Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
30Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Takdir Menurut Aliran Kalam

Takdir Menurut Aliran Kalam

Ratings: (0)|Views: 6,395|Likes:
Published by akhmad muzayyin

More info:

Published by: akhmad muzayyin on Nov 02, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/01/2014

pdf

text

original

 
BAB IPENDAHULUAN
Rasulullah SAW. diutus oleh Allah SWT. untuk menyampaikan Islam kepadaseluruh ummat manusia agar dijadikan sebagai aqidah dan pedoman hidup mereka danmemusnahkan aqidah dan pedoman hidup mereka sebelumnya yang penuh khayal dankhurafat, mereka diajak untuk berfikir dan merenungi realitas kehidupan, manusia danalam semesta serta mengkaitkan ketiganya dengan Allah
al Khalik al Mudabbir 
SangPencipta dan Sang Pengatur. Merekapun mengambil Islam sebagai aqidah yang mampumemecahkan permasalahan utama (
 Al-Uqdatul Kubra
) mereka sebagai manusia, yang diatasnya dibangun pandangan hidup, juga mengambilnya sebagai peraturan yang terpancar dari aqidah Islam.Dengan izin Allah, agama yang dibadan oleh rasulullah pun diemban oleh banyak manusia sebagai
qaidah fikriyah
dan oleh
 Daulah Islamiyah
sebagai
qiyadah fikriyah
.Sesuai dengan fitrahnya sebagai agama yang benar, tentunya agama ini terus bergerak dan diemban oleh daulah dan kaum muslimin untuk di da’danhkan kepada umat dan bangsa lain yang belum menemukan cahaya kebenaran Islam serta yang masih bergelutdengan khayalan dan khurafat dari pedoman hidup mereka terdahulu. Sunnah ini terusdilanjutkan oleh para khalifah setelah Rasulullah danfat. Namun kaum muslimin yangmelakukan ekspansi da’danh dan futuhat di negeri-negeri yang belum menerima cahayaIslam, menemukan pemikiran asing yang diemban oleh orang-orang yang berada dinegeri tersebut, yang hal itu sangat bertolak belakang dengan pemikiran Islamdiantaranya India, Persia dan Yunani. Kaum muslimin kemudian berupaya untuk memahami konsep pemikiran mereka yang berbeda tersebut dengan maksud untuk menjelaskan kesalahan pemikiran mereka dan kemudian mengajak mereka untuk masuk ke dalam agama Islam. Pemikiran mereka yang asing inilah yang disebut dengan filsafat,
1
 yang kemudian dipelajari oleh ulama Islam dengan maksud membekali diri dengan ilmutersebut untuk membantah dengan ilmu tersebut. Ilmu ini disebut dengan ilmu kalam,dan ulama yang mempelajarinya adalah disebut Mutakalimin. Lebih lanjutnya akandijelaskan dibab berikutnya.
1 filsafat berarti 1). upaya spekulatif untuk menampilkan pandangan sistematik dan komplit tentang seluruhrealitas. 2). upaya untuk mendeskripsikan hakikat realitas yang ultima dan sejati.
1
 
BAB IIPEMBAHASANA.Asal Mula Pemikiran Kalam tentang Qadha dan Qadar
Aktifitas ini (bantah-bantahan) sendiri telah dilakukan oleh rasulullah semasahayat beliau terhadap orang-orang kafir baik dari kalangan kaum musyrikin maupunahlul kitab, sehingga terjadi
 shiraul fikr 
, baik selama beliau berada di Madinahmanupun di Makkah, hal ini dikuatkan dengan perintah untuk berdebat denganmereka di dalam al Qur’an: “
 Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik 
” (TQS.An-Nahl [16]:125); “
 Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab melainkandengan cara yang paling baik 
.” (TQS. al-Ankabut(29:46)Hal yang paling berperan dalam pemunculan ilmu kalam adalah interaksi kaummuslimin dengan filsafat Yunani baik melalui penterjemahan buku-buku filsafatYunani maupun karena interaksi mereka dengan kaum Nasrani dan Yahudi,pemikiranfilsafat ini diadopsi oleh kaum Nasrani (Nasrani sekte Nestorian atau
 Nasathirah.
2
 
