Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
43Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
JURNAL EKONOMI RAKYAT

JURNAL EKONOMI RAKYAT

Ratings: (0)|Views: 4,130 |Likes:

More info:

Published by: Iin Mochamad Solihin on Oct 31, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2012

pdf

text

original

 
Artikel - Pemikiran Mubyarto - Juli 2007]
M. Husein Sawit 
USULAN KEBIJAKAN BERAS DARI BANK DUNIA: RESEP YANGKELIRU
 
ABSTRAK 
 Kebijakan perberasan Indonesia telah menjadi perhatian buat sejumlah lembagainternasional, seperti Bank Dunia. Lembaga ini telah lama mengeritik danmenintervensi sejumlah kebijakan pembangunan ekonomi, termasuk kebijakan perberasan. Tampaknya, kelakuan Bank Dunia belum banyak berubah di eradesentralisasi dan demokrasi. Seharusnya yang diberi peran besar adalahmasyarakat sipil, partai politik, DPR/DRPD, Pemda, dan peneliti dalam merancang kebijakan publik. Itu bukan lagi menjadi domain peneliti, apalagi ahli asing. Dalammakalah ini dibahas tentang kelemahan cara pandang Bank Dunia terhadapkebijakan beras di Indonesia, terutama yang dikaitkan dengan kemiskinan. Kelemahan itu mencakup pengukuran kemiskinan yang terlalu sempit, dan bias jangka pendek, bukan melihat kemiskinan manusia yang bersifat struktural dankronis. Hampir tidak pernah dijumpai dalam literatur ekonomi pembangunan, bahwakemiskinan di negera-negara berkembang dapat diatasi dengan memurahkan pangan. Itu konsep pengentasan kemiskinan yang keliru. Yang benar adalah gerakan sektor riil, ciptakan lapangan kerja, serta tingkatkan produktivitas terutama di sektor  pertanian di mana penduduk miskin banyak menggantungkan hidupnya. Industri padi/beras adalah salah satu diantaranya. Bukan membuat harga beras murah.
Pendahuluan
Sejak akhir 2006, Bank Dunia semakin sering mengeritik pemerintah tentangkenaikan harga beras, baik terbuka maupun tertutup. Akhir-akhir ini, Bank Duniasemakin aktif melobi dan menawarkan resep buat pemerintah, agar Indonesiamenempuh privatisasi lembaga pangan, melepas cadangan beras nasional ke swasta,dan liberalisasi impor, mendorong agar swasta diperankan sebagai stabilisator hargadalam negeri. Lembaga pemerintah seperti Bulog dianggap tidak becus dalammelaksanakan fungsinya. Mereka yakin sekali, pasar dapat menyelesaikan instabilitasharga, maupun kemiskinan (World Bank 2007).Perilaku Bank Dunia di Indonesia tampaknya belum berubah, belum belajar darikekecewaan masyarakat Indonesia atas keambrukan ekonomi, terjerat hutang luar negeri, serta terlalu banyaknya sumberdaya alam, perbankan dikuasai oleh perusahaanasing. Pendapat Bank Dunia termasuk juga berbagai hasil penelitiannya, tidak kredibel di mata masyarakat luas di Indonesia. Di Makasar misalnya, Bank Duniaterpaksa harus menghilangkan atribut Bank Dunia di kantor di mana proyek mereka
 
