Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
6Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Orasi Ilmiah Wisuda VII-18 Okt08 - Prof Hafid Abbas

Orasi Ilmiah Wisuda VII-18 Okt08 - Prof Hafid Abbas

Ratings: (0)|Views: 326 |Likes:
Published by STIE Mulia Pratama
Orasi Ilmiah Wisuda VII STIE Mulia Pratama oleh Prof Hafid Abbas pada tanggal 18 Oktober 2008
Orasi Ilmiah Wisuda VII STIE Mulia Pratama oleh Prof Hafid Abbas pada tanggal 18 Oktober 2008

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: STIE Mulia Pratama on Oct 24, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2013

pdf

text

original

 
PENDIDIKAN, DEMOKRATISASI DAN KEBANGKITAN NASIONAL
1
 
Orasi Ilmiah pada Wisuda VII S-1 dan Dies Natalis XSTIE Mulia Pratama Bekasi 2008Oleh: Prof Dr Hafid Abbas
 
Hotel Horizon Bekasi, 18 Oktober 2008
 
Yang saya hormati Koordinator Kopertis Wilayah IV, Walikota Kota Bekasi, Ketua STIE MuliaPratama, Ketua Yayasan Pencerdasan Bangsa, para Anggota Senat, Sivitas Akademika, paraWisudawan, para Undangan dan Hadirin yang saya muliakan.
 
 Assalamu’alaikum Wr. Wb.
 
Sungguh suatu kehormatan dan kebahagiaan yang tidak ternilai bagi saya dapat berdiri di sini untukmenyampaikan beberapa pemikiran saya di hadapan para wisudawan dan civitas akademika STIEMulia Pratama dan hadirin sekalian. Apa yang akan saya ketengahkan di sini, menurut pandangansaya adalah suatu masalah yang menyentuh kepentingan kita semua sebagai warga negara daribangsa yang besar, dan bahkan kepentingan kesinambungan generasi dan peradaban kita dari masalampau ke masa kini dan ke masa depan. Masalah itu adalah mengenai keputusan kolektif kitasebagai bangsa yang tepat sepuluh tahun lalu, telah memilih strategi kebangkitan baru melalui jalandemokrasi dengan memajukan hak asasi manusia.
 
Tuturan singkat saya di hadapan para wisudawan, civitas akademika dan hadirin sekalian tentulah jauh dari memadai untuk mengulas hal-hal tersebut secara lebih utuh. Izinkanlah saya mengawaliuraian ini dengan menyampaikan: (1) beberapa catatan singkat atas pilihan kita di jalur demokrasi, (2)tonggak-tonggak kebangkitan kita selama seabad yang lampau, dan (3) peluang dan harapan yangterbentang di depan kita memasuki era kebangkitan bangsa fase abad kedua, dan sekaligusbagaimana pendidikan berbasis hak asasi menjawab dinamika itu.
 
