Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
23Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
ketahanan pangan

ketahanan pangan

Ratings: (0)|Views: 829 |Likes:
Published by renyswani

More info:

Published by: renyswani on Nov 02, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/04/2013

pdf

text

original

 
KETAHANAN PANGANMENUJU KEMANDIRIAN PERTANIAN INDONESIA
Oleh: Reny SukmawaniAbstrak Indonesia saat ini membutuhkan bahan pangan pokok sekurang-murangnya 53 jutaton beras, 12,5 juta ton jagung dan 3,0 juta ton kedelai untuk kebutuhan konsumsi penduduk sekitar 216 juta jiwa. Apabila tidak diimbangi dengan laju pertumbuhan produksi pangan dari dalam negeri secara signifikan, maka akan mengakibatkan rendahnyaketahanan pangan nasional. Meskipun upaya peningkatan produksi pangan dalam negeri pada saat ini telah dilakukan, namun laju peningkatannya masih belum mampu memcukupikebutuhan pangan dalam negeri karena produktifitas tanaman pangan yang stagnan bahkan cenderung menurun serta terjadinya peningkatan alih fungsi lahan. Ini terbuktidengan masih besarnya ketegantungan Indonesia akan impor kebutuhan pangan
 
.Untuk meningkatkan produksi pangan nasional, dapat dilakukan peningkatan produktivitas dengan menerapkan teknologi produksi antara lain melalui penggunaan pupuk organik. Pupuk tersebut dapat mengembalikan kesuburan tanah melalui jasamikroba yang menguntungkan. Sejalan dengan itu perlu juga dilakukan perluasan areallahan pertanian disamping juga melindungi lahan-lahan produktif agar tidak beralih fungsi.Upaya lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadapsalah satu bahan pangan pokon adalah dengan digalakkannya program diversifikasin pangan.Kata kunci:Bahan pangan, teknologi produksi, produktifitas, perluasan areal, diversifikasi pangan
 
1
 
Pendahuluan
Program Departemen Pertanian yang tercantum dalam Rencana Strategi ProgramPembangunan Pertanian 2005-2009, terdiri dari tiga tujuan dasar, yaitu: (1) ketahanan panagn, (2) mengurangi kemiskinan, dan (3) meningkatkan kesejahteraan serta pengembangan agribisnis. Ketahanan pangan berarti kondisi pemenuhan kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup, baik  jumlah dan mutunya, aman, merata dan terjangkau (BBKP. 2003). Ketahanan panganmerupakan hal yang sangat penting dan strategis, mengingat pangan merupakankebutuhan yang paling mendasar dari suatu bangsa. Banyak contoh negara dengan sumber ekonomi cukup memadai tetapi mengalami kehancuran karena tidak mampu memenuhikebutuhan pangan bagi penduduknya. Sejarah juga menunjukkan bahwa strategi pangan banyak digunakan untuk menguasai pertahanan musuh. Dengan adanya ketergantungan pangan, suatu bangsa akan sulit lepas dari cengkeraman penjajah/musuh. Pada KTT pangan sedunia tahun 1996 di Roma, para pemimpin negara dan pemerintah telahmengikrarkan kemauan politik dan komitmennya untuk mencapai ketahanan pangan danmelanjutkan upaya penghapusan kelaparan di semua negara anggota separuhnya, yaknidari 800 juta jiwa pada tahun 1996 menjadi 400 juta jiwa pada tahun 2015 (Mewa Ariani.2006). Dengan demikian upaya untuk mencapai kemadirian dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional bukan hanya dipandang dari sisi untung rugi ekonomi saja, tetapi harusdisadari sebagai bagian yang mendasar bagi ketahanan nasonal yang harus dilindungi.Pembangunan ketahanan pangan di Indonesia ditegaskan dalam Undang-Undang pangan Nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan dan PP nomor 68 tahun 2002 tentangketahanan pangan. Beberapa hasil penelitian dan kajian menunjukkan bahwa persediaan pangan yang cukup secara nasional terbukti tidak menjamin perwujudan ketahanan pangan pada tingkat wilayah, rumah tangga atau individu (Mewa, Ariani. 2006). Jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 216 juta jiwa dengan angka pertumbuhan 1.7 % per tahun. Angka tersebut mengindikasikan besarnya bahan pangan yang harus tersedia.Kebutuhan yang besar jika tidak diimbangi peningkatan produksi pangan justrumenghadapi masalah
bahaya latent 
yaitu laju peningkatan produksi di dalam negeri yangterus menurun. Sudah pasti jika tidak ada upaya untuk meningkatkan produksi panganakan menimbulkan masalah antara kebutuhan dan ketersediaan dengan kesenjangansemakin melebar. Kesenjangan yang terus meningkat ini jika terus di biarkankonsekuensinya adalah peningkatan jumlah impor bahan pangan yang semakin besar, dankita semakin tergantung pada negara asing.Impor beras yang meningkat pesat terjadi pada tahun 1996 dan puncaknya padatahun 1998 yang mencapai 5,8 juta ton. Kondisi ini mewarnai krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997 dimana produksi beras nasional turun yang antara lain karena kekeringan panjang.Pada komoditi jagung, meskipun pada tahun 1996 terjadi penurunan produksi namun pada tahun 1998 justru menjadi surplus (ekspor) meskipun dalam jumlah yang kecil. Halini diduga karena banyaknya masyarakat yang memanfaatkan lahan tidur untuk komoditas jagung. Namun pada tahun-tahun berikutnya sampai saat ini produksi jagung cenderungturun dan impor semakin besar (lebih dari 2 juta ton / tahun)Produksi kedelai nasional mengalami kemunduran yang sangat memprihatinkan.Sejak tahun 2000, kondisi tersebut semakin parah, dimana impor kedelai semakin besar.Disisi lain produktivitas kedelai nasional rendah sedangkan biaya produksi semakin tinggidi dalam negeri. Dampaknya pada harga kedelai petani tidak bisa bersaing denganmembanjirnya kedelai Impor dan petani kedelai tidak terlindungi.2
 
