Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
23Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tinjauan Hukum Mengenai Perbuatan Melawan Hukum Dalam Transaksi Jual Beli Melalui Internet Commerce) Dihubungakan Dengan Buku III Kuh Perdata

Tinjauan Hukum Mengenai Perbuatan Melawan Hukum Dalam Transaksi Jual Beli Melalui Internet Commerce) Dihubungakan Dengan Buku III Kuh Perdata

Ratings: (0)|Views: 1,937 |Likes:
Published by MUSTOFA ABDUL BASIR
BY ENHANCING TECHNOLOGY LET'S GET THE SUCCESSFUL AND DON'T MAKE FRAUD
BY ENHANCING TECHNOLOGY LET'S GET THE SUCCESSFUL AND DON'T MAKE FRAUD

More info:

Published by: MUSTOFA ABDUL BASIR on Oct 22, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2012

pdf

text

original

 
TINJAUAN HUKUM MENGENAI PERBUATAN MELAWAN HUKUM DALAMTRANSAKSI JUAL BELI MELALUI INTERNET (
 E-COMMERCE)
DIHUBUNGAKAN DENGAN BUKU III KUH PERDATA
OLEH :HETTY HASSANAH
 Perkembangan teknologi informasi semakin mendorong munculnya berbagai kegiatan-kegiatan yang dilakukan masyarakat melalui kecanggihan teknologi informasi tersebut dalam hal ini internet. Salah satukegaiatan di dunia maya termaksud antara lain transaksi jual beli secara elektronik (electronic commerce). Pada transaksi jual beli melalui internet ini tidak menutup kemungkinan timbulnya berbagai perbuatan yang melanggar hukum sehingga menimbulkan kerugian bagi pihak lainnya. Oleh karena itu perlu dipikirkan solusinya berupa tindakan hukum yang dapat dilakukan atas suatu perbuatan melawan hukum yang terjadi dalam transaksi jual beli melalui internet ini. Dengan demikian kasus-kasus seperti itu tetap dapat diselesaikan secara hukum, sehingga tidak terjadi kekosongan hukum yang pada akhirnya dapat menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi.The development of the technology information has encougaded the existance of many activities performed by society through the sophisticated information technology, in this chase is internet. One of activities in thecyberg discussed in this term is electronic commerce. In the electronic commerce it self, it may create theexistance of many breaking law actions. Therefore, it is essential to think the solutionof these problems inthe form of law in actions, given to some tort in the electronic commerce in internet. As the consequency, such cases can be solved in law order and there will not be any vacuum of law that finally may cause a greater lost.
A. Pendahuluan
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan danteknologi melahirkan berbagai dampak baik dampak positif maupun dampak yang negatif.Dampak positif tentu saja merupakan hal yangdiharapkan dapat bermanfaat bagi kemaslahatankehidupan manusia di dunia termasuk di negaraIndonesia sebagai negara berkembang, yang manahasil dari kemajuan ilmu pengetahuan danteknologi ini diramu dalam berbagai bentuk dankonsekuensinya sehingga dapat dimanfaatkan olehmasyarakat. Dampak negatif yang timbul darikemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus juga dipikirkan solusinya karena hal tersebut dapatmengakibatkan kerusakan pada kehidupan manusia, baik kehidupan manusia secara fisik maupunkehidupan mentalnya.Salah satu hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini antara lain adalahteknologi dunia maya yang dikenal dengan istilahinternet. Melalui internet seseorang dapatmelakukan berbagai macam kegiatan tidak hanyaterbatas pada lingkup lokal atau nasional tetapi jugasecara global bahkan internasional, sehinggakegiatan yang dilakukan melalui internet inimerupakan kegiatan yang tanpa batas, artinyaseseorang dapat berhubungan dengan siapapunyang berada dimanapun dan kapanpun.Kegiatan bisnis perdagangan melalui internetyang dikenal dengan istilah
 Electronic Commerce
yaitu
 
