembantu sipil yang baik, atau sekurang-kurangnya mereka diinspirasi oleh kepentingan-kepentingn India. Bagi mereka, transisi kerajaandi Delhi cenderung menjadi puncak sejarah Islam.
Ketiga
, adalah peneliti budaya Semit, seringtertarik terutama dengan kajian-kajian Ibrani, yang kemudian tertarik kepada bahasa Arab. Bagimereka, pusat Islam adalah Kairo, kota Arab utama pada abad ke-19, meski sebagian berpindahke Syiria atau ke Magrib. Mereka biasanya adalah ahli filologi daripada sejarahwan, dan merekamempelajari budaya Islam melalui tulisan-tulisan dari para penulis Suni dan Mesir yang sudahmeninggal terutama dalam model Kairo. Jalan lain—adalah orang-orang Spanyol dan Prancisyang memfokuskan diri pada kaum Muslim di Spanyol abad pertengahan, dan orang-orang Rusiayang memfokuskan diri pada kaum Muslim Utara—pada umumnya tidak begitu penting."4Tampak jelas bahwa tak satu pun dari jalan ini akan mengantarkan ilmuwan Barat kepada pusat- pusat kajian dan literatur Syiah. Mayoritas dari apa yang mereka pelajari mengenai Syiahismediperantarai melalui sumber-sumber non-Syiah. Hodgson mengatakan:"Semua jalan ini sedikit memberi perhatian kepada wilayah-wilayah pusat dari bulan sabit danIran, dengan kecenderungan mereka kepada Syiahisme; daerah-daerah yang cenderung jauh dari jangkauan penetrasi Barat."5Dan setelah perang dunia pertama, ‘Jalur Kairo untuk kajian-kajian Islam menjadi jalan bagi para pakar Islam
 par-excellence
, sementara jalan-jalan lain bagi kajian-kajian Islam hanya dipandangsebagai lebih memiliki relevansi lokal.’6Karena itu, setiapkali seorang orientalis mengkaji Syiahisme melalui jalur Usmaniah, Kairo atauIndia, maka secara alamiah dia menjadi bias terhadap Syiah.‘Para sejarahwan Muslim yang mengkaji doktrin (yang sebagian besar Suni) selalu berusahamenunjukkan bahwa seluruh mazhab lain selain mereka bukan hanya salah, jika mungkin, bukanMuslim sejati. Karya-karya mereka menyebutkan sejumlah besar "firqah" dalam keadaan yangakan menyesatkan ilmuwan modern ke dalam anggapan bahwa mereka merujuk kepada begitu banyak ‘sekte sesat.’7Demikianlah kita juga melihat sampai akhir-akhir ini, ilmuwan Barat dengan mudah menjelaskanSunisme sebagai ‘Islam Ortodoks’ dan Syiahisme sebagai ‘sekte sesat.’ Setelah mengategorikanSyiahisme sebagai sekte sesat Islam, kemudian menjadi ‘perbuatan wajar’ bagi ilmuwan Baratuntuk menyerap skeptisisme Suni mengenai literatur Syiah awal. Bahkan konsep takiyah telahdigelembungkan secara tidak proporsional dan sudah dianggap bahwa semua statemen mengenaiulama Syiah memiliki makna tersembunyi. Dan, akibatnya, setiapkali seorang orientalis sempatmengkaji Syiah, pra-komitmen dia kepada tradisi Judeo-Kristen Barat dicampuradukkan dengan bias Suni kepada Syiahisme. Salah satu contoh terbaik dari bias ini ditemukan dalam cara pendekatan kepada Ghadir Khum yang dilakukan oleh orientalis.
Peristiwa Ghadir Khum: Dari Pelunasan kepada Pengakuan
Tanggal 18 Zulhijah 1428 H dirayakan di Dunia Syiah sebagai peringatan ke-1418 bagiDeklarasi Ghadir Khum saat Nabi Muhammad saw menyampaikan sabda mengenai Imam Ali as,"Siapa pun yang pemimpinnya (
mawla
) aku, maka Ali adalah juga pemimpinnya." Peristiwa ini begitu penting bagi kaum Syiah sehingga tak ada seorang ulama pun yang mengabaikannya.
