Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
27Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Ketenagakerjaan

Ketenagakerjaan

Ratings: (0)|Views: 1,831 |Likes:
Published by gulaiitiak

More info:

Published by: gulaiitiak on Nov 01, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/05/2013

pdf

text

original

 
Ketenagakerjaan
Tersedianya lapangan/kesempatan kerja baru untuk mengatasi peningkatan penawaran tenagakerja merupakan salah satu target yang harus dicapai dalam pembangunan ekonomi daerah.Upaya tersebut dapat diwujudkan melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi khususnyainvestasi langsung (direct investment) pada sektor-sektor yang bersifat padat karya, sepertikonstruksi, infrastruktur maupun industri pengolahan. Sementara pada sektor jasa, misalnyamelalui perdagangan maupun pariwisata. Tenaga kerja adalah orang yang siap masuk dalam pasar kerja sesuai dengan upah yang ditawarkan oleh penyedia pekerjaan. Jumlah tenaga kerjadihitung dari penduduk usia produktif (umur 15 thn–65 thn) yang masuk kategori angkatan kerja(labour force). Kondisi di negara berkembang pada umumnya memiliki tingkat pengangguranyang jauh lebih tinggi dari angka resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Hal ini terjadi karenaukuran sektor informal masih cukup besar sebagai salah satu lapangan nafkah bagi tenaga kerjatidak terdidik. Sektor informal tersebut dianggap sebagai katup pengaman bagi pengangguran.Angka resmi tingkat pengangguran umumnya menggunakan indikator pengangguran terbuka,yaitu jumlah angkatan kerja yang secara sungguh-sungguh tidak bekerja sama sekali dan sedangmencari kerja pada saat survei dilakukan. Sementara yang setengah pengangguran dan penganggur terselubung tidak dihitung dalam angka pengangguran terbuka, karena mereka masihmenggunakan waktu produktifnya selama seminggu untuk bekerja meskipun tidak sampai 35 jam penuh. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2000, penduduk berumur 15 tahun ke atas yangtermasuk angkatan kerja adalah 264.802 orang (BPS, 2005) atau 64,48 % dari jumlah penduduk sebesar 410.682 jiwa. Dilihat dari lokasi, sebagian besar tinggal di desa yaitu 211.681 jiwa,sedangkan di kota sebanyak 53.121 jiwa. Dari jumlah angkatan kerja tersebut yang bekerjaadalah sebesar 89,01%, sedangkan sisanya 10,99% tidak bekerja atau menganggur. Dilihat aspek gender, sebagian besar yang menganggur adalah wanita (17,42%), sedangkan yang laki-lakisekitar 5,32%. Apabila dilihat dari jumlah pencari kerja yang tercatat pada Dinas Tenaga Kerjadan Transmigrasi Kabupaten Bima (2006) sebagian besar berpendidikan SMU keatas atau perguruan tinggi, yaitu sekitar 5.217 orang yang terdiri dari diploma III dan sarjana (S1).Sempitnya lapangan kerja di Kabupaten Bima tidak terlepas dari masih rendahnya potensiekonomi yang dimanfaatkan terutama pada sektor pertanian. Adapun penyerapan tenaga kerjayang baru lebih banyak mengandalkan sektor jasa pemerintahan melalui kebijakan pemerintah pusat mengangkat tenaga honor daerah menjadi PNS dimana selama 2005 s/d 2009 diperkirakanmencapai lebih dari 5.000 orang. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam analisisketenagakerjaan adalah berkaitan dengan rasio beban tanggungan atau burden of dependencyratio. Yang dimaksud dengan dependency ratio adalah beban yang ditanggung oleh penduduk  produktif terhadap penduduk tidak produktif. Oleh karena itu, semakin banyak pendudu produktif yang tidak bekerja, maka dengan sendirinya akan meningkatkan beban tanggungan.Kondisi ini juga banyak ditemukan di Kabupaten Bima di mana masyarakatnya tinggal diwilayah pedesaan yang mana laki-laki muda banyak tidak bekerja demikian pula denganwanitanya. Masalah–masalah ketenagakerjaan di Kabupaten Bima yang paling menonjol antaralain : 1. Rendahnya minat tenaga kerja untuk menciptakan lapangan kerja baru melalui kegiatanwirausaha, terutama tamatan dari sekolah kejuruan maupun SMA. 2. Kurangnya inovasi di bidang pertanian, industri dan sektor jasa dalam meningkatkan investasi padat tenaga kerja. 3.Tenaga kerja berpendidikan sarjana umumnya bekerja sebagai setengah penganggur karenamemasuki bidang yang tidak sesuai dengan keahliannya dan bekerja kurang dari 36 jam per minggu. 4. Minimnya investasi dan pabrik yang dapat menampung tenaga kerja skala besar. 5.Tidak seimbangnya antara permintaan dan penawaran tenaga kerja, yang disebabkan olehkualifikasi sarjana di Kabupaten Bima didominasi oleh ilmu–ilmu sosial dibandingkan ilmu– 
 
