topang oleh idelogi pencak silat yang di olah kebatinan kejawen yang sangatfamiliar dalam kehidupan sehari–hari. Implikasinya kelompok silat menjadi suatuyang integral dalam kehidupan masyarakat dan masyarakat juga ikutmelestarikan konflik di sebabkan tingkat partisipasinya dalam kelompok silatsangat tinggi. Hadirnya kelompok silat dalam masyrakat agraris adalah sebuahmedia sosial untuk melepaskan rutinitas sehari –hari dan sebagai pelepastekanan kemiskinan yang sering di derita masyarakat petani. Partisipasimasyarakat yang tinggi dalam kelompok silat dan di barengi sentimen ideologisyang kuat dan cenderung emosional dalam bertindak seringkali di manfaatkanoleh kelompok kepentingan yaitu oleh para politisi lokal untuk mendukung parpolyang di pimpinnya.Fenomena tersebut bisa di lihat Mantan Bupati Ponorogo Markum padatahun 1998 lalu bergabung menjadi anggota kehormatan SH Terate. Makakelompok silat yang jumlahnya ribuan sangat potensial untuk mendukungkepentingan parpol tertentu. Hadirnya nuansa politisasi dalam sebuah organisasisilat yang menambah rantai konflik semakin panjang dan sangat sulit untuk diselesaikan. Pertarungan eksistensi antara SH Winongo dan SH Terate jugaberimbas pada perekutan anggota sebanyak–banyaknya. Dalammemperebutkan anggota juga sebagai perebutan basis ekonomi. Hasil Penelitianyang di lakukan oleh
E. Probo
dia mengambil contoh SH Terate (
2002 :6 makalah diskusi
), untuk satu kali pelantikan setiap bulan Sura (bulan pertamadalam kalender Jawa), Terate melakukan pelantikan sejumlah 1000-2000anggota baru, jika satu anggota membayar 700 ribu rupiah, maka uang yangakan masuk ke organisasi dalam satu tahun adalah 700 juta hingga 1,4 milyar rupiah!!! Jumlah yang fantastis. Ini menarik sekali, sebuah organisasi silatdengan jumlah anggota 35.000 orang dan pemasukan 700 juta hingga 1,4 milyar rupiah per tahun. Maka bila salah satu perguruan silat menguasai satu daerahmaka dengan sekuat tenaga akan mempertahankan, karena di situlah eksitensisebuah perguruan silat di pertaruhkan di lain itu mereka juga tidak maukehilangan basis ekonominya.
C. ANALISA