• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
LEAFLET
CONSERVATION NEWS FOR NEF STUDENT IN INDONESIA
edisi JUNI 200
IHWAL LAUT KITA 
Perubahan iklim dan pemanasan global merupakan keniscayaan dalamkehidupan umat manusia abad ke-21. Berbagai pertanda dan dampaknyasemakin menonjol dari hari ke hari dan terbukti melalui hasil penelitian parailmuwan. Untuk menjamin keselamatan dan kesejahteraan warga dunia, takada pilihan lain kecuali seluruh bangsa bahu-membahu melakukan upaya kerjasama penyelamatan planet bumi.Selama 17 tahun telah berlalu sejak pemerintah kita beserta para pemimpindunia lain berkumpul di Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Riode Janeiro. Di sana, para kepala negara dan pemerintahan menandatanganisebuah kesepakatan guna mengatasi permasalahan makin berkurangnyakeanekaragaman hayati, meluasnya dampak perubahan iklim, danmenghilangnya luasan hutan sebagai paru-paru dunia. Bahkan, di dalam KTTBumi dan di tahun-tahun setelahnya, kita cenderung melalaikan sebuahkawasan di mana kehidupan bermula, sebuah kawasan yang melingkupisepertiga planet kitalautan. Kita juga melalaikan kawasan di mana setengahdari penduduk dunia bermukimpesisir.Namun, mengingat besaran, luasan, dan kerumitan masalah yang dihadapi disektor kelautan, negara kita tidak bisa bekerja sendirian. Dimulai denganperjuangan Deklarasi Djuanda tahun 1957, sebuah upaya untukmemperjuangkan batas wilayah laut sehingga wilayah Indonesia merupakansuatu kesatuan yang utuh dilihat dari berbagai aspek, yaitu politik, ekonomi,sosial budaya, dan pertahanan.
 
Historis
 Secara historis, batas wilayah laut Indonesia telah dibuat oleh pemerintahkolonial Belanda, yaitu dalam Territoriale Zee en Maritieme KringenOrdonantie tahun 1939, yang menyatakan bahwa lebar wilayah laut Indonesiaadalah tiga mil diukur dari garis rendah di pantai masing-masing pulauIndonesia.Jika batas teritorial bisa dengan jelas dan tegas ditetapkan dalam peta, kini kitamenghadapi masalah pengaruh iklim yang notabene tidak mengenal batas-batas teritorial. Jika di darat manusia memiliki paspor untuk melintasi batasantarnegara, ikan dan mamalia laut serta angin dan arus laut di samudra luasbebas bergerak semau mereka. Jika es mencair
 
di kutub utara, pulau-pulau dibelahan dunia lain akan terancam tenggelam. Artinya, kita
 
tidak bisa bekerjasendirian
 
atau hanya dengan negara-negara tetangga, tetapi harus bersamadan seluruh dunia menjaga kelestarian bumi, laut, dan udara.Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia harus mengambil perandan melanjutkan kepeloporan dalam hal pengelolaan laut. Di sinilah artipenting Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference) dan KTTPrakarsa Terumbu Karang (Coral Triangle Initiative/CTI Summit) 11-15 Mei.Langkah Pemerintah Indonesia dan para pemimpin negara lain besertamitranya kemarin dalam menyepakati Deklarasi Pemimpin dan Rencana AksiRegional CTI perlu kita dukung.
Kawasan
 Sejak tahun 2004 Indonesia telah menetapkan 14 kawasan konservasi lautdengan luasan dua juta hektar. Indonesia menegaskan akan berusaha mencapaitarget kawasan konservasi laut seluas 10 juta hektar pada tahun 2010 dan 20 juta hektar pada tahun 2020.Usaha-usaha yang dilakukan Indonesia di bidang regional adalah melindungiterumbu karang di Indonesia dan di negara-negara terkait, khususnya Filipina,Malaysia, Timor Leste, Papua Niugini, dan Kepulauan Solomon. Merekaya mencakup dua persen dari permukaan laut dunia,
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...