Para Wisudawan dan Hadirin yang berbahagia
 
Sebagai catatan tentang pilihan kita di jalur demokrasi, izinkan saya memetik pelajaran berharga daripolarisasi-polarisasi kehidupan semut sebagai suatu pendekatan model yang lazim digunakan dalamilmu-ilmu sosial. Seorang warga negara Belgia, pemenang Hadiah Nobel di bidang Kimia, bernamaIlya Prigogine, dalam artikelnya “
The Die is not Cast” 
(UNESCO, 1999)
2
melukiskan bagaimana poladan perilaku kehidupan semut. Dalam alam raya ini terdapat sekitar 12000 jenis spesies semut yangsudah dikenal manusia. Kemungkinan masih terdapat jumlah yang lebih besar yang belum dikenalhingga dewasa ini. Yang menarik ditelaah lebih dalam adalah pola perilaku kehidupan semut tersebut.Jika mereka hidup dalam koloni atau kelompok yang kecil perilakunya sangat individualistik. Merekamencari makanan secara bebas kemudian membawa makanan itu ke sarangnya tanpa ada aturan.Namun jika mereka hidup di koloni besar yang dapat bervariasi dari ratusan, ribuan hingga jutaan,maka mereka diatur oleh suatu sistem kontrol melalui
auto catalytic reaction
antarsemut yangkemudian melahirkan reaksi kimia yang berfungsi sebagai media pertukaran informasi yang mengatur tata kehidupannya. Semakin besar jumlah semut dalam satu koloni maka semakin ketat mekanismekontrolnya untuk mengatur dirinya dan distribusi makanannya. Sekiranya ada semut yang melanggar aturan dengan berperilaku semaunya maka reaksi kimia tadi meracuninya dan menyebabkannyamenjadi buta dan kemudian dimangsa oleh semut lainnya. Demikianlah pola kehidupan semut daricorak individualistik ke hidup berkelompok.Mari kita melihat analogi kehidupan semut ini dalam pola kehidupan umat manusia yang pada Maret2008 lalu diperkirakan berjumlah sekitar 6,7 miliar jiwa.
3
Seperti halnya semut, manusia mempunyaipula pola polarisasi kehidupan. Polarisasi pertama adalah manusia yang hidup di dunia pertama yangumumnya berada di AS dan Eropa Barat. Sumber-sumber ekonominya relatif lebih maju dibanding dibelahan bumi lainnya. Jumlah penduduknya relatif lebih kecil dan bahkan di negara-negara
1
Pokok-pokok pikiran ini sebagian sudah diangkat pada Orasi Pengukuhan Guru Besar Tetap UNJ, 16 Juni2008.
2
UNESCO,
Letters to Future Generation
, (Paris: UNESCO, 1999), pp 133-140
3
http://www.internetworldstats.com/stats.htm
 
Scandinavia, tingkat pertumbuhannya sudah di bawah nol. Pola hidup warga masyarakatnyacenderung lebih individualistik dan tidak begitu terikat dengan kehidupan kolektifnya. Dari sudutpandang kehidupan ekonomi dan politiknya, mereka memprioritaskan pemajuan dan perlindunganhak-hak ekonomi individu.Polarisasi ke dua adalah pola perilaku kehidupan masyarakat di belahan dunia kedua yakni di negara-negara sosialis, seperti China, Cuba, Eropa Timur, dan Uni Soviet dan sekarang Rusia. Penduduknyaberjumlah amat besar dengan sumber ekonomi yang relatif terbatas sehingga memaksa polakehidupan masyarakatnya membatasi kebebasan individu. Masyarakat di dunia ini yang dipentingkanadalah pemajuan dan perlindungan hak-hak ekonomi kolektifnya. Mereka membatasi dan bahkanmengorbankan kepentingan ekonomi individu apabila hal itu bersentuhan dengan kepentingankelompok atau kepentingan negara. Kebebasan berekspresipun begitu terbatas.Polarisasi kehidupan 6,7 miliar penduduk dunia tersebut, mirip sekali dengan polarisasi kehidupansemut. Belajar dari kehidupan semut itu, mari kita merenung sejenak, apakah kita sudah berada di jalur pilihan perjalanan sejarah yang tepat? Apakah kita tidak menyesali pilihan itu di kemudian hariatau mungkinkah kita dikutuk oleh generasi yang akan datang atas keputusan di jalur demokrasi itu?Mari kita secara jernih melihatnya. Bukankah keledai saja dapat belajar dari apa yang pernahdialaminya sehingga tidak pernah jatuh ke lubang yang sama untuk ke dua kalinya.
 
Para Wisudawan dan Hadirin yang berbahagia
Generasi kita, tanpa didikte oleh pihak manapun, telah
 
mengambil keputusan monumental denganberani melakukan perubahan yang amat mendasar pada seluruh aspek kehidupan
 
ekonomi, sosialdan politik. Tuntutan penataan kembali (reformasi) itu dipicu oleh memburuknya keadaan ekonominasional sebagai akibat krisis moneter yang melanda Thailand pada pertengahan 1997. Krisis inikemudian meluas, mewabah bagai virus penyakit ke kawasan dan membawa keterpurukan ekonominasional
 