dari Syiria, Nasrani sekte Mulkean
3
yang tersebar di Afrika, Andalusia, dan sebagian besar wilayah Syam dan Nasrani sekte Jacobit dari Mesir) dan Yahudi. FilsafatYunani yang diadopsi oleh kaum Nasrani dibangun untuk menguatkan aqidah trinitasmereka, yang hal itu memang sama sekali tidak memiliki kesesuaian dengan faktayang ada. Berbeda dengan filsafat yang dianut oleh bangsa Persia dan India, dimanafilsafat yang mereka bangun tersebut inheren dengan konsep agama yang merekaanut saat itu. Kaum Nasrani mengenal filsafat Yunani telah lebih dahulu ketimbangkaum muslimin yang kemudian digunakan untuk membangun konsep aqidah trinitas(
tatslith
) mereka. Konsep ini yang kemudian mereka gunakan untuk untuk berdebatdengan kaum muslimin.Sebagian kaum muslimin dengan para ulamanya meresponkondisi ini dengan mempelajari dan menjadikannya sebagai bahan diskusi dan perdebatan dalam rangka membantah kaum Nasrani dan Yahudi, membela Islam danmenerangkan pemikiran-pemikiran al-Quran.
4
Kaum muslimin mengambil konsep
2 Sekte Nasrani pengikut Nestor yang bijaksana.Tetapi dalam komentarnya, Ahmad Fahmi,
editor al mihal dan al-Nihal,
menyatakan bahdan ada pendapat yang menyebut tentang penisbatan nama Nestorian kepada Nestorius, pendeta di Constatinople, yang menyatakan bahdan Maryam tidak melahirkan tuhan, tetapimelahirkan manusia, hanya kehendaknya sama dengan Tuhan, sedangkan Zatnya berbeda.Sekte ini beradadi Persia, Irak, Jazirah Arab, Moshul hingga sungai Furat.3 Sekte Nasrani yang lahir di Romawi.Mereka berpendapat bahdan kalam telah menyatu dengan tubuh al-Masih. Mereka berpendapat bahdan substansi tidak sama dengan oknum, yang mirip dengan sifat denganobjek yang disifati.Al-Masih adalah Tuhan dan manusia secara utuh, dimana oknum yang satu dengan laintidak berbeda.Jadi maryam telah melahirkan Tuhan dan manusia yang keduanya adalah anak Allah, yangdisalib ketika disalib adalah oknum manusianya sedangkan oknum Tuhannya tidak.4 Diantaranya adalah usaha membantah konsep ketuhanan Nasrani yang mengatakan al-Masih adalah
2
 
filsafat Yunani sebagai pokok bahasan terutama dalam konsep ketuhanan (sifat-sifatAllah) dan mantiq.Salah satu perdebatan yang kemudian muncul terutama dikalangan umat islamsendiri adalah masalah takdir (Qadha dan Qadar). Iman kepada taqdir merupakansesuatu yang danjib bagi setiap muslim, sebab hal ini memiliki sandaran nash-nahAlqur’an yang pasti (qoth’i) serta dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sunnahnya.Berbeda dengan iman kepada ‘Qadha dan Qadar’, Ia bukan lahir dari nash-nash syarasecara langsung. Istilah Qadha dan Qadar, sebagai istilah tertentu yang bermaknatertentu pula, tidak didapatkan dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Tiadanya istilahQadha dan Qadar (yang digabungkan dan memiliki makna tertentu pula) tersebutkarena memang masalah ini baru muncul pada masa tabiin (setelah masa sahabat) pada akhir abad pertama Hijriyah (adanl abad kedua Hijriyah). Akhir abad keduamerupakan masa suburnya penaklukan daerah lain yang dilakukan oleh KhilafahIslamiyah keseluruh penjuru dunia. Banyak hal baru yang ditemukan termasuk usaha-usaha menerjemahkan faham-faham diluar Islam semisal filsafat (Yunani). Padaadanlnya hanya semacam kebutuhan untuk menjadanb dan berdebat dengan merekasetelah dari pihak Nasrani lebih dahulu mempelajarinya untuk mempertahankanakidah mereka. Kaum Muslimin tergerak untuk mendalami filsafat Yunani untuk membantah masalah-masalah yang dilontarkan pihak Nasrani terutama dalam bidang“kebebasan bertindak”
(Free Will).
Permasalahan ini terus berkembang dan akhirnyamuncullah beberpa aliran dan perbedaan pandangan dikalangan kaum Musliminsendiri terhadap permasalahan ini.
B.Pendapat Aliran Tentang Konsep Qadha dan Qadar
Sebelum Sesungguhnya apabila kita meneliti masalah ‘Qadha dan Qadar’sebagai suatu istilah baru, yang memiliki makna tersendiri akan kita dapati bahdanketelitian pembahasannya menuntut kita untuk mengetahui terlebih dahulu dasar  berdirinya pembahasan ini atau dengan kata lain, apa yang menjadi dasar pembahasandalam masalah ‘Qadha dan Qadar’ ini. Agar tidak rancu, terlebih dahulu hendaknyadidudukkan apa yang dimaksud
Qadha’ dan Qada
menurut para mutakallimin,sehingga terma yang dipakai dalam tulisan ini adalah tema
Qadha’ dan Qada
menurut para mutakallimin.
tuhan, sedangkan dalam pandangan Islam al-Masih adalah
kalimatu-Llah
.Dalam hal ini Yuhana al-Dimasyqi berusaha membuat sintesis dari pertentangan ini untuk menjustifikasi konsepsi teologisnya,dengan mengatakan bahdan jika al-Masih adalah kalimatu-Llah, dan kalimatu-Llah adalah qadim, maka al-Masih adalah Tuhan.Dalam konteks inilah muncul bantahan dari kalangan ulama (Ja’ad bin al-Dirham,Jahm bin Safdann dan Dansil bin ‘Ata’) yang mengatakan bahdan kalam Allah adalah baru dan makhluk.
3

Activity (30)

You've already reviewed this. Edit your review.
Ningsih Lubis liked this
1 thousand reads
1 hundred reads
Samsul Bahri liked this
Uri Mashuri liked this
Evha Fatmawati liked this
Nora Hans liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->