Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
25Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Jual Beli Islam

Jual Beli Islam

Ratings: (0)|Views: 1,306 |Likes:
Published by Dimas Aris Shera

More info:

Published by: Dimas Aris Shera on Oct 27, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/27/2012

pdf

text

original

 
Jual Beli Dalam Pandangan Islam Ditulis oleh Muhammad Imaduddin*Islam melihat konsep jual beli itu sebagai suatu alat untuk menjadikan manusia itu semakin dewasadalam berpola pikir dan melakukan berbagai aktivitas, termasuk aktivitas ekonomi. Pasar sebagaitempat aktivitas jual beli harus, dijadikan sebagai tempat pelatihan yang tepat bagi manusia sebagaikhalifah di muka bumi. Maka sebenarnya jual beli dalam Islam merupakan wadah untuk memproduksikhalifah-khalifah yang tangguh di muka bumi.
Jual Beli Dalam Pandangan Islam
Oleh: Muhammad Imaduddin*Dalam Qur’an Surat Al Baqoroh ayat 275, Allah menegaskan bahwa: “...
 Allah menghalalkan jual belidan mengharamkan riba...”
. Hal yang menarik dari ayat tersebut adalah adanya pelarangan riba yangdidahului oleh penghalalan jual beli. Jual beli (
trade
) adalah bentuk dasar dari kegiatan ekonomimanusia. Kita mengetahui bahwa pasar tercipta oleh adanya transaksi dari jual beli. Pasar dapat timbulmanakala terdapat penjual yang menawarkan barang maupun jasa untuk dijual kepada pembeli. Darikonsep sederhana tersebut lahirlah sebuah aktivitas ekonomi yang kemudian berkembang menjadisuatu sistem perekonomian.Pertanyaannya kini adalah, seperti apakah konsep jual beli tersebut yang dibolehkan dan sesuai denganpandangan Islam? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka kita perlu melihat batasan-batasandalam melakukan aktivitas jual beli. Al-Omar dan Abdel-Haq (1996) menjelaskan perlu adanyakejelasan dari obyek yang akan dijualbelikan. Kejelasan tersebut paling tidak harus memenuhi empathal. Pertama, mereka menjelaskan tentang
lawfulness
. Artinya, barang tersebut dibolehkan oleh syariahIslam. Barang tersebut harus benar-benar halal dan jauh dari unsur-unsur yang diharamkan oleh Allah.Tidak boleh menjual barang atau jasa yang haram dan merusak. Kedua, masalah
existence
. Obyek daribarang tersebut harus benar-benar nyata dan bukan tipuan. Barang tersebut memang benar-benarbermanfaat dengan wujud yang tetap. Ketiga,
delivery
. Artinya harus ada kepastian pengiriman dandistribusi yang tepat. Ketepatan waktu menjadi hal yang penting disini. Dan terakhir, adalah
 precisedetermination
. Kualitas dan nilai yang dijual itu harus sesuai dan melekat dengan barang yang akandiperjualbelikan. Tidak diperbolehkan menjual barang yang tidak sesuai dengan apa yangdiinformasikan pada saat promosi dan iklan.Dari keempat batasan obyek barang tersebut kemudian kita perlu melihat bagaimanakah konsepkepemilikan suatu produk dalam Islam. Al-Omar dan Abdel-Haq (1996) juga menjelaskan bahwakonsep kepemilikan barang itu adalah mutlak milik Allah (QS 24:33 dan 57:7). Semua yang ada didarat, laut, udara, dan seluruh alam semesta adalah kepunyaan Allah. Manusia ditugaskan oleh Allahsebagai
khalifah
untuk mengelola seluruh harta milik Allah tersebut dan kepemilikan barang-barangyang menyangkut hajat hidup harus dikelola secara kolektif dengan penuh kejujuran dan keadilan.Islam melihat konsep jual beli itu sebagai suatu alat untuk menjadikan manusia itu semakin dewasadalam berpola pikir dan melakukan berbagai aktivitas, termasuk aktivitas ekonomi. Pasar sebagaitempat aktivitas jual beli harus, dijadikan sebagai tempat pelatihan yang tepat bagi manusia sebagaikhalifah di muka bumi. Maka sebenarnya jual beli dalam Islam merupakan wadah untuk memproduksikhalifah-khalifah yang tangguh di muka bumi. Abdurrahman bin Auf adalah salah satu contoh sahabatnabi yang lahir sebagai seorang mukmin yang tangguh berkat hasil pendidikan di pasar. Beliau menjadisalah satu orang kaya yang amanah dan juga memiliki kepribadian ihsan.
 