(hyperinflation and depression)
hingga mengakibatkan pertumbuhan ekonomi kita pada 1998mencapai -16,54%. Angka penduduk miskin tiba-tiba berlipatganda menjadi sekitar 79,4 juta orangatau 39,1 % dari 202 juta penduduk, PHK terjadi di mana-mana. Kegoncangan ini kemudianmembawa pula kegoncangan sosial dan politik dan krisis multi dimensi yang memaksa sistempemerintahan sentralistik diakhiri yang kemudian melahirkan sistem pemerintahan desentralistik yangbertujuan untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Era otoritarianisme panjang pun harusdiakhiri. Era kekuasaan Orde Baru yang didukung oleh kekuatan bersenjata harus digantikan dengansupremasi sipil dalam payung negara demokrasi, meski pada waktu itu kita belum mampu mengejahuruf demi huruf dari kata demokrasi. Yang terjadi pada masa itu hanyalah sebuah keberanian untukberubah.
 
Akumulasi tuntutan reformasi itu dipicu oleh tertembaknya empat mahasiswa Universitas Trisakti padatanggal 12 Mei 1998. Ibarat sumbu petasan, peristiwa itulah yang meledakkan perubahan sosial-politik. Peristiwa ini merupakan pintu gerbang lahirnya era demokratisasi yang telah mengantar pergantian kepemimpinan nasional secara amat dramatis. Euforia demokratisasi, hak asasi manusiadan kebebasan berekspresi seakan tidak terelakkan. Bahkan kebebasan seperti itu dinilai telahmelewati batas-batas kepatutan menurut ukuran-ukuran negara paling bebas dan paling demokratissekalipun. Kalau dulu dikenang semangat heroisme sekali merdeka tetap merdeka, sekarangsemangat itu bermakna ”sekali merdeka, merdeka sekali.”
 
Dilemma.
Sebagai keputusan bersejarah yang emosional, tentu tidak dimungkinkan terdapatpemikiran-pemikiran rasional yang sejuk dan aspiratif untuk memperhitungkan segala konsekuensidan implikasi yang akan ditimbulkan atas keputusan itu. Akibatnya, meski sudah satu dekadeberdemokrasi, kita masih terkesan kehilangan orientasi terhadap masa depan, bahkan kita seakanmasih mencari bentuk tatanan masyarakat demokratis yang kita tuju, sementara tatanan lama sudahkita tinggalkan. Dengan alasan demokrasi, di berbagai kampus di tanah air, mahasiswa lebih banyakmenggunakan waktunya di jalan, berdemo, membakar ban bekas, daripada belajar di ruang-ruangkuliah dan perpustakaan.
 
Para Wisudawan dan Hadirin yang berbahagia
Penjelasan para ahli tentang realitas ini bermacam-macam. Ada yang percaya bahwa kekecewaandan kegoncangan-kegoncangan seperti ini merupakan proses alamiah yang harus dilalui untukmencapai suatu keseimbangan baru. Walaupun penuh goncangan dipercaya akan berakhir dengan
 
