Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
86Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
PLURALISME AGAMA DAN DIALOG

PLURALISME AGAMA DAN DIALOG

Ratings:

4.56

(18)
|Views: 9,383 |Likes:
Published by sgrsihombing
Agama-agama dalam tantangan agar dapat saling bekerjasama dalam konteks Indonesia yang majemuk sehingga kedamaian menjadi kenyataan faktual.
Agama-agama dalam tantangan agar dapat saling bekerjasama dalam konteks Indonesia yang majemuk sehingga kedamaian menjadi kenyataan faktual.

More info:

Published by: sgrsihombing on Feb 25, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/11/2013

pdf

text

original

 
PLURALISME AGAMA DAN DIALOG:Perspektif dan relevansinya dalam membangun kehidupan bersesamasecara damai dalam konteks majemuk Indonesia.Pengantar 
Pluralitas agama sekarang ini telah menjadi suatu keniscayaan dan men-desak agama-agama, termasuk kekristenan untuk menghadapi dan mengubahparadigma teologinya. Semua agama menurut Eka Darmaputera, tidak hanyadidesak untuk memikirkan sikap praktis untuk bergaul dengan agama yang lain,tetapi juga didesak untuk memahami secara teologis apakah makna kehadiranagama-agama dan kepercayaan-kepercayaan yang lain itu
1
. Mengembangkanteologi agama-agama bukan tanpa kesulitan dan resiko. Tantangan internalnyaadalah teologi tradisional (Barat) yang berakar kuat dalam gereja serta resistensifundamentalisme kristen. Secara eksternal, pluralisme agama dicurigai sebagaimisi terselubung kekristenan untuk mempertobatkan yang lain dan sekaliguskeengganan mengakui bahwa kebenaran agamanya relatif. Sikap penolakanterang-terangan terhadap pluralisme agama dilakukan Majelis Ulama Indonesia(MUI) lewat fatwa hasil Munas VII tahun 2005, karena paham ini bertentangandengan ajaran Islam
2
.
1
Eka Darmaputera, “Prediksi dan proyeksi isu-isu teologis pada dasawarsa sembilanpuluhan:Sebuah introduksi”, dalam Soetarman SP, dkk.,
Fundamentalisme, Agama-agama danTeknologi 
, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), hlm. 14-15.
2
 
Kompas
28 Juli 2005.
 
Sekalipun muncul kecurigaan, perlawanan dan penolakan terhadappentingnya pluralisme agama dan dialog bukan berarti sikap demikian disetujui danmenyurutkan tekad mengembangkan pluralisme agama dan dialog. Makalah iniberusaha mendeskripsikan dan menganalisis sejauh mana relasi kekristenandengan agama-agama lain, khususnya agama Islam. Benarkah gereja telah danmasih bersikap superioritas terhadap agama-agama lain sampai sekarang ataumemang dalam tubuh gereja sudah terjadi perubahan sikap mendasar? Bukantidak mungkin jika ditelisik lebih jauh, dalam kekristenan sendiri tidak terdapatkesatuan dalam menyikapi pluralisme agama.Selanjutnya, bagaimana sebenarnya kekristenan mengatasi kebenaranmutlaknya saat berjumpa dengan agama-agama lain serta mencari titik temusehingga kehadiran agama-agama bukan sebagai sumber masalah bangsa
(problem maker)
, tetapi sebagai pemberi solusi atas masalah-masalah sosial yangmuncul
(problem solver)? 
Lebih jauh lagi, sejauh mana pluralisme agamamemberi ruang pada partikularitas atau keunikan dari masing-masing agama dantujuan-tujuan semacam apakah yang hendak dicapai dalam dialog.Akhirnya pada bagian refleksi, penulis mengutarakan pentingnya pluralismeagama dan dialog untuk dikembangkan guna menanggulangi masalahkemanusiaan kontemporer, menghadirkan kedamaian dan sekaligus dapat salingmemperkaya kehidupan beriman dalam konteks majemuk Indonesia.
2
 
Superioritas keagamaan
Kekristenan dapat dikatakan berkembang di Eropa dengan bungkuskebudayaan Barat dan menganggap agama-agama bukan Kristen di Asia lebihrendah nilainya dibanding-kan agama Kristen, sehingga tidak perlu dipertim-bangkan. Orang Kristen (Barat) menanggung beban khusus untuk membawaterang ke dalam dunia gelap
3
. Para misionaris telah didoktrin sedemikian rupauntuk memberangus kekafiran dalam agama-agama lain dan menyelamatkan jiwa- jiwa mereka bagi Kristus.Misionaris Kristen ibarat dokter yang mendatangi pasiennya yang sedangsakit (penganut agama-agama lain)
4
. Secara khusus, umat Islam dianggap ”orangsesat yang dihormati” kemudian menjadi ”orang sesat yang tidak disegani”. Ketika jalan perang dinilai tidak memadai untuk memantapkan penjajahan, studi intensif dilakukan dan umat Islam dianggap ”penganut agama terbelakang” yang perludiperadabkan
5
. Mentalitas perang salib, mengakibatkan umat Islam dipandangsebagai musuh yang harus ditaklukkan; dan penaklukkan yang paling efektif adalahdengan mengkristenkan mereka
6
.
3
Einar M. Sitompul,
Gereja menyikapi perubahan
, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004),hlm. 4.
4
Paul F. Knitter,
Satu Bumi Banyak Agma: Dialog multi-agama dan tanggungjawabglobal 
, diterjemahan oleh Nico A. Likumahuwa, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003),hlm. 4-5
5
Einar M. Sitompul,
Ibid.
, hlm. 5
6
Jan S. Aritonang, “Sejarah Perjumpaan Gereja dan Islam di Indonesia”, dalamPanitia Penerbitan Buku Kenangan Prof. Dr. Olaf Herbert Schumann, Balitbang PGI,
 Agama dan Dialog: Pencerahan, Pendamaian dan Masa depan. Punjung tulis 60 tahunProf. Dr. Olaf Herbert Schumann
, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), hlm. 182.3

Activity (86)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Maryani Ani liked this
Lilis Wahyunisa liked this
Mey Chan liked this
Rini Oh Rini liked this
Landy Raditya liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->