Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Mengapa Yesus Disunat, Kita Tidak? - By Stefanus Tay & Ingrid Tay

Mengapa Yesus Disunat, Kita Tidak? - By Stefanus Tay & Ingrid Tay

Ratings: (0)|Views: 2|Likes:
Published by Gilbert Hanz
Ia dilahirkan oleh seorang perempuan, dilahirkan dari yang takluk kepada hukum Taurat, untuk membebaskan mereka yang takluk kepada hukum Taurat, sehingga kita dapat diangkat menjadi anak-anak Allah.
Ia dilahirkan oleh seorang perempuan, dilahirkan dari yang takluk kepada hukum Taurat, untuk membebaskan mereka yang takluk kepada hukum Taurat, sehingga kita dapat diangkat menjadi anak-anak Allah.

More info:

Published by: Gilbert Hanz on Apr 12, 2014
Copyright:Attribution Non-commercial Share Alike

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/10/2014

pdf

text

original

 
Mengapa Yesus disunat, kita tidak?
Stefanus Tay & Ingrid Tay
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Ada pertanyaan yang menarik. Kalau Yesus disunat, mengapa kemudian sunat tidak menjadi keharusan bagi pengikut-Nya? Dari definisinya, sunat (
circumcisio
)
mengacu kepada ‘pemotongan’, yaitu secara khusus pada pemotongan kulit
penis. Jika kita mempelajari tulisan ahli sejarah Herodotus maka kita ketahui bahwa bukan hanya bangsa Yahudi saja yang mengenal tradisi sunat ini, melainkan juga bangsa Mesir, Kolkian dan Etiopian, dan kemudian kita ketahui bahwa tradisi ini menjadi bagian dari tradisi kaum muslim.
Namun bagi kita, umat Kristiani, kitapun perlu mengetahui makna “sunat” ini, agar
kita semakin dapat menghayati iman kita:
1. Sunat dalam Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama (PL), kita mengetahui sunat pertama kali disyaratkan oleh Allah kepada Abraham sebagai tanda perjanjian antara Allah dengan Abraham dan keturunannya, sehingga sunat dilakukan terhadap semua anak laki-laki pada saat anak tersebut berusia 8 hari (lih. Kej 17:11-12). Tradisi sunat ini dilanjutkan di  jaman Nabi Musa (lih. Im 12:3, Kel 12:48), Yoshua (Yos 5:2) dan tradisi ini dilaksanakan seterusnya sampai pada jaman Yudas Makabe (167-160 BC) meskipun di tengah tekanan para penguasa (lih. 2 Mak 6:10); dan sampai juga ke jaman Yesus Kristus. Alkitab mencatat bahwa ketika Yesus genap berumur 8 hari, Bunda Maria dan St. Yusuf membawa-Nya ke Bait Allah untuk disunat dan diberi nama Yesus (lih. Luk 2:21).
 
2. Sunat menjadi tradisi Yahudi
Maka kita melihat dengan obyektif di sini bahwa Yesus disunat karena pengaruh tradisi Yahudi, sebab Ia dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Ia dilahirkan oleh seorang perempuan, dilahirkan dari yang takluk kepada hukum Taurat, untuk membebaskan mereka yang takluk kepada hukum Taurat, sehingga kita dapat diangkat menjadi anak-anak Allah. Ini dimungkinkan karena Allah telah mengirimkan Roh Kudus-Nya ke dalam hati kita sehingga kita dapat memanggil
Allah sebagai “Bapa” (lih. Gal 4:4
-6). Diutusnya Roh Kudus ke dalam hati kita terjadi pada waktu Pembaptisan, di mana
melaluinya kita “dilahirkan kembali dalam air dan Roh” (Yoh 3:5). Kelahiran kembali ini ditandai dengan “menanggalkan manusia lama berserta segala hawa nafsunya …dan mengenakan manusia baru di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Ef 4:22
-
24). Maka inilah makna “sunat” ya
ng baru, yang tidak lagi berupa penanggalan/ pemotongan kulit lahiriah, tetapi
penanggalan hawa nafsu dan dosa dan mengenakan hidup yang baru di dalam Roh Kudus
.
3. Yang ditekankan Yesus: sunat rohani
Jadi sebenarnya yang ingin ditekankan Yesus adalah dime
nsi spiritual dari “sunat”
seperti yang sebelumnya telah diajarkan dalam PL, bahwa yang terlebih utama adalah
sunat hati/ rohani
(Ul 10:16 dan 30:6, Yer 4:4, 9:25-26). Seperti juga Yesus mengajarkan bahwa yang terpenting bukan apa yang terlihat dari luar, tetapi yang ada di dalam hati; bukan menerapkan hukum supaya terlihat baik dari luar, namun agar kita melakukan keadilan, belas kasihan dan kesetiaan (lih. Mat 23:5, 23) Maka Rasul Paulus mengajarkan:
 “Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak
 keyahudiannya dan sunat ialah
sunat di dalam hati, secara rohani,
 bukan secara hurufiah. Maka pujian
baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.” (Rom 2:29).
 