Lalu bagaimana menciptakan sistem jual beli yang dapat melahirkan khalifah-khalifah yang tangguh?Ada beberapa langkah yang bisa kita praktekkan sedini mungkin. Langkah tersebut antara lain denganmelatih kejujuran diri kita. Latihlah menjadi orang jujur dari hal-hal yang kecil. Rasulullah selalumempraktekkan kejujuran, termasuk ketika melakukan aktivitas jual beli. Beliau selalu menjelaskankualitas yang sebenarnya dari barang yang dijual dan tidak pernah memainkan takaran timbangan.Selain melatih kejujuran, kita juga harus mampu memanfaatkan peluang bisnis yang ada. Tidak menjadi orang yang
latah
melihat kesuksesan dari bisnis pihak lain. Kita harus mampu sabar dantawakkal dengan disertai ikhtiar yang optimal dalam melihat peluang yang tepat dalam melakukanaktivitas bisnis. Langkah lainnya adalah dengan menciptakan distribusi yang tepat melalui zakat, infak,dan shadaqah. Aktivitas jual beli harus mampu melatih kita untuk menjadi orang yang pemurah dansenantiasa berbagi dengan sesama. Zakat, infak, dan shadaqah adalah media yang tepat untuk membangun hal tersebut.Konsep jual beli dalam Islam diharapkan menjadi cikal bakal dari sebuah sistem pasar yang tepat dansesuai dengan alam bisnis. Sistem pasar yang tepat akan menciptakan sistem perekonomian yang tepatpula. Maka, jika kita ingin menciptakan suatu sistem perekonomian yang tepat, kita harus membangunsuatu sistem jual beli yang sesuai dengan kaidah syariah Islam yang dapat melahirkan khalifah-khalifahyang tangguh di muka bumi ini. Hal tersebut dapat tercipta dengan adanya kerjasama antara seluruhelemen yang ada di pasar, yang disertai dengan kerja keras, kejujuran dan mampu melihat peluangyang tepat dalam membangun bisnis yang dapat berkembang dengan pesat.
Wallahu ‘alamu bishowab.
Keterangan:
Penulis adalah Mahasiswa S2 Islamic Banking, Finance, and Management di Markfield Institute of Higher Education (MIHE), Markfield, Leicestershire, Inggris.
Referensi:
Al-Omar, Fuad. dan Abdel-Haq, Mohammed. 1996.
 Islamic Banking. Theory, Practise, and Challenges
. Karachi: Oxford University Press.
 
Posted Juni 27, 2007MediaMuslim.Info – Persyaratan dalam transaksi jual-beli sering kali ditemukan. Terkadang orang-orang yang berjual beli atau salah satu dari keduanya membutuhkan adanya satu pensyaratan atau lebih,maka hal ini menunjukan pentingnya membahas tentang syarat-syarat tersebut dan menjelaskan apayang sah dan tidak sah serta yang wajib dalam syarat jual beli.Para Fuqaha
rahimahumullah
mereka mendefinisikan syarat dalam jual beli yaitu salah satu dari yangberjual beli mewajibkan kepada yang lainnya dengan sebab akad yang mengandung manfaat. Menurutmereka syarat dalam jual beli tidaklah teranggap untuk dilakukan kecuali jika disyaratkan pada saatakad. Maka tidak sah syarat sebelum atau setelah akad.
Syarat Jual Beli
Syarat dalam jual beli terbagai ke dalam dua :1. Syarat yang sah2. Syarat yang rusak (tidak sah)
Pertama: Syarat yang sah adalah syarat yang tidak bertentangan dengan konsekuensi akad
Syarat semacam ini harus dilaksanakan karena sabda Rasululloh
shallahllahu ‘alaihi wasallam
, yangartinya:
”Orang-orang muslim itu berada di atas syarat-syaratmereka.”
(Hadits Hasan Sahih dalamSahih Abu Dawud No. 2062)Dan karena pada asalnya syarat-syarat itu sah kecuali jika dibatalkan dan dilarang oleh Syariat Islam.
Syarat jual-beli yang sahih mempunyai dua macam:1. Syarat untuk kemaslahatan akad.
Yaitu syarat yang akan menguatkan akad dan akan memberikan maslahat bagi orang yang memberikansyarat, seperti disyaratkannya adanya dokumen dalam pegadaian atau disyaratkannya jaminan, halseperti ini akan menenangkan penjual. Dan juga seperti disyaratkannya menunda harga atau sebagianharga sampai waktu tertentu, maka ini akan berfaedah bagi si pembeli. Apabila masing-masing pihak menjalankan syarat ini maka jual beli itu harus dilakukan, demikian pula kalau seorang pembelimensyaratkan barang dengan suatu sifat tertentu seperti keadaanya harus dari jenis yang baik, atau dariproduk si A, karena selera berbeda-beda mengikuti keadaan dari barang tersebut.Apabila syarat barang yang dijual telah terpenuhi maka wajiblah menjualnya. Akan tetapi jika syarattersebut tidak sesuai dengan yang dikehendaki, maka bagi pembeli berhak untuk membatalkan ataumengambilnya dengan meminta ganti rugi dari syarat yang hilang (yaitu dengan menuntut harga yanglebih murah, pent), dan juga pembeli bersedia membayar adanya perbedaan dua harga jika si penjualmemintanya (dengan harga yang lebih tinggi jika barangnya melebihihi syarat yang diminta, pent)
2. Syarat yang sah dalam jual beli.
Yaitu seorang yang berakad mensyaratkan terhadap yang lainnya untuk saling memberikan manfaatyang mubah dalam jual beli, seperti penjual mensyaratkan menempati tempat penjualan selama waktutertentu, atau dibawa oleh kendaraan atau hewan jualannya sampai ke suatu tempat tertentu.Sebagaimana riwayat Jabir
radhiyallahu anhu
bahwa, yang artinya:
“Nabi shalallahu ‘alaihi wasallammenjual seekor unta dan mesyaratkan menungganginya sampai ke Madinah”
(Mutafaq ‘alaihi).

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->