• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Devais
 
Oleh : Roni Basa
 
 Bandung, 5 Dzulqaidah 1430 H 
Sebagai warga negara marah lah kita Bil, negara tetangga yang masihserumpun mencuri warisan tari di depan muka. Sebab nasionalisme,atas nama kehormatan, berdasarkan “nasab” kebudayaan, sebagian lagi karena marah ikut-ikutan, warga negara ini serempak angkat suara mempertahankan warisan itu. Rumpunmelayu tidak lagi menjadi pengikat moral antara negara kita dan sang negara tetangga.Tetangga biarlah tetap menjadi tetangga, tentu saja tetap bukan keluarga, apalagi jikamereka curi apa yang dalam anggapan kita hak warisan. Ini bukan sekedar tarian Bil,banyaklah negara-negara lain punya tari temari tidak kalah baik dari tarian warisan leluhurkita, persoalannya sebab tarian ini milik kita hasil warisan.Tidak mau kita dicuri berulangkali, lebih menyakitkan apalagi pencurinya adalah tetangga,kita pun menaikan bendera bermotif batik bervariasi di tiang ke-negara-an depan halamanbangsa. Anak-anak sekolah, mahasiswa, pemuda dan pemudi yang setiap harinyaberdialog dan berdamai dengan modernitas memakainya juga Bil. Dengan bangga tanpaperlu merasa sungkan apalagi malu, memakai batik pertanda seseorang adalah Indonesia,menjadi seorang Indonesia salah satunya dengan ber-batik. Sebab nasionalisme, atas namakehormatan, berdasarkan “nasab” kebudayaan, sebagian lagi karena bangga ikut-ikutan,warga negara ini serempak memakai batik disetiap kali kesempatan. Ini bukan sekedarbaju Bil, di pasar tradisional, di mall, di Factory Outlet, pada pedagang kaki lima ada lebihbanyak baju dengan bervariasi model dan bahan. Persoalannya, batik ini milik kita hasilwarisan.Esok kelak Bil, patut dipertimbangkan untuk mengumumkan seluruh harta warisan kitapada negara tetangga dan masyarakat dunia. Bukan untuk menjadi takut dan khawatirwarisan-warisan lainnya dicuri. Jika memang warisan itu kita miliki sah secara hukum dankita punya bukti-bukti sah kepemilikan, tidak perlu ketakutan dan kekhawatiran ituterpelihara. Mengumumkan warisan bangsa perlu dilakukan untuk mengingatkan betapapencurian itu tidak baik sebab mengakibatkan tercuri kehilangan potensi kehidupannya.Maka, memastikan warisan dan mengumumkannya akan menjaga kita untuk tidak melakukan pencurian, sekaligus memungkinkan kita mengenali apa saja milik kita danmana saja milik mereka.Tidak layak kita mengajarkan ketakutan dan kekhawatiran kepada bangsa ini, sebabbangsa ini bukan penakut. Ajaran yang perlu disampaikan adalah jangan mencuri, sebabmencuri merugikan bagi negara lain.Jadi cobet yang kamu punya Bil, segeralah kamu umumkan itu sebagai warisankebudayaan, jangan terlena dengan aktifitas membuat sambal segala makanan untuk perutmu saja. Hal serupa perlu kamu lakukan kepada bakiak (sandal dari kayu) yang kamupakai untuk berwudhu di pesantrenmu dulu. Jangan asyik makhsyuk ibadah untuk dirimusaja. Kentongan di pos ronda lingkunganmu juga jangan terlewatkan diumumkan Bil,handphone tercanggih sekalipun belum mampu menandingi nilai komunikasi moralnya.
http://www.bagaskarakawuryan.wordpress.com
 
