• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Seorang penghayal duduk manis di samping sebuah jendela berukuran tidak lebihdari 1 X 2 meter. Sambil menikmati hangatnya cafeein yang ia masukan kedalam sebuahmug porselin putih bergagang, ia melihat seekor burung pipit hinggap dan menghampirisarangnya di sebuah pohon mangga yang berada di halaman depan rumahnya.Burung itu dengan penuh perhatian membawakan beras muda yang sengaja ia bawakan untuk anak – anaknya. Setelah tidak lama memberikan setiap anaknya berasmuda kemudian ia terbang lagi, dan tak lama berselang burung itu datang lagi denganmembawa beras muda yang baru dan ia berikan kembali kesetiap anaknya tanpa iamelupakan satupun, kemudian ia terbang kembali dan membawa beras muda lagi dan iamelakukannya terus menerus.Kemudian si penghayal melihat di sudut sebelah jalan utama dimana setiap orangmelakukan aktivitasnya, seorang lelaki tua menarik gerobak lusuh yang penuh dengantumpukan sampah – sampah yang ia kumpulkan dari setiap rumah di daerah itu. Sengatanmentari dan buaian debu jalanan tidak menghalangi kakinya untuk melangkah pasti.Tepat di depan lelaki tua itu terlihat sepasang muda mudi yang nampaknya sedang berjalan-jalan dengan penuh canda tawa. Sesekali telihat saling menatap penuhkekaguman, dan seakan waktu berhenti sesaat bagi mereka berdua. Terlihat jelas dariwajah mereka sinar kebahagiaan yang tidak awam bagi si penghayal.Kini si penghayal menyipitkan mata, tepat ke ujung kota kecil yang ia singgahi.Disana terlihat hamparan sawah yang menghijau, dan nampak seorang petani yangsedang berdiri tegak dengan tangan di pinggang, ia terlihat sedang mengawasi sesuatu disekitar sawahnya.Setelah menghela napas panjang si penghayal pun mereguk minuman bercafeeinitu dengan mantap. Kemudian ia berpikir tentang apa yang ia lihat barusan. Latihan apayang telah burung pipit itu lakukan sehingga sepasang sayap kecilnya itu tanpa letih terusmengepak dan membawa pemiliknya terbang kesana kemari dan memberikan anak– anaknya sedikit beras muda? Kekuatan apa yang lelaki tua itu miliki sehingga ia mampumenarik gerobak lusuh yang dipenuhi tumpukan sampah dan melangkahkan kakinyadengan pasti?Apa yang membuat sepasang muda mudi tersebut penuh canda tawa, sehinggawaktu serasa berhenti untuk mereka berdua? Lalu sinar kebahagiaan darimana?seakan iamengenalnya….Dengan mereguk kembali minuman bercafeeinnya ia pun mengerti satu hal daridua kejadian yang ia lihat. Burung pipit dan lelaki tua itu mengajarkannya akan sebuah“cinta”. Bukan latihan yang telah burung itu lakukan, tapi cinta kepada anak –anaknyalah yang memberikan keyakinan sepasang sayapnya untuk senantiasa mengepak danmembawa kemana pun burung itu mau. Bukan kekuatan apa yang lelaki tua itu milikiakan tetapi cinta terhadap dirinya sendiri lah yang telah memberikan ia kepastian hiduphingga ia mampu melangkahkan kakinya dengan pasti.Si penghayal pun menyadari betapa besar arti sebuah “cinta”. Jika bukan karenacinta, seorang ibu muda yang biasanya masih terlelap dalam tidurnya ditengah malamharus bangun dengan tanpa penyesalan karena tangisan anaknya. Jika bukan karena cintaseorang yang penakut dan penghianat menjadi seorang yang pemberani dan setia karenaseorang gadis cantik yang ia sukai tersenyum kepadanya. Jika bukan karena cinta seorangkolektor barang barang antik tidak akan mengeluarkan uang berjuta-juta bahkan lebihuntuk sebuah lukisan kuno yang ia anggap begitu indah dan berharga.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...