Superioritas keagamaan
Kekristenan dapat dikatakan berkembang di Eropa dengan bungkuskebudayaan Barat dan menganggap agama-agama bukan Kristen di Asia lebihrendah nilainya dibanding-kan agama Kristen, sehingga tidak perlu dipertim-bangkan. Orang Kristen (Barat) menanggung beban khusus untuk membawaterang ke dalam dunia gelap
. Para misionaris telah didoktrin sedemikian rupauntuk memberangus kekafiran dalam agama-agama lain dan menyelamatkan jiwa- jiwa mereka bagi Kristus.Misionaris Kristen ibarat dokter yang mendatangi pasiennya yang sedangsakit (penganut agama-agama lain)
. Secara khusus, umat Islam dianggap ”orangsesat yang dihormati” kemudian menjadi ”orang sesat yang tidak disegani”. Ketika jalan perang dinilai tidak memadai untuk memantapkan penjajahan, studi intensif dilakukan dan umat Islam dianggap ”penganut agama terbelakang” yang perludiperadabkan
. Mentalitas perang salib, mengakibatkan umat Islam dipandangsebagai musuh yang harus ditaklukkan; dan penaklukkan yang paling efektif adalahdengan mengkristenkan mereka
.
3
Einar M. Sitompul,
Gereja menyikapi perubahan
, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004),hlm. 4.
4
Paul F. Knitter,
Satu Bumi Banyak Agma: Dialog multi-agama dan tanggungjawabglobal
, diterjemahan oleh Nico A. Likumahuwa, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003),hlm. 4-5
5
Einar M. Sitompul,
Ibid.
, hlm. 5
6
Jan S. Aritonang, “Sejarah Perjumpaan Gereja dan Islam di Indonesia”, dalamPanitia Penerbitan Buku Kenangan Prof. Dr. Olaf Herbert Schumann, Balitbang PGI,
Agama dan Dialog: Pencerahan, Pendamaian dan Masa depan. Punjung tulis 60 tahunProf. Dr. Olaf Herbert Schumann
, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), hlm. 182.3
Leave a Comment
Pluralisme agama is ok..