Perseroan menghimpun dana dengan menjual saham perdana (IPO),kemudian menggunakan dana tersebut untuk diinvestasikan dalam berbagai jenis efek.
o
Reksa dana terbuka
(
open-end investment company
)
; dimanainvestor bisa membeli saham dari reksadana dan menjual kembalitanpa dibatasi jumlah saham yang diterbitkan.
o
Reksa dana tertutup (
close-end investment company
)
; investor hanya bisa melakukan jual beli melalui bursa efek dimana sahamreksadana tersebut tercatat dengan jumlah tertentu.
•
Reksa dana Kontrak Investasi Kolektif (KIK)Ini bentuk yang paling lazim, dimana ada kontrak antara MI dan bank kustodian yang mengikat pemegang unit penyertaan (UP). MI diberiwewenang untuk mengelola investasi kolektif dan bank kustodianmemiliki wewenang untuk melakukan penitipan kolektif. Reksadana KIK tidak menerbitkan saham melainkan melalui UP sampai sebesar jumlahyang ditetapkan dalam Anggaran Dasar. Investor yang berpartisipasi akanmendapat bukti penyertaan berupa surat konfirmasi dari bank kustodian.Menurut portofolio investasinya, reksa dana dibagi menjadi:
•
Reksadana Pasar UangReksa dana yang mayoritas alokasi investasinya pada efek pasar uang,yaitu efek utang berjangka kurang dari satu tahun seperti SBI, deposito,dan sebagainya. Tingkat risiko (dan
return
) relatif paling rendah.Reksadana ini cocok untuk jangka pendek sebagai pelengkap tabunganatau deposito. Tidak ada biaya pembelian dan penjualan kembali. NAB/NAV per UP selalu “di-
reset
” Rp 1.000 setiap harinya.
•
Reksadana Pendapatan TetapReksa dana yang setidaknya 80% alokasi investasinya pada efek utang jangka panjang. Potensi risiko dan return lebih besar daripada tabungan,deposito, atau reksadana pasar uang. Cocok untuk investasi jangkamenengah (kurang dari 5 tahun). Ada sebagian reksadana yangmembagikan keuntungan berupa dividen secara berkala.
•
Reksadana Saham