suatu kegiatan yang banyak dilakukan olehsetiap orang, karena transaksi jual beli secaraelektronik ini dapat mengefektifkan danmengefisiensikan waktu sehingga seseorang dapatmelakukan transaksi jual beli dengan setiap orangdimanapun dan kapanpun. Dengan demikiansemua transaksi jual beli melalui internet inidilakukan tanpa ada tatap muka antara para pihaknya, mereka mendasarkan transaksi jual belitersebut atas rasa kepercayaan satu sama lain,sehingga perjanjian jual beli yang terjadi diantara para pihak pun dilakukan secara elektronik pula baik melalui e-mail atau cara lainnya, oleh karenaitu tidak ada berkas perjanjian seperti padatransaksi jual beli konvensional. Kondisi seperti itutentu saja dapat menimbulkan berbagai akibathukum dengan segala konsekuensinya, antara lainapabila muncul suatu perbuatan yang melawanhukum dari salah satu pihak dalam sebuah transaksi jual beli secara elektronik ini, akan menyulitkan pihak yang dirugikan untuk menuntut segalakerugian yang timbul dan disebabkan perbuatanmelawan hukum itu, karena memang dari awalhubungan hukum antara kedua pihak termaksudtidak secara langsung berhadapan, mungkin saja pihak yang telah melakukan perbuatan melawanhukum tadi berada di sebuah negara yang sangat jauh sehingga untuk melakukan tuntutan
1
 
