Read without ads and support Scribd by becoming a Scribd Premium Reader.
 
BAB IPENDAHULUANLatar Belakang
Begitu Perang Dunia I berakhir pada 1918, Kesultanan TurkiUsmani di Turki guncang. Sementara kekuasaan sultan, yangmeneruskan tradisi kekhalifahan Islam di seluruh dunia, mulaidipersoalkan oleh kaum nasionalis Turki yang dipimpin oleh MustafaKemal Pasha. Akhirnya, pada 1922, Majelis Rakyat Turki menghapuskekuasaan Sultan Abdul Majid dan menjadikan Turki sebagairepublik. Dan dua tahun kemudian Majelis menghapuskan lembagakhilafat.Perkembangan politik di Turki tersebut ternyata cukup membuat bingung dunia Islam. Ada di antara para pemimpin Islam yangkemudian mulai berpikir untuk membentuk khilafat baru. Termasuk kaum muslimin Indonesia, yang merasa ikut bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah tersebut. Saat itu, pada 1924, Mesir sedangmempersiapkan sebuah muktamar tentang masalah khilafat tersebut.Untuk mengantisipasi diselenggarakannya kongres tersebut, pada 4Oktober 1924 sejumlah ormas Islam membentuk Komite Khilafat diSurabaya. Komite itu diketuai oleh Wondoamiseno (Syarikat Islam),dengan K.H.A. Wahab Chasbullah (kalangan pesantren) sebagai
1
 
wakil. Dalam Kongres Al-Islam III di Surabaya, Desember 1924,antara lain diputuskan untuk mengirim delegasi ke Kongres Khilafatdi Kairo, yang beranggotakan Suryopranoto (Syarikat Islam), A.R.Fachruddin (Muhammadiyah), dan K.H. Wahab Chasbullah(pesantren).Ternyata Kongres Khilafat di Kairo ditunda, karena perhatianumat Islam seluruh dunia tertuju pada perkembangan di Hijaz (kiniArab Saudi) ketika Ibnu Saud, yang kemudian menjadi raja,mengambil alih kekuasaan Syarif Husein. Berkolaborasi dengan paraulama Wahabi, pemerintahan baru di Hijaz mulai melakukan pembersihan terhadap praktik beragama yang dianggap tak sesuaidengan paham Wahabi, paham yang menganggap praktik-praktik kaum tradisionalis yang tidak tertera dalam Al-Quran dan hadis adalah
bid’ah
.Pergeseran konstelasi geopolitik pada dekade kedua abad 20membawa arus baru dalam dunia sosiopolitik Islam. Tidak hanya diIndonesia yang saat itu masih dibawah kungkungan cengkramanimperialisme dan kolonialisme Belanda, tetapi di dunia secara umum.Dengan kemenangan kaum Wahabi yang terjadi di Arab Saudi dankenaikan Ibn Saud pada puncak tertinggi pemerintahan Arab Saudikemudian memfatwakan pemberlakuan paham Wahabi di kawasansuci Makkah dan Madinah. Selain itu, Ibn Saud juga berencanamenggusur makam Rasulullah dengan berbagai pertimbangan,
 
termasuk kekhawatiran adanya syirik dalam setiap ziarah yangdilakukan umat muslim di dunia. Upaya globalisasi Wahabi, yakniketika Hejaz telah dikuasi Wahabi, dunia Islam banyak mengimportgagasan-gagasan Wahabi dalam bentuk pemurnian Islam
1
.Untuk meluluskan keinginannya itu, kemudian Ibnu Saud berencana mengadakan pertemuan umat muslim se-dunia. KongresUmat Islam akan diadakan di Arab Saudi sebagai langkah awal utuk dapat menjelaskan tentang maksud keinginan menegakkan Islam yangkaffah.Perubahan yang dilakukan secara radikal sebagai buah darikemenangan gemilang dari pemberontakan yang dilakukan oleh kaumwahabi di daerah Hejaz kemudian mengubah nama Hejaz menjadiArab Saudi. Kontan saja, tindakan frontal ini membuat wargaIndonesia yang tinggal di Hejaz merasa gerah, masalahnya orangIndonesia yang tinggal di Hejaz adalah penganut Islam
 Ahlus Sunnahwal Jama’ah
, menganut salah satu dari empat madzhab.Kegerahan ini tidak berhenti sampai disitu saja. Kegerahan jugadialami oleh umat Islam di Indonesia, karena bagi mereka, persoalandi Hejaz tidak hanya menyangkut warga Hejaz saja, melainkan persoalan umat Islam di seluruh dunia karena Hejaz merupakan sentralsekaligus sandaran spiritual umat Islam. Selain sebagai tempat dimana
1 Nur Khaliq Ridwan,
 NU dan Neoliberalisme, Tantangan dan Harapan Menjelang satu Abad,
LKiS, Yogyakarta, 2008, hal 27
 
3
Search History:
Searching...
Result 00 of 00
00 results for result for
  • p.
  • Notes
    Load more