hadirnya sebuah harmoni baru yang terutama ditandai oleh terjadinya konsensus tentang bagaimanasebuah sistem politik baru dikelola secara kolektif.
Arah.
Kata filosof René Descartes, jika kita tersesat di tengah perjalanan gelap, cara terbaik untukkeluar dari ketersesatan itu adalah jangan pernah merubah arah perjalanan. Sejarah ternyata tidakmengenal belas kasihan, yang berlaku adalah
survival of the fittest,
seperti kata Darwin. Sekiranyapilihan kita di jalur demokrasi pada satu dekade lampau merupakan pilihan terakhir, ”
the point of noreturn”,
kita tidak mungkin lagi merubah arah pilihan itu, apa yang harus kita lakukan? Saya inginmenjawabnya, mari memperkuat dimensi pendidikan nasional yang berbasis hak asasi dalam proseskebangkitan bangsa.
Para Wisudawan dan Hadirin yang berbahagia
Pilihan Demokrasi.
Mari kita melihat apa, mengapa dan bagaimana pendidikan berbasis hak asasiitu. Terlepas dari argumentasi-argumentasi pro dan kontra atas pilihan kita pada jalur demokrasi,pembangunan sesungguhnya tidak mungkin berjalan tanpa adanya keamanan dan ketenteraman.Sebaliknya keamanan, ketenteraman dan kesejahteraan tidak mungkin pula terwujud tanpapembangunan. Ada hubungan resiprokal atau timbal balik antara pembangunan dan keamanan.Namun, keamanan dan pembangunan tidak mungkin pula terwujud jika tidak terdapat pemajuan danperlindungan hak asasi manusia. Inti dari ikhtiar ini sesungguhnya adalah pembangunan berwawasanHAM. Kofi Annan pada pidato terakhirnya, 12 Desember 2006 di Gedung PBB New York menuturkan:‘’
there will be no development without security, there will be no security without development, and there will be no both without human rights.’’ 
Kerangka segitiga yakni pembangunan, keamanan dan HAM sesungguhnya dibingkai oleh paradigmapembangunan yang berpusat pada manusianya
(human centered development).
Inti daripembangunan manusia tersebut adalah pendidikan. Pada Kerangka Aksi Dakar yang dicanangkanpada
World Education Forum
di Dakar 2000 berisi satu pernyataan yang tegas bahwa pendidikanadalah hak asasi fundamental dan mendasari pentingnya pelaksanaan pendidikan berbasis hak asasidalam pencapaian tujuan pendidikan untuk semua. UNESCO bersama sejumlah badan PBB lainnya,aktif terus mendorong pelaksanaan pembangunan pendidikan berbasis hak asasi yang menjadiprasyarat untuk mencapai tujuan
Pendidikan Untuk Semua
.
 
Makna HAM.
Di sisi lain, HAM yang diperjuangkan di Indonesia baik sebelum maupun sesudahkemerdekaan tercermin dalam pemikiran besar tokoh-tokoh pendiri republik ini. Proklamator BungHatta misalnya, dalam pidatonya
Mendayung di Antara Dua Karang 
, yang disampaikan di mukaBadan Pekerja Komite Nasional Pusat di Jogyakarta pada 2 September 1948 melukiskan petapolarisasi dunia, ada dunia pertama, ada dunia ke dua dan ada dunia ke tiga. Mirip sekali polapolarisasi kehidupan semut dalam pandangan Ilya. Polarisasi dunia ketiga ini membawa resonansipolitik ke seluruh dunia pada saat diselenggarakannya KTT Asia Afrika tahun 1955 di Bandung, yangmelahirkan Dasa Sila Bandung. Dunia pertama adalah negara-negara kapitalis, dan dunia keduaadalah dunia sosialis. Indonesia dalam pandangan Bung Hatta mendayung di antara dua karang,tidak dipertentangkan antara keduanya, melainkan memetik nilai-nilai yang positif dari dunia satu danmemetik pula yang positif dari dunia ke dua. Itulah sesungguhnya yang mengkristal dalam bingkaikelima sila Pancasila.
4
 
Para Wisudawan dan Hadirin yang berbahagia
 
4
 
Pendidikan Berbasis Hak Asasi.
Pengertian HAM inilah yang didefinisikan sebagai seperangkat hak yangmelekat pada hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan YME dan merupakan anugerah-Nya yangwajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demikehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Karenanya pendidikan berbasis hak asasi dalampelaksanaannya sebagaimana yang dikembangkan oleh UNESCO ialah dengan mengintegrasikan nilai-nilaiuniversal HAM ke dalam seluruh proses perencanaan, pengambilan kebijakan dan pelaksanaan pendidikanyang berlangsung di semua jenjang, jenis dan jalur melalui ketersediaan
(availability)
pendidikan, perluasanakses
(accessibility),
peningkatan mutu dan relevansi
(acceptability),
dan adaptabilitas
(adaptability)
pendidikansesuai dengan prinsip-prinsip dasar negara dan landasan yuridis kita. Saya ingin menambahkan satu dimensipenting di keempat aspek itu yakni
assessibility 
atau penilaian pendidikan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->