Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
10Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Biofuel Bahan Bakar Nabati

Biofuel Bahan Bakar Nabati

Ratings: (0)|Views: 2,304|Likes:

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Angga Resala Perdana on Oct 24, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/08/2011

pdf

text

original

 
46
 Jurnal Litbang Pertanian, 28(2), 2009
B
ahan bakar nabati (BBN) atau
biofuel 
adalah bahan bakar transportasi ber- basis komoditas pertanian yang biasanyadigunakan untuk bahan makanan (OECD2006). Produk komersial BBN
 
yang cukup populer adalah bioetanol dan biodiesel.Di Indonesia, untuk memproduksi bio-diesel umumnya digunakan metode tran-sesterifikasi, dengan bahan baku jarak  pagar, kelapa sawit, dan kelapa dalam(Prastowo 2006; Prastowo dan Sardjono2007).Biodiesel dapat digunakan secaramurni maupun dicampur dengan bahan bakar diesel fosil, dan dikhususkan untuk mesin jenis diesel. Kebutuhan solar nasio-nal untuk transportasi mencapai 14 jutakiloliter. Saat ini, Pertamina telah menjual
STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI BIODIESELBERBASIS KELAPA DI MALUKU
Sjahrul Bustaman
 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Jalan Tentara Pelajar No. 10, Bogor 16114Telp. (0251) 8351277, Faks. (0251) 8350928, E-mail: bbp2tp@yahoo.com Diajukan: 20 Maret 2009; Diterima: 27 Juli 2009
ABSTRAK 
Biodiesel adalah salah satu jenis bahan bakar nabati (BBN) yang diperoleh melalui proses transesterifikasi minyak kelapa dengan bantuan metanol dan natrium hidroksida (NaOH) sebagai katalis. Upaya pengembangan biodieselmendesak dilakukan antara lain untuk mengurangi beban masyarakat akibat mahalnya harga solar dan pasokanyang tidak menentu, terutama pada pulau kecil dan terpencil. Makalah ini memberikan gambaran prospek  pengembangan biodiesel di Maluku. Hasil analisis faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman pada pengembangan industri biodiesel memberikan gambaran strategi pengembangan kelapa melalui pemutakhiran data, peningkatan produksi kelapa
existing 
, dan perluasan pertanaman kelapa di Kabupaten Maluku Tenggara danMaluku Tenggara Barat. Untuk pengembangan biodiesel, strategi berpijak pada penerima manfaat utama yaitumasyarakat di pulau-pulau yang jauh dari Ambon. Kelapa tidak seluruhnya diolah menjadi biodiesel, tetapi jugauntuk diversifikasi produk pangan. Pola pengembangan biodiesel dapat berupa usaha rumah tangga, usaha mikrodan kecil, pola komersial, serta pola plasma dan inti. Beberapa langkah operasional yang perlu dilakukan PemerintahProvinsi Maluku adalah: 1) menciptakan keamanan yang kondusif sehingga menarik minat investor untuk menanamkan modalnya di Maluku, 2) revitalisasi pertanaman kelapa yang ada, 3) mengembangkan usaha agribisniskelapa secara terintegrasi mulai dari aspek budi daya, pengolahan hingga pemasaran dalam berbagai skala dengannuansa
corporate community
, 4) memfasilitasi berkembangnya investasi dan menguatkan kelembagaan lokal, 5)mendorong peningkatan pemanfaatan biodiesel sebagai substitusi solar, dan 6) melakukan transfer teknologi, pelatihan, dan memanfaatkan tenaga sarjana yang belum bekerja sebagai pendamping dalam usaha industri biodiesel.
Kata kunci:
Pengembangan biodiesel, kelapa, Maluku
ABSTRACT
 Strategy of biodiesel development base on coconut in Moluccas
Biodiesel is an alternative fuel that can be produced from coconut oil through transesterification process usingmethanol and sodium hydroxide (NaOH) as catalyst. Nowadays, the development of biodiesel is urgently requiredto reduce people burden due to the price and the uncertain supply of diesel fuel in small and remote islands. This paper gives the prospect of biodiesel development in Moluccas. The SWOT analysis results in the present studygave strategy for the development of coconut plantations in the Southeast and West of Southeast MoluccasDistricts. Other strategy is for the development of biodiesel, that is useful especially for the people who livefaraway from Ambon. The utilization of coconut is recommended not only for biodiesel, but also for productdiversification. Alternative models/patterns of biodiesel development include a household, a small-micro, acommercial, or a nucleus-plasma pattern. Some steps are required to be carried out by the Government of Moluccas, namely: 1) establish a safe situation in Moluccas as some investors still hesitate to come there, 2)revitalize the existing coconut plantations, 3) establish integrated coconut agribusiness, starting from cultivationaspect, processing, up to marketing in various scales with corporate community orientation, 4) facilitate investdevelopment and strengthening of local institutions, 5) push increase of biodiesel utilization as diesel fuel substitute,and 6) conduct technology transfer, training, and use unemployment people who graduated from the university as partner in business of biodiesel industry.
Keywords:
Biodiesel development, coconut, Moluccas
 