terhadapanya pun sangat sulit dilakukan tidak seperti tuntutan yang dapat dilakukan dalamhubungan hukum konvensional/biasa. Kenyataanseperti ini merupakan hal-hal yang harus mendapat perhatian dan pemikiran untuk dicarikansolusinya, karena transaksi jual beli yang dilakukanmelalui internet tidak mungkin terhenti, bahkansetiap hari selalu ditemukan teknologi terbarudalam dunia internet, sementara perlindungan dankepastian hukum bagi para pengguna internettersebut tidak mencukupi, dengan demikian harusdiupayakan untuk tetap mencapai keseimbanganhukum dalam kondisi termaksud. Pada penelitianini diharapkan dapat menjawab berbagai macam pertanyaan berkenaan dengan masalah perbuatanmelawan hukum pada transaksi jual beli melaluiinternet ini, antara lain perbuatan melawan hukumyang mungkin timbul dalam transaksi jual belisecara elektronik/melalui internet, kendala-kendaladalam mengatasi perbuatan melawan hukum padasuatu transaksi jual beli secara elektronik/melaluiinternet, serta tindakan hukum yang dapatdilakukan terhadap pelaku perbuatan melawanhukum pada suatu transaksi jual beli secaraelektronik/melalui internet.
B. Aspek-Aspek Hukum Transaksi Jual beli
Berdasarkan Pembukaan Undang-UndangDasar 1945 alinea keempat yang berbunyi :“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yangmelindungi segenap bangsa Indonesia …”merupakan landasan hukum dalam upayamelindungi segenap bangsa Indonesia, tidaterkecuali bagi orang-orang yang melakukan perbuatan hukum tertentu seperti transaksi jual belisecara elektronik. Indonesia merupakan negarahukum sehingga setiap warga negara bersamaankedudukannya dalam hukum, sebagaimanaditegaskan dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-UndangDasar 1945.Menurut Pasal II Aturan Peralihan Undang-Undang dasar 1945, disebutkan bahwa segala badannegara dan peraturan yang ada masih tetap berlakusebelum diadakan yang beru menurut undang-undang dasar ini. Ketentuan tersebut mengandungarti bahwa peraturan perundang-undangan yang adadi Indonesia masih tetap berlaku seperti KitabUndang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata)dan peraturan perundang-undangan lainnya apabilaketentuan termaksud memang belum diubah ataudibuat yang baru.Berbicara menganai transaksi jual beli secaraelektronik, tidak terlepas dari konsep perjanjiansecara mendasar sebagaimana termuat dalam Pasal1313 KUH Perdata yang menegaskan bahwa perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satuorang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satuorang lain atau lebih. Ketentuan yang mengatur tentang perjanjian terdapat dalam Buku III KUHPerdata, yang memiliki sifat terbuka artinyaketentuan-ketentuannya dapat dikesampingkan,sehingga hanya berfungsi mengatur saja. Sifatterbuka dari KUH Perdata ini tercermin dalamPasal 1338 ayat (1) KUH Perdata yangmengandung asas Kebebasan Berkontrak,maksudnya setiap orang bebas untuk menentukan bentuk, macam dan isi perjanjian asalkan tidak  bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, kesusilaan dan ketertibanumum, serta selalu memperhatikan syarat sahnya perjanjian sebagaimana termuat dalam Pasal 1320KUH Perdata yang mengatakan bahwa, syaratsahnya sebuah perjanjian adalah sebagai berikut :1.Kesepakatan para pihak dalam perjanjian2.Kecakapan para pihak dalam perjanjian3.Suatu hal tertentu4.Suatu sebab yang halalKesepakatan berarti adanya persesuaiankehendak dari para pihak yang membuat perjanjian,sehingga dalam melakukan suatu perjanjian tidak  boleh ada pakasaan, kekhilapan dan penipuan
(dwang, dwaling, bedrog)
Kecakapan hukum sebagai salah satu syaratsahnya perjanjian maksudnya bahwa para pihak yang melakukan perjanjian harus telah dewasayaitu telah berusia 18 tahun atau telah menikah,sehat mentalnya serta diperkenankan oleh undang-undang. Apabila orang yang belum dewasa hendak melakukan sebuah perjanjian, maka dapat diwakilioleh orang tua atau walinya sedangkan orang yangcacat mental dapat diwakili oleh pengampu ataucuratornya.
1
Suatu hal tertentu berhubungan dengan objek  perjanjian, maksudnya bahwa objek perjanjian ituharus jelas, dapat ditentukan dan diperhitungkan jenis dan jumlahnya, diperkenankan oleh undang-undang serta mungkin untuk dilakukan para pihak.Suatu sebab yang halal, berarti perjanjiantermaksud harus dilakukan berdasarkan itikad baik.Berdasarkan Pasal 1335 KUH Perdata, suatu perjanjian tanpa sebab tidak mempunyai kekuatan.Sebab dalam hal ini adalah tujuan dibuatnya sebuah perjanjian.
2
Kesepakatan para pihak dan kecakapan para pihak merupakan syarat sahnya perjanjian yang bersifat subjektif. Apabila tidak tepenuhi, maka perjanjian dapat dibatalkan artinya selama dansepanjang para pihak tidak membatalkan perjanjian,maka perjanjian masih tetap berlaku. Sedangkansuatu hal tertentu dan suatu sebab yang halalmerupakan syarat sahnya perjanjian yang bersifatobjektif. Apabila tidak terpenuhi, maka perjanjian
1
Riduan Syahrani,
Seluk-Beluk Dan Asas- Asas Hukum Perdata
, Bandung:Alumni, 1992,hlm.217.
2
 