ilmu eksakta yang lebih bersifat aplikatif. 6. Hambatan budaya yang lebih memandang PNSsebagai pekerjaan prestisius, sehingga mematikan kreatifitas untuk bekerja di luar sektor jasa pemerintahan. Dari kajian tekstual yang dilakukan KPPOD (2006) , dalam aspek kebijakan danregulasi (Perda/SK Kepala Daerah), peta persoalan umum yang menandai distorsi kebijakanketenagakerjaan di sejumlah daerah dalam masa pelaksanaan otonomi daerah dewasa ini adalah :Pertama, pelanggaran dalam hal perijinan dan pungutan terkait penggunaan tenaga kerja asing.Padahal, Perijinan (menurut Pasal 42 UU No.13 Tahun 2003) maupun pungutan (menurut Pasal3 PP No.92 Tahun 2002) yang terkait dengan penggunaan TKA berada di pusat. Kedua, pungutan yang tidak proporsional dan amat lemah dalam acuan konsiderans. Ketiga, diskriminasigender. Di sejumlah daerah ditemukan cukup banyak perda yang mengatur jam kerja lembur atauijin kerja lembur malam bagi wanita dan mengenakan pungutan (retribusi) tertentu atasnya.Keempat, proteksionisme (perlindungan berlebihan) bagi tenaga kerja lokal. Tidak hanya terjadidalam sektor pemerintahan, dimana muncul tuntutan preferensi berlebihan bagi putera daerahuntuk duduk dalam jabatan-jabatan strategis (politik dan birokrasi), gejala serupa juga terjadidalam dunia swasta (bahkan tidak sekedar sebagai tuntutan pemerintah) terkait pemberiankesempatan kerja, dimana perusahaan wajib memberikan jatah, yang bahkan dengan patokankuota tertentu bagi putera daerah untuk sesuatu pekerjaan dalam perusahaan tersebut. Begitu pentingnya posisi pengaruh faktor Ketenagakerjaan di satu sisi dan banyaknya persoalan padasisi lain menyebabkan efek serius bagi kelancaran berusaha di daerah. Semua itu menambah biaya tambahan (additional cost) dalam ongkos berbisnis (cost of doing business), baik biayawaktu (banyaknya waktu untuk bernegosiasi dengan pihak buruh dan pemda) maupun biayamaterial karena berbagai pungutan legal dan ilegal yang ada. Kekakuan dalam kebijakanketenagakerjaan kita maupun iklim kebijakan makro yang terkait dengan pelaksanaan otonomidaerah merupakan peta jalan kemana arah menelusuri persoalan. Berdasarkan beberapa kasusdaerah lain di atas, tampaknya persoalan kebijakan ketenagakerjaan di Kabupaten Bima belum begitu kompleks sebagaimana dialami daerah yang telah maju sektor industri dan jasanya.Bahkan, penanganan ketenagakerjaan di Kabupaten Bima dari aspek upah saja belum dapatditangani dengan baik, belum masalah-masalah seperti keselamatan kerja dan perlindungantenaga kerja lainnya sesuai dengan amanat perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan.
Upah Tenaga Kerja
Pemberian Upah tenaga kerja di Kabupaten Bima belum sepenuhya mengikuti Upah MinimumProvinsi. Upah Minimum Provinsi (UMP) Tahun 2007 ditetapkan sebesar Rp. 645.000 per bulandi mana telah diperhitungkan kebutuhan fisik minimum. Sementara dari hasil observasi di beberapa wilayah Kabupaten Bima, diperoleh informasi bahwa untuk sektor pertanian, upah per hari berkisar antara Rp. 20.000- 30.000 atau paling rendah Rp. 600.000 per bulan apabilamenggunakan seluruh waktunya untuk bekerja sebagai buruh tani. Sementara untuk sektor  bangunan dan konstruksi , seorang pekerja profesional yang tukang batu dibayar sekitar Rp.40.000 ribu per hari atau Rp. 1.200.000,- per bulan. Upah untuk pekerja di sektor perdagangan,masih relatif lebih rendah yakni take home pay Rp 200-250 ribu per bulan di mana pekerja yang bersangkutan telah ditanggung kebutuhan makanan. Sedangkan untuk sektor jasa pendidikan,misalnya, masih sangat rendah yaitu sebesar Rp. 250.000 per bulan. Kendatipun demikian,masyarakat Bima umumnya memiliki pekerjaan lain sehingga dapat memenuhi kebutuhannyasehari-hari. Pada dasarnya banyak tenaga kerja yang bekerja rangkap khususnya setelah harilibur atau pulang kerja.
 