 Jurnal Litbang Pertanian, 28(2), 2009
47 biodiesel B-5 di SPBU. Biodiesel B-5 me-rupakan campuran 5 liter biodiesel dalam95 liter solar untuk menghasilkan 100 liter B-5.Dalam upaya memenuhi kecukupansolar pada sektor transportasi, Pertaminamembutuhkan 700 ribu kiloliter biodiesel.Biodiesel dapat diproduksi di dalam negerisehingga akan menghemat devisa negara.Harga biodiesel B-5 saat ini belum memberinilai keuntungan karena Pertamina masihmenjualnya Rp4.500/l, sama dengan hargasolar bersubsidi. Oleh karena itu, peme-rintah perlu memberikan subsidi kepadaPertamina agar usaha biodiesel meng-untungkan, selain memberikan kemudahandan insentif kepada investor.Provinsi Maluku memiliki luas wilayah57.326.817 ha, sebagian besar berupa ke- pulauan dengan jumlah pulau 1.412 buah(Titaley 2006). Kebutuhan BBM pada pulau-pulau ini bergantung pada pasokandari Ambon. Umumnya masyarakatMaluku yang tinggal di pulau kecil meng-gunakan solar untuk keperluan transpor-tasi, usaha pertanian dan perikanan. HargaBBM di daerah yang jauh dari Ambonlebih tinggi 50
100% dari harga ecerantertinggi (HET) pemerintah, dan waktu pasokannya tidak terjamin karena cuacalaut yang tidak menentu. Keadaan ber-tambah buruk setelah pemerintah pada 1Oktober 2005 menaikkan harga BBM 114%dari harga semula (Sen dan Steer 2005).Program pemerintah tentang BBN disikapioleh Pemerintah Provinsi Maluku denganmengembangkan usaha pembuatan bio-diesel jarak pagar di beberapa kabupatenseperti Kabupaten Buru, Seram Barat danMaluku Tenggara, serta usaha pengolah-an kelapa terpadu di Kabupaten MalukuTenggara.Beberapa faktor pendukung pengem- bangan biodiesel dari kelapa di Malukuadalah: 1) bahan baku kelapa cukuptersedia, 2) teknologi pembuatan biodieselrelatif mudah dan tersedia, dan 3) adanya peluang pasar dan keuntungan yang men- janjikan. Pertimbangan lainnya adalah banyak pulau kecil di Maluku yang dapatmenjadi percontohan pembuatan dan penggunaan biodiesel secara mandiri.Selain itu, Pertamina wilayah Maluku danMaluku Utara bersedia membeli biodiesel.Dengan demikian, pengembangan bio-diesel akan membuka peluang kerja bagimasyarakat di pulau terpencil, selainmenghemat pengeluaran untuk membelisolar bagi usaha perikanan, pertanian, dantransportasi.Tulisan ini memberikan gambarantentang strategi pengembangan biodieseldari kelapa di Maluku. Pokok bahasandifokuskan pada keunggulan (kekuatan),kelemahan, peluang, dan ancaman pe-ngembangan industri biodiesel, sertalangkah strategis dan kebijakan operasi-onal dalam pemberdayaan masyarakatuntuk membangun Desa Mandiri Energi,yaitu desa yang dapat memproduksisendiri kebutuhan energinya. Program inidiharapkan mampu mengatasi kemiskinandan menciptakan lapangan kerja. DiIndonesia, saat ini terdapat lebih dari 40Desa Mandiri Energi yang menggunakanBBN (Sanusi 2008).
BIODIESEL, BIOENERGIALTERNATIF DANPROSPEKTIF