 
Peristiwa Ghadir Khum adalah contoh terbaik untuk melacak bias Suni yang darinya akan bisakita menemukan jalan memahami keadaan mental para orientalis. Orang-orang yang akrabdengan tulisan-tulisan polemik Suni akan mengetahui bahwa setiap kali kaum Syiah mengajukansebuah hadis atau bukti historis untuk mendukung pandangan mereka, seorang polemis Suniakan meresponnya sebagai berikut:
 Pertama, dia seketika akan menolak keberadaan hadis atau bukti sejarah seperti itu. Kedua,ketika dia berhadapan dengan bukti kuat dari sumbernya sendiri, dia akan meragukankeotentikan dari perawi hadis atau fakta sejarah itu. Ketiga, ketika dia ditunjukkan bahwa semua perawi sesuai dengan standard Suni, dia akan memberikan interpretasi kepada hadisatau kejadian itu yang sangat berbeda dari pandangan Syiah.
, dia seketika akan menolak keberadaan hadis atau bukti sejarah seperti itu. ketika dia berhadapan dengan bukti kuat dari sumbernya sendiri, dia akan meragukan keotentikan dari perawi hadis atau fakta sejarah itu. , ketika dia ditunjukkan bahwa semua perawi sesuai denganstandard Suni, dia akan memberikan interpretasi kepada hadis atau kejadian itu yang sangat berbeda dari pandangan Syiah.Tiga level ini membentuk respon klasik kelompok polemis Suni ketika berhadapan denganargumen-argumen Syiah. Salah satu kutipan dari terjemahan Rosenthal mengenai Ibnu Khaldundalam bukunya
Muqaddimah
, akan cukup membuktikan pendapat saya ini. (Ibnu Khaldunmengutip bagian dari kitab
al-Milal wa an-Nihal 
, sebuah karya heresiografi dari Syahrestani).Menurut Ibnu Khaldun, kaum Syiah mempercayai bahwa:"Ali adalah orang yang diangkat Muhammad. Kaum Syiah mengubah hadis untuk mendukungkepercayaan mereka… Otoritas Sunah dan perawi hukum agama tidak mengetahui hadis-hadisini, (1) sebagian hadis tersebut hanya buatan saja, atau (2) beberapa perawinya dicurigai, danatau (3) penafsiran yang benar berbeda dengan penafsiran yang diberikan oleh kaum Syiah."8Yang menarik, peritiwa Ghadir Khum mengalami nasib yang sama di tangan kaum orientalis.Dengan waktu dan sumber yang terbatas pada saya, saya sangat kaget melihat bahwa sebagian besar karya mengenai Islam telah mengabaikan peristiwa Gahdir Khum. Ini menunjukkan,dengan ketidakadaannya, di mana kaum orientalis percaya bahwa kejadian ini hanya ‘buatan’dan bidah dari kaum Syiah belaka. Buku-buku orientalis tersebut misalnya:
Margoliouth'sMuhammad & The Rise of Islam
(1905),
 Brockelmann's History of the Islamic People
(1939),
 Arnold and Guillaume's The Legacy of Islam
(1931),
Guillaume's Islam
(1954),
VonGrunebaum's Classical Islam
(1963),
 Arnold's The Caliphate
(1965) dan
The Cambridge History of Islam
(1970) sepenuhnya mengabaikan peristiwa Ghadir Khum. Mengapa ilmuwan inidan juga ilmuwan Barat lainnya mengabaikan peristiwa Ghadir Khum? Karena ilmuwan Barat banyak bergantung kepada karya-karya anti Syiah, wajar saja mereka mengabaikan peristiwaGhadir Khum. L. Veccia Vaglieri, salah seorang kontributor bagi edisi kedua
 Encyclopaedia of  Islam
(1953), menulis:‘Sebagian besar sumber-sumber yang membentuk basis pengetahuan (orientalis) mengenaikehidupan Nabi (Ibnu Hisyam, Thabari, Ibnu Sa'd Asyub, dan lain-lain) diam saja terkait berhentinya Muhammad di Ghadir Khum, atau, jika mereka menyebutkannya, mereka tidak mengatakan apa-apa mengenainya (penulis-penulis ini tebukti takut menyebabkan kemarahankaum Suni, yang sedang berkuasa, dengan menyediakan bahan polemik bagi kaum Syiah yang biasa menggunakan kata-kata ini untuk mendukung tesis hak Ali terhadap kekhalifahan).Akibatnya, para penulis biografi Barat, yang karya-karyanya berdasarkan sumber-sumber ini,sama saja tidak menjelaskan apa yang terjadi di Ghadir Khum.’9

Activity (2)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->