 
http://www.bagaskarakawuryan.wordpress.com
 
Coba saja kamu bunyikan ring tone handphone-mu malam hari sekerasnya, itu tidak akanmendatangkan seluruh warga ke rumahmu sebab perduli atas keamananmu. Berbeda saatkamu pukul keras kentongan pos ronda, niscaya warga lingkunganmu tergugah nuranikeamanannya untukmu. Umumkan itu semua sebagai warisan Bil, agar kamu ingatmencuri itu tidak baik berdasarkan kebutuhan orang lain.Bil, apa itu nasionalisme?, apa itu –warisan-kebudayaan?, apa itu kehormatan-sebagainegara?, bahkan apa negara itu sendiri?, berdasar tari pendet, batik, cobet, bakiak dankentongan pos ronda. Apa kamu tega bilang negaramu didasarkan pada tari temari danbatik?. Apa kamu lega mengatakan bangsamu bersatu sebab cobet dan bakiak?. Beranikamu bilang Bil bahwa sistem keamanan untuk menjaga kedaulatan lingkunganmuberbasis kentongan?. Kamu perlu mengumumkan apa negaramu, apa nasionalisme kamu,dan seperti apa kebudayaanmu kepada negara lain agar mereka tidak mencuri darimu.Kekecewaan bercampur tawa geli kamu perlihatkan Bil, saat negarawan, politisi, birokrat,teknorat dan siapapun orang-orang berkapasitas di negara ini masih salah menyebut namasatu sama lain, lalai bagaimana memimpin upacara kenegaraan dan hal teknis lainnyayang dalam anggapanmu setiap orang mudah untuk melakukannya tanpa perlu menjadinegarawan, politisi, birokrat dan orang penting negara ini. Tidak sampai disitu Bil, banyak  juga menganggap kondisi itu seperti dagelan. Menonton dagelan memang melenakan Bil,bisa membuat penontonnya lupa, lupa kalau punya nasionalisme-tariannya, lupa dengannegara-cobetnya, lupa dengan keamanan-kentongannya, lupa dengan baju batik-kebangsaannya, lupa kalau dicuri warisannya itu menyakitkan. Lupa untuk tidak menertawakan diri sendiri sebab masih sulit menempatkan cobet, bakiak dan kentongansesuai fungsinya.***Orang hidup tidak hanya dari dan dengan benda-benda, betapapun pentingnya benda-benda itu seperti makanan, minuman, pondok atau orang-orang lain. Orang juga hidup daridan dengan makna-makna berbagai benda, kegiatan, dan hubungan dirinya dengan semuaitu. Orang senantiasa diliputi kesadaran, pikiran, perasaan, pandangan, khayalan,kenangan, selera dan nilai-nilai pada saat berhubungan dengan dunia di sekitarnya (ArielHeryanto, 2001). Demikianlah Bil, benda-benda memiliki makna. Kamu bolehmenganggapnya berlebihan.Profesor Kazuo Ando (2009) dari Jepang dengan serius meneliti hubungan memengaruhiantara perangkat bajak (plough-device) sebagai perangkat teknologi (technology device)dengan penyebaran agama Budha Bengal Mahayana. Yang dilakukannya untuk menemukan fungsi sosial dari suatu devais teknologi dapat dijelaskan. Jika devaisteknologi melaksanakan fungsi tertentu bagi masyarakat, itu artinya devais teknologimelakukan aksi tertentu. Menemukan cara bekerjanya devais-teknologi itulah yangselanjutnya penting untuk dijelaskan agar penggunaannya dapat berguna bagipembangunan bangsanya. Kamu boleh juga menyebut itu berlebihan Bil, dan nyatanyawarga negara ini masih belum ada yang menjelaskan hubungan memengaruhi antara batik,tarian, cobet, kentongan, bakiak dengan nasionalisme dan negara Indonesia. Masih lebihpenting tertawa menonton dagelan daripada menemukan bagaiamana cara bekerjanyabatik, tarian (tentu saja cobet, kentongan dan bakiak) bagi nasionalisme, kehidupan negaradan tentunya pembangunan yang dilakukannya.
 