Kebijakan Impor pangan yang menonjol sebagai program instant untuk mengatasikekurangan produksi justru membuat petani semakin terpuruk dan tidak berdaya atassistem pembangunan ketahanan pangan yang tidak tegas. Akibat over suplai pangan dariimpor seringkali memaksa harga jual hasil panen petani menjadi rendah tidak sebandingdengan biaya produksinya sehingga petani terus menanggung kerugian. Hal inimenjadikan bertani pangan tidak menarik lagi bagi petani dan memilih profesi lain di luar  pertanian, sehingga ketahanan pangan nasional mejadi rapuh.Melihat kenyataan tersebut seakan kita tidak percaya sebagai negara agraris yangmengandalkan pertanian sebagai tumpuan kehidupan bagi sebagian besar penduduknyatetapi pengimpor pangan yang cukup besar. Hal ini akan menjadi hambatan dalam pembangunan dan menjadi tantangan yang lebih besar dalam mewujudkan kemandirian pangan bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu diperlukan langkah kerja yang serius untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada dalam rangka memenuhi kebutuhan pangandalam negeri.Rendahnya laju peningkatan produksi pangan dan terus menurunnya produksi diIndonesia antara lain disebabkan oleh:1.Produktivitas tanaman pangan yang masih rendah dan terus menurun2.Peningkatan luas areal penanaman-panen yang stagnan bahkan terus menurunkhususnya di lahan pertanian pangan produktif di pulau Jawa.Kombinasi kedua faktor di atas memastikan laju pertumbuhan produksi dari tahunke tahun yang cenderung terus menurun. Untuk mengatasi dua permasalahan teknis yangmendasar tersebut perlu dilakukan upaya-upaya khusus dalam pembangunan pertanian pangan khususnya dalam kerangka program ketahanan pangan nasional. Upaya-upayatersebut diantaranya yaitu dengan meningkatkan produktivitas tanaman pangan, menambah perluasan areal pertanian baru dan menggalakan diversifikasi pangan.
Upaya Meningkatkan Produktivitas Tanaman Pangan
Rata-rata produktivitas tanaman pangan nasional masih rendah. Rata-rata produktivitas padi adalah 4,4 ton/ha (Purba dan Las, 2002), jagung 3,2 ton/ha dan kedelai1,19 ton/ha. Jika dibandingkan dengan negara produsen pangan lain di dunia khususnya beras, produktifitas padi di Indonesia adalah peringkat ke 29. Australia memiliki produktivitas rata-rata 9,5 ton/ha, jepang 6,65 ton/ha dan Cina 6,35 ton/ha (FAO, 1993).Faktor dominan penyebab rendahnya produktivitas tanaman pangan adalah (a)Penerapan teknologi budidaya di lapangan yang masih rendah; (b)Tingkat kesuburan lahanyang terus menurun (Adiningsih, S, dkk., 1994), (c) Eksplorasi potensi genetik tanamanyang masih belum optimal (Guedev S Kush, 2002).Rendahnya penerapan teknologi budidaya
 
tampak dari besarnya kesenjangan potensi produksi dari hasil penelitian dengan hasil di lapangan yang diperoleh oleh petani. Hal inidisebabkan karena pemahaman dan penguasaan penerapan paket teknologi baru yangkurang dapat dipahami oleh petani secara utuh sehingga penerapan teknologinya sepotong-sepotong (Mashar, 2000). Seperti penggunaan pupuk yang tidak tepat, bibit unggul dancara pemeliharaan yang belum optimal diterapkan petani belum optimal karena lemahnyasosialisasi teknologi, sistem pembinaan serta lemahnya modal usaha petani itu sendiri.Selain itu juga karena cara budidaya petani yang menerapkan budidaya konvensional dan kuranginovatif 
 
seperti kecenderungan menggunakan input pupuk kimia yang terus menerus, tidak menggunakan pergiliran tanaman, kehilangan pasca panen yang masih tinggi 15 – 20 % danmemakai air irigasi yang tidak efisien. Akibatnya antara lain berdampak pada rendahnya produktivitas yang mengancam kelangsungan usaha tani dan daya saing di pasaran terus menurun.Rendahnya produktivitas dan daya saing komoditi tanaman pangan yang diusahakan3

Activity (23)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
MT Arsi liked this
Adhe Eka liked this
Hilda Husniyah liked this
Idadedee Idinq liked this
driremes liked this
Hel Yanto liked this
Hel Yanto liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->