 Ibid 
, hlm.218
2
 
 batal demi hukum artinya sejak semula dianggaptidak pernah ada perjanjian.Pada kenyataannya, banyak perjanjian yangtidak memenuhi syarat sahnya perjanjian secarakeseluruhan, misalnya unsur kesepakatan sebagai persesuaian kehendak dari para pihak yangmembuat perjanjian pada saat ini telah mengalami pergeseran dalam pelaksanaannya.Pada saat ini muncul perjanjian-perjanjianyang dibuat dimana isinya hanya merupakankehendak dari salah satu pihak saja. Perjanjianseperti itu dikenal dengan sebutan Perjanjian Baku
(standard of contract 
). Pada dasarnya suatu perjanjian harus memuat beberapa unsur perjanjianyaitu :transaksi jual beli yaitu:
3
1.
unsur 
esentialia
, sebagai unsur pokok yang wajib ada dalam perjanjian, sepertiidentitas para pihak yang harusdicantumkan dalam suatu perjanjian,termasuk perjanjian yang dilakukan jual beli secara elektronik 
2.
unsur 
naturalia
, merupakan unsuyang dianggap ada dalam perjanjianwalaupun tidak dituangkan secara tegasdalam perjanjian, seperti itikad baik darimasing-masing pihak dalam perjanjian.
3.
unsur 
accedentialia
, yaitu unsutambahan yang diberikan oleh para pihak dalam perjanjian, seperti klausulatambahan yang berbunyi “barang yangsudah dibeli tidak dapat dikembalikan”Dalam suatu perjanjian harus diperhatikan pula beberapa macam azas yang dapat diterapkan antaralain :1.Azas Konsensualisme, yaitu azaskesepakatan, dimana suatu perjanjiandianggap ada seketika setelah ada katasepakat2.Azas Kepercayaan, yang harusditanamkan diantara para pihak yangmembuat perjanjian3.Azas kekuatan mengikat, maksudnya bahwa para pihak yang membuat perjanjian terikat pada seluruh isi perjanjian dan kepatutan yang berlaku4.Azas Persamaan Hukum, yaitu bahwasetiap orang dalam hal ini para pihamempunyai kedudukan yang sama dalamhukum5.Azas Keseimbangan, maksudnya bahwa dalam melaksanakan perjanjianharus ada keseimbangan hak dankewajiban dari masing-masing pihak sesuai dengan apa yang diperjanjikan6.Azas Moral adalah sikap moral yang baik harus menjadi motivasi para pihak 
3
R. Subekti,
 Aneka Perjanjian
, Cet.VII,Bandung:Alumni, 1985, hlm. 20yang membuat dan melaksanakan perjanjian7.Azas Kepastian Hukum yaitu perjanjian yang dibuat oleh para piha berlaku sebagai undang-undang bagi para pembuatnya8.Azas Kepatutan maksudnya bahwa isi perjanjian tidak hanya harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku tetapi juga harus sesuai dengankepatutan, sebagaimana ketentuan Pasal1339 KUH Perdata yang menyatakan bahwa suatu perjanjian tidak hanyamengikat untuk hal-hal yang dengan tegasdinyatakan didalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian diharuskan oleh kepatutan,kebiasaan atau undang-undang.9.Azas Kebiasaan, maksudnya bahwa perjanjian harus mengikuti kebiasaan yanglazim dilakukan, sesuai dengan isi pasal1347 KUH Perdata yang berbunyi hal-halyang menurut kebiasaan selamanyadiperjanjikan dianggap secara diam-diamdimasukkan ke dalam perjanjian,meskipun tidak dengan tegas dinyatakan.Hal ini merupakan perwujudan dari unsur naturalia dalam perjanjian.Semua ketentuan perjanjian tersebut diatasdapat diterapkan pula pada perjanjian yangdilakukan melalui media internet, seperti perjanjian jual beli secara elektronik, sebagai akibat adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.Menurut Pasal 1457 KUH Perdata, jual beli adalahsuatu perjanjian dengan mana pihak yang satumengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatukebendaan dan pihak yang lain untuk membayaharga yang telah dijanjikan. Jual beli tidak hanyadapat dilakukan secara berhadapan langsung antara penjual dengan pembeli, tetapi juga dapat dilakukansecara terpisah antara penjual dan pembeli,sehingga mereka tidak berhadapan langsung,melainkan transaksi dilakukan melalui mediainternet/secara elektronik.Dalam kontrak jual beli para pelaku yangterkait didalamnya yaitu penjual atau pelaku usahadan pembeli yang berkedudukan sebagai konsumenmemiliki hak dan kewajiban yang berbeda-beda.Berdasarkan ketentuan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang PerlindunganKonsumen, diatur mengenai kewajiban-kewajiban pelaku usaha, dalam hal ini penjual yangmenawarkan dan menjual suatu produk, yaitu :1.beritikad baik dalam melakukankegiatan usahanya;2.memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan atau jasa sertamemberikan penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan;
3

Activity (23)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
diiediiedyah liked this
skullzboyz liked this
emilno liked this
Hary Brima Jaya liked this
faatihe liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->