http://www.bagaskarakawuryan.wordpress.com
 
Bil, do artifacts have politics?, pertanyaan ini diajukan oleh Winner (1950). Artefak Bil,dapat diartikan sebagai “human made”, segala sesuatu yang keberadaannyamempersyaratkan adanya kehendak, dan aktivitas manusia (Sonny Yuliar, 2009). Artefak pada dasarnya salah satu fenomena teknologi yang berbentuk fisik (physical artifact),proses-proses yang terakomodir oleh suatu artefak selanjutnya dikatakan juga sebagaifenomena teknologi […], fenomena atau masalah atau gejala adalah sesuatu yang dapatkita lihat, alami dan rasakan dengan struktur dan perilaku juga proses saling memengaruhiantar strukturnya (Saswinadi Sasmojo, 2004).Sedangkan teknologi Bil (“techne” dan “logos”), merujuk kepada pengetahuan sejenis“craft” dan “art” yang manusia memiliki kesadaran akan watak sejati dari objek-objek pengetahuan atasnya (Mitcham, 1994). Ada beberapa persamaan definisi teknologi yangdisampaikan Mitcham dengan Plato dan Aristoteles yang mengarah kepada adanya objek-objek (artefak, mesin, sistem), aktivitas (penerapan sarana, metode, dan pengetahuanteknis), dan pengetahuan (pengetahuan praktis, penalaran). Selanjutnya Bil, kamu bisamengatakan kriya sebagai aktivitas tradisional untuk membuat sesuatu (making), membuatbatik, bakiak, cobet dan kentongan termasuk didalamnya. Sebab itu, kesemuanya disebutartefak teknologi, dan memiliki kemampuan bekerja di gelanggang kehidupan sosial-negara.Kajian yang dilakukan oleh Baker (2001) tentang program satelit Palapa pada tahun 1970-an menelusuri keterpautan antara satelit Palapa, stasiun televisi pemancar di Jakarta(Televisi Republik Indonesia), stasiun- stasiun transmisi, dan implementasi programtelevisi masuk desa (TVMD). Jumlah kepemilikan televisi per kepala keluarga saat itumeningkat pesat Bil, sedangkan kepemilikian saluran telepon per kepala keluarga nyaristidak berubah. Dengan demikian Bil, rancangan dan konstruksi sistem telekomunikasimemberlakukan komunikasi berpola satu-titik kebanyak-titik, dengan aliran informasi daripusat (Jakarta) ke periferi (seluruh daerah di Indonesia). Sementara itu komunikasi antardaerah yang memungkinkan terjadinya komunikasi lintas budaya tidak terfasilitasi denganmemadai. Sebagai mahasiswa ilmu komunikasi, tentunya kamu bisa mengukur kadarkesehatan komunikasinya bukan Bil?.Satelit Palapa, stasiun pemancar dan transmisi, televisi dan telepon merupakan artefak teknologi Bil, sama halnya dengan batik, cobet, bakiak dan kentongan. Demikian pula jembatan Suramadu yang menghubungkan Jawa sebagai pusat pemerintahan Indonesiadengan kepulauan lainnya di Indonesia bagian timur melalui transportasi alih modapelabuhan di pulau Madura. Kenapa Suramadu dibangun menghubungkan Jawa danMadura Bil?, apa sebab Jawa sudah mulai kehabisan resource, sehingga Suramadumemediasi kebutuhan ekspansi sumber daya ke timur Indonesia Bil?. Apakah kebutuhanIndonesia timur memiliki kebutuhan yang sama dengan Jawa sehingga Suramadu layak dibangun?. Pertanyaan-pertanyaan yang menarik untuk dijejaki jawabannya berkenaandengan bagaiamana Suramadu sebagai artefak teknologi bekerja di gelanggang politik.Kamu bisa mengambil kasus yang sama dari keberadaan artefak tembok berlin, tembok china, jalan tol pasopati, rute angkutan kota yang menghantarkan kamu ke kampus,privatisasi jalan Braga, kebijakan three in one di Jakarta atau bahkan tulisan “WC Dosen”dan “WC mahasiswa” di kampusmu Bil. Lihatlah bagaiamana cemerlangnya devaisteknologi bekerja, dan kecerdasan manusia menggunakannya.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...