Biodiesel didefinisikan sebagai BBN yangdibuat dari minyak nabati, baik itu barumaupun bekas penggorengan, melalui proses transesterifikasi dan esterifikasi.Biodiesel dimanfaatkan untuk mengurangikonsumsi solar. Bahan dasar biodieseladalah minyak kelapa, kelapa sawit, danminyak jarak. Dari ketiga bahan dasar ter-sebut, kelapa sawit menghasilkan minyak nabati paling tinggi, yaitu 5.950 liter/ha/tahun, sedangkan kelapa 2.689 liter/ha/tahun dan biji jarak 1.892 liter/ha/tahun(Bajoe 2008). Biodiesel dapat pula diha-silkan dari minyak jelantah atau minyak sisa penggorengan.
Proses Pembuatan BiodieselKelapa
Biodiesel adalah hasil proses transeste-rifikasi minyak kelapa dengan meng-gunakan katalis metanol dan etanol untuk mempercepat proses tersebut. LembagaMinyak dan Gas (Lemigas) menggunakanmetanol dan NaOH sebagai katalis dalam pembuatan biodiesel (Stauffer dan Byron2007; Pertamina 2006). Katalis ditambah-kan ke dalam reaktor yang berisi minyak kelapa lalu diaduk pada kondisi operasiyang standar.Minyak kelapa dihasilkan dari peme-rasan kopra atau daging kelapa. Identik dengan minyak kelapa sawit (CPO),minyak kelapa juga mengandung asamlemak berupa olein. Dari unsur olein inilahterjadi proses transesterifikasi etanol danmetanol sehingga diperoleh
 fatty acid methyl ester 
(FAME) sebagai biodiesel.Proses transesterifikasi juga menghasilkangliserin. Namun gliserin tidak dapat digu-nakan sebagai bahan bakar, tetapi ber-manfaat untuk kosmetik dan sabun.Transesterifikasi merupakan perubahan bentuk dari satu jenis ester menjadi bentuk ester yang lain. Bahan ester inimemiliki komposisi yang sama dengan bahan bakar diesel solar, bahkan nilai
cetane
-nya lebih baik dibandingkandengan solar. Oleh karena itu, biodieseldapat dimanfaatkan untuk mengurangikonsumsi solar.American Society of Testing Material(ASTM), suatu lembaga internasionalyang menentukan standar spesifikasi biodiesel, mendefinisikan biodiesel seba-gai campuran dari bahan bakar diesel fosil(Stauffer dan Byron 2007). Oleh karena itu, biodiesel campuran disebut B.X.X., dimana XX mewakili volume (dalam persen)campuran bahan bakar biodiesel. Saat ini.Pertamina telah menjual biodiesel jenis B-5 di SPBU, yaitu campuran 5% FAME dan95% solar murni. FAME dan solar murnidicampur dengan metode
blending flash
dengan waktu pencampuran sekitar 10menit (Pertamina 2006). Ada dua standar yang digunakan oleh biodiesel, yaituASTM-D6751 (di Amerika Serikat) danEN14214 (di Uni Eropa). Jika menggu-nakan dua standar tersebut maka pabrik mesin akan memberikan garansi (EngineManufacturers Association 2003).Penggunaan minyak nabati sebagai bahan bakar diesel dapat melalui beberapaalternatif, antara lain: 1)
crude vegetableoil 
(CVO) murni, 2) campuran CVOdengan bahan bakar diesel fosil, 3)
refined vegetable oil 
(RVO) murni, 4) campuranRVO dengan bahan bakar diesel fosil, 5)
methyl/ethyl ester vegetable oil 
murni,dan 6) campuran
methyl/ethyl ester vegetable oil 
dengan bahan bakar dieselfosil.
Keunggulan dan KelemahanBiodiesel
Biodiesel memiliki beberapa keunggulansebagai bahan bakar alternatif (Kemen-terian Negara Riset dan Teknologi 2006).Pertama, angka
cetane
tinggi (> 50); makintinggi bilangan
cetane
, makin cepat pembakaran dan makin baik efisiensitermodinamisnya. Kedua, titik kilat tinggi,yakni suhu terendah yang dapat menye- babkan uap biodiesel menyala, sehingga
 