 “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia,
tetapi
dengan sunat Kristus
, yang terdiri dari
penanggalan tubuh yang berdosa
, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang m
ati.” (Kol 2:12)
 
Maka di sini “sunat lahiriah” tidak menjadi hukum utama bagi seseorang untuk menjadi anggota bangsa pilihan Allah, tetapi “sunat rohaniah” yang adalah
Pembaptisan berdasarkan iman akan Allah Tritunggal yang telah mengutus Yesus Kristus Putera-Nya untuk menyelamatkan manusia.
 
4. Para rasul mengikuti ajaran Yesus, juga mengajarkan sunat rohani
Para Rasul mengajarkan berdasarkan pengajaran Tuhan Yesus sendiri adalah: bahwa yang terpenting adalah sunat rohani, dan bukanlah sunat badani. Oleh sunat rohani, yaitu iman akan Yesus Kristus inilah, maka seseorang diselamatkan, dan bukan karena memenuhi hukum sunat lahiriah menurut hukum Taurat. Rasul Paulus mengajarkan:
 “Kamu tahu, bahwa
tidak
 
seorangpun yang dibenarkan
 
oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi
 
hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus.
Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan
hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorangpun yang dibenarkan
oleh karena
melakukan hukum Taurat.” (Gal 2:16)
 
5. Sunat menurut Bapa Gereja
Berikut ini beberapa kutipan ajaran Bapa Gereja abad-abad awal tentang sunat yang merupakan tanda akan penggenapannya dalam Baptisan, yang dilestarikan oleh Gereja Katolik:
1. St. Yustinus Martir (155)
 “Karena itu, bejana pertobatan dan pengetahuan akan Tuhan ini yang ditetapkan
karena pelanggaran umat Tuhan, sebagaimana diserukan oleh Nabi Yesaya, telah kita imani dan saksikan bahwa Baptisan yang diwartakan-Nya itulah saja yang dapat memurnikan orang-
orang yang telah bertobat; dan ini adalah air kehidupan…..
Sebab apakah gunanya baptisan itu [sunat] yang hanya membersihkan daging dan tubuh saja? Baptislah jiwa dari kemarahan dan dari dengki dan iri hati, dan dari kebencian; dan lih
atlah! Tubuh menjadi murni…. Tapi kamu telah memahami segala
sesuatunya secara jasmani, dan kamu pikir itu adalah kesalehan jika kamu berbuat demikian, sementara jiwamu dipenuhi dengan tipu daya dan singkatnya, dalam
setiap kejahatan….” (
Dialogue with Trypho
, ch. 14).
 “Dan Nabi Musa menyatakan bahwa Tuhan sendiri bersabda: “Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk…” (Ul 10:16, lih. Im 26:40
-41). Sebab sunat jasmani sejak Nabi Abraham, diberikan sebagai sebuah tanda; bahwa kamu dipisahkan dari bangsa-bangsa lain, dan dari kami; dan bahwa kamu sendiri
dapat menderita menanggung apa yang sekarang secara adil kamu tanggung … dan bahwa tak seorangpun dari kamu dapat pergi ke Yerusalem…. * Semua ini terjadi
atasmu dengan setimpal dan adil, sebab kamu telah menganiaya Sang Keadilan, dan para nabi-Nya sebelumnya; dan sekarang kamu menolak mereka yang berharap kepada-Nya dan di dalam Dia yang mengutus-Nya
 yaitu Tuhan yang Mahabesar Pencipta segala sesuatu- dengan mengutuk di dalam sinagoga-sinagoga, mereka

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->