2dan debirokratisasi nampaknya telah memberikan kelonggaran bagi berlangsungnyaunsur tersebut.
4
Kebijaksanaan pemerintah tersebut, sebenarnya cukup beralasan.Dawam Rahardjo dalam " Pragmatisme dan Utopia"-nya, mensiyalir bahwa Indonesiamemang berada dalam kondisi
dilematis.
Pemerintah, menurutnya, berada dalam 2kecenderungan, yakni
kecenderungan pragmati
s, dalam arti mengikuti perkembanganekonomi dunia saat ini, dan kecenderungan untuk berpegang teguh pada prinsip yangsudah ditetapkan oleh para ekonom Indonesia, seperti Moh. Hatta, yang
nota bene
terpengaruh konsep Pancasila sebagai ideologi dan UUD 1945 --terutama pasal 33--yang kemudian terbentuk sistem ekonomi Pancasila sebagai alternatif sistemperekonomian Indonesia.
5
Terhadap fenomena ini, banyak kalangan pemerhati ekonomi menyayangkandan mengajukan keberatan-keberatan terhadap kebijakan yang telah ditetapkanpemerintah itu. Frans Seda misalnya, mengatakan bahwa betapapun telah dilakukanderegulasi, debirokratisasi, meningkatkan efisiensi, produktifitas, dan daya saing itusemua merupakan suatu keharusan, suatu
necessity
, tetapi tidak mencukupi (notsufficient) untuk menghadapi globalisasi yang telah menggoyang dan masuk kedalam seluruh tubuh politik, ekonomi, dan sosial bangsa dan negara kita.
6
Dengan demikian, berlangsungnya ekonomi pasar bebas di Indonesia, sepertihalnya di negara berkembang lainnya, akan mengalami benturan dengan sistem
4
Faisal H. Basri, "Indonesia dan Blok-blok Dagang", (
SINTESIS
; Jurnal BulananCIDES), N0. 08, tahun 2, Januari-Februari 1994, h. 44
5
Dawam,
op. cit.
, h. 16
6
Frans Seda, "Relevansi Pemikiran Bung Hatta dalam Era Globalisasi", dalam
Pemikiran Pembangunan Bung Hatta
, Kumpulan tulisan, (Jakarta: LP3ES, 1995), h.143