48
 Jurnal Litbang Pertanian, 28(2), 2009
 biodiesel lebih aman dari bahaya keba-karan pada saat disimpan maupun di-distribusikan daripada solar. Ketiga, tidak mengandung sulfur dan benzena yangmempunyai sifat karsinogen, serta dapatdiuraikan secara alami. Keempat, menam- bah pelumasan mesin yang lebih baik daripada solar sehingga memperpanjangumur pemakaian mesin. Kelima, mudahdicampur dengan solar biasa dalam ber- bagai komposisi dan tidak memerlukanmodifikasi mesin apapun. Keenam, mengu-rangi secara signifikan asap hitam dari gas buang mesin diesel, walaupun penambah-an biodiesel ke dalam solar hanya 5
10%.Selain keunggulan, biodiesel memilikikelemahan. Minyak nabati mempunyaiviskositas (kekentalan) 20 kali lebih tinggidaripada bahan bakar diesel fosil sehinggamempengaruhi atomisasi bahan bakar dalam ruang bakar motor diesel. Atomisasiyang kurang baik akan menurunkan daya(tenaga) mesin dan pembakaran menjaditidak sempurna. Karena itu, viskositasminyak nabati perlu diturunkan melalui proses transesterifikasi metil ester nabatiatau FAME. Proses ini menghasilkan bahan bakar yang sesuai dengan sifat dankinerja diesel fosil. Pembuatan biodiesel juga masih menggunakan metanol impor.Manfaat utama dari biodiesel adalahmengurangi ketergantungan pada energifosil, menurunkan polusi udara, dan tentusaja energi ini tersedia di alam serta dapatdiperbaharui (MacLean dan Lave 2003;Pertamina 2006). Tujuannya adalah men-substitusi bahan bakar fosil dan mencipta-kan energi hijau (
 green fuel 
) yang ramahlingkungan. Rendahnya kualitas udaradiasosiasikan dengan hasil pembakaran bahan bakar fosil. Sebagai contoh, untuk lingkup Asia Tenggara, Jakarta memilikikualitas udara yang lebih rendah dariBangkok, Manila, dan Kuala Lumpur (Coxhead 2003).
KEKUATAN, KELEMAHAN,PELUANG, DAN ANCAMANPENGEMBANGANBIODIESEL DI MALUKUKekuatan
Faktor pendukung (kekuatan, S) dalammengembangkan biodiesel di Malukuadalah: 1) ketersediaan bahan baku kelapa,2) ketersediaan lahan, 3) ketersediaanteknologi, 4) ketersediaan tenaga kerja di pulau kecil dan terpencil, dan 5) payunghukum (Inpres No 1/2006 dan PeraturanPemerintah No. 5/2006).Provinsi Maluku memiliki area kelaparakyat 90.310 ha dengan produksi 69.184t/tahun (Badan Pusat Statistik Maluku2007). Areal kelapa tersebar hampir diseluruh kabupaten/kota, yaitu MalukuTenggara Barat 144.69 ha, MalukuTenggara 15.775 ha, Maluku Tengah10.398 ha, Buru 13.449 ha, Kepulauan Aru,4.825 ha, Seram Bagian Barat 12.823 ha,Seram
 