Penduduk Yang Bekerja Menurut Upah/Gaji
Pendapatan hampir selalu dikaitkan dengan aktifitas ekonomi karena ”pendapatan/penghasilan”seseorang atau suatu rumah tangga terangsang untuk bekerja karena besar kecilnya upah ataugaji merupakan salah satu faktor yang menarik seseorang tenaga kerja untuk masuk ke dalamsuatu lapangan usaha. Di Kabupaten Bima, secara umum, upah/gaji yang diterima di daerah perkotaan lebih tinggi dibanding upah/gaji yang diterima di daerah pedesaan. Demikian jugadengan upah/gaji yang diterima oleh laki-laki, lebih besar upah/gaji yang diterima perempuan.Untuk daerah perkotaan upah/gaji yang diterima laki-laki, rata-rata Rp. 640.714,29 per-bulan,sedangkan untuk daerah pedesaan upah/gaji yang diterima mencapai Rp.684.413,85. Upah/gaji perempuan berdasarkan daerah perkotaan atau pedesaan berbeda polanya dengan rata-rataupah/gaji yang diterima oleh laki-laki. Secara umum upah/gaji yang diterima oleh perempuanadalah Rp. 494.214,29. pada tabel 2.10 dapat dilihat upah/gaji berdasarkan status daerah. Rata– rata upah/gaji yang diterima perempuan di daerah perkotaan lebih besar dibandingkan denganupah/gaji yang diterima di pedesaan. Upah/gaji yang diterima perempuan diperkotaan mencapaiRp. 646.500,00, sedangkan didaerah pedesaan sebesar Rp. 468.833,33. Pada tabel 2.11, dapatdilihat rata-rata upah/gaji yang diterima berdasarkan pendidikan tertinggi dan jenis kelamin.Secara umum, upah/gaji yang diterima oleh penduduk bekerja yang berpendidikan Diploma,yakni sekitar Rp. 1.312.171,43 per bulan. Sedangkan upah/gaji terkecil diterima oleh penduduk  bekerja yang tidak/belum pernah bersekolah, yakni rata-rata Rp. 183.571,43 per bulan. Jikadirinci berdasarkan jenis kelamin, terdapat perbedaan pola gaji tertinggi pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki, gaji tertinggi diterima oleh penduduk bekerja yang berpendidikan Perguruan Tinggi, yakni sekitar Rp. 1.422.000,- sementara pada perempuan, gajitertinggi diterima penduduk yang berpendidikan Diploma, yakni sekitar Rp. 1.140.000,-.Demikian juga dengan pola gaji terendah, terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan.Pada laki-laki, gaji terendah diterima oleh penduduk bekerja yang tidak/belum pernah bersekolah, dengan rata-rata pendapatan perbulan mencapai Rp. 222.000,-. Sedangkan padaPerempuan, gaji terendah diterima penduduk bekerja yang tidak/belum tamat Sekolah Dasar (SD), dengan rata-rata pendapatan per bulan mencapai Rp. 42.000,-
Pendapatan dari Tenaga Kerja Luar Negeri (Remmitance)
 Salah satu sumber pendapatan dari masyarakat adalah pendapatan yang bersumber dari tenagakerja yang bekerja di luar negeri. Berdasarkan data yang dikeluarkan Bank Indonesia Mataram(2007) bahwa sebagian besar tenaga kerja di Nusa Tenggara Barat yang bekerja di luar negeriadalah berasal dari : Pulau Lombok, Kabupaten Sumbawa dan hanya sebagian kecil yang berasaldari Kabupaten Bima dan Dompu. Rendahnya keinginan tenaga kerja dari Kabupaten Bimauntuk bekerja di luar negeri antara lain dipengaruhi oleh hal- hal sebagai berikut : • Dampak  psikologis berita negatif tentang perlakuan tidak manusiawi yang seringkali menimpa sebagianTKI baik secara hukum maupun menyangkut hubungan antara pekerja dan majikan. • Sebagian besar tenaga kerja di Kabupaten Bima berpendidikan SMA ke atas sehingga preferensi bekerja diluar negeri menjadi rendah karena lebih banyak didominasi oleh tenaga kerja berpendidikanSMA ke bawah. • Minimnya informasi tentang pekerjaan di luar negeri dan lemahnya fasilitasioleh PJTKI maupun Balai Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri (BPTKLN). • UmumnyaTenaga kerja dari Kabupaten Bima masih mengandalkan lapangan kerja di dalam negeri seperti:wilayah Jabodetabek, Surabaya, Batam, Kalimantan. Sikap PJTKI yang seringkalimenelantarkan tenaga kerja khususnya setelah sampai di luar negeri dan kurangnya tanggung jawab perlindungan atau kompensasi terhadap kasus yang merugikan Tenaga Kerja, seperti kasus

Activity (27)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
BiMa ArFiyant liked this
Juli Agustono liked this
Satrio Adhitomo liked this
hamid_junaidi liked this
asep suratman liked this
Rijaka Sirait liked this
hide liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->