ada. Sebelumnya, hampir setiap hari ada saja demonstrasi ke kantor proyek Bank Dunia, sehingga mereka tidak nyaman bekerja.Sebaik apapun saran Bank Dunia, masyarakat Indonesia pasti mencurigainya, iniakibat dari reputasi mereka masa lalu. Itu akibat dari peri laku mereka sebagai salahsatu lembaga perusak ekonomi, termasuk ekonomi Indonesia (Perkin 2004). Tujuanmakalah ini adalah untuk menilai kelemahan cara pandangan yang bias tentangkebijakan beras Bank Dunia.
Domain Publik bukan Domain Peneliti
Bank Dunia seharusnya memahami benar, tentang cara-cara menyusun kebijakan publik di era demokrasi, tidak boleh didikte oleh segelintir para ahli. Pada erasentralisasi Orba, para teknokrat dan birokrat –dibantu oleh tenaga ahli asing- berperan besar dalam mendikte kepentingan masyarakat banyak. Namun dalam erademokrasi, peran masyarakat dalam proses penyusunan kebijakan publik-sepertikebijakan beras- haruslah lebih besar.Kebijakan beras itu adalah domain kebijakan publik. Kebijakan beras harus mendapatdukungan luas dari masyarakat sipil, DPR, pemerintah daerah, tidak boleh didikteoleh peneliti, apalagi oleh lembaga asing yang kurang memahami rumah tangga petani dan masyarakat desa secara mendalam. Disamping itu, apabila saran-saranmereka diterapkan pemerintah, diperkirakan itu akan sulit diimplementasi dilapangan, apabila kurang dukungan publik, kurang dukungan Pemda, serta akan selaludipersoalkan oleh DPR/DPRD.Kebijakan beras yang mereka susun itu (Bank Dunia 2007) melulu mengacu keliteratur asing. Dari total hampir 100 jumlah literatur, hanya 3-4 literatur yang ditulisoleh orang Indonesia asli. Padahal, banyak studi tentang padi/beras yang telahdilakukan oleh para ahli bangsa Indonesia, tetapi diabaikan tanpa dipakai sebagai bahan rujukan. Ini menunjukan juga bagaimana miskinnya Bank Dunia dalammemahami pikiran para ahli Indonesia. Namun mereka mencoba mempengaruhi sejumlah menteri ekonomi yang beraliranneo liberal. Bank Dunia juga rajin menyampaikan gagasan perubahan kebijakan beras pada berbagai forum sejak akhir 2006, baik dengan cara mengundang sejumlah ahliIndonesia ke markas mereka di Jakarta. Atau mengadakan seminar di luarnya, sepertidi lembaga PBB (CAPSA) di Bogor. Namun, mereka menghindari diskusi terbukadengan masyarakat luas (
civil society
) atau dengan para pakar Indonesia di luar kubumereka.Bank Dunia langsung menyampaikan gagasannya ke tingkat pengambilan keputusantentang kebijakan beras ke Kantor Menko Perekonomian atau ke sejumlah menterilain yang sealiran dengan Bank Dunia. Penulis juga kaget, ada
 power point 
tentangkebijakan beras Bank Dunia disiapkan untuk SBY. Ini keterlaluan.
 
Net Konsumen? Data Susenas vs data Tingkat Usahatani
Bank Dunia mengatakan bahwa telah terjadi kenaikan jumlah orang miskin yangcukup serius sejak harga beras naik. Itu buruk buat penduduk miskin, karena sebagian besar petani adalah net konsumen. Pandangan ini adalah keliru.Pola panen padi adalah musiman, mereka surplus pada MPR (musim panen raya) danMPG (musim panen gadu), dan defisit hanya pada MP (musim paceklik). Tetapi, dataSUSENAS BPS memperlihatkan sebaliknya, sebagian besar petani padi adalah netkonsumen. Data SUSENAS haruslah dianalisa dengan hati-hati dalam kaitannyadengan estimasi produksi musiman dan pengeluaran musiman. SUSENAS menaksir tahunan berdasarkan hasil penelitian seminggu, kemudian dikalikan menjadi tahunan.Hasilnya adalah defisit produksi (
net consumer 
), seolah-olah terjadi sepanjang tahun.Data itulah yang dipakai Bank Dunia untuk mempertahankan argumentasinya. Namun, hasil studi intensif yang dilakukan oleh Sumaryanto dkk (2002) di DASBrantas dilaporkan sebaliknya. Para petani mengelola usahatani padi untuk MH, MK1(musim kemarau pertama) dan MK2, masing-masing seluas 0.35 Ha, 0.33 Ha, dan0,23 Ha per petani. Luas ini adalah umum dijumpai pada usahatani pangan, khususnya padi di Indonesia. Mereka melaporkan bahwa konsumsi per kapita sebesar 107Kg/kap/tahun (Table 1). Ini adalah jumlah yang dikonsumsi langsung oleh rumahtangga tani, belum termasuk konsumsi tidak langsung seperti makan di warung, pesta,tempat kerja dll.Table 1. Per kapita konsumsi beras oleh petani miskin dan petani tidak miskin di DASBrantas, Jawa Timur: 1999/2000.Wilayah
 Petani Miskin Petani Tidak Miskin TOTAL
% RTKg./kapita% RTKg./KapitaHHKg./KapitaHulu 42.5 106.6 57.5 120.5 120 114.6Tengah 53.0 109.2 47.0 102.2 200 105.9Hilir 56.9 105.1 43.1 101.7 160 103.6Total 51.7 107.2 48.3 107.5 480 107.3 Note: RT=Rumah tanggaSumber: Sumaryanto dkk (2002)Rataan produksi padi sekitar 462 Kg/kapita/tahun. Terungkap adanya
marketablesurplus
1) sekitar 354 Kg/kap/tahun.
Marketable surplus
di musim hujanlebih tinggi dari MK1, namun negatif pada MK2. Pada MK2, banyak petani tidak tanam padi karena kekurangan air, sehingga luas usahatani merosot (Sumaryanto dkk 2002). Oleh karena itu, tidaklah tepat untuk mengasumsikan bahwa semua petanisempit sebagai net konsumen sepanjang tahun. Yang benar adalah mereka net

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->