Bagian Timur 16.399 ha, dan Ambon2.172 ha (Badan Pusat Statistik Maluku2007). Areal pertanaman kelapa seluas90.310 ha tersebut berpotensi menghasil-kan minyak kelapa 242,80 juta l/tahun atausetara 218,50 juta l/tahun biodiesel(Universitas Siliwangi 2008; Bajoe 2008).Pengembangan komoditas perke- bunan termasuk kelapa masih terbuka luasdi Maluku. Menurut Susanto danBustaman (2006), berdasarkan peta ZonaAgroekologi skala 1:250.000 terinventarisir areal seluas 1.263.575,40 ha yang sesuaiuntuk kelapa. Areal tersebut tersebar dikabupaten Maluku Tenggara Barat(399.199,40 ha), Maluku Tenggara(61.906,90 ha), Maluku Tengah (165.847ha), Buru (34.923,40 ha), Seram BagianBarat (97.052,60 ha), Seram Bagian Timur (332.328,50 ha), dan Kepulauan Aru(232.317,70 ha). Pengembangan kelaparakyat secara ekstensifikasi maupunintensifikasi diarahkan di KabupatenKepulauan Aru, Maluku Tenggara Barat,dan Maluku Tenggara karena di wilayahtersebut, kelapa memiliki keunggulankomparatif yang lebih tinggi dibandingkomoditas perkebunan lainnya.Produktivitas kelapa di Maluku masihrendah, yakni 1,17 t/ha/tahun, padahal produksi kelapa Dalam unggul dapatmencapai 4 t kopra/ha/tahun (Tenda
et al.
1998
dalam
Damanik 2007). Sebagian besar  petani kelapa di Maluku mengolah kelapamenjadi kopra, dan sebagian kecilmembuat arang tempurung (karbon) danminyak kelapa. Menurut Tarigans (2005), petani kelapa masih mempunyai tenagakerja yang tersedia dalam jumlah optimaluntuk meningkatkan pendapatannya.Strategi pengembangan agribisnis kelapa pada bidang produksi meliputi pengem- bangan pusat pertumbuhan agribisnis, pengalihan teknologi
input 
luar tinggi ke
input 
luar rendah, penggunaan varietasunggul, serta pengendalian hama dan penyakit. Strategi pengolahan hasilmeliputi perbaikan mutu kelapa melaluikegiatan budi daya dan pascapanen, dandiversifikasi produk melalui pengolahan produk jadi (Damanik 2007).Pemanfaatan kelapa sebagai bahan baku biodiesel akan memberikan nilaimanfaat yang lebih besar dari buah kelapa,antara lain: 1) menghasilkan bahan bakar minyak diesel yang ramah lingkungan, 2) bahan baku dapat diperbaharui, 3) mem- buka diversifikasi produk olahan kelapaselain kopra, 4) meningkatkan nilai eko-nomi kelapa dan kesejahteraan petani, dan5) menyerap tenaga kerja yang lebih banyak karena proses produksi biodieselkelapa relatif mudah dengan teknologisederhana dan investasi rendah.Teknologi biodiesel relatif sederhanadengan produk berupa alkil ester asamlemak (metil atau etil ester) yang dipro-duksi melalui proses transesterifikasi.Teknologi tersebut telah menjadi “milik umum” dan dikuasai Indonesia. Beberaparancang-bangun pabrik biodiesel telahdikembangkan dan produk yang dihasil-kan telah diuji, termasuk 
road test 
. PusatPenelitian dan Pengembangan Perke- bunan/Badan Litbang Pertanian bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandungtelah mengembangkan mesin pengolah biodiesel berkapasitas 50 liter denganwaktu proses 6
8 jam. Mesin tersebutcocok untuk pulau terpencil yang memiliki pertanaman kelapa (Prastowo 2007).Pemakaian bahan bakar dari minyak kelapa dapat dilakukan dengan dua cara,yaitu minyak kelapa dicampur dengansolar atau langsung dipakai pada mesinyang telah dimodifikasi atau yang ber- bahan bakar biodiesel (Cloin 2005). Dalamupaya menurunkan biaya produksi danmemanfaatkan ampas kelapa telah dihasil-kan teknologi transesterifikasi terinteg-rasi/serempak (Pasang 2007), sementaraPrasetyo (2008) melakukan pemurnianhasil transesterifikasi dengan metodeadsorbsi menggunakan bentonit alam.Industri BBN umumnya bersifat padatkarya sehingga dapat mengurangi pe-ngangguran hingga 3 juta orang sampaitahun 2010, menghemat devisa US$10miliar, serta memanfaatkan 5 juta hektar lahan kritis (Gianie 2007). Di Maluku,sedikitnya 83.649 KK petani kelapa akanmeningkat penghasilannya selain mem- buka peluang kerja di pulau-pulau ter- pencil (Badan Pusat Statistik Maluku2007).Pengembangan BBN merupakan pilih-an strategis dan berdimensi jangka panjang. Hal ini antara lain tertuang dalam

Activity (10)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
azrai_plaktonz liked this
Hanayu Hanamichi liked this
David Purba liked this
Cadas Gak Pintar liked this
elmuhar liked this
